
Diatas Kapal Perompak, Desember 1499.
Suara lemparan Pedang yang keras terdengar sampai luar kabin. Sehingga Kapten Hades memutuskan melihat keadaan. Dia membuka pintu dengan cepat dan terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Apakah sedang ada pertunjukan Opera sabun bertemakan romansa?" Hades berjalan mendekat.
Richi yang sedang meniup jari-jari Esme melepaskannya begitu saja. Begitu juga Esme, Dia duduk sejauh mungkin dari Richi.
Hades melihat pedang yang tergeletak diujung ruangan.
"Apa salah dekorasi pedang ini sehingga Kau melemparkannya?" Hades mengangkat pedang itu bagaikan sebuah bulu.
"Dekorasimu hampir membunuhku." Richi memperlihatkan bagian kemejanya yang terkoyak.
"Astaga, apakah pedangnya bisa terbang sekarang?" Hades menutup mulutnya.
Richi menatap Esme yang sedang menundukkan kepalanya.
"Ah...." Gumam Hades.
"Aku tidak tau, Nona Esme sekuat itu." Hades mendecakan lidahnya.
"Aku tidak tau Kau berubah menjadi pria yang lemah, Richi." Hades memandang Richi dengan sorot mengejek.
"Hentikan omong kosongmu." Richi mendorong Hades keluar dari kamarnya.
"Baiklah, baiklah Aku akan pergi. Silahkan bersenang-senang, tapi jangan lupakan untuk pajakmu." Hades tertawa terbahak-bahak dan pergi keluar.
Richi menutup pintu dengan keras.
Dia berjalan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sofia diam tanpa berkata apapun.
"Apa yang sebenarnya Kau inginkan?" Richi duduk tepat didepan Sofia.
"Aku ingin pulang! Aku sudah mengatakannya kepadamu!" Sofia mengepal-ngepalkan kedua tangannya. Air matanya tumpah lagi tanpa peringatan apapun. Dia mengusapnya dengan cepat.
"Jangan menangis." Richi menghapus air mata Sofia dengan kedua tangannya. Entah mengapa hatinya terasa pedih melihat Sofia menangis.
"Aku tidak!" Sofia mengelap pipinya sehingga benar-benar kering.
"Kau menangis."
"Tidak!"
"Baiklah, anggap saja itu keringat." Richi mengalihkan pandangannya.
"Rasanya tetap sama, asin." Tambahnya.
Sofia memukul punggung Richi dengan keras.
Aww
"Kau menyakitiku." Richi mengusap-usap punggungnya.
__ADS_1
"Apakah sesakit itu?" Sofia khawatir lalu melihat luka Richi.
"Kau wanita pertama yang aku temui, yang bersikap seperti orang bar-bar." Ucap Richi dengan santai.
Sofia kesal lalu memukulnya lagi dengan cukup keras.
Dengan cepat Richi menangkap tangannya dan menahan tubuhnya.
"Lepaskan aku brengsek!"
Richi tidak melepaskannya dan malah mendekatkan wajahnya ke arah Sofia.
"Kau lelaki pertama yang bersikap kurang ajar padaku!" Sofia mengumpat dengan kesal.
Tapi hal itu malah membuat Richi semakin mendekat.
"Benarkah? Aku memang lelaki beruntung."
Sofia berhenti bernafas saat bibir Richi yang selembut sutra menyentuh bibirnya dengan lembut. Jantungnya seperti akan meledak dari waktu ke waktu. Ciuman ini berbeda dengan sebelumnya. Richi tidak menekannya. Dia melakukannya dengan perlahan dan tidak memaksa Sofia.
"Bernafaslah.." Gumam Richi.
"Kau seperti seseorang yang tidak pernah melakukannya."
"Aku tidak pern.." Belum selesai Sofia menyelesaikan perkataannya, dengan cepat Richi menciumnya lagi, Sofia tidak bisa menolaknya, dia terhanyut dalam ciuman itu. Bibir Richi terasa manis dilidahnya.
Semakin lama tubuh Sofia terasa semakin meleleh. Dia tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, dengan cepat tangan Richi yang kekar menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Richi membelai rambutnya dengan lembut, dan menyelipkan rambut Sofia dibelakang telinganya.
"Hentikan..." Sofia berbicara dengan susah payah.
Jantungnya masih berdebar tidak karuan. Dia tidak tau apa yang akan terjadi pada tubuhnya jika Richi melakukan hal yang lebih jauh dari itu.
"Apa kau tidak menyukainya?"
Sofia menggelengkan kepalanya.
"Ah, apakah Aku tidak sehebat Gerald?"
"Tidak! Bukan, bukan maksudku.." Sanggah Sofia.
"Ah.." Richi tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak pernah melakukannya dengan orang lain!!" Sofia berteriak.
"Ah, apakah Kau sedang bermain sebagai wanita suci? Menyebalkan!" Richi berdiri dan berjalan keluar, lalu membanting pintu dengan keras.
Sofia menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Dia masih mengingat dengan jelas moment saat Richi menciumnya dengan lembut dan membelai rambutnya. Namun semua itu berakhir seperti ini begitu saja.
