
Kediaman Marquess Jasper, Roseland. Februari 1500.
Marquess Jasper mencoba mencerna perkataan putri satu-satunya itu. Dia mengerutkan kening lalu melihat kubah perpustakaannya.
"Duke tua?" Marquess Jasper mengulang pertanyaannya.
"Yya.."
"Bukankah Ayah merencanakannya?"
"Ayah ingin Aku menikah dengan Duke tua itu?"
"Apakah Ayah pernah mengatakan Duke itu tua?"
"Mm.."
"Tidak, kurasa."
"Ayah memang tidak pernah mengatakannya." Marquess Jasper menggelengkan kepalanya.
"Dimana Kau mendengar hal seperti itu?" Jasper melirik Sofia.
"Itu.."
"Dulu.."
"Dulu sekali sebelum pesta Debutante, semua orang membicarakannya." Sofia menautkan jari-jemarinya.
"Astaga.."
"Putriku, apakah Aku terlihat seperti seseorang yang akan melakukan hal gila itu?"
"Kurasa.."
"Tidak.." Sofia memeluk Ayahnya erat-erat.
"Jangan dengarkan hal yang tidak perlu seperti itu. Tanyakan langsung padaku."
"Tidak ada rahasia diantara kita, oke?"
Jasper meminta janji kelingking pada Sofia. Sofia dengan senang hati menautkan kelingkingnya dengan kelingking Ayahnya.
"Janji.."
"Lalu, apakah Kau bersedia menikah dengan Duke of Roseland?" Jasper menatap mata putrinya.
"Aku.."
"Aku menyukai orang lain Ayah.."
"Kau?"
"Menyukai seseorang??"
Sofia mengangguk.
"Tidak.."
"Tidak mungkin.."
Jasper tidak percaya bahwa Putrinya akan menyukai seseorang. Jauh di lubuk hatinya, Dia merasa sepi, sedih. Padahal, baru beberapa taun yang lalu Sofia mengatakan ingin menikah dengannya, hanya akan menyukainya. Namun, tampaknya sekarang sudah berbeda. Putrinya, yang dulu Dia timang, dia gendong kemanapun, tampaknya sudah dewasa.
Memang benar, Marquess Jasper ingin putrinya menikah, karena memang sudah usianya. Namun, Dia tidak ingin Sofia meninggalkannya. Dia ingin terus bersama Sofia. Setelah kepergian istrinya yang sangat Dia cintai, Rossie. Hanya Sofia lah yang menjadi semangat hidupnya.
Air mata hampir keluar dari sudut matanya, dengan cepat Marquess Jasper mengusapnya.
"Ah.."
"Siapakah pria beruntung itu?"
"Apa pekerjaannya?" Jasper menggenggam tangan Sofia.
Deg
Deg
Deg
Jantung Sofia berdegup kencang mendengar pertanyaan Ayahnya.
'Pejerjaan?'
'Apakah perompak merupakan pekerjaan?' terjadi perang batin didalam hatinya.
"Dia.."
"Dia.." Sofia mulai ragu mengatakannya.
"Katakan saja putriku.."
"Bukankah tidak ada lagi rahasia diantara kita?"
"Ayah.."
"Berjanjilah Kau tidak akan marah.."
Marquess Jasper hanya tersenyum.
"Dia.."
"Dia seorang Perompak, Ayah."
Deg
Deg
Deg
Marquess Jasper berdiri dengan cepat. Dia terkejut mendengar perkataan putrinya. Kakinya terasa lemas bagaikan sebuah agar-agar. Jasper tidak menyangka sedikitpun Sofia akan menyebutkan sebuah profesi pekerjaan yang sangat memalukan seperti itu.
Wajah Jasper memerah. Dia tidak tau harus mengatakan apa dihadapan putrinya yang punya harapan penuh padanya.
Saat ini Marquess Jasper tidak ingin mengatakan apapun, Dia tidak ingin menyakiti putrinya dengan kata-katanya. Padahal hari ini Dia baru berjumpa lagi setelah sekian lama. Lebih baik Dia pergi, itulah yang saat ini ada didalam benaknya.
__ADS_1
"Ayah?"
"Kau berjanji tidak akan marah."
Jasper pergi dari perpustakaan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Langkahnya terdengar sangat keras. Dia seperti menjejalkan kakinya dalam-dalam pada lantai.
"Ayah?"
"Ayah..."
Sofia terus memanggil, namun Jasper tidak menoleh sedikitpun.
"Ayah.." Sofia menunduk lemas. Dia berbaring di sofa perpustakaan dengan raut wajah sedih. Air mata mengalir di pipinya.
"Padahal Kau sudah berjanji Ayah.."
"Kau tersenyum beberapa saat yang lalu.."
UUH
UUUH
HUUU
HUU
"Richi.."
"Aku merindukanmu.."
"Aku merindukanmu.."
UUH
Sofia memukul dadanya yang terasa sakit. Rasanya perih sekali, terasa sesak meskipun hanya untuk bernafas.
