
Tepi Pantai, Desa Lilbert. Februari 1481.
Rossie Sara Rossane adalah putri dari seorang Count di Roseland. Tidak seperti namanya yang berarti anggun, Rossie sangat menyukai kebebasan sehingga dia tidak pernah berkelakuan layaknya seorang putri.
Dia tidak pernah menghadiri pesta, tidak pernah memakai gaun mewah dan sangat menyukai celana. Dia begitu terobsesi menggunakan celana, sehingga selalu mencuri pakaian pelayan laki-lakinya.
Kedua orang tuanya tidak pernah melarang semua perbuatan Rossie. Karena, mereka tau Rossie tidak akan berumur panjang. Meski begitu Rossie tidak mengetahuinya.
Rossie mempunyai banyak teman lelaki seusianya. Pada saat itu Rossie berusia 14 tahun, dia bertemu dengan seorang anak lelaki yang baru berusia 11 tahun, anak itu sedang duduk di tepi pantai.
Rossie dan keluarganya memang tidak tinggal di Ibukota Roseland, dia tinggal di Lilbert sehingga rumahnya sangat dekat dengan pantai.
Dengan sengaja, Rossie melempar anak lelaki itu dengan sebuah kerang kecil yang tergeletak diatas pasir.
PUUK!!
Sontak anak lelaki itu membalikan tubuhnya dan melihat Rossie sedang menertawakannya.
"Kau sengaja?" Dia bertanya dengan kesal.
"Apa??" Rossie pura-pura tidak tau.
Anak lelaki itu mengambil kerang dan melemparkannya ke arah Rossie.
AWW
Lemparan kerang itu terkena kepalanya dan membuat keningnya sedikit lecet.
Anak lelaki itu panik dan berlari ke arahnya.
"Kau.. Kau baik-baik saja?" Dia panik dan mencoba meniup kening Rossie.
Rossie duduk dipasir dan memeluk lututnya.
"Hei, Hei...! Kau baik-baik saja?" Anak itu semakin panik dan mencoba melihat wajah Rossie.
Tidak lama kemudian Rossie tertawa terbahak-bahak melihat dia panik, lalu menyeka air matanya yang keluar.
"Astaga, Aku baik-baik saja! Tidak usah panik!" Seru Rossie.
"Tapi keningmu berdarah! Dan, astaga.. kulitmu sangat pucat!" Anak itu semakin khawatir dan mengelilingi tubuh Rossie.
"Aku baik-baik saja, ini tidak sakit dan kulitku memang sudah seperti ini sejak lahir.." Rossie mengedipkan sebelah matanya.
"Sungguh?"
"Tentu!!"
"Syukurlah..." Anak itu menghembuskan nafas lega.
"Siapa Kau?" Tanya Rossie.
"Aku Gabriel!"
"Hah? Gabriel? Aku baru pertama kali melihatmu, Kau tau.. ini daerah kekuasaan ku!" Rossie menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
"Yaa, Aku Gabriel! Benarkah? Tapi laut adalah daerah kekuasaan Ayahku!!" Anak itu menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
"Ayahmu nelayan?"
"Tidak! Ayahku adalah seorang Perompak!" Dia tersenyum dengan bangga.
"Perompak? Bukankah perompak adalah penjahat?" Tanya Rossie.
"Tidak! Ayahku bukan orang jahat!"
"Sungguh?"
"Tentu! Ayahku tidak jahat!"
"Apakah Ayahmu Poseidon?" Rossie mengingat cerita yang sering diceritakan ibunya.
"Bukan! Ayahku Dominic! Kau kira ayahku Dewa!"
"Haaa.. lalu, dimana Ibumu?" Tanya Rossie.
"Ibuku di Istana! Dia disekap oleh Ratu Ranee!"
"Benarkah? Mengapa Ratu Ranee menyekap ibumu? Apakah Ibumu seorang penjahat?"
"Tentu saja bukan! Ibuku seorang putri! Ibuku Putri Charlotte! Dan ayahku akan menyelamatkannya!" Anak itu berteriak-teriak dengan lantang.
