
Pulau Pace, Februari 1500.
Udara pagi yang dingin membuat Elie terbangun, dia berjalan ke arah jendela dan membukanya lebar-lebar. Angin sepoi-sepoi membuat rambutnya terbang kesana-kemari.
Elie mendongakkan kepalanya keluar. Diluar masih cukup gelap dan tidak terlihat siapapun disana.
"Sepertinya semua orang masih terlelap."
"Kupikir, ini waktu yang tepat untuk bangun." Elie menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia kembali ketempat tidur, lalu membetulkan selimut Sofia yang sudah turun. Sofia memang tidak pernah tidur rapih, selalu ada saja bantal atau selimut yang terjatuh dari tempat tidur.
"Nona, bagaimana Kau bisa bertahan di Kapal Hades?"
"Aku sungguh tidak bisa membayangkannya.."
"Tidak sedikitpun.."
Elie memandang Sofia yang masih tertidur. Hatinya terasa sakit melihat Nona mudanya terbaring ditempat tidur dengan luka peluru diperutnya.
"Nona..."
"Aku akan membawamu pulang meskipun lawanku Duke Of Roseland." Gumam Elie.
"Tapi.."
"Sebaiknya Aku mendengar perkataannya sehingga Kita bisa pulang dengan selamat."
Elie membelai rambut Sofia yang berantakan.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu, Elie berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan.
Chris berdiri didepan pintu dengan canggung.
"Mm.."
"Nona Elie.."
"Ya.." Elie mengangkat kedua alisnya.
"Saya Chris.."
"Pelayan Madam Joy.."
"Sarapan akan siap satu jam lagi."
"Ah, Saya membawa dua gaun untuk Anda dan Lady Esme."
Elie menatap Chris beberapa saat, lalu Dia tersenyum.
"Terimakasih.."
"Saya akan membawa gaunnya."
Elie mengambil gaun ditangan Chris dengan cepat, lalu kembali menutup pintu.
CLACK
Chris menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Dia terkejut Elie langsung menutup pintu begitu saja.
Hmm
Karena merasa tugasnya telah selesai, Chris kembali ke Mansion utama.
Elie menggantungkan 2 gaun yang diberikan oleh Chris. Satu gaun berwarna merah maroon dan satunya lagi berwarna peach. Gaun itu sangat cantik dengan beberapa mutiara yang menghiasi lehernya. Elie tidak pernah memakai pakaian semewah ini sebelumnya.
"Bahannya sangat bagus sekali, apakah Aku akan cocok memakai gaun ini?"
"Tentu saja Elie.."
Elie terkejut dan menengok ke belakang, ternyata Sofia sudah bangun dan duduk ditempat tidur.
"Astaga Nona, Anda membuat Saya malu." Elie menutup seluruh wajahnya.
"Kau cantik menggunakan apapun Elie..." Sofia tersenyum dengan tulus.
Elie berjalan kearahnya dan memeluk Nona mudanya dengan pelan-pelan.
"Apakah Saya membangunkan Anda?"
"Tidak, tidak..." Sofia menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah.."
"Nona.."
"Saya masih tidak percaya bisa bertemu dengan Anda lagi.." Sudut mata Elie terasa perih. Butir-butir air mata sudah tampak dipelupuk matanya.
"Kau menangis lagi Elie.."
"Aku akan menangis bersamamu jika begitu.."
"Tidak Nona, tidak.." Dengan cepat Elie menghapus air matanya.
"Tolong jangan terlalu banyak bergerak, luka Anda belum sembuh." Elie menatap perut Sofia dengan sedih.
"Ah.."
"Sebenarnya Aku baik-baik saja.."
"Jangan terlalu khawatir.." Sofia mengelus rambut Elie dengan lembut.
"Astaga, Saya hampir lupa.."
"Ada apakah.." Sofia membuka lebar matanya.
"Gaun ini diberikan oleh Chris, dan semua orang tampaknya akan berkumpul saat sarapan."
__ADS_1
"Aku mengerti.."
"Sebaiknya Kita bersiap."
Elie mengangguk, kemudian membantu Sofia turun dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya.
