
Diatas Kapal Perompak Blanc, Desember 1499.
Sam pergi keluar Kabin mengambil pakaian kering untuk Sofia. Dia kembali dengan cepat karena Kapten Blanc menyuruhnya tetap menjaga Sofia.
Sofia kembali mengenakan sebuah kaos oblong berwarna hitam dengan celana kain selutut penuh saku dibagian sampingnya. Sekarang Dia sudah tidak protes lagi mengenai pakaian. Dia akan mengenakan pakaian apapun yang diberikan.
Diluar badai masih berkecamuk. Hujan yang deras disertai angin dan petir terus mengguyur kapal Blanc. Kadangkala kapal bergetar hebat, Sofia memegang tempat tidur agar tidak terbanting ke kiri dan ke kanan.
Kepalanya mulai terasa berputar dan berdenyut, rasa mual itu tiba-tiba datang lagi. Sofia memegang kepalanya dan mengurut-urut nya dengan kuat.
"Nona, Anda baik-baik saja?" Sam tampak khawatir melihat Sofia memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Aku baik-baik saja Sam, hanya saja mabuk lautku tak kunjung hilang." Sofia mengurut-urut lagi kepalanya.
"Cobalah menutup mata Anda, Nona. Dulu akupun begitu saat pertama naik kapal ini. Menutup mata membuat mabuk lautku berkurang."
"Aku akan mencobanya, terimakasih."
Sam duduk dikursi samping tempat tidur, dia membuat kesepakatan dengan Sofia, namun Sofia belum memberitahu detailnya.
Sofia menunggu waktu yang pas, saat ini dia ingin beristirahat lebih dulu dan membuat mabuk lautnya menghilang untuk selama-lamanya.
"Sam.."
"Ya, Nona.."
"Mengapa Kau menjadi Perompak?"
"Karena, Aku sudah tak punya siapapun Nona. Sebenarnya, Aku kira ini kapal nelayan, namun ternyata bukan." Sam tertawa terbahak-bahak menyadari kebodohannya.
"Astaga, apakah Kau sungguh tidak tau?"
"Tidak Nona, saat itu layar kapal diturunkan, sehingga Aku tidak tau dan menyelinap masuk kedalam. Barulah saat sudah melaju dan layar dikembangkan Aku menyadari kesalahanku."
"Apa Kau menyesal Sam?"
"Hmm, biar Aku pikirkan. Sebenarnya, Aku menyukainya." Sam tertawa lagi memamerkan deretan giginya yang putih.
"Syukurlah jika Kau menikmatinya."
Sam semakin penasaran dengan Sofia. Dia terus mengamati seluruh gerak-gerik Sofia. Sofia menyadari tatapan itu, dia sengaja berpura-pura tidak tau perbuatan Sam.
Lama-kelamaan Sam sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Dia berdiri dari kursi dan duduk ditepi tempat tidur.
"Nona, Katakan padaku, apa yang terjadi padamu?"
"Hmm.. baiklah, lagi pula Aku sudah berjanji akan mengatakannya."
"Aku akan mendengarkan Nona." Raut wajah Sam terlihat bersungguh-sungguh.
"Baiklah, Aku tidak akan mengulanginya, cobalah dengarkan ceritaku ini."
Sofia mengingat-ingat hal pertama yang terjadi padanya satu bulan yang lalu.
"Sam, Kau mengenal Richi?"
"Richi? Tuan Richi?"
"Ya, Richi. Perompak Kapal Hades."
"Tentu saja, Nona! Kita semua mengenal Tuan Richi."
"Aku penasaran, mengapa semua orang memanggilnya 'Tuan' Richi?"
"Seperti yang Anda tau Nona, Bukankah Tuan Richi berbeda dengan perompak lain yang Anda lihat?"
Sofia kembali mengingat-ingat semua hal tentang Richi.
Pakaiannya rapih dan terlihat sangat mahal. Sepatu botnya! Tentu sangat mahal. Kabinnya penuh dengan barang mewah. Richi lebih terlihat seperti seorang bangsawan yang sedang berpetualang, dan tubuhnya wangi. Itulah semua hal yang Sofia ingat tentang Richi. Dan tentu saja, Richi yang selalu membuatnya berdebar-debar tidak karuan.
__ADS_1
"Ya, dia memang berbeda."
"Itu dia Nona. Kabarnya Tuan Richi adalah seorang bangsawan yang kaya raya, kekayaannya tidak bisa dibandingkan dengan siapapun!"
"Astaga Sam, apakah Kau melantur?"
"Tidak Nona! Saya sangat sadar, memang begitu kenyataanya. Semua orang mengetahuinya, Tuan Richi bukan sembarang perompak."
"Mungkin dia lebih berbahaya dari perompak?"
"Bisa jadi Nona!"
"Oke, oke. Jadi Aku memang pertama kali bertemu dengannya di Ibu kota Roseland."
"Ditengah kota Roseland? Anda yakin Nona?"
"Ya, bersama dengan Ben. Dengarkan.. lalu keesokan harinya Aku bertemu dengannya disebuah kedai minum. Ah, Aku lupa nama kedainya.."
"Apakah nama kedai itu 'Je souffre et aime'?"
"Yaa!! Tepat sekali. Tapi, bagaimana Kau mengetahuinya?"
"Itu satu-satunya tempat minum paling berbahaya di Roseland, Nona."
"Ah, jadi tempat itu memang berbahaya?"
"Tepat sekali! Namun, apa yang Anda lakukan disana?" Sam mengerutkan keningnya.
"Haaa, hanya kebetulan lewat saja. Kemudian aku tinggal di Lilbert, lalu awak Kapten Hades menemukanku sedang berjalan ditepi pantai dengan Tuan Gilbert."
"Tuan Gilbert? Anda bilang Tuan Gilbert?"
"Ya, Gilbert. Mengapa?"
"Astaga, Dia lelaki berbahaya Nona. Siapa Anda sebenarnya?"
Sam ragu mendengar jawaban Sofia. Dia tidak percaya wanita didepannya ini benar-benar berhubungan dengan orang-orang paling berbahaya dimuka bumi. Terlebih dia tinggal di Kapal Hades sebelumnya. Wanita macam apa dia sebenarnya.
"Kemudian Aku dibawa paksa ke Kapal Hades, dan sekarang Aku berada di kapal ini. Begitulah.." Sofia mengakhiri ceritanya dengan raut wajah sedih.
"Begitukah?"
"Yah, Kau tau, Aku benar-benar ingin kembali ke Roseland, bertemu dengan seluruh anggota keluargaku."
"Kuharap Anda akan kembali secepatnya, Nona."
"Terimakasih, Sam. Ah, kemanakah tujuan Kapal ini?"
"Kami akan pergi ke, ke 'Le Paradise' Nona." Sam berkata gugup.
"Tempat apakah itu?" Sofia penasaran karena Sam tampak gugup.
"Itu, itu tempat yang kurang menyenangkan." Sam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lalu dia mencoba mengalihkan pembicaraan. Sam enggan mengatakan hal lebih jauh tentang 'Le Paradise' pada Wanita yang ada didepannya.
"Benarkah? Bisakah Aku pulang lewat sana?"
"Nona, 'Le Paradise' memang sebuah pulau yang tidak jauh dari Roseland. Tapi tetap membutuhkan sebuah perahu untuk sampai ke Roseland." Sam menjelaskan.
"Sam, bukankah Kau berjanji akan membantuku? Kumohon." Sofia hampir menitikan air mata karena membayangkan tentang kebebasannya yang ada didepan mata.
Sam tidak tahan melihat wanita menangis, terakhir dia melihat ibunya menangis saat meninggal 3 tahun yang lalu, dan Sam tidak ingin melihat tangisan lagi.
"Aku tidak yakin akan berhasil, Nona. Tapi kita lihat saja nanti." Sam mencoba tersenyum.
"Terimakasih Sam!!!" Refleks Sofia memeluk Sam yang duduk didekatnya.
Lalu beberapa detik kemudian, Dia merasa malu dan melepaskannya. Begitupula dengan Sam. Sekarang mereka berdua terlihat canggung.
__ADS_1
"Nona, beristirahatlah. Perjalanan kita masih jauh. Mungkin akan sampai besok malam di 'Le paradise' karena cuaca buruk. Atau mungkin akan sampai besok lusa, tidak ada yang tau. Sekarang sedang pergantian musim, sehingga cuaca sering berubah."
"Baiklah. Bisakah kau membawakan ku sedikit makanan. Perutku terasa sakit." Sofia memegang perutnya yang kosong.
"Ah, maafkan Saya Nona, Saya akan segera kembali." Sam berlari keluar dengan menutup bagian kepalanya agar terhindar dari tetesan hujan.
Sofia mulai menyusun rencana. Dia sudah merasa senang hanya dengan membayangkannya saja.
Bertemu dengan Ayahnya, bertemu dengan Elie dan dengan seluruh pelayan dirumahnya. Sofia berjanji akan menuruti semua perintah Ayahnya, meskipun menikah dengan Duke tua juga. Dia hanya ingin kembali kerumahnya yang nyaman, tanpa mabuk laut dan bubur gandum sialan.
Suara petir terus bergemuruh, namun senyuman tetap mengembang di bibirnya. Dia yakin akan segera bertemu dengan Ayahnya sesegera mungkin.
Tidak lama kemudian, Sam datang dengan sebuah toples dan segelas air.
"Nona, hanya ada beberapa biskuit." Sam mengangkat toples yang basah.
"Ah, berikan padaku." Sofia mengambil toples dan langsung memakan beberapa biskuit.
Airnya cukup bersih sehingga Sofia tidak berkomentar apapun.
"Terimakasih, Sam." Sofia tersenyum dengan wajah yang sangat cantik.
"Iya, Nona." Wajah Sam berubah merah karena merasa malu. Dia tidak sanggup memandang wajah Sofia yang sangat cantik dan tepat berada didepan wajahnya.
Setelah menghabiskan seluruh isi toples, Sofia tertidur pulas. Barulah Sam berani memandangi wajah Sofia. Dia senyum-senyum sendiri menatap Sofia yang sedang tertidur pulas.
"Anda cantik sekali Nona..." Gumam Sam.
Seketika pintu kabin terbuka. Kapten Blanc berdiri disana.
"Siapa yang cantik Sam?" Blanc berjalan mendekat.
"Ibu, ibuku yang cantik Kapten." Sam menundukkan kepalanya.
"Ah.. apakah wanita ini cantik Sam?"
"Cantik sekali kapten!!" Refleks Sam menutup mulutnya.
Kapten Blanc tertawa terbahak-bahak.
"Sam, Sam.. sungguh malang nasibmu Sam.."
Sam tidak mengerti maksud Kapten Blanc dan hanya mengangguk saja.
"Sam ingat, Wanita ini berasal dari tempat berbahaya."
"Bukankah Kita lebih berbahaya Kapten? Kita Perompak.."
"Memang Sam, tapi pemilik wanita ini yang lebih berbahaya. Jangan menyukai barang yang bukan milikmu! ingat baik-baik perkataanku." Kapten Blanc menepuk-nepuk punggung Sam dengan keras.
"Aku mengerti Kapten!!"
Kapten Blanc kembali tertawa terbahak-bahak.
"Indahnya masa muda..." Kapten Blanc bersiul seperti burung.
"Sam, kembalilah ke dek, Aku akan memanggilmu lagi nanti."
"Aku mengerti Kapten!" Sam pergi meninggalkan Sofia dan Kapten Blanc.
"Sebenarnya apa yang Kau rencanakan Hades?"
"Mengapa Kau membiarkan Rond mengambil wanita ini? Sungguh misteri." Gumam Blanc.
Kapten Hades memang dikenal sebagai Perompak yang penuh dengan tipu muslihat. Dia sangat licik dan menyeramkan, semua Perompak dilautan mengetahuinya dengan jelas dan pasti.
Jika Kapten Hades melakukan sesuatu, pasti ada alasan dibaliknya. Blanc bergidik membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sebaiknya Aku menjaga barang berharga ini baik-baik. Sebelum badai yang sebenarnya datang." Kapten Blanc keluar dari Kabin meninggalkan Sofia yang sedang tertidur pulas.
__ADS_1