
Seorang pria saat ini sedang memperhatikan pertarungan dari kejauhan. Ekspresi wajahnya beberapa kali berubah kala melihat aksi dua orang anak kecil di tengah-tengah pertarungan. Sedang membantai habis-habisan anggota mereka.
Semakin lama, tempo pertarungan tampak telah di kuasai oleh dua anak tersebut. Bahkan lima orang dengan kultivasi Tahapan Langit saja sampai dibuat melayang nyawanya karena anak itu.
Merasa situasi semakin mengkhawatirkan, pria itu lantas bergegas masuk ke dalam ruangan.
Berjalan hingga beberapa saat, pria itu berhenti tepat di depan sebuah pintu yang begitu besar.
Di balik pintu tersebut, dapat ia dengar suara seorang wanita yang beberapa kali mengeluarkan erangan kenikmatan.
Perasaannya campur aduk. Ingin rasanya ia mengetuk pintu dan memberitahu masalah di luar pada orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Namun di sisi lain, ia juga tak berani.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, pria itu mengangkat tangannya, hendak mengetuk pintu.
Namun, belum sempat menyampaikan masalah di luar, ia telah lebih dulu mendapat bentakan keras dari pria yang berada di dalam ruangan. Membuat lelaki itu terdiam. Tak berani mengutarakan kalimatnya.
"Sial. Jika bukan karena kultivasi-mu berada di atas ku, sudah ku bunuh kau dari dulu!" Pria itu bergumam pelan. Diam-diam mengutuki lelaki yang saat ini sedang bersenang-senang di dalam, tanpa peduli dengan masalah di luar.
Dengan kesal, ia melangkah keluar dari bangunan tersebut, dan ikut bergabung bersama beberapa kultivator langit yang juga baru berdatangan. Melawan Dua anak kecil tersebut.
***
Xiao Wang saat ini sedang sibuk menghabisi lawan yang entah berapa puluh ribu jumlahnya.
Seakan tak ada habis-habisnya, orang-orang itu terus saja berdatangan ke arahnya.
Terpaksa ia juga harus beberapa kali menebas, memotong tubuh lawan menjadi dua bagian. Guna mengurangi jumlah mereka.
Meski ia tahu membutuhkan waktu berhari-hari untuk membereskan semuanya, dikarenakan jumlah mereka yang begitu banyak.
__ADS_1
Sesekali Xiao Wang akan melirik ke arah dimana Chen Li berada. Yang saat ini pemuda itu sedang bertarung melawan dua kultivator Tahapan Langit. Namun bisa ia lihat, Chen Li yang tampak telah hampir menyelesaikan dua orang itu.
Beberapa saat membantai anggota kelompok tersebut, Xiao Wang tiba-tiba di hadang oleh tiga kultivator tahapan Langit puncak.
Beberapa orang yang hendak menyerang Xiao Wang. Bukannya menyerang, akan tetapi lebih tepatnya mengantarkan nyawanya pada Xiao Wang, langsung menghentikan langkah kala melihat kultivator Tahapan Langit tersebut.
Sesegera mungkin mereka langsung menghindar, menjauhi Xiao Wang beserta tiga kultivator langit tersebut. Pasalnya, jika mereka berada di dekat Xiao Wang dan Tiga Kultivator Langit tersebut, tak menutup kemungkinan mereka akan kehilangan nyawa, terkena serangan sasaran dari pertarungan orang-orang itu.
Benar saja, saat pertarungan pecah antar Xiao Wang melawan tiga Kultivator Langit, efek yang di timbulkan dari pertarungan mereka begitu besar.
Beberapa lesatan energi berbentuk bulan sabit nyaris memotong salah satu kultivator tahapan Bumi yang menonton pertarungan mereka. Beruntung, ia masih sempat menghindar.
Xiao Wang mengeluarkan teknik Pukulan Ombak, pada salah satu kultivator Tahapan Langit tersebut. Namun dengan cepat kultivator tersebut melemparkan serangan energinya ke arah Xiao Wang pula.
Sejenak, mereka langsung menghentikan pertarungan sesaat kala dua energi yang saling berbenturan menciptakan ledakan besar.
Namun, energi yang dicipta Xiao wang nyatanya tak menghilang dan masih melesat lurus ke arah lelaki yang sebelumnya melempar energinya ke arah Xiao Wang. Beruntung, pria itu masih sempat menyingkir sebelum teknik Xiao Wang mengenai dirinya.
