
Diatas Kapal Perompak Blanc, Desember 1499.
Rond melompat dari atas Kapal Hades dengan cepat. Seketika itu juga Kapal Blanc mengembangkan layar, dengan bantuan angin yang berhembus, Kapal Blanc melaju dengan cepat.
Rond memutar-mutar tubuhnya digeladak atas. Awak kapal Blanc bersorak senang melihat Rond menggendong seorang wanita dipunggungnya.
"Siapa dia Rond?" Kapten Blanc menepuk punggung Rond dari belakang.
"Ahaaaa, Kapten!! Lihatlah yang kubawa!!" Rond menurunkan Sofia di lantai.
"Aku sudah melihatnya, siapa dia?"
"Dia domba kecil Tuan Richi!"
"Apa maksudmu?" Blanc belum mengerti dengan ucapan Rond.
"Wanita ini ada didalam kabin Tuan Richi, Kapten."
Kapten Blanc mengerutkan dahinya, dia takut pendengarannya salah dan bertanya lagi.
"Wanita milik Richi?"
"Benar Kapten!!"
"Astaga, Aku tidak tau Tuan Richi menyimpan sesuatu seperti ini didalam kabinnya." Blanc menggelengkan kepalanya.
"Masukan dia kedalam Kabinku."
"Kami ingin melihatnya Kapten!!!" Seluruh awak kapal bersorak, mereka sangat senang melihat seorang wanita, sudah lama sekali sejak mereka melihat wanita.
"Dia barang berharga! Kalian akan mendapatkannya nanti, setelah kita berlabuh." Kapten Blanc berjalan kearah Kabinnya.
Dengan cepat Rond menggendong Sofia yang masih tidak sadarkan diri dan mengikuti Blanc.
Rond meletakkan Sofia diatas tempat tidur Blanc, lalu meninggalkannya berdua bersama Kaptennya.
Blanc memutari tempat tidur. Dia mengamati wajah Sofia dengan seksama. Wajahnya mengingatkan pada seseorang yang dia kenal dulu, tapi Blanc lupa siapakah wanita itu.
Kabin Kapten Blanc tidak seluas Kapten Hades. Ukurannya sedikit lebih kecil, tempat tidurnya jauh dari kata nyaman. Perabotannya terlihat biasa saja, tidak ada hal mewah dan istimewa didalamnya.
Benar-benar seperti Kapal Perompak. Jauh dengan Kapal Hades yang penuh dengan kemewahan. Udaranya terasa lembab, sirkulasi tidak begitu bagus, dan bagian depan Kapal rusak parah akibat terkena meriam Kapal Hades.
Blanc mengambil sebatang tembakau dan menyalahkannya. Ruangan kecil itu penuh dengan asap tembakau, sehingga Sofia bangun dan langsung terbatuk-batuk.
"Nona, Kau sudah sadar?" Blanc menghembuskan asap tepat ke wajah Sofia, sehingga Sofia susah payah menghirup nafas.
Sofia mengipaskan kedua tangannya, berharap asap itu akan hilang dengan cepat.
Rasa mual mulai terasa lagi olehnya, memang Sofia masih belum terbiasa hidup ditengah lautan, terkadang mabuk lautnya kembali dan membuatnya mual dan muntah.
"Kau bisa mendengarku, Nona?" Blanc mematikan tembakaunya.
Sofia menatapnya tanpa rasa takut, Blanc terkejut mengetahuinya.
__ADS_1
"Astaga, apa yang dilakukan Hades padamu? Kau tidak terlihat seperti seorang Lady." Blanc mengusap lembut rambut Sofia.
"Menjauhlah!" Sofia berteriak.
"Ssst, sttt tenanglah Nona, Kau tidak akan mau jika seluruh awak kapalku datang dengan cepat kesini."
Sofia diam tidak bersuara.
"Siapa namamu?"
Sofia diam tidak menjawab.
"Apakah seorang Lady tidak diajarkan tata krama?"
"Untuk apa aku beramah tamah padamu?" Sofia menatapnya tanpa berkedip.
"Astaga." Blanc tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Sofia.
"Dengarkan, Nona. Perbuatan mu akan menentukan sikapku selanjutnya padamu, jadi tentukanlah." Blanc menyimpan sisa tembakaunya diatas meja.
"Siapa namamu?"
"Aku tidak akan mengatakannya!" Sofia membuang mukanya.
"Sungguh menarik! Aku ingin tau bagaimana caranya Tuan Richi menjinakkan mu, Nona."
"Aku bukan binatang! Dasar brengsek!"
Kemudian memutar-mutarnya diudara, saat hendak menyalakannya, Sofia mengambilnya dengan paksa.
