
Di Pulau 'Le Paradise' , Januari 1500.
Sofia turun dengan paksa dari gendongan Richi. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan mantel dan berlari keluar.
Seluruh tubuh dan hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengar perkataan Richi yang tidak mendasar. Sofia sudah mengatakan kebenarannya, tapi mengapa? Mengapa Richi tidak percaya padanya?! Apa yang harus dilakukannya agar Richi mempercayainya?
Sofia telah mencari keberadaan Wenda dan Nana, tapi dia tidak bisa menemukan mereka. Begitupula dengan wanita-wanita lain yang disekap digudang, mereka menghilang begitu saja. Namun, wanita-wanita yang setengah telanjang bersama Kapten Blanc masih ada, mereka masih menari-nari dan meliuk-liukkan badannya memutari tiang bagaikan seekor ular.
"Nona...! Nona...!"
Dari arah belakang seseorang memanggilnya, Sofia membalikan badan dan terkejut melihat Sam sedang melambai-lambaikan tangan kearahnya.
"Sam?"
Sam berlari mendekat dan memeluk Sofia.
"Anda baik-baik saja, Nona?"
Sam melepaskan pelukannya dan memutari tubuh Sofia.
"Ah, Aku cukup beruntung Sam.." Sofia mencoba tersenyum.
"Apakah Anda bertemu dengan Tuan Richi?"
"Ya.. tapi, bagaimana Kau mengetahuinya?"
"Kami bertemu di gudang itu Nona, Dia mencarimu, lalu Aku mengatakan semua hal yang terjadi." Sam menjelaskan.
"Terimakasih, Sam. Berkatmu Aku tertolong. Tapi, kemana semua wanita itu pergi?"
"Tuan Richi datang dengan 2 kompi pasukan Marinir Laut Nona. Semua wanita telah dibawa keluar pulau dan akan dikembalikan ke Roseland."
"Benarkah? Benarkah semua itu yang telah terjadi? Benarkah?" Sofia sangat terkejut mendengar kenyataan yang terdengar seperti mimpi itu.
"Benar, Nona. Tuan Richi membawa pasukan."
"Bagaimana dengan Kapal Hades?" Tanya Sofia.
"Saya melihatnya berada disebelah selatan pulau Nona. Sepertinya awak Kapal Hades menunggu disana."
"Sam.. Aku tidak tau apa yang harus Aku katakan, tapi Aku benar-benar berterimakasih..."
"Syukurlah Anda baik-baik saja." Sam tersenyum puas.
"Lalu Sam, apakah Kau mengetahui siapa Mr. G?" Tanya Sofia.
"Mr. G? Aku tidak mengetahuinya, Nona. Maaf..."
"Tidak masalah, Sam. Itu tidak terlalu penting."
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan yang cukup gelap. Sofia meminta Sam agar mengantarnya ke kapal Marinir. Namun, Kapal itu telah berlayar saat Sofia mencari Wenda dan Nana.
"Lantas, apa yang harus Aku lakukan sekarang? Aku ingin pulang, Sam."
Sofia berlutut diatas pasir, kakinya mendadak lemas ketika mengetahui bahwa kapal Marinir telah pergi meninggalkannya.
"Nona, jangan seperti itu.. lebih baik kita kembali kedalam dan menemukan pakaian dulu untukmu, udara sangat dingin."
Sam menarik tangan Sofia dan membawanya kembali kedalam.
"Nona, masuklah terlebih dulu, Aku akan mencarikan pakaian yang layak untukmu." Sam pergi meninggalkan Sofia didepan sebuah bangunan yang terang dan cukup jauh dari bangunan yang lain.
__ADS_1
Sofia membuka ruangan itu dengan perlahan dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Tuan..."
Sofia sangat senang sekali bertemu dengan seseorang yang dikenalnya.
"Apakah Anda benar Tuan Gerald?" Sofia kembali memastikan.
"Esme? Ya, Aku Gerald, mengapa Kau bisa berada disini?"
"Aku terjebak dipulau ini Tuan! Namun, Sedang apa Anda disini?"
"Ah, Aku sedang bekerja. Lalu, bukankah Kau diculik perompak itu?"
"Itu benar Tuan! Sekarang bisakah Anda mengantar saya kembali ke Roseland?"
"Ke Roseland? Untuk bertemu Ayahmu?"
"Benar sekali! Benar! Aku ingin pulang bagaimanpun! Aku sangat merindukan Ayahku, ya Tuhan. Senang sekali melihatmu.." Sofia tidak kuasa menahan air matanya. Dia berlutut dan memeluk lututnya sambil menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata.
"Uuuh . . Huuuuu... Aku ingin pulang..."
"Kita akan pulang.." Tuan Gerald tersenyum penuh misteri.
"Terimakasih.. Aku senang sekali .."
"Ikuti Aku.." Ajak Tuan Gerald.
Tanpa sedikitpun merasa curiga, Sofia mengikuti Gerald seperti itik mengikuti induknya. Tuan Gerald menggandeng tangan Sofia dengan lembut. Dan membawanya masuk lebih dalam.
"Mengapa kita tidak keluar?" Sofia bertanya setelah merasa ada yang aneh.
"Benarkah..?"
Tuan Gerald hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa menjawab.
Lalu sampailah mereka didepan sebuah pintu yang cukup besar.
Tuan Gerald membukanya dan mendorong Sofia kedalam.
Sofia terjatuh cukup keras, lututnya terluka dan tergores karena menghantam ubin yang cukup kasar.
"Sakit sekali.. Apa yang Anda lakukan?" Sofia mundur mencoba sejauh mungkin dari Gerald.
"Tentu saja.. Kita akan bersenang-senang terlebih dahulu sebelum pulang sayang.." Gerald menatapnya seperti seekor singa yang kelaparan.
"Hentikan! Jangan pernah menyentuhku seujung jaripun! Dasar brengsek!"
"Ayolah Sofia... Jangan seperti itu.." Gerald menyentuh kaki Sofia.
"Kau tau siapa Aku?!"
"Tentu saja.. satu-satunya putri Marquess Jasper di Roseland!"
"Dasar brengsek! Menjauhlah ****!"
"Kau sudah satu bulan berada diatas kapal Perompak, Aku tidak yakin kau masih menjaga kehormatan mu.." Gerald tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak pernah! Aku tidak pernah mengijinkan siapapun menyentuhku!" Umpat Sofia.
"Ayolah. Ah, bagaimana jika begini, alih-alih Kau menikah dengan Duke tua itu, bagaimana jika Kau menikah saja denganku?" Mata Gerald terlihat sangat bersemangat dan bergairah melihat bagian tubuh Sofia yang tersingkap karena terjatuh.
__ADS_1
"Jangan bermimpi! Lebih baik Aku menikah dengan Duke tua itu dari pada denganmu! Kau **** tidak tau malu!" Umpat Sofia.
Gerald tertawa terbahak-bahak mendengar cacian Sofia.
"Astaga, mulutmu sangat berbisa Lady, Aku semakin menyukaimu!" Gerald menjilat bibir atasnya.
"Menjijikkan!" Gumam Sofia.
Gerald menggelengkan kepalanya perlahan dan berjalan mendekati Sofia tanpa mendengarkan perkataannya.
"Menjauhlah brengsek! Aku memperingatkanmu!"
"Ah, Aku sungguh tidak sabar mencicipi tubuh indahmu itu.."
Sofia mengumpulkan segenap tenaganya, dia mengingat kembali latihan-latihan yang dulu sekali pernah diajarkan ayahnya jika ada orang jahat yang mendekatinya.
"Aku harus bertahan! aku harus bertahan." Ucapnya berulang-ulang.
Kini Gerald hanya berjarak beberapa langkah saja dari Sofia, Sofia berdiri dan menopang tubuhnya pada dinding.
Saat Gerald mendekat dan menyerangnya, Sofia menendang kakinya kearah **** Gerald dengan keras.
DUUK!!!
Seperti seseorang yang akan kehilangan nyawa, Gerald berteriak sangat keras, Dia mengumpat seperti orang gila.
"Dasar wanita si#*###, wanita ja##*#, an###, bang***!!!" Gerald berguling-guling dilantai.
Sofia mengambil kesempatan ini dengan cepat. Dia berlari melewati Gerald dan meraih gagang pintu, dengan cepat membukanya.
Namun, malang bagi Sofia. Pintu itu hanya bisa dibuka dari luar.
Gerald tertawa terbahak-bahak melihat Sofia yang kebingungan.
"Kau akan merasakan akibatnya wanita sial!" Gerak masih memegang bagian vitalnya dan mengusap-usapnya.
Sofia tidak kehabisan cara, dia menendang-nendang pintu itu dengan keras, mengalirkan semua sisa tenaga pada kakinya.
DUK!
DUK!
DUK!
Namun semua itu tidak bertahan lama. Tubuhnya sudah sangat lemas, matanya sudah mulai berkunang-kunang, dia sudah kehabisan tenaga. Yang bisa dia lakukan hanya berteriak sebisanya.
"Tolooong...."
"Tolooong..."
"Sam..."
"Siapapun.. tolong Aku..."
"Sofia, Apa Kau tau, ini ruangan apa?"
Sofia diam, dia tidak menjawab apapun dan menghemat energinya.
"Ini ruangan kedap suara!!!" Gerald tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Sofia hanya diam, dia ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya, menangis sepuasnya, dia sudah lelah. Dia sudah pasrah dan hanya berdoa pada Tuhan, meminta kemurahan hatinya.
__ADS_1