Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Berpacu Dengan Waktu


__ADS_3

Pelabuhan Roseland, Maret 1500.


Elie menghentikan kereta kuda yang lewat dan memintanya untuk mengantarkan ke Pelabuhan.


Matahari sudah berada di atas kepala, Elie sudah terlambat untuk makan siang.


"Tuan.."


"Bisakah kita lebih cepat?"


"Ah.."


"Tentu, Nona."


HIYAAAT


BUK!


BUK!


Kereta melaju dengan lebih cepat dari sebelumnya. Jalanan sudah tidak selicin beberapa hari yang lalu, itu sebabnya Elie merasa tenang meskipun kereta kuda melaju dengan kencang.


Semua penduduk melakukan aktivitas seperti biasa, namun karena sebentar lagi Festival musim semi, semua orang terlihat lebih bersemangat dari biasanya.


Dilorong-lorong beberapa orang membuat kendaraan yang dibentuk beraneka ragam. Diantaranya dibentuk seperti anggur raksasa, boneka salju dan bunga yang besar.


Elie tau Nona mudanya sudah menantikan festival musim semi ini, Dia akan mengajak Sofia menonton saat parade tengah malam.


Perjalan ke pelabuhan membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan kereta kuda, namun jika menunggangi kuda hanya membutuhkan waktu 30 menit saja.


Beberapa kereta kuda terlihat beriringan ke arah pelabuhan, mereka membawa berkarung-karung gandum yang sudah disimpan terlebih dulu untuk persediaan musim dingin.


Pelabuhan memang tempat yang sangat ramai, banyak sekali pedagang yang bertransaksi disini. Pertukaran makanan dengan barang-barang memang hal yang lumrah. Beberapa pedagang menawarkan berbagai jenis barang yang tidak ada di Roseland, dan begitupun sebaliknya.


"Nona.."


"Kapal mana yang akan Anda kunjungi?"


"Kapal Marine, Tuan."


"Kapal putih besar itu?"


"Yya, benar."


"Apakah akan menemui suami Anda?"


Deg


Deg


Deg


"Suami?"


Pipi Elie bersemu merah mendengar perkataan Tuan kusir kereta, Dia tidak bisa berhenti tersenyum.


"Nona.."


"Nona, Anda baik-baik saja?"


".."


"Maafkan Saya.."


"Saya akan menemui seseorang.."


"Ah.."


"Begitu rupanya.."


"Kita akan segera sampai, Nona."


"Tentu, terimakasih."


* * *


Kereta kuda berhenti tepat didepan kapal Marine yang sangat besar, Elie turun dan membayar beberapa koin emas pada kusir kereta.


"Terimakasih, Tuan.."


Elie melihat kekiri dan kekanan, Dia tidak bisa menemukan Kapten Clark. Akan sangat memalukan jika Dia tiba-tiba naik ke kapal dan menanyakan keberadaan Kapten Clark.


"Apa yang harus Aku lakukan?"


Elie menggigit kukunya karena gugup.


Matahari sudah semakin turun, mereka sudah sangat terlambat untuk makan siang.


PUK


Seseorang menyentuh pundak Elie dari belakang.


Elie membalikan tubuhnya dan melihat Kapten Clark yang sedang tersenyum padanya.


"Tuan..." Cepat-cepat Elie membungkukkan punggungnya.


"Nona Elie.."


"Saya kira, Anda tidak akan datang.." Kapten Clark tersenyum senang.


"Maafkan keterlambatan Saya, Tuan."


"Tidak masalah, Nona.."


"Mari.." Clark menggenggam tangan Elie dan mengajaknya naik ke atas kapal.


"Hari ini hanya ada kita berdua disini, dan beberapa orang koki yang memasak di dapur."


"Apakah itu karena Saya?"


"Apakah Saya mengganggu Anda, Tuan?"

__ADS_1


"Tidak, tidak.."


"Tidak sama sekali.."


"Saya sangat senang berjumpa dengan Anda.."


Tidak lama kemudian koki datang membawa berbagai hidangan makanan.


Mereka menyajikannya diatas meja dengan gerakan yang cepat tanpa ada sedikitpun kesalahan.


"Saya harap, Anda menyukai semua makanan ini.."


"Tentu saja, Tuan."


"Terimakasih.."


Elie mengambil satu mangkuk Beef burguignon dan Ratatouille, kemudian untuk penutupnya mengambil Creme Brulee yang manis dan segar.


"Apakah Anda menyukainya?"


"Ini sangat enak..."


"Terimakasih, Tuan.." Elie tersenyum dengan tulus.


Makanan yang disajikan benar-benar sangat enak, daging sapinya sangat lembut dan creame sekali.


Elie ingin mengambil lagi makanan yang lain, namun Dia sangat malu dan memutuskan untuk mengakhiri makan siangnya.


"Tuan.."


"Kemana semua kolega Anda?"


"Kolega?


"Oh.."


"Mereka sedang menunggu kedatangan kapal, Nona.."


"Kapal?"


"Ya."


"Kapal siapa Tuan?"


"Menurut surat perintah, Kapal milik Kerajaan."


"Sungguh?"


"Benar.."


"Bisakah kita melihat?" Elie memohon dengan mata berbinar-binar, Kepten Clark tidak bisa menolak sedikitpun.


"Hmm.."


"Baiklah, tapi Kapalnya belum datang."


"Mereka akan mengabari jika sudah tiba."


"Terimakasih.."


"Nona?"


"Ah.."


"Nona mengikuti Yang Mulia Ratu kemana pun."