* * *
Satu jam kemudian..
Tok
Tok
Tok
"Chris?" Elie bertanya dari dalam kamar.
"Yaa.."
"Semua orang telah menunggu, Nona."
"Ah, Aku mengerti.."
"Nona Esme akan keluar sebentar lagi."
Suara langkah kaki terdengar menjauh, Chris telah meninggalkan Paviliun Rose.
"Elie, Aku sudah mengatakan kepadamu.."
"Kau tidak usah meriasku.."
"Ya Tuhan.."
"Tidak, Nona!"
"Sebuah bencana jika Anda hanya memakai gaun cantik ini tanpa merapihkan rambut Anda!"
Memakai pakaian ternyata memakan waktu lebih lama. Elie bersikeras ingin Sofia tampil dengan layak seperti saat mereka berada di Roseland.
"Astaga Elie, Aku terlihat seperti akan ke pesta!" Sudah lama sekali sejak seseorang menata rambutnya, dan Sofia merasa asing melihat dirinya didepan cermin.
Seorang wanita kurus berkulit pucat dengan rambut panjang coklat yang bergelombang.
"Tidak Nona! Anda terlihat sangat sederhana.."
Lagi-lagi Elie menyisir rambut belakang Sofia.
"Aku terlihat sangat.."
"Sangat tidak pantas mengenakan gaun ini Elie.."
"Aku terlalu kurus..."
"Apa yang Anda katakan?"
"Anda baik-baik saja Nona!"
"Warna Peach ini membuat kulit anda terlihat bersinar."
Mereka tertawa bersamaan. Bobby adalah nama kucing kecil peliharaan Elie di Roseland.
"Kau membuatku tertawa puas Elie, lihatlah air mataku, mereka hampir keluar.." Sofia menyeka air matanya.
"Tidak, Nona.."
"Tidak..." Elie menggelengkan kepalanya.
"Jangan sampai."
Setelah selesai menata rambut Sofia sedemikian rupa, mereka bergegas ke Mansion utama.
Elie membantu Sofia berjalan, Sofia masih kaku saat melangkahkan kakinya.
Chris membuka pintu dengan cepat saat melihat dua Nona muda berjalan ke arahnya.
Elie masuk lebih dulu, lalu disusul Sofia. Semua mata menatap ke arahnya.
Bahkan Richi, Dia tidak berkedip saat menatap Sofia. Tidak sengaja mata mereka bertemu, Richi dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Ah.."
"Apa yang kulakukan.." Gumam Richi.
Semua orang telah duduk mengelilingi meja makan.
Hades mengedipkan matanya ke arah Sofia. Sofia tidak menghiraukannya dan berjalan ke arah meja makan.
Hanya ada dua kursi kosong disana. Satu disebelah Richi dan satu disebelah Joy. Tentu saja dengan cepat Elie menuntun Sofia agar duduk di samping Richi. Elie mencoba menahan tawanya agar tidak keluar.
"Nona, duduklah disini.." Elie memundurkan kursi untuk Sofia.
Sofia melotot ke arah Elie, namun Elie tidak menggubris, dia berjalan ke arah Madam Joy dan duduk disebelahnya.
"Duduklah.." Gumam Richi.
Tidak ada pilihan lain selain duduk disana. Sofia tidak mau semua orang menunggu lebih lama lagi karena dirinya.
Suasana hening untuk beberapa saat.
Semua kursi sudah terisi penuh.
KLAP
Hades menyatukan kedua telapak tangannya.
"Baiklah.."
"Semua orang telah berkumpul."
"Mari kita mulai makan."
Sudah lama sekali sejak Sofia melihat meja makan sepenuh ini.
__ADS_1
Perutnya mendadak terasa kosong. Didepannya terdapat kalkun panggang, Croissant, Steak, Sup ikan dan masih banyak lagi makanan. Sofia bingung harus memakan yang mana.
Richi menyadari tatapan bingung Sofia. Dengan cepat Richi mengambil sepiring steak dan memotongnya, kemudian memberikannya pada Sofia.
"Makanlah..." Gumam Richi.
Sofia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dari mana datangnya perubahan ini? Richi tidak pernah memperlakukannya seperti ini sebelumnya.
'Apakah kepalanya terbentur?' Itulah yang ada dipikiran Sofia.
Karena merasa lapar, Sofia tidak memprotes saat Richi memotong steak untuknya. Dia makan dengan lahap, bahkan saat Richi menambah beberapa potong steak lagi untuknya, Sofia memakan semuanya tanpa tersisa.
Elie hanya tersenyum melihat kedua tingkah calon pasangan ini.
Hades melihat Sofia dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Richi menyadari itu dan menatap Hades dengan tatapan menantang.
Hades mengangkat kedua alisnya dan melanjutkan memakan sisa kalkun yang ada di piringnya.
"Makanlah lebih banyak.." Gumam Richi ditelinga Sofia.
Jantung Sofia berdebar dengan cepat, wajahnya sudah semerah kepiting rebus yang ada diatas meja. Wajah Richi terlalu dekat dengannya.
Sofia mengipas-ngipaskan tangan diwajahnya. Dia berusaha menenangkan hatinya secepat mungkin.
"Apakah ruangan ini panas?" Richi kembali berbisik di telinganya.
Dengan cepat Sofia menggelengkan kepalanya.
"Ah, apakah Kau demam?" Richi mengusap dahi Sofia, refleks Sofia menjauh karena terkejut.
"Aku baik-baik saja.." Jawab Sofia pelan.
"Ah.. Makanlah lebih banyak." Richi mengambilkan satu potong kalkun panggang diatas piring Sofia.
Mau tidak mau Sofia memakannya, Dia tidak mau Richi kembali bertanya lagi padanya.
* * *
Semua makanan diatas meja habis, hanya tersisa beberapa potong ayam dan satu mangkuk sup ikan saja. Joy tersenyum puas saat selesai makan.
"Chris..!"
"Chris..!"
Chris berlari dengan cepat kearah Madam Joy.
"Kau akan mendapatkan kenaikan gaji!" Madam Joy menepuk-nepuk punggung Chris dengan keras.
Chris menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.
"Terimakasih, Madam.." Chris menundukkan kepalanya.
"Ya.. Ya.."
"Segera bereskan setelah selesai."
Chris mengangguk dengan ceoat.
Setelah semua orang selesai dengan makannya. Hades berdiri lebih dulu lalu berjalan mendekat ke arah Sofia.
"Nona Esme.."
Richi menatap Hades dengan kesal.
"Apa yang Kau inginkan Kapten?" Sofia menatapnya tajam.
"Bisakah Kau berbicara denganku sebentar?"
Richi semakin tidak suka dengan arah pembicaraan ini.
"Ah.."
"Apa yang akan kita bicarakan?"
"Sesuatu yang tidak bisa Aku jelaskan disini." Hades memandang Richi dengan sengaja.
Richi mengepalkan tangannya. Dia menggigit bibir bawahnya karena kesal.
"Apakah itu penting?"
"Kau akan mengetahuinya setelah kita bicara.."
"Ah.."
"Baiklah.."
Dengan cepat dan tanpa pemberitahuan apapun, Hades menggendong Sofia layaknya seorang putri. Richi terkejut dan menarik tangan Sofia.
"Hades! Apa yang Kau lakukan?" Richi berbicara setengah berteriak.
Joy dan Elie terkejut dengan keributan yang terjadi didepannya.
"Aku akan membawanya sebentar." Hades menjawab tanpa nada.
"Kau tidak bisa membawanya!"
"Aku bisa!" Jawab Hades tenang.
"Kau tidak!"
"Cukup! Aku akan pergi dengan Hades, sebaiknya Kau bersikap tenang." Sofia menatap Richi dengan tatapan bingung.
Hades tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pernyataan Sofia.
"Anak yang baik!"
"Mari kita pergi!"
"Nona!" Elie memanggil dari meja makan.
"Aku akan kembali Elie.."
"Beristirahatlah.."
__ADS_1
Elie tidak dapat membantah, Dia mengangguk dengan cepat.
Richi menatap kepergian Sofia dengan raut wajah marah dan kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya.