Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Bersiap Pulang


__ADS_3

Pulau Pace, Februari 1500.


Suasana ruang makan berubah hening setelah kepergian Richi dan Sofia.


Elie melirik lirik ke arah Hades yang masih sibuk dengan makanannya. Dia kesal mengapa Hades melakukan hal yang tidak perlu. Seandainya saja Dia diam, mungkin Nona mudanya akan menghabiskan makanannya, Nona mudanya tampak sangat kelelahan hari ini.


"Tuan Hades.." Elie mencoba berkata setenang mungkin meskipun suaranya bergetar.


Hades menatap Elie dan mengangkat kedua alisnya.


"Mengapa Anda melakukannya?" Elie menatap Hades yang masih memakan sisa lobster dipiringnya.


Hanya tinggal mereka berdua dimeja makan. Madam Joy pun pergi setelah Sofia dan Richi meninggalkan meja. Dia terlalu kesal melihat Hades yang tidak peduli sedikitpun pada sepupunya itu.


"Melakukan apa?" Hades berhenti makan dan kembali melihat Elie yang sedang menatapnya dengan raut wajah serius.


"Ah.."


"Richard maksudmu?"


Elie menganggukan kepalanya.


"Mereka terlalu jauh berputar-putar."


"Aku hanya mendorong mereka agar lebih cepat menggapai garis finish." Hades kembali mengambil sisa udang dipiring.


Elie mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Hades.


Dia mulai mengerti dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Habiskan makananmu. Joy akan marah jika Kau menyisakannya."


"Ah.."


Elie menatap piringnya yang masih penuh dengan berbagai macam hidangan. Dia tidak lagi bertanya dan mulai mengunyah sisa makanannya.


Hades lebih dulu selesai dengan makannya, Elie cepat-cepat menghabiskan miliknya, kemudian Dia berjalan menyusul Kapten Hades.


"Tuan.."


"Tuan.."


Elie berlari sambil memegang perutnya yang sakit karena kekenyangan.


Hades menoleh kebelakang dan melihat Elie sedang berjongkok. Dia menunggu Elie sambil menghidupkan cerutunya.


Asap berwarna abu mengepul keudara, Hades meniupnya agar cepat menghilang sebelum Joy menemukannya.


"Tuan.."


"Kapan Nona akan pulang ke Roseland?" Elie berhasil menyusul Hades meskipun perutnya masih sakit.


"Tanyakan pada Richi."


"Dia tidak ingin Aku mencampuri urusannya." Hades kembali menghisap cerutunya.


"Anda akan ikut ke Ibukota?"


"Untuk apa?"


"Masih banyak pekerjaan yang menantiku."


"Ah.."


"Apakah Kami akan menggunakan Kapal Anda?"


"Tidak perlu, Kapal yang membawa mu kesini akan kembali besok atau lusa."


"Sungguh?"


Hades tidak menjawab, Dia melanjutkan perjalanannya yang tertunda.


* * *


Sofia masih diam tidak menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan Richi kepadanya. Mereka sudah sampai didepan Paviliun Rose.


Richi membuka pintu dan masuk kedalam. Menurunkan Sofia ditempat tidur lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


"Apa yang Kau lakukan?" Sofia menatap Richi yang berjalan kearahnya.


"Katakan padaku apa yang sebenarnya Kau pikirkan." Richi berlutut didepan Sofia.


"Kumohon Esme.."


"Katakan padaku..." Richi mengubur wajahnya di paha Sofia.


Sofia mengepalkan kedua tangannya. Sebenarnya Dia tidak ingin berdebat dengan Richi, Dia ingin hubungannya baik-baik saja dengan Richi. Maka dari itu Dia ingin mencoba mengungkapkan seluruh keluh kesahnya. Dia ingin menyelesaikan semuanya, meskipun nanti akan berakhir menyakitinya.


"Aku tidak ingin pulang.." Suara Sofia bergetar.


"Hah?" Richi menatap Sofia dengan bingung.


"Aku tidak ingin pulang!"


"Mengapa?"


"Mengapa Kau tidak ingin pulang?"


"Aku tidak ingin."

__ADS_1


"Kau tidak ingin bertemu dengan Ayahmu?" Richi menggenggam tangan Sofia yang mengepal.


"Aku ingin..."


"Tapi.."


"Apa?"


"Katakan padaku.."


Sofia menimbang-nimbang perkataannya, apakah Dia harus mengatakannya atau tidak.


"Katakan saja.." Richi mengecup tangan Sofia dengan lembut.


"Aku mulai ragu dengan perkataanmu.." Ucap Sofia.


"Perkataanku?"


"Ya.."


"Aku ragu, apakah Kau benar-benar mencintaiku.."


"Astaga cinta.."


"Aku sungguh-sungguh mencintaimu.."


"Perasaanku padamu benar adanya..." Richi menggenggam tangan Sofia dan menempelkan pada dadanya yang berdetak dengan kencang.


"Tapi mengapa Kau mengajakku pulang?!"


"Karena Aku sangat mencintaimu dan ingin menikahimu secepatnya.." Richi duduk ditempat tidur dan menarik Sofia kedalam pelukannya.


"Kau.."


"Kau mengatakan bahwa jika Aku pulang maka Aku akan menikah dengan Duke tua itu!"


"Aku mengingatnya dengan jelas!"


"Astaga..."


"Tuhanku..."


Richi melepaskan pelukannya.


"Dengar.."


"Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain menikah denganmu!"


"Karena hanya Aku lah yang akan melakukannya!" Richi menggenggam bahu Sofia.


"Sungguh?"


"Sungguh?"


"Ah.."


"Aku tidak akan melakukannya."


* * *


Elie baru berani masuk kedalam Paviliun Rose saat Richi sudah meninggalkan Sofia sendiri. Dia tidak ingin mengganggu percakapan mereka dan membuat kondisi semakin buruk.


Tok


Tok


Tok


"Nona.."


"Aku akan masuk.."


CLACK


Pintu terbuka, Elie masuk dengan cepat dan berjalan ke arah Sofia yang sedang berbaring.


"Nona.."


"Apakah semua baik-baik saja?" Elie duduk disamping Sofia.


"Ah.."


"Bisakah kita pulang secepatnya?" Mata Sofia berbinar-binar ketika melihat Elie.


"Kita akan pulang secepatnya Nona!!"


"Kita akan pulang ketika kapal Marine mendarat!"


"Besok Saya akan mengeceknya sepagi mungkin!"


Hahahaha


Sofia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Elie yang sangat bersemangat.


"Astaga Elie, air mataku sampai keluar melihat semua tingkahmu!" Sofia mengusap sudut matanya yang sudah berair.


"Ah.."


"Saya senang sekali mendengarnya, Nona.."

__ADS_1


"Apakah Anda tidak lapar? Tadi Anda makan sangat sedikit sekali."


"Tidak, tidak.."


"Aku baik-baik saja..."


"Sungguh?"


"Ya.."


"Sebaiknya kita tidur, Aku sangat lelah hari ini."


Elie berdiri lalu mematikan lampu yang masih menyala.


* * *


Matahari begitu cepat bersinar, padahal Sofia merasa baru saja menutup kedua matanya beberapa menit yang lalu. Namun sinar yang terang lagi-lagi membuatnya silau dan terbangun.


Elie sudah tidak terlihat ditempat tidur, hanya ada Sofia disana.


Suara burung yang berkicau mulai terdengar dari dalam kamar, beberapa orang berlarian diluar sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Sofia duduk dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


Dia mengangkat kedua tangannya keatas dan meluruskan kakinya. Sofia melihat bekas luka peluru diperutnya dan mengusapnya perlahan.


"Sudah tidak terasa sakit."


"Syukurlah.."


Sofia berdiri dan pergi untuk mencuci mukanya. Air yang dingin segera menerpa wajahnya yang lelah dan membuatnya merasa segar kembali.


"Nona.."


Terdengar suara Elie dari dalam kamar, Sofia lekas meninggalkan kamar mandi dan berlari menemui Elie.


"Ya.." Sofia berlari sambil mengikat rambutnya yang panjang ke atas dan menggulungnya agar tidak menggangu.


"Ada apa?" Sofia menatap Elie yang terlihat bingung.


"Ah. ."


"Kapal sudah berlabuh Nona.."


"Sungguh?"


"Kita benar-benar akan pulang?"


"Yya.." Elie mencoba terlihat senormal mungkin.


"Ada apa?" Sofia mendekat kearah Elie yang berkeringat.


"Tidak, Nona.."


"Sebaiknya kita sarapan, lalu segera berangkat." Elie menarik dengan lembut lengan Sofia dan berjalan kearah Ruang makan yang terlihat kosong.


"Dimana semua orang?" Sofia melihat ke segala arah, namun tidak terlihat seorangpun.


"Ah.."


"Mereka sedang bekerja Nona.."


"Mari kita makan..."


"Begitukah?" Sofia mengangkat kedua alisnya. Dia tidak bertanya lebih jauh dan memutuskan untuk mengambil beberapa roti panggang dan segelas susu hangat.


Setelah selesai sarapan, Elie membantu Sofia berkemas dan berganti pakaian. Madam Joy sudah menunggu di luar Paviliun Rose.


"Nona Sofia..."


"Tempat ini lagi-lagi akan kehilangan cahayanya..."


"Kembalilah berkunjung kapanpun Anda menginginkannya." Madam Joy memeluk Sofia dengan erat.


"Tentu, Madam.."


"Terimakasih atas sambutannya yang hangat."


"Dan telah mengobati lukaku.." Sofia memegang bekas luka diperutnya.


Madam Joy mengusap air mata yang keluar disudut matanya. Dia mengangguk-angguk dan kembali memeluk Sofia.


Sofia dan Elie diantar oleh Chris ke tepi laut. Karena memang Hades tidak membiarkan orang-orang berkeliaran disekitar pantai.


Sofia melihat kekiri dan kekanan, Dia tidak melihat Kapal Hades dimanapun. Rasa curiga mulai menghampirinya.


"Elie.." Sofia menatap Elie dengan serius.


"Nona.."


"Ayo kita naik..."


Seorang Kapten Angkatan Laut membantu Sofia naik ke atas kapal, Elie tidak membiarkan Sofia bertanya lebih lanjut. Dia tidak ingin kepulangannya dengan Sofia terhambat.


Setelah Elie dan Sofia berada diatas kapal, Kapten mulai memberikan perintah untuk mengembangkan layar. Dan layarpun mengembang dengan cepat, lalu kapal benar-benar berlayar.


"Elie.."


"Jawab Aku!"

__ADS_1


"Dimana Richi?!" Sofia menatap Elie dengan marah.


__ADS_2