"Jika Ibumu seorang Putri, maka Kau adalah seorang Pangeran?" Tanya Rossie.
"Tidak, tidak! Aku tidak mau tinggal di istana, Aku akan menjadi Perompak seperti Ayahku!"
"Sungguh?"
__ADS_1
"Tentu!"
"Tapi namamu tidak cocok untuk seorang Perompak!"
"Benarkah?"
"Tentu saja! Kau harus menggantinya!"
"Apakah Kau punya ide?"
"Biarkan Aku berpikir. Bagaimana jika Hades?"
"Kau hanya mengingat nama Dewa didalam kepalamu." Gabriel mencibirnya.
"Kau tidak menyukainya?" Rossie tampak kecewa.
"Baiklah, baiklah, Aku akan menggunakannya saat nanti jadi Perompak." Gabriel menganggukkan kepalanya.
"Apakah Aku boleh pergi bersamamu?" Tanya Rossie.
"Tidak, tidak.." Gabriel menggelengkan kepalanya.
"Membawa perempuan akan menyebabkan kesialan!" Jawabnya.
"Benarkah? Aku tidak membawa sial!" Jawab Rossie.
"Kau perempuan!"
"Aku? Tentu saja! Lihatlah kedua payudaraku yang besar!" Rossie memegang payudara dengan kedua tangannya.
"Hentikan itu menjijikkan!" Gabriel menutup kedua matanya.
Rossie tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Gabriel.
"Siapa Kau?" Gabriel menatap Rossie.
"Aku? Aku seorang putri!"
Gabriel menatap Rossie dari kepala sampai kaki.
"Putri yang terbuang?"
Rossie melayangkan sebuah pukulan yang cukup keras ke atas kepala Gabriel.
BUKK!!
Sejak saat itu mereka sering bertemu, meski hanya sekedar untuk berlarian ditepi pantai dan saling melempar pasir.
Pertemanan mereka berlangsung cukup lama hingga Rossie berusia 15 tahun.
Rossie meninggalkan Lilbert lalu akan menetap di Ibukota Roseland.
"Aku akan tinggal di Roseland, dan akan pergi nanti sore."
"Benarkah? Lalu bagaimana denganku?"
"Bukankah Kau akan menjadi Perompak?"
"Tentu saja! Tapi Aku akan menyelamatkan Ibuku dulu!"
"Kau akan berhasil!" Rossie mengedipkan matanya.
"Apakah kita akan bertemu lagi?"
"Kau akan menemui Ibumu bukan? Aku akan berada di Roseland! Kita akan bertemu!!" Seru Rossie dengan bersemangat.
"Kau berjanji?"
"Tentu saja! Mari menautkan jari kelingking!"
Mereka sudah berjanji akan berjumpa lagi kelak di Roseland.
Namun satu tahun setelah kepindahan Rossie ke Roseland.
Terdengar kabar, bahwa Putri Charlotte telah meninggal karena kecelakaan di lautan. Kapal yang digunakannya meledak dan tidak tersisa apapun disana.
"Ayah! Apakah benar Putri Charlotte meninggal?" Rossie menghalangi langkah ayahnya yang hendak pergi keluar.
"Benar sayang.. Putri Charlotte meninggal 2 hari yang lalu."
"Lalu apa yang terjadi pada putranya? Pada Gabriel?" Rossie menggenggam tangan Ayahnya dengan erat.
"Putranya? Putri Charlotte belum menikah sayang, apalagi mempunyai seorang putra." Ayahnya bingung mendengar pertanyaan Rossie.
Jantung Rossie seperti berhenti mendadak mendengar pernyataan Ayahnya. Rossie yang mendengar kabar itu langsung mengurung diri didalam kamarnya, dia tidak mau melakukan aktivitas apapun bahkan tidak ingin makan sedikitpun. Dia tidak percaya dengan semua yang ia dengar.
Kejadian itu membuatnya terus-menerus mengingat anak lelaki yang ditemuinya di Lilbert. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi padanya sekarang, dimana dia tinggal dan apa yang sedang dia lakukan. Mengapa semua orang tidak ada yang mengetahui tentang Gabriel?!
__ADS_1
Rossie mengurung diri hampir 1 Minggu, dia tidak membiarkan siapapun masuk kedalam ruangannya dan hanya membuka pintu saat pelayan mengantarkan makanan untuknya.
Sebuah keajaiban terjadi beberapa hari kemudian, Rossie keluar dari dalam kamarnya. Namun, Rossie terlihat berbeda. Dia menjadi tidak bersemangat dan terlihat semakin lemah.
Kedua orang tuanya sangat khawatir sehingga membawa Rossie berobat.
Dokter mengatakan bahwa Rossie baik-baik saja.
"Rossie, tunggulah di luar. Ayah akan berbicara dengan dokter."
Rossie mengangguk dan berjalan keluar, namun mereka lupa tidak menutup pintu sehingga seluruh pembicaraan dapat terdengar dari luar.
"Tuan, apakah benar anakku, Rossie baik-baik saja?" Suara Ayah Rossie terdengar khawatir dan sedih.
"Lady Rossie perlu suasana baru, sepertinya jiwanya sedikit terguncang."
"Lalu, sudahkah Anda mendapatkan obatnya Tuan?"
Dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Rossie bisa bertahan sampai sekarang adalah suatu mukjizat. Saya benar-benar tidak tau lagi, kita hanya harus berdoa pada Tuhan."
"Lalu, sampai usia berapa Rossie bisa bertahan?" Ayah Rossie terdengar gugup.
"Maaf Tuan, mungkin.. beberapa tahun lagi..."
Rossie sudah tidak sanggup lagi mendengar semua percakapan itu, dia meninggalkan ruangan dan berlari dengan cepat keluar.
Dia memeluk lutut dan menangis dengan keras dibawah sebuah pohon yang besar.
"Mengapa semua ini terjadi padaku? mengapa?"
UUUUHHHH HUHUU
"Apa yang harus Aku lakukan sekarang? Aku hanyalah seorang wanita sakit yang tidak dibutuhkan!"
UUUH HUUUUU
"Ayaah... Ibu... mengapa kalian melahirkan anak pesakitan sepertiku?"
"Mengapa..."
UUH HUUUUUUU
"Kalian sungguh orang tua yang malang..."
HUUU HUUUU
"Apa yang harus Aku lakukan Tuhan?" Rossie menatap langit yang biru dan mengusap air matanya.
Dari kejauhan seseorang memperhatikannya terus-menerus.
Rossie menyadari pandangan itu dan berbalik menatapnya.
"Apa yang Kau inginkan?!" Rossie menatapnya dengan lantang.
"Kau mengasihani ku?"
Lelaki muda itu berjalan kearahnya dan memberikan sebuah sapu tangan.
"Untuk apa ini?" Tanya Rossie.
Lelaki itu menyentuh pipi Rossie dengan saputangannya.
Sontak pipi Rossie bersemu merah, dia begitu malu mendapat perhatian seperti itu.
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak, sebenernya.. Aku seseorang yang sangat sakit, mungkin. Dan, Aku akan segera mati." Rossie tersenyum dengan pasrah.
"Aku turut berduka.." Jasper memandang Rossie dengan lembut, namun Dia tidak menunjukan rasa kasihan padanya.
"Apa yang Anda lakukan disini Tuan?"
"Ah.. Ibuku sedang sakit keras dan Ayahku sudah lama meninggal." Jawab lelaki muda itu.
"Maaf, Aku turut berduka.."
"Tidak masalah, karena memang setiap manusia hanya menunggu kematian." lelaki itu tersenyum dengan getir.
"Ah, maaf Nona.. Siapakah nama Anda?" tambahnya.
"Saya? Saya Rossie Sara Rossane.." Rossie menundukkan kepalanya.
"Saya Jasper, Jasper Remington." Jasper tersenyum.
"Senang bertemu dengan Anda Lady Rossie.."
__ADS_1
Rossie mencoba membalas senyuman Jasper.