
"Nona..."
"Sudah pagi.."
"Ini sarapan Anda.."
Elie membawa sebuah baki dengan beberapa roti lapis dan satu gelas susu hangat.
Sofia mengerjapkan matanya beberapa kali, rasa dingin mulai terasa dikulitnya. Dia menarik lagi selimut tebal yang hampir jatuh kebawah.
Udara segar langsung masuk kedalam paru-parunya, Sofia menghirupnya dalam.
Terdengar cuitan beberapa burung yang terbang diluar, dan suara air yang mengalir.
Sinar matahari mencoba menerobos masuk melalui celah-celah tirai yang menutupi jendela.
"Elie, buka jendelanya." Sofia menunjuk jendela besar yang ada didepannya.
Elie bergegas membuka tirai dan jedela itu.
"Sebuah sengai??" Sofia terkejut dengan pemandangan yang dia lihat.
Terlihat sebuah sungai yang cukup besar, dengan air jernih yang mengalir. Beberapa hewan tampak sedang menikmati kesegarannya.
"Iya Nona, semalam kita tidak melihatnya, karena diluar sangat gelap." Elie menjelaskan.
Karena merasa lapar, Sofia tidak bertanya apa-apa lagi, dia langsung melahap semua makanan yang Elie bawa.
"Kau sudah makan?"
"Sudah Nona, tadi bersama dengan pelayan yang lain."
"Baiklah.." Sofia mengangguk-anggukkan kepalanya, dia langsung menghabiskan semua roti lapisnya.
Elie tersenyum melihat tingkah Nona mudanya yang jauh dari kata anggun itu.
Setelah menyelesaikan makannya, Sofia pergi mandi dan mengganti pakaiannya.
Lalu bersiap melanjutkan perjalanan karena Elie terus mengatakan bahwa perjalanan masih sangat jauh, dan akan jauh lebih baik jika berangkat sepagi mungkin.
Kereta kuda mulai meninggalkan penginapan. Ternyata tempat itu sangat indah sekali, banyak bunga-bunga yang bermekaran dipagi hari, berwarana merah muda, biru dan putih. Karena kemarin sangat gelap, Sofia tidak menyadarinya.
Terlihat beberapa Rusa yang sedang merumput dikejauhan. Pemandangan yang sangat langka, Sofia tidak henti-hentinya berdecak kagum.
Sesekali dia berteriak 'Waw' atau 'Hebat sekali!' Elie tak bisa berhenti tertawa memperhatikan tingkah Nona mudanya itu.
Jalanan kembali tidak rata, batu-batu yang cukup besar sulit dilalui, sehingga beberapa pelayan mendorong kereta kuda dari belakang.
Hari itu cuaca cerah, tidak nampak awan sedikitpun. Langit betul-betul berwarna biru muda.
Perjalanan terasa menyenangkan, walaupun terkadang Sofia terlempar kesana-kemari, tapi Dia masih bisa tertawa. Elie bersyukur bisa menemani Sofia dalam perjalanan panjang ini.
Waktu berlalu begitu cepat, pemandangan diluar sudah tidak terlihat lagi. Begitu menyeramkan, berbeda dengan waktu siang hari.
__ADS_1
Elie mengatakan bahwa mereka akan menginap satu malam lagi. Namun, tempat itu tak kunjung terlihat.
Sofia mulai terlihat lelah dan bosan, untung saja mendadak laju kereta melambat, kemudian berhenti didepan sebuah kedai.
Elie turun lebih dulu untuk bertanya.
Tidak lama kemudian Elie kembali dengan raut wajah murung.
"Ada apa?"
"Nona, mereka mengatakan bahwa penginapan itu sudah lama tutup, sekitar beberapa bulan yang lalu karena pemiliknya sakit keras."
"Lalu, bagaimana?" Sofia mulai merasa cemas.
"Mereka mengatakan bisa menyediakan satu tempat tidur untuk Anda." Elie tersenyum.
"Tidak ada pilihan lain?"
Elie menggelengkan kepalanya.
"Baiklah." Sofia turun dari kereta kuda dengan enggan.
Kedai itu bernama 'Taverna' merupakan satu-satunya kedai minum yang ada di jalur menuju Lilbert.
Didalam terdapat beberapa orang yang sedang berkumpul, dan mereka seperti sedang asyik membicarakan sesuatu.
Tidak sengaja Sofia mendengarnya.
"Betul sekali, mereka berada disana tadi siang."
"Betul sekali! Dia membawa 2-3 orang gadis."
Sofia membekap mulutnya, dia bersyukur tidak ada ditempat yang sama dengan Perompak Barbar itu.
Elie mengajak Sofia naik kelantai atas, disana terdapat sebuah pintu menuju sebuah ruangan.
"Mereka menyewakan kamar ini khusus untuk Anda, Nona.." Elie tersenyum senang.
"Benarkah?" Sofia bingung harus berekspresi bagaimana.
Karena kamar ini sangat sempit, bahkan mereka tidak mempunyai fentilasi sehingga pintu kamar harus dibuka untuk sirkulasi udara. Elie bersedia tidur didekat pintu untuk menjaga Nona mudanya itu.
"Elie, sudah tidur?" Sofia membalikan badannya ke arah Elie.
"Belum, Nona.."
"Mengapa Anda belum tidur?"
"Elie, apakah Kau mendengar perkataan orang-orang yang sedang minum tadi?"
"Ah, Kapten Hades?"
"Saya mendengarnya Nona.."
__ADS_1
"Aku bergidik membayangkannya.."
"Tidak usah khawatir Nona, kita akan baik-baik saja.."
"Beristirahatlah, perjalanan kita besok masih lumayan jauh.."
Sofia membalikan lagi tubuhnya, kemudian mencoba untuk tertidur. Namun, matanya susah sekali untuk terpejam. Dia kembali mengingat pertemuan itu. Pertemuan dengan Kapten Hades. Entah apa yang akan terjadi padanya saat itu, jika saja suara sirine tidak terdengar kedalam.
Sofia terlalu lelah berkhayal, sehingga dia tidak sadar sudah tertidur pulas.
Elie yang terus menatap punggung Sofia tidak bisa tidur, sebenarnya dia terus memikirkan hal yang tadi Dia dengar. Apa yang akan terjadi jika Kapten Hades menemukan mereka? Elie sungguh tidak ingin membayangkannya.
Tidak terasa, matahari sudah mulai terbit. Kamar yang semula dingin, kini terasa hangat. Elie mencari sarapan untuk Sofia. Kedai terlihat kosong pada siang hari, karena orang-orang datang untuk minum hanya pada saat malam hari.
Dia membuat Roti bakar selai kacang dan satu gelas orange jus. Kemudian membawanya ke dalam kamar. Sofia masih berguling-guling diatas tempat tidur. Sebenarnya Elie tidak tega untuk membangunkannya. Namun, mereka harus cepat-cepat pergi lagi, agar sampai di Lilbert tengah hari nanti.
Setelah selesai sarapan, mereka dengan cepat meninggalkan kedai. Kereta kuda melaju dengan cukup kencang, karena jalanan cukup baik.
Pemandangan yang sama dengan kemarin. Seluruh tempat berwarna hijau, pohon-pohon yang tinggi dan sungai yang sangat bersih.
Beberapa kali mereka melewati orang-orang yang sedang berjalan berkelompok. Terlihat berbagai macam peralatan untuk berkebun dipundaknya.
Elie mengatakan bahwa orang-orang tersebut sedang mencari tanah untuk menanam sayuran. Karena tanah disini milik semua orang dan tidak mengatasnamakan siapapun.
Setelah menjelang siang, mulai terlihat beberapa rumah yang memang jaraknya cukup berjauhan. Namun semakin lama rumah-rumah tersebut semakin berdekatan. Desa Lilbert sudah semakin dekat.
Tidak lama kemudian dari kejauhan terlihat lautan yang berwarna biru. Sofia terlonjak senang melihat pemandangan ini untuk pertama kalinya.
"Astaga, Elie..."
"Biru sekali! Luas sekali!" Sofia hampir meloncat keluar saat melihat laut dari jendela kereta kuda.
"Nona, duduklah.."
"Atau kereta kuda kita akan terbalik."
EKHM..
"Maafkan Aku.." gumam Sofia. Dia tidak bisa menyembunyikan senyuman dari wajahnya.
Laju kereta kuda semakin melambat, dan tidak lama kemudian berhenti didepan sebuah rumah yang lumayan besar. Rumah itu bergaya Victoria dengan warna putih yang mendominasi. Pekarangan nya cukup luas, dengan beberapa pohon yang cukup besar didepannya.
Elie turun lebih dulu, kemudian membantu Sofia turun.
"Nona, ini rumah yang akan Anda tempati.." Elie tersenyum senang.
Sofia mulai melihat rumah itu, mengelilinginya dan mencari sesuatu yang akan membuatnya betah berada disana.
Udara disini sangat segar, tidak terlalu panas, meskipun dekat dengan laut. Angin sepoi-sepoi membuat rambutnya berkibar. Sofia mulai menyukainya.
"Nona, mari masuk.." Elie berlari menghampiri Sofia yang sedang menatap bunga matahari yang berwarna kuning terang dipekarangan.
"Aku menyukainya, Elie.." Sofia tersenyum.
__ADS_1
"Saya senang Anda menyukainya, Nona..." Elie menjawab dengan senyuman yang lebih lebar.