Disaat bersamaan seperti diterbangkan ke langit ke tujuh lalu dijatuhkan lagi kebumi.
"Apakah dia seorang psikopat? Sungguh tidak bisa ditebak." Sofia memegang bibirnya dengan telunjuk.
"Apa yang harus Aku lakukan Tuhan. Ayah, berikanlah kekuatan padaku agar tidak tenggelam dalam pengaruh iblis berwajah tampan itu."
__ADS_1
Malam itu berlalu begitu saja, Sofia tertidur lelap dengan selimut yang hampir jatuh dari kakinya.
Richi masuk kedalam kamar saat sudah larut malam. Dia mengambil selimut yang hampir terjatuh dan memakaikannya di tubuh Sofia dengan benar.
Sofia memeluk tubuhnya sendiri. Udara malam ini memang cukup dingin.
Richi memandangi wajah Sofia yang tidur dengan damai. Dia tidak mengerti dan tidak habis pikir, mengapa mahluk sekecil ini tidak takut berada diatas kapal yang sedang terombang-ambing diatas lautan seperti ini. Dan Dia sedang bersama orang-orang paling berbahaya dimuka bumi ini. Tapi Dia sadar, Dialah yang paling berbahaya.
Tidak ada jawaban pasti akan pertanyaannya.
Pikiran terus tercampur aduk dengan Gerald, dia tidak Sudi membayangkan Sofia berada didekatnya, walaupun satu inci saja.
"Sangat menjijikkan." Gumamnya pelan.
"Cobalah berkata jujur gadis kecil. Sungguh Aku tidak ingin sedikitpun membencimu." Richi mencium kening Sofia lalu mencoba tertidur disebelahnya.
* * *
Hantaman ombak besar yang tiba-tiba datang membuat tubuh Sofia hampir terjatuh ke bawah. Beruntung Richi menangkap tubuhnya dengan cepat.
Ada perasaan canggung yang terasa diantara mereka berdua. Tidak ada sepatah katapun terucap dari keduanya. Sofia memegang erat tepi tempat tidur agar tidak lagi terjatuh, sedangkan Richi bangkit dari tempat tidur dengan cepat, dan keluar dari dalam kabin.
Udara mulai terasa hangat. Sinar matahari terlihat dari celah celah dinding kayu. Sofia mendengar suara lonceng berbunyi 10 kali, yang menandakan sekarang tepat pukul 10 pagi.
Terlihat sebuah baki dengan mangkuk dan gelas diatasnya. Sofia bisa menebaknya dari tempat tidur.
"Bubur gandum dan air keruh.." Gumamnya pelan.
Hidup didalam kapal tidak terasa hidup baginya. Lebih terasa seperti penjara. Dia tidak bisa pergi kemanapun. Bahkan untuk buang air kecil pun, dia harus melakukannya didalam kamar hanya dengan menggunakan pispot. Sangat menjijikkan.
Mau tidak mau Sofia belajar menggunakannya, karena memang Dia tidak diperkenankan keluar Kabin oleh Richi dan Kapten Hades.
Dia tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal seperti itu. Sofia menebaknya, mungkin karena insiden terakhir tentang pedang itu.
"Seharusnya Aku bersikap baik saat itu." Sofia mulai menyesali tingkah gilanya.
Ini adalah hari ke 8 Sofia hidup terombang-ambing diatas lautan. Sofia hanya mengandalkan siang dan malam untuk mengetahui hari. Dia sangat bosan sekali, Richi tidak pernah berbicara lagi padanya sejak terakhir dia menciumnya.
Sebenarnya Sofia merindukan suaranya yang berat, dan senyumannya. Sungguh tragis, padahal setiap malam Richi tidur disebelahnya, namun dia tidak pernah memperlihatkan wajahnya pada Sofia.
Tidak lama kemudian, dari luar terdengar suara dentuman yang sangat besar dan keras. Sofia terkejut dan refleks menutup kedua telinganya.
Dentuman demi dentuman yang keras terus terdengar semakin dekat, kapal bergetar hebat. Sofia benar-benar terjatuh dari atas tempat tidur, kepalanya terbentur meja dengan keras.
Suara gaduh terdengar dari atas geladak, bunyi suara tembakan dan teriakan mulai terdengar, Sofia tidak tau apa yang sedang terjadi, Dia bersembunyi dibawah meja dengan memeluk lututnya.
Bau mesiu mulai tercium kedalam kabin, Sofia beberapa kali terbatuk karena nafasnya terasa sesak.
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat kearah Kabinnya. Instingnya mengatakan Dia harus bersembunyi.
Seseorang berulangkali menendang pintu dari luar dengan keras. Tidak lama kemudian, pintu terbuka tepat ketika Sofia menarik selimut dan menutup seluruh tubunya dibawah meja.
Terdengar suara seseorang mengobrak-abrik isi kamar, melempar barang dan berteriak.
Langkahnya berhenti tepat didepan Sofia yang sedang bersembunyi.
__ADS_1