Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Selamat Tinggal Sam


__ADS_3

Pulau 'Le Paradise' , Januari 1500.


Sam berlari memasuki satu ruangan keruangan lainnya. Dia mencari pakaian yang cukup pantas untuk dipakai oleh Sofia.


Dia masuk kedalam ruangan, lalu mengobrak-abrik semua perabotan hanya untuk mencari sepasang pakaian saja.


Akhirnya dia menemukan pakaian yang cukup pantas meskipun pakaian ini akan sedikit sesak dibagian dada, karena Sofia mempunyai payudara yang cukup besar.


Dalam perjalanan kembali, Sam tidak sengaja menabrak Richi yang baru kembali dari Kapal Hades.


"Tuan Richi?"


"Kau, awak kapal Blanc?" Richi melihat pakaian yang digenggam oleh Sam.


"Apakah itu pakaian untuk Esme?"


"Iya Tuan, Nona sedang menunggu disana." Sam menunjuk bangunan yang cukup jauh dari lokasi mereka saat ini.


"Kau bertemu dengannya?"


"Benar, saya bertemu dengan Nona, saat Nona mencari temannya yang disekap."


"Aku sudah membawa mereka semua." Ucap Richi.


"Saya sudah mengatakannya, Tuan. Nona sangat senang mengetahui itu semua." Sam tersenyum ceria.


"Benarkah?"


"Benar sekali. Dan..."


"Apa?"


"Nona bertanya tentang Mr. G, namun saya tidak mengetahui apapun tentangnya." Jawab Sam.


"Mr. G? **** itu." Richi mengumpat penuh kekesalan.


Richi sangat mengetahui dengan jelas bahwa Mr. G adalah Gerald. Tidak ada **** lain yang berawalan huruf G selain Gerald. Hanya rasa kesal saja yang muncul ketika Richi mendengar nama Gerald.


"Sebaiknya kita menemukan Esme."


"Benar Tuan .."


Richi dan Sam berlari melewati ruangan-ruangan yang penuh dengan perompak yang sedang bersenang-senang.


Kapten Blanc menyadari kehadiran Richi dan bangkit dari kursinya, kemudian menyingkirkan wanita yang menghalangi pandangannya.


"Tuan Richii??" Blanc berteriak cukup kencang. Sehingga semua pandangan tertuju padanya.


"Ah, Perompak brengsek itu..." Richi sangat malas bertemu dengan Kapten Blanc.


"Sam? Mengapa awak kapalku bersamamu?" Blanc memijat kepalanya yang terasa berdenyut-denyut.


"Hanya kebetulan Kapten!" Jawab Sam seraya menyembunyikan pakaian untuk Esme.


Seisi ruangan gaduh mengetahui Richi berada disana. Para wanita setengah telanjang berlari kearahnya seperti melihat sesosok idola.


"Tuan Richii...."


"Astaga, Tuan.."


"Saya merindukan Anda Tuan...."


"Minumlah bersama Saya..."


Seorang wanita yang tidak berpakaian sehelai benangpun tanpa tau malu menempel pada tubuh Richi bagaikan seekor lintah.


"Anda sungguh sangat menawan Tuan..."


"Sangat tampan sekali.."


"Astaga, tubuh Anda..." Wanita itu membelai otot perut Richi dengan agresif.

__ADS_1


Richi mendorong semua wanita itu dengan cepat.


"Menjauhlah..." Suara Richi yang berat terdengar sangat indah ditelinga mereka.


Mereka berteriak histeris ketika Richi membuang pandangannya.


"Tuan, Anda membuat seluruh wanita kecewa.." Gumam Blanc.


"Kapten, kembalilah bersenang-senang! Aku akan berjaga diluar.." Ucap Sam dengan penuh semangat.


"Bagitukah? Baiklah kalau begitu, Aku menyerahkannya padamu Sam...!" Kapten Blanc melemparkan dirinya pada sekumpulan wanita yang ditolak oleh Richi.


"Menjijikkan." Gumam Richi.


Sam dan Richi kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Bangunan itu semakin dekat, namun ada yang aneh. Lampu yang tadinya menyala menjadi padam. Karena khawatir Sam mempercepat langkahnya.


Benar saja, Sofia tidak terlihat dimanapun. Sam berteriak memanggil namanya dengan keras.


"Nona...."


"Nona Esme..."


"Nona...."


"Apa yang terjadi?" Tanya Richi.


"Saya meninggalkan Nona disini, Tuan."


"Lalu, dimanakah Esme sekarang?"


"Saya.. tidak tau..." Sam sangat menyesal karena telah meninggalkan Sofia seorang diri.


"Tenanglah, apa kau menyuruhnya masuk?"


"Benar, Saya menyuruhnya agar menunggu didalam, karena diluar dingin Tuan."


"Mari kita masuk." Ajak Richi.


