
Diatas Kapal Perompak, Desember 1499.
Sofia dengan cepat melepaskan baju yang dia pakai, menggantinya dengan gaun yang diberikan oleh Richi. Sesungguhnya itu adalah gaun yang sangat cantik. Sebuah midi dress tanpa lengan berwarna gading yang memperlihatkan kaki Sofia yang jenjang. Dia berputar-putar dengan anggun disamping tempat tidur.
Sofia menyukainya, gaun itu menempel pas ditubuhnya. Bagian atasnya memang memperlihatkan sedikit belahan dadanya yang indah, tapi tidak masalah bagi Sofia, asalkan bukan baju seperti sebelumnya. Entah bagaimana Kapten Hades mengetahui ukurannya, Sofia cukup terkejut.
"Aku, menyukainya." Gumamnya pelan.
"Seandainya ada Elie, dia pasti akan menata rambutku dengan indah. Aku merindukanmu Elie."
Setelah cukup lama berganti pakaian, ternyata Richi tidak kembali, entah mengapa hal itu membuat Sofia sedikit kesal. Dia menghentakkan kakinya cukup keras sehingga terdengar bunyinya sampai keluar kamar.
Sofia menatap langit-langit kapal dan menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Dia berguling-guling kesana-kemari. Rasa bosannya sudah menumpuk bagaikan sebuah gunung. Dia bangun dan berjalan menuju pintu, lalu mencoba membuka gagangnya.
Klak
Pintu terbuka begitu saja.
Sofia bingung. Dia tidak tau harus senang atau sedih. Haruskah dia keluar? Atau menunggu?
Dia maju mundur didepan pintu, menengok kekiri dan kekanan. Tidak ada siapapun diluar.
Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, dia melangkahkan kakinya keluar.
Langkah pertama, aman.
Langkah kedua, aman.
Langkah ketiga dan seterusnya dia tidak menghitung lagi.
Sofia mengendap-endap bagaikan kucing pencuri. Dia berjalan sangat pelan dan sebisa mungkin menghilangkan suara langkahnya.
Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara beberapa orang yang sedang berbicara. Sofia mencoba mendekat dengan perlahan.
Terlihat beberapa orang berseragam angkatan laut sedang berbincang-bincang dengan Richi.
Tanpa pikir panjang Sofia melompat keluar dan berteriak.
"Tolong Aku Tuan!!"
"Aku ingin pulang.."
"Bawa aku kembali ke Roseland!"
Raut wajah marinir itu tampak bingung. Dia memandang Richi dan bertanya.
"Tuan, maafkan kelancangan Saya, tapi mungkinkah ada masalah?"
Richi hanya mengangkat kedua bahunya.
"Jangan dihiraukan." Ucapnya santai.
"Dasar Kau laki-laki brengsek! Aku tidak akan pernah mau lagi bertemu denganmu! Tuan, bawa aku pergi! Ini adalah kapal Perompak!" Sofia berkata dengan lantang dan penuh amarah.
Marinir itu semakin bingung dan bertanya lagi pada Richi.
"Apa yang Nona muda itu bicarakan, Tuan?"
"Jangan dihiraukan, Dia memang senang berkhayal." Richi tertawa bersama beberapa orang yang ada disebelahnya
Marinir itu mendekat, dia mencium punggung tangan Sofia dengan lembut.
__ADS_1
"Mengapa Anda bertelanjang kaki?" Marinir itu menatap kaki Sofia yang tanpa alas.
Sofia tidak menjawab, air matanya hampir keluar, namun tatapan mata Richi membuatnya berhenti.
"Kami sedang bernegosiasi, Nona. Kalian memang pedagang yang luar biasa. Dan Anda sungguh sangat cantik sekali, maukah Anda memperkenalkan diri?"
Sofia sedikit canggung, namun dia hanya bisa menyebutkan namanya, karena berulang kali Richi menatapnya dengan tajam.
"Esme."
"Nama yang indah sekali, Saya tidak tau kalau perempuan secantik anda berada di kapal ini." Marinir itu melepaskan tangan Sofia dan berjalan kembali ke arah Richi.
Sofia bingung dengan sikap Marinir itu. Dia melihat berkeliling dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Bendera hitam itu telah berubah menjadi bendera Roseland. Lambang bajak laut menghilang. Semua awak kapal mengganti pakaiannya dengan kemeja, bahkan Ben. Dia baru menyadarinya, Ben memakai kemeja putih dan celana tanpa lubang dan bukan sepatu bot yang dia kenakan.
Astaga. .
Sofia menutup mulutnya.
"Apa yang terjadi?" Sofia bergumam.
Ben yang menyadarinya menarik Sofia kedalam sebuah kabin terdekat.
"Diamlah. Atau Aku akan membuangmu ke Palung terdekat." Ancaman Ben membuat Sofia terdiam.
Sofia tidak berbicara lagi, dia tau tidak ada gunanya berteriak sekencang apapun. Tidak akan ada yang mempercayainya. Padahal kapal utama Marinir Angkatan Laut ada disebelah Kapal Perompak ini. Tapi, tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya.
Ben mengantarkan lagi Sofia kedalam Kabin Richi, kali ini Ben tidak lupa menguncinya sebelum pergi.
Sofia merasa putus asa. Apa yang harus dia lakukan ditempat ini. Mengapa harus dia yang ada disini. Dia tidak bisa lagi menahan air matanya yang hampir keluar tadi, sekarang air matanya mengalir bagaikan air sungai yang meluap.
Ben yang menunggu didepan pintu dapat mendengar dengan jelas suara Sofia yang sedang menangis. Entah mengapa hatinya terasa sakit. Tapi Ben tidak mengerti, dia tetap diam dan mendengarkan dibalik pintu.
Mata Sofia terlihat besar sekali karena menangis terlalu lama, Ben tidak mengatakan apapun dan hanya pergi setelah mengantar makanan.
Dengan enggan Sofia melihat makanan yang Ben bawa. Roti isi dan sebuah teh hangat. Melihatnya membuat perut Sofia berbunyi, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan melahapnya dengan cepat.
Tidak terasa waktu terus berputar, Sofia mengetahui jam dari bunyi lonceng. Setiap beberapa saat terdengar suara lonceng, dan bunyinya semakin bertambah seiring berjalannya waktu.
Cahaya matahari sudah tidak terlihat lagi, Sofia menebak mungkin sekarang sudah pukul 8 malam. Karena suara lonceng berdentang 8 kali. Dia sangat bosan sekali, rasanya seperti seekor burung yang dikurung didalam sangkar.
Dia ingin bebas, lepas, terbang kemanapun dia suka. Tapi tidak bisa. Kakinya terasa dirantai sehingga tidak dapat pergi kemanapun.
Saat bosan, Sofia menjelajahi seluruh kabin Richi. Dia menemukan sebuah peta, kertas, tinta, sebuah surat, dan sebuah pedang yang berukuran sangat besar dan tentu saja sangat berat.
Pedang itu berwarna perak, mungkin beratnya sekitar 3 kg. Sofia tidak mengerti mengapa mereka membuatnya seberat itu. Lengannya terasa sangat pegal saat mencoba mengangkat dan mengayunkannya keudara.
Bunyi langkah kaki terdengar semakin dekat saat Sofia sedang mengayunkan pedang itu. Pintu terbuka dan Richi terkejut untuk kedua kalinya. Dia melihat Sofia sedang mengayunkan sebuah pedang yang bahkan terlihat lebih besar dari lengannya.
"Esme..." Richi berjalan mendekat.
"Richi?" Sofia mengarahkan pedang itu kewajah Richi.
"Esme, sebaiknya simpan pedang itu dilantai." Richi berkata dengan hati-hati.
"Pedang ini? Mengapa?"
"Karena Kau akan mematahkan lenganmu.."
"Patah? tidak. Aku baik-baik saja." Sofia mencoba mengayunkannya lagi dengan lebih cepat.