"Sungguh, lakukanlah diluar." Sofia melempar Tembakau itu.
Entah dari mana asal keberanian Sofia, yang jelas dia juga tidak tau bagaimana dia bisa seberani itu. Mungkin Sofia sudah muak dengan semua hal yang terjadi padanya.
Blanc bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Sofia.
"Nona, jangan salahkan Aku jika kelak Aku akan mengurungmu didalam Kapal ini dan menjadikanmu miliku!"
"Jangan pernah berkhayal!" Sofia mengambil selimut dan menutup tubuhnya.
"Rond! Bawa Fogie kemari!" Blanc berteriak cukup kencang.
Tidak lama kemudian Rond masuk dengan membawa seorang lelaki bertubuh besar dengan wajah yang sangat menyeramkan dan mata yang melotot.
"Fogie! Lihatlah wanita ini." Blanc tertawa licik.
"Tuan, apakah boleh?" Fogie mengusap-usap kedua telapak tangannya.
"Jangan kasar padanya! cobalah dengan lembut."
Fogie mendengarkan perintah Kapten Blanc dan mulai menarik selimut itu perlahan.
Sofia terkejut ketika melihat lelaki asing itu melotot dan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Menjauhlah!!"
"Pergi! Pergi dariku!" Sofia menendang-nendang Fogie beberapa kali.
Hal itu justru semakin membuat Fogie bersemangat.
Kapten Blanc dan Rond tertawa terbahak-bahak.
Fogie adalah salah satu awak Kapal Blanc. Dia adalah seorang lelaki bejat yang suka memperkosa anak dibawah umur. Kapten Blanc menemukannya saat dia sedang berada di Karibia.
Fogie memohon agar Kapten Blanc mengijinkannya untuk menjadi awak Kapal Blanc. Kapten Blanc menolak, namun Fogie terus-menerus mengikutinya seperti anjing. Sehingga Kapten Blanc risih dan menerimanya dengan berat hati.
Fogie menarik gaun Sofia beberapa kali, sehingga bagian punggungnya hampir sobek.
"Aku akan mengatakannya!"
"Aku akan mengatakannya!"
"Aku akan mengatakan namaku!"
"Menjauhlah dariku!" Sofia berteriak histeris dan hampir menangis.
"Fogie, cukup. Kembalilah." Ujar Kapten Blanc.
"Tapi Aku menyukainya Kapten..." Fogie menunjukkan raut wajah tidak puas.
"Kita akan mendarat nanti, sekarang kembalilah."
Rond kembali menggiring Fogie keluar dari Kabin Kapten Blanc.
"Katakanlah.." Blanc duduk disamping Sofia.
"Esme, namaku Esme. Menjauhlah dariku."
"Esme? Sungguh?" Kapten Blanc tidak yakin.
"Sungguh!!! Namaku Esme!" Sofia benar-benar sudah lelah dan tidak ingin berdebat lagi. Air matanya hampir menetes saat itu juga.
"Baiklah, Esme. Untuk saat ini hanya itu yang akan Aku tanyakan." Kapten Blanc pergi dari Kabinnya dan menutup pintu dengan rapat.
Kini, Sofia hanya sendirian. Tidak ada penghubung untuknya ke Roseland. Dia sudah tidak tau lagi harus bagaimana bertahan ditempat yang mengerikan ini. Sekarang dia sadar, Kapal Hades 1000 kali lebih nyaman dari pada Kapal Blanc.
Sofia menangis tanpa mengeluarkan suara. Dia benar-benar sudah terlalu letih dan hanya ingin menangis. Sofia jatuh tertidur begitu saja, fisik dan pikirannya sudah terlalu lelah untuk berpikir.
* * *
Suara deburan ombak yang kencang membuat Sofia terbangun. Terdengar suara hujan yang deras mengguyur kapal. Kapal bergoyang ke kiri dan ke kanan. Sofia memegang tempat tidur dengan erat. Rasa mual mulai terasa lagi. Suara petir terdengar berkali-kali. Badai berkecamuk dengan hebat diluar.
"Kembangkan layar!! Kita akan pergi ke barat!" Terdengar suara teriakan diluar.
Bunyi-bunyi derap langkah membuat telinga Sofia semakin sakit, rasa mualnya tidak bisa ditahan lagi, Sofia turun dari tempat tidur dan berjalan kearah pojok. Dia memuntahkan isi perutnya yang bergejolak.
Kakinya terasa lemas, kepalanya terasa pusing berputar-putar, dia menggapai-gapaikan tempat tidur dan berjalan merangkak naik keatas nya. Tenaganya sudah terkuras, dia sudah tidak peduli lagi dengan gaunnya yang hampir robek dan tangannya yang terasa sakit. Sofia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1