* * *
Sofia kembali kedalam kamarnya setelah menangis lama di perpustakaan. Matanya benar-benar sembab, Dia melihat cermin dan terkejut.
"Elie akan berpidato.." Gumamnya.
Sofia masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahnya yang merah. Air dingin membuat pikirannya jauh lebih jernih.
"Sebaiknya Aku menyimpan perasaan ini lebih dulu."
Sofia merapatkan kedua telapak tangannya dan menutup kedua matanya.
"Terimakasih Tuhan telah membawaku pulang."
"Bertemu Ayah dan keluargaku.."
"Aku bersyukur atas nikmat ini."
Sofia keluar dari kamar mandi dan berbaring diatas tempat tidurnya yang nyaman.
Rasa kantuk menyerangnya dengan cepat, Dia menguap beberapa kali dan memejamkan matanya dengan cepat.
Oaaaa
Oaaa
Oaaaa
Sofia terbangun karena mendengar suara tangisan. Dia mengusap matanya yang terasa berat. Dan menguap lagi.
"Elie..."
Suara seseorang menaiki tangga dengan cepat.
CLACK
Pintu terbuka dan Elie berlari kesamping nya.
Sofia sudah siap menerima cercaan yang akan Elie katakan. Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Nona.."
"Apa yang...blablablablab?"
"Astaga blablablablab!"
"Mata Anda blablablablab!"
Elie keluar dan kembali dengan cepat sambil membawa semangkuk air dingin dan lap ditangannya.
Elie mengompres mata Sofia dengan lap dingin.
"Terimakasih, Elie." Sofia tersenyum. Hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Ah.."
"Apakah Kau mendengar suara tangisan?"
"Tentu saja Nona!"
"Itu suara Noel."
"Noel?"
"Ya!"
"Putra dari Ron dan Lesley."
"Lesley sudah melahirkan?"
"Sudah Nona."
"Sudah satu bulan.."
"Aku harus melihatnya!"
__ADS_1
"Tentu, setelah mata Anda kembali seperti semula!" Elie melotot kearahnya.
"Aku mengerti." Sofia tidak mengatakan apapun lagi.
"Nona.."
"Hmm.."
Elie ingin bertanya mengapa Nona mudanya menangis seperti itu, namun Dia ingin Sofia sendiri yang mengatakannya.
"Tidak, Nona.." Elie menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai mengompres, Elie dan Sofia turun dari kamarnya, mereka berjalan kerumah yang ada di belakang Mansion.
"Sudah lama selalu Aku tidak kesini..". Sofia memakai salah satu jaket tebalnya.
"Tentu saja.."
"Anda setiap hari melukis diberanda."
"Ah.."
"Terakhir bersama Ibu.." Sofia tersenyum.
"Saya mengingatnya, Nona."
"Musim semi, Madam dan Anda melihat kebun anggur.."
"Aku mengingatnya.."
"Dan Ayah menggendongku.."
Oaaa
Oaaa
Oaa
Lagi-lagi suara tangisan yang kuat terdengar.
"Sebaiknya kita berjalan lebih cepat, Elie. Sebelum kakiku membeku.." Sofia memasukan tangan kedalam jaketnya.
Akhirnya mereka sampai didepan sebuah rumah mungil berwarna abu-abu.
Tok
Tok
Tok
Seseorang membuka pintu dari dalam, Dia terkejut melihat Sofia berdiri didepan pintu rumahnya.
"Nona.." Ron membuka pintu dengan lebar.
"Ron.."
"Kudengar Lesley telah melahirkan.."
"Aku bisa mendengar suara tangisan dari atas sana."
Ron mengusap rambutnya.
"Maafkan Noel, Nona.."
"Sepertinya Dia masih lapar.."
Sofia tertawa melihat ekspresi Ron yang serba salah.
"Tidak masalah, Ron."
"Aku hanya ingin melihatnya.."
"Tentu, Nona."
"Mari masuk.."
Elie mengikutinya dari belakang.
Oaaa
Oaa
Oaa
Seorang bayi yang mungil sedang bergerak-gerak diatas kasur yang sama mungilnya.
"Lesley...!" Sofia memeluk Lesley yang sedang duduk disamping bayinya.
"Astaga, Nona!!"
"Anda benar-benar sudah pulang??" Lesley memeluk Sofia dengan erat.
"Tentu saja.."
"Biarkan Aku melihat putramu.."
"Tentu, Nona.."
Sofia melihat Noel yang sedang bergerak-gerak melihatnya.
"Noel?"
"Noel?"
"Halo Noel..." Sofia memegang pipinya yang mungil dan lembut.
"Dia sangat tampan Ron!"
"Astaga!"
"Menggemaskan sekali!!"
Sofia tidak henti-hentinya menyentuh pipi, Noel.
__ADS_1
"Cepatlah menikah, Nona.." Lesley mulai menggodanya.
Sofia tertawa mendengar perkataan Lesley. Hatinya mulai berdenyut tidak karuan.