Dia dapat melihat dengan jelas meskipun tidak ada cahaya disana. Mungkin karena sudah terbiasa hidup dalam kegelapan, dia dapat dengan mudah melihat meskipun dalam keadaan gelap gulita seperti saat ini.


Mereka membuka satu-persatu pintu yang ada didalam ruangan itu. Namun, tidak terlihat tanda-tanda keberadaan Sofia.


"Disini tidak ada Tuan.." Sam terlihat sedih.


"Mari kita masuk lebih dalam."


Dalam keheningan terdengar suara meskipun kecil.


"Coba dengarkan!" Richi memberi perintah.


Suara itu tiba-tiba menghilang.


"Mari kita masuk kedalam sana."


Richi tidak kehilangan harapan, dia membuka semua pintu, dan kemudian suara itu terdengar lagi. Sekarang semakin dekat.


"Sebelah sana Tuan!" Sam menunjuk kearah pintu yang cukup besar.


Benar, terlihat sekilas cahaya dari bawah pintu.


Ceklek


Pintu terbuka, terlihat seorang pria yang sedang memaksa seorang wanita untuk melepaskan mantelnya.


"Gerald?"


"Sepupu?" Gumam Gerald.


"Ah, apakah Aku mengganggu reuni kalian?" Richi merasa kacau dan menendang pintu dengan keras.

__ADS_1


BRAK!!


"Sepupuku? Astaga... Apa yang sedang Kau lakukan disini?" Ucap Gerald.


"Sepupu?" Sofia bingung mendengar perkataan Gerald.


"Apakah Kau merasa terganggu?" Richi memandang Sofia dengan tatapan dingin.


"Yaaa!!"


"TIDAK! TOLONG AKU! KUMOHON!"


Jawab Sofia dan Gerald bersamaan.


Richi berlari dengan cepat lalu membanting Gerald kelantai dengan keras.


Sofia mundur dan menutup seluruh tubuhnya dengan mantel.


Sam masuk kedalam dan membantu Sofia berdiri.


"Kau **** brengsek! Kau kembali berulah!" Richi menendang perut Gerald.


"Hentikan sepupuku! Sakit sekali!" Gerald berteriak.


"Kemaluanmu tidak punya rasa sakit!" Richi meludah karena merasa jijik telah menyentuh Gerald.


"Apa yang salah sepupu? Aku hanya ingin tidur dengannya, lagi pula Aku akan menikahinya nanti." Gerald tertawa terbahak-bahak.


"Aaah..." Richi memandang Sofia yang masih ketakutan.


"Tidak! Tidak! Aku tidak akan pernah menikah dengan **** sepertimu!" Geram Sofia.


"Tapi Kau memang akan menikah." Jawab Gerald.


"Apakah hanya Aku yang tidak tau apapun?" Tanya Richi.


"Jangan bilang Kau menginginkan wanita ini sepupuku?" Tanya Gerald.


"Aku? Menginginkannya? Semua wanita berbaris untukku! Untuk apa Aku menginginkan wanita bekas Kau pakai!" Umpat Richi.


Sofia berjalan mendekat kearah Richi dan menamparnya dengan keras.


PLAAAK!!!


Hanya keheningan yang terdengar.


"ASTAGA SEPUPU.. AKU SEMAKIN MENGINGINKAN WANITA INI! " Gerald tertawa terbahak-bahak.


"Dan Aku akan menyiksamu Gerald!" Dengan cepat Richi menggendong Sofia yang masih menatap tajam kearahnya.


Sofia memukul-mukul punggung Richi dengan keras.


"TURUNKAN AKU!"


"Aku akan menyiksamu nanti!" Ucap Richi dingin.


"Sepupu! Jangan bawa Dia! Aku akan membawanya ke Roseland!" Teriak Gerald dari dalam ruangan.


Richi dan Sam meninggalkan Gerald didalam sana sendirian.


"Kau.. kembalilah ke Kapal Blanc, Aku akan membawa wanita licik ini ke Kapal Hades!" Ucap Richi.


Sam tidak mengerti yang terjadi dan hanya mengangguk-angguk.


"Nona, pakailah ini..." Sam menyerahkan sebuah pakaian pada Richi.


"Tidak Sam! Jangan pergi, kumohon Sam!" Sofia berteriak dari punggung Richi.


Sam tidak mengatakan apapun, Dia mematung melihat Sofia yang semakin menjauh, hanya ada rasa sakit dan perih didalam hatinya saat melihat Sofia yang dibawa pergi begitu saja.


Dia kembali teringat pesan Kapten Blanc.

__ADS_1


"Tidak menginginkan yang bukan milikmu.." Kata-kata itu terus terngiang-ngiang didalam kepalanya.


Sam berjalan kembali ke arah Kapal Blanc. Dia merasa kosong dan hampa. Seperti ada yang hilang. Jika tau akan berakhir seperti ini, Sam berharap tidak pernah bertemu dengan Sofia.


__ADS_2