"Yang Mulia Ratu selalu ingin Nona mendampinginya."


"Sedangkan Saya mengikuti Nona, karena Nona tidak pernah hapal jalan kembali ke kamarnya?" Elie menautkan jari-jarinya.


"Sungguh?" Kapten Clark menatap Elie dengan hangat.


"Benar Tuan, Nona sering sekali tersesat."


"Saya khawatir meninggalkannya sendiri."


"Lady Sofia akan baik-baik saja, Nona Elie."


"Saya harap begitu."


* * *


Elie sudah menunggu cukup lama, mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling kapal. Kapten Clark terlihat sangat bahagia menghabiskan waktu bersama Elie.


Matahari sudah hampir tenggelam, Elie sudah berjanji pada Nona Sofia akan pulang sebelum gelap, namun Dia juga sudah memaksa Kapten Clark agar mengajaknya melihat kapal. Sekarang Elie bingung harus bagaimana.


"Kapten..."


"Kapten..."


Seorang lelaki yang berpakaian seperti Clark datang dengan berlari.


"Sudah tiba?"


"Ya Kapten.."


"Tapi.."


"Apakah ada masalah?"


"Kapten bisa melihatnya sendiri.."


"Ada apa sebenarnya?" Clark mengerutkan dahinya.


"Ayo, Nona.."


Elie tidak punya waktu untuk bertanya, Dia mengikuti Clark dengan cepat.


* * *


Kapal yang sama besarnya dengan Kapal Marine berlabuh didermaga. Entah mengapa Elie merasa pernah melihatnya disuatu tempat.

__ADS_1


"Hati-hati membawa petinya." Suara seseorang yang Elie kenal dengan baik.


"Suara itu.."


"Tidak mungkin.."


Elie menerobos kerumunan dan berlari mendekati kapal. Kapten Clark hendak menahannya tapi Elie sudah menghilang.


"Kapten Hades?" Elie terkejut melihat Hades yang sedang menyentuh sebuah peti hitam yang terlihat seperti peti mati.


Hades melirik ke arah Elie, Dia tidak mengatakan apapun.


Elie melihat ke kiri dan kekanan, Dia mencari keberadaan Richi.


Dia berlari menaiki kapal dan bertemu dengan salah satu awak Hades.


"Kau!"


"Kau yang membawa Nona di Pulau Lilbert!"


"Dimanakah Tuan Richard?"


Bamus diam, Dia tidak menjawab apapun.


"Kau tuli?!"


"Hei!"


"Dimana Tuan Richard?!"


Bamus melewati Elie begitu saja tanpa menghiraukan pertanyaannya.


Kapten Clark berhasil menemukan Elie dan membawanya turun.


"Nona, siapakah yang Anda cari?"


"Tuan Richard.."


"Saya mencari Tuan Richard, Kapten.."


Kapten Clark menarik tangan Elie dan berhenti didepan Kapten Hades.


"Tuan Hades, mana Tuan Richard.." Elie sudah putus asa, Dia tidak menemukan Richard dimanapun.


"Apakah beliau sudah lebih dulu pergi ke Istana?" Mata Elie berbinar-binar membayangkannya.


Hades melirik Elie tanpa mengucapkannya sepatah katapun.


"Tuan.."


"Mengapa Anda tidak mengatakan apapun?"


Beberapa orang yang lewat berhenti dan melihat keributan yang terjadi.


"Dimana Tuan? Nona Sofia merindukannya.." Elie menarik baju Hades dengan kencang.


BUGH!


AWW


Ben mendorong Elie dengan keras, tubuh Elie terbentur peti dan tidak sengaja membuka tutupnya.


"HEI!!" Clark mendorong Ben dengan keras dan hampir membuatnya terjerambab.


Kapten Clark membantu Elie bangun dan menatap tajam ke arah Ben.


Elie berdiri dan hendak menendang Ben, namun pandangan matanya berhenti tepat pada peti yang terbuka di sebelahnya.


Elie mundur dan terjatuh.


"Tidak.."


"Tidak mungkin.."


Lutut Elie lemas melihat sosok yang Dia kenal terbaring didalam peti.


"Tutup petinya Ben!" Hades menatap Ben dengan marah lalu pergi.


Dengan cepat Ben menutup peti dan membawanya bersama Bamus dan Top, kemudian memasukkan peti kedalam kereta kuda kerajaan.


"Nona.."


"Anda baik-baik saja?"


Clark mengguncang tubuh Elie dengan perlahan. Wajah Elie pucat, keringat mengalir dari dahinya. Bernafas saja sulit dilakukan olehnya.


"Nona.."


"Nona.."


Elie bangkit dan berlari meninggalkan Kapten Clark. Dia mencari kuda terdekat dan menungganginya dengan cepat. Pemiliknya berteriak memaki Elie namun Kapten Clark datang dan memberikannya sekantung emas.


"Elie.."


"Berhati-hatilah.." Gumam Clark.


* *. *


Elie menunggang Kuda seperti kerasukan. Dia hampir menabrak beberapa orang tapi tidak mempedulikannya. Langit semakin gelap, Elie harus benar-benar ekstra hati-hati mengendalikan kudanya.


"Nona.."


"Nona.."


Air mata menggenangi pelupuk matanya. Elie tidak bisa memikirkan hal lain selain Nona mudanya.


"Aku harus lebih cepat, harus lebih cepat, harus lebih cepat!"


"Tidak boleh membiarkan Nona sendiri."


"Tidak, jangan sampai."

__ADS_1


__ADS_2