Kecepatan anak panah itu begitu ekstrim, sampai-sampai tiga kultivator tersebut tak bisa melihat lesatan anak panah Xiao Wang.
Meski kewaspadaan mereka telah mereka naikkan hingga tingkat dewa. Tetap saja anak panah air Xiao Wang berhasil mencapai tubuh tiga kultivator Tahapan Langit, membuat mereka terpental beberapa puluh langkah ke belakang, karena anak panah yang tiba-tiba saja meledak saat menyentuh tubuh mereka.
Bahkan anak panah itu sempat meleset dan mengenai beberapa kultivator tahapan Tinggi yang berada di sekitaran, membuat mereka meregangkan nyawa seketika.
Kesal. Ketiga kultivator itu lantas mengumpati serangan Xiao Wang barusan.
"Kenapa kalian diam saja! Cepat bantu kami menyerang bocah itu!" Salah seorang dari tiga kultivator tahapan Langit tersebut mengeluarkan bentakannya pada beberapa anggota kelompok yang hanya menonton mereka dari kejauhan.
Mendengar bentakan pria itu, segera mereka berlomba-lomba menuju bocah tersebut, hendak kembali menyerangnya.
__ADS_1
Begitupun juga dengan ketiga kultivator Tahapan Langit tersebut. Mereka juga bangkit lalu melesat, bersama dengan bawahannya. Menyerbu Xiao Wang dari berbahaya arah.
Meski kekuatan Xiao Wang yang berada beberapa tingkat di atas mereka, namun dikerubuti oleh banyak orang, membuat rasa lelah tak bisa untuk tak menghampiri Xiao Wang.
"Sial! Kenapa mereka ini tak ada habis-habisnya!"
Xiao Wang segera mengeluarkan teknik Pusaran Ombak.
Setelahnya, beberapa orang yang berada di dekatnya langsung hanyut, tersapu oleh ombak besar yang tiba-tiba saja tercipta. Seiring dengan menghilangnya ombak tersebut, mereka juga ikut menghilang entah kemana.
Beberapa anggota yang lain, yang melihat temannya menghilang bersama dengan menghilangnya ombak tersebut merasa merinding. Selanjutnya, mereka kembali melesat ke arah Xiao Wang. Menyerang kembali anak itu, karena perintah dari salah satu kultivator tahapan Langit telah terdengar.
setelah melepaskan teknik Pusaran Ombak tersebut, Chen Li segera mengeluarkan pil pemulih tenaga. Karena kebetulan tak ada yang mendekatinya saat itu.
Setelahnya, ia mulai menggerakkan kembali pedangnya memotong lawannya.
***
Pria yang berada dalam kamar tampaknya telah selesai dengan pertarungannya bersama dengan beberapa wanita dalam sebuah ranjang.
Kini ia berniat keluar, hendak memeriksa keributan apa yang terdengar di luar sana. Namun sebelum ia beranjak meninggalkan ranjang, ia memerintahkan seorang wanita untuk mengulum benda panjangnya sesaat, sembari memainkan lidahnya pada mulut seorang wanita lain.
Setelah merasa puas, ia mengecup masing-masing kening wanita itu. Lalu mengenakan pakaiannya. Setelahnya bergegas keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan para wanitanya yang masih dengan keadaan tubuh tak tertutupi sehelai kain.
Alangkah terkejut pria tersebut ketika melihat situasi di luar sana, yang kini nampak kacau. Pertarungan berat sebelah dapat terlihat di sana. Tak hanya itu, banyak dari anggotanya yang kini nampak tergeletak tak bernyawa di tanah. Dan menjadi pijakan kaki orang-orang yang masih memiliki nyawa.
"Kurang ajar! Siapa yang berani menyerang markas kelompok kami. Cari mati dia!" ucapnya dengan nada mengandung kemarahan.
Setelah memperhatikan lebih jauh. Pria itu kemudian menautkan kedua alisnya kala tak menemukan sesuatu yang istimewa dari musuhnya. Hanya dua orang bocah yang dengan gagah berani bertempur ditengah ribuan musuh yang mengelilinginya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini! Kenapa dua orang bocah saja mereka tak bisa menanganinya... Dasar tak berguna!" Selesai dengan ucapannya. Ia lantas mengeluarkan suatu aura yang begitu luar biasa. Membuat bangunan-bangunan itu tergetar hebat.