Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Menjijikan


__ADS_3

Pulau 'Le Paradise' , Januari 1500.


Sofia duduk memeluk lututnya sendiri. Dia mengamati tempat yang bagaikan sebuah penjara itu.


Lantai yang sangat kotor, sarang laba-laba yang memenuhi pojok jeruji dan udara yang tidak sehat karena tidak ada satupun fentilasi selain pintu.


Sofia menghitung jumlah wanita yang ada didalam jeruji selain dirinya. Totalnya ada sebanyak 28 wanita. Tidak ada satupun suara yang terdengar selain suara musik yang terdengar bahkan sampai sini. Sofia ingin tau, sebenarnya tempat seperti apakah ini.


Dari kejauhan, dia dapat mendengar suara derap langkah yang terburu-buru. Pintu terbuka seketika, terlihat Sam dengan raut wajah yang khawatir dan frustasi.


"Nona? Nona Esme??"


"Sam? Kaukah itu?" Sofia menutup matanya silau, karena cahaya diluar begitu terang.


Sam berjalan mendekat dan berusