
Pulau Pace, Februari 1500.
Sebuah perahu kecil terlihat ditepi pantai, perahu itu terikat pada sebatang pohon kelapa yang sudah tumbang.
Matahari sudah mulai tinggi, sinarnya terasa cukup panas dikulit, namun hal itu tidak mengurangi sedikitpun minat Sofia.
"Kau sangat ingin naik perahu itu?" Richi menatap Sofia yang berada di pangkuannya.
"Sangat!"
"Aku ingin menaikinya denganmu.." Pipi Sofia bersemu merah.
"Sungguh?"
"Mmm.." Sofia menganggukan kepalanya.
"Aku bersedia pergi kemanapun.."
"Asalkan berdua denganmu.." Richi berjalan lebih cepat kearah perahu.
Sofia tidak bisa lagi menyembunyikan senyumnya.
Perahu semakin terlihat jelas. Sofia sudah tidak sabar ingin menaikinya. Dia menggerak-gerakkan kakinya keatas dan kebawah.
"Sangat senang hah?" Richi menatap Sofia yang ternyata sedang menatapnya.
Dengan cepat Richi mengalihkan pandangannya. Dia tidak sanggup jika harus bertatapan terlalu lama dengan Sofia.
"Akhirnya kita sampai.." Sofia tersenyum senang.
Richi menurunkannya diatas perahu. Dia membuka ikatan tali perahu pada batang pohon kelapa, lalu mendorong perahu kearah pantai.
Sofia mulai memasukkan tangannya kedalam air yang dingin. Dia menggerak-gerakkan tangannya, tangannya terasa sejuk, dia tidak sabar ingin memasukkan kakinya saat sudah dalam nanti.
Setelah cukup dalam, Richi naik keatas perahu dan mulai mendayung dengan perlahan.
"Terimakasih.." Ucap Sofia.
"Tentu.." Richi tersenyum.
Sofia menyusuri setiap sudut perahu, tidak sengaja tangannya menyentuh sebuah pahatan diatas perahu. Dia mendekatkan matanya untuk melihatnya lebih jelas.
Disana tertulis 'Rossie and Gabriel'.
"Gabriel?" Gumam Sofia.
"Apa Kau mengatakan sesuatu?"
"Ah.."
"Apakah Kau mengenal seseorang bernama Gabriel?"
"Gabriel?"
"Itu nama Hades."
"Hades?"
"Ya.."
"Kau mendengar dimana?" Richi sedikit terkejut mendengar Sofia menyebutkan nama Gabriel, sudah sangat lama sekali Dia tidak mendengarnya.
"Ini..." Sofia menunjukan pahatan tadi.
Richi mendekat dan mencoba membacanya.
"Ah..."
"Rossie and Gabriel."
"Apakah kebetulan Kau mengetahui siapa itu Rossie?" Richi menatap Sofia penasaran.
"Aku tidak.." Sofia mencoba mengalihkan pandangannya.
"Jangan menyembunyikan apapun dariku.." Richi mencengkram pundak Sofia.
"Tapi ini rahasia.." Sofia menekan bibirnya dengan telunjuk.
"Anggap saja Kau mengatakan padaku adalah sebuah rahasia, jadi Hades tidak perlu tau, jika aku mengetahuinya.."
"Kau benar-benar pandai membujuk.." Sofia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapih.
"Aku hanya melakukannya padamu kasih.." Richi mengambil sejumput rambut Sofia dan menciumnya.
"Rossie adalah ibuku.." Gumam Sofia.
"Ah.."
"Hah?"
"Ibumu?" Richi sangat terkejut mengetahui kebenaran itu.
"Yaa.."
"Rossie ibuku.."
"Apakah kebetulan Beliau sudah meninggal?" Tanya Richi.
"Ya.."
"Apakah Kau mengetahuinya?"
"Tidak terlalu, hanya saja. Beberapa taun yang lalu Hades mulai berubah dingin. Seperti kehilangan seseorang yang berharga untuknya."
"Mungkinkah itu, Ibumu?"
"Aku tidak tau.."
"Tapi, Hades membawaku ke makam Ibu.."
"Apakah makam itu ada di Kebun Mawar?"
"Ya.."
"Bagaimana Kau mengetahuinya?"
"Tempat itu terlarang.."
"Hades melarang semua orang kesana."
"Ah.." Sofia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau tidak salah, beberapa taun yang lalu Hades pernah membawa seorang perempuan dari Pulau Lilbert." Richi menatap jauh ke depan.
"Aku mengingatnya karena Dia berkulit pucat, ya benar. Sama sepertimu.." Richi mulai menyadari persamaan itu.
__ADS_1
"Kau bertemu dengannya?" Sofia penasaran.
"Hades mengajak perempuan itu berkeliling pulau untuk beberapa waktu, sehingga Dia tidak meninggalkan Pulau ini untuk waktu yang cukup lama."
"Lalu.."
"Lalu perempuan itu menghilang, dan sikap Hades berubah.."
"Jadi seperti saat ini."
"Seperti apakah Hades dulu?"
"Dia sama menyebalkan nya seperti saat ini.." Richi menatap Sofia.
"Jangan menyebut nama pria lain dihadapan ku."
"Kau milikku.."
"Ingat?"
Sofia tersipu, Dia membalikan badannya, tidak ingin Richi mengetahuinya.
"Ah.."
"Lalu.."
"Apa hubunganmu dengan Hades?"
"Kenapa Kau menjadi Perompak?"
"Aku dan Hades?"
"Itu sedikit rumit."
"Benarkah?"
"Ya.."
"Tapi Aku ingin tau.." Sofia mulai merajuk menggunakan matanya.
"Ah.."
"Jangan tatap Aku seperti itu.." Richi menutup kedua matanya.
"Aku ingin tau.."
"Aku ingin mengenalmu.." Bujuk Sofia.
"Baiklah.."
"Baiklah.."
"Kau sungguh akan mengatakannya?"
"Ya..."
"Sungguh??"
Richi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa hubunganmu dengan Hades?"
"Mungkin sepupu.." Jawab Richi ragu.
"Ya.."
"Bagaimana?"
"Ah.."
"Itu..." Richi terlihat ragu.
"Jika Kau tidak ingin menceritakannya, Aku tidak masalah.." Sofia tidak ingin terlalu memaksa.
Dia tidak ingin hubungannya yang mulai berjalan baik dengan Richi jadi berantakan gara-gara pertanyaannya. Lagi pula semua itu bisa menunggu dan tidak terlalu penting, pikirnya.
"Aku akan..."
Sofia diam, Dia menunggu Richi menjelaskannya.
"Ibu kami bersaudara."
"Kami mempunyai Nenek dan Kakek yang sama." Richi menjelaskan sesederhana mungkin.
"Sungguh??"
"Ibu kalian bersaudara?"
"Ya.."
Sofia teringat sesuatu yang lain. Namun dia ragu untuk menanyakannya.
"Ada apa?"
"Katakan saja.." Richi menggenggam tangan Sofia yang basah karena air laut.
"Tapi Aku takut kau marah.."
"Tidak.."
"Aku tidak akan marah.."
"Katakan saja.."
"Janji?" Sofia mengeluarkan kelingking kanannya.
"Janji.." Richi menautkan kelingkingnya dan kelingking Sofia.
"Lantas.."
"Kalian dan Gerald bersaudara?" Sofia menundukkan kepalanya.
Selama beberapa saat Richi diam. Dia tidak berekspresi apapun sehingga Sofia menjadi bingung dan merasa bersalah.
"Maaf.."
"Maafkan Aku, Oke?"
"Kau tidak perlu menjawabnya.." Sofia menggenggam tangan Richi yang mengepal.
"Tidak apa.."
"Aku sudah berjanji.." Richi membelai lembut pipi Sofia yang memerah.
"Sungguh?"
__ADS_1
"Tidak marah?"
"Tidak.."
"Nenekku punya seorang adik perempuan, Gerald adalah cucu dari adik Nenekku.."
"Ah.."
"Aku mengerti sekarang.."
"Apa Kau ingin mendengar yang lain?" Tanya Richi.
"Aku tidak keberatan mendengarnya jika Kau ingin menceritakannya."
Richi tersenyum, Dia mulai mengambil nafas.
"Dulu sekali, saat Aku berumur 10 tahun. Aku dan kedua orang tuaku menaiki kereta kuda."
"Kami akan pergi ke istana kerajaan."
"Saat itu hujan lebat sekali, angin berhembus kencang."
"Kereta kami berada ditepi tebing barat, kusir kereta berteriak sangat kencang."
"Aku bisa mendengarnya dengan jelas."
"Kereta kuda mulai berhenti mendadak dan berputar, Ibuku memelukku dengan erat dan tidak lama kemudian kereta terlempar ke jurang."
Sofia menutup mulutnya. Dia tidak tau Richi akan menceritakan pengalaman terburuknya.
Richi menatap Sofia, Dia menggenggam tangannya dan menciumnya.
"Aku selamat karena Ibuku.."
"Saat Aku melihat ke atas, dan melihat Gerald sedang tertawa, kemudian dia berlari.
Richi mengakhiri ceritanya dengan tersenyum.
Sedangkan Sofia tidak bisa berkata apapun, matanya terbuka lebar, kedua tangannya mengepal.
"Sayangku.."
"Aku baik-baik saja, sungguh.." Richi mengecup kening Sofia dengan lembut.
"******** itu.."
"******** gila itu!" Rasa marah dan kesal memenuhi hati dan pikiran Sofia.
"Mungkin saat itu memang seperti akhir dari hidupku, ketika Aku mengetahui Ibu dan ayahku tewas dan hanya Aku yang selamat."
"Aku membenci diriku sendiri. Seandainya saja Aku ikut mati.." Richi menatap langit yang biru.
"Jangan berkata seperti itu..." Sofia menyentuh wajah Richi dengan kedua tangannya.
"Aku akan bersamamu.." Sofia menarik Richi kedalam pelukannya.
Sekarang Sofia mengerti mengapa Richi memperlakukannya seperti itu. Jika memang hal ini benar terjadi, wajar saja jika Richi membencinya saat di Kapal Hades.
"Jika saja saat itu Aku tau.." Sofia mulai menyesal telah memaki Richi saat di Kapal Hades dulu.
"Tidak semua orang mengetahuinya sayang.." Richi menatap mata Sofia yang mulai berair.
"Jangan menangis oke?" Richi mengusap kedua mata Sofia.
Sofia mengangguk.
"Ah.."
"Mengapa Kau menjadi Perompak?" Mata Sofia kembali berbinar-binar.
"Astaga.."
"Aku menyukai seluruh ekspresi yang Kau buat." Richi tertawa melihat Sofia yang kembali bersemangat.
"Ayo jawab.."
"Mengapa??"
"Aku terpaksa, Oke?"
"Terpaksa?"
"Apakah itu mungkin?"
"Ya.."
"Nenek sialan itu ingin Aku menyelesaikan sesuatu.."
"Ah.."
"Nenekmu sungguh aneh.."
"Kurasa.."
"Ya.."
"Kau harus mengatakannya didepan wajahnya." Richi tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sofia, Dia mulai membayangkan Sofia bertemu dengan neneknya.
"Astaga.."
"Sudah hentikan.." Sofia mencubit pipi Richi.
Aww
Aww
"Maafkan Aku, maafkan Aku.." Richi mengangkat kedua tangannya.
Sofia melepaskan cubitannya. Dia tertawa saat melihat pipi Richi yang merah. Richi menggosok-gosok kedua pipinya.
"Senang?" Richi tersenyum melihat Sofia yang tertawa.
Dia tidak menyangka akan tiba waktu untuknya merasa bahagia seperti ini. Dia merasa nyaman berada disamping Sofia, meskipun mereka membicarakan hal yang sangat tabu bagi Richi, tapi Richi merasa hal itu bukan lagi hal yang patut disembunyikan. Dan Dia merasa baik-baik saja setelah menceritakannya pada Sofia.
Richi menarik Sofia kedalam pelukannya.
"Terimakasih.." Gumam Richi.
Ombak terus-menerus menerjang perahu mereka yang kecil, sehingga Richi mendayung perahu lebih cepat.
Perahu mengikuti aliran sungai, masuk kedalam Pulau Pace. Sofia memasukan kedua kakinya kedalam air. Dia menggerak-gerakkan kakinya seperti anak kecil.
Richi memperhatikannya dari belakang, sesekali Richi memegang Topi Sofia yang hampir jatuh tertiup angin.
Tidak ada orang lain ditempat itu, hanya ada mereka berdua.
__ADS_1