Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Surat Wasiat


__ADS_3

Istana Kerajaan, Maret 1500.


Langit masih sangat gelap di Roseland. Semua orang masih tidur lelap dengan selimutnya. Hampir belum ada satupun kegiatan saat ini. Namun, Marquess Jasper pagi-pagi sekali sudah meninggalkan Mansion. Ron mengantarnya dengan kereta kuda, mereka akan pergi ke Istana Kerajaan.


"Apakah Kau mengetahui kapan Putriku akan menikah?"


"Saya hanya mengetahui bahwa Nona akan menikah saat musim semi nanti Tuan."


"Sebentar lagi musim semi, Ron."


"Be, benar Tuan."


"Sudah lama Sofia tidak pulang..."


"Aku merindukannya.." Marquess Jasper menggenggam erat sebuah surat ditangannya.


"Nona sudah menemukan kebahagiaannya, Tuan."


"Ya, tentu saja Aku tau."


"Dia benar-benar tidak bisa lepas dari lelaki itu bukan."


HUH!


Ron hanya tersenyum mendengarkan keluhan Tuannya.


"Padahal, dulu Dia tidak ingin lepas dari tanganku.."


"Semua itu terasa seperti baru kemarin.."


"Kau ingat, saat Ibunya pergi?"


"Tentu, Tuan.."


"Dia menangis sepanjang hari dan tidak ingin lepas dari pelukanku.."


"Lihatlah Dia sekarang.."


"Dia bahkan tidak mengajak Ayahnya untuk menginap di istana.."


Lagi-lagi, Ron hanya tersenyum tanpa mengomentari apapun.


"Dan, apakah Kau tau?"


"Aku mendengar perutnya kena tembak karena melindungi lelaki itu!"


"Astaga!"


"Apakah Putriku layak menikah dengan Dia?"


Marquess Jasper menggelengkan kepalanya.


"Aku harap Dia memilih seseorang yang tepat."


"Saya selalu berdoa untuk kebahagiaan Nona, Tuan."


"Ya, Kau harus!"


Ron tersenyum lagi mendengar perkataan Tuannya.


* * *


Tok


Tok


Tok


"Sofi.."


"Ini Ayah.."


Sofia langsung terbangun dari tempat tidurnya ketika mendengar suara Ayahnya, Marquess Jasper.


KLAK.


Pintu terbuka, dan Marquess Jasper tepat berdiri disana.


"Ayah..." Sofia memeluk Ayahnya dengan erat.


Mereka berjalan masuk kedalam dan duduk di Sofa yang menghadap perapian.


Elie dengan sigap pergi ke dapur dan mengambil cangkir serta teh hangat dan beberapa toples biskuit.


"Apa yang membawa Ayah pagi-pagi sekali kemari?"


"Apakah Aku tidak boleh menemui anakku?" Jasper mengangkat kedua alisnya.


"Bukan seperti itu, Ayah."


"Jika Ayah ingin bertemu denganku, Aku akan pulang dengan cepat. Perjalanan dari rumah kesini cukup jauh, Aku tidak ingin Ayah kelelahan."


"Apa yang Kau bicarakan?"


"Aku tidak lelah sama sekali!"


"Aku masih sehat!" Marquess Jasper menyilangkan kedua tangannya.


Sofia hanya tersenyum melihat Ayahnya yang tampak kesal.


"Aku mengerti, Ayah.."


"Maafkan Aku.." Sofia menggenggam tangan Ayahnya yang dingin.


Elie menuangkan secangkir teh dan membuka biskuit yang baru dipanggang.


"Terimakasih, Elie..." Sofia menyuruh Elie pergi dengan matanya.


"Saya mengerti, Nona.." Elie mengangguk dan meninggalkan pasangan Anak dan Ayah itu.


Setelah suasana cukup sunyi, Sofia memandang wajah Ayahnya yang sudah berubah. Dia sama sekali tidak menyadari perubahan itu, karena selama ini sangat dekat dengan beliau.


Rambutnya sudah mulai memutih, ada lipatan halus di bawah matanya, dan di keningnya.


Ayahnya sudah terlihat tua, pandangan matanya turun, dan punggungnya sudah terlihat lelah, setelah menopang semua tanggung jawabnya selama ini.

__ADS_1


"Sofi.."


"Ya, Ayah.."


Marquess Jasper menghirup nafas dalam lalu mulai menatap anaknya yang sudah dewasa.


"Kapan Kau akan menikah?"


Deg


Deg


Deg


"Musim semi, Ayah..."


Marquess Jasper merogoh saku mantelnya lalu memberikan surat yang sudah terlihat usang pada Sofia.


"Ini apa, Ayah?"


"Bacalah.."


"Aku akan menemui Yang Mulia Ratu.."


"Ah..."


Saat Sofia akan mengantar Ayahnya keluar, Marquess Jasper melarangnya.


"Tetaplah duduk, dan bacalah.."


".."


Sofia mengangguk dan melihat Ayahnya berjalan keluar, lalu menutup pintu.


KLAK.


Sofia memandangi surat yang sudah usang itu. Dia tidak melihat lambang apapun disana, lalu membukanya dengan perlahan.


Tulisan tangan yang sama sekali tidak Sofia kenal, Dia mulai membacanya.


Dear, Sofi..


Jika Ayah memberikan surat ini padamu, tandanya Kau sudah dewasa dan akan menikah.


Apakah benar?


Kau akan menikah?


Sudah selama itukah Ibu pergi?


Ah..


Jangan menangis..


Kau tau, Ibu tidak pernah suka melihatmu menangis.


(Sofia mengusap air matanya yang hampir jatuh membasahi surat.)


Ibu sakit sayang..


Kau tidak perlu khawatir..


Dan tidak ada obat untukku saat itu.


Ibu pergi tanpa memberitahumu..


Maafkan Ibu..


Ibu hanya tidak sanggup jika melihatmu menangisi Ibu.


Lebih baik Kau membenciku,.dari pada Aku melihatmu menangisi ku.


Sofi,


Apakah Kau ingat dulu kita liburan berdua ke Lilbert?


ingat?


Ingat dulu Kau bertanya,


Ibu mengapa lelaki itu terus berdiri ditepi pantai dan memandangimu?


Saat itu Ibu hanya tertawa tanpa memberikan jawaban.


Sofi, lelaki itu adalah sahabatku.


Dia menjagaku dan menjadi teman satu-satunya untukku.


Apakah Dia sudah bahagia kini?


Aku harap ya..


Dan Sofi..


Maafkan keegoisan Ibu..


Kau menikah dengan lelaki itu bukan?


Lelaki tampan yang nakal.


Begitulah kami memanggilnya.


Aku dan orangtuanya sudah menjodohkan kalian.


Maafkan Ibu sekali lagi.


Jika Jasper memberikan surat ini padamu, tandanya perjodohan itu sukses.


Bolehkah Aku bersorak sekarang?


Hah


Aku bahagia.


Menikahlah sayang!

__ADS_1


Berbahagialah!


Kau akan menikah di Kebun Rose!


Dan aku akan melihatmu disana!


Sampai bertemu.


With Love


Rossie.


Note: Berikan Surat ini pada Hades.


Sofia mengusap air matanya yang sudah mengalir seperti sungai.


Dia benar-benar tidak ingat bahwa dulu Dia pernah bertemu dengan Hades.


Rasa bencinya pada Ibunya dulu membuatnya melupakan semua kenangan indah itu.


Sofia melipat lagi suratnya, lalu berdiri dan Kemudian berlari kekamar Richi.


KLAK.


Pintu terbuka, Sofia masuk kedalam kamar Richi yang masih gelap. Seluruh tirai masih tertutup, Richi masih tertidur pulas di tempat tidurnya.


Sofia berjinjit mendekati Richi, Dia tidak ingin membuatnya terkejut dan bangun.


Lagi pula langit masih gelap, Richi masih bisa beristirahat setelah semalaman berkuda dengannya.


Sofia menaiki kasur dengan perlahan.


Memasuki selimut dan mendekap Richi dengan lembut.


Aroma tubuhnya yang khas langsung membuat Sofia nyaman dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya disana.


* * *


Cahaya yang terang membuat Sofia mengerjapkan kedua matanya, Dia enggan untuk bangun dari tidurnya. Rasa nyaman dan hangat membuatnya terus meringkuk dan menarik lagi selimut yang hampir meninggalkan kakinya.


Ekhm


Suara batuk seseorang membuatnya terkejut dan langsung membuka matanya dengan paksa.


Terlihat wajah seorang lelaki tampan yang sedang memandanginya.


Lelaki itu tersenyum dan mendekatkan bibirnya kekening Sofia. Dia mengecup lembut dan berbisik ditelinga Sofia.


"Apakah tidurmu nyenyak sayang?"


"Richi?"


Sofia mengusap-usap matanya.


"Apa yang Kau lakukan disini?" Sofia menarik selimut kedadanya.


"Disini?" Richi mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


"Ah.."


"Maafkan Aku.." Pipi Sofia bersemu merah.


Dengan cepat Dia mengingat semua kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu.


"Aaaku tidak sengaja tertidur disini.."


"Oh..." Richi mengangguk dan mencoba mengerti. Senyuman jahat terlihat dibibirnya.


"Aku serius!!"


"Ya.."


"Aku mengerti.."


"Tidak!"


"Tidak!"


"Kau tidak mengerti!"


"Aku mengerti Sayang.." Richi mendekat kearah Sofia dan memeluknya dengan lembut.


"Sungguh?"


Richi menganggukan kepalanya.


Sofia teringat sesuatu, lalu mengambil surat yang ada didalam pakaiannya.


"Kapan Hades pulang?"


"Hades?"


"Ya.."


"Mengapa menanyakan Hades sepagi ini?" Richi mengerutkan keningnya.


"ini.." Sofia memberikan surat dari Ibunya pada Richi.


"Apa ini?"


"Ini wasiat Ibuku.."


"Wasiat?"


"Ya.."


"Berikan ini pada Hades."


"Bukan untukku?"


"Bukan Sayang, ini untuk Hades." Sofia mencubit pipi Richi dan menciumnya dengan cepat.


"Baiklah.."


"Aku akan mengirimnya dengan burung."

__ADS_1


"Jangan sampai jatuh!"


"Tidak akan cinta." Richi mengecup bibir Sofi dengan lembut.


__ADS_2