"Esme, pedang itu sangat berbahaya. Turunkan, atau kau akan melukai dirimu sendiri."
__ADS_1
Sofia semakin merasa diremehkan mendengar pernyataan Richi padanya. Dia semakin enggan untuk memberikan pedang itu. Entah mengapa sebuah pikiran gila mulai terlintas lagi dikepalanya.
"Aku akan memberikan pedang ini padamu. Tapi kau harus berjanji!"
"Apakah ini semacam negosiasi?"
"Kau bisa berpikir begitu."
"Tapi negosiasi akan menguntungkan kedua belah pihak. Apa yang membuatmu yakin aku akan menuruti tawaranmu?"
"Aku berjanji tak akan melukaimu!" Ucap Sofia dengan penuh keyakinan.
Richi tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Sofia.
"Kau memang tidak pernah membuatku bosan Esme, Kau selalu membuatku terkejut. Apa yang membuatmu yakin, Kau akan melukai ku?" Richi mengangkat kedua alisnya.
"Karena Aku memegang pedang ini." Sofia mengacung-acungkan pedang berat itu.
Beberapa tetes keringat mengalir didahi Sofia. Sebenarnya dia sudah tidak sanggup lagi mengangkatnya, tapi Sofia tidak ingin Richi mengetahuinya. Dia berpura-pura kuat dan tidak merasa terbebani.
"Baiklah, baiklah. Aku menyerah. Apa yang Kau inginkan?" Richi mengangkat kedua tangannya.
"Bawa aku kembali ke Roseland saat ini juga. Dan aku tidak akan melukaimu."
Richi kembali tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Sofia.
"Astaga, Esme. Dengarkan Aku. Aku bukanlah seorang Kapten, Kau sendiri sudah tau bahwa Hades adalah Kapten kapal ini. Jadi kau mengajukan permintaan yang mustahil padaku." Richi berpura-pura sedih.
"Jadi, Kau tidak bisa mengabulkan permintaanku?" Esme terlihat kesal. Dia sudah sampai batas kesabarannya.
Richi menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia sangat merasa hidup ketika bersama Esme, hatinya terasa hangat dan penuh dengan emosi.
"Aku tidak punya pilihan lain! Jangan menyesal dan marah."
Dengan cepat Sofia berlari kearahnya dan menusukan pedang kearah perutnya, beruntung Richi mempunyai refleks yang bagus sehingga hanya ujung pedang yang mengenai pakaiannya.
Pedang itu menancap kedalam dinding kapal, Richi sangat terkejut begitu pula dengan Sofia, dia terjatuh ketika pedang itu menembus dinding.
"Sepertinya Aku meleset." Gumamnya.
"Sepertinya, Aku beruntung." Gumam Richi.
Seluruh tubuh Sofia bergetar karena terkejut. Itu adalah pertama kalinya Sofia melakukan hal yang sangat berbahaya, selain memegang pisau dapur.
Richi mencabut pedang itu dengan mudah dan melemparkannya ke ujung kabin.
Dia berlutut dan menggendong Sofia ke atas tempat tidur.
"Apa Kau terluka?" Richi memeriksa seluruh tubuh Sofia. Dia melihat jari dan pergelangan Sofia yang merah dan terlihat sedikit lecet.
"Aku sudah memperingatkanmu, Kau akan terluka." Richi mengusap-usap dan meniup tangan Sofia dengan lembut. Sofia tidak berkata apapun dia masih sangat terkejut.
"Kau baik-baik saja?" Sofia berkata dengan pelan.
"Apa sekarang Kau mengkhawatirkan ku?"
Sofia tidak menjawab dan hanya diam.
"Aku baik-baik saja, kemeja ku kurang beruntung, lihatlah, mereka benar-benar terkoyak." Richi memperlihatkan sebagian kemejanya yang memang terkoyak. Terlihat sebuah goresan panjang disamping perutnya karena ujung pedang.
"Kau berdarah..." Sofia menutup mulutnya.
"Semua hal memang butuh pengorbanan bukan?" Richi tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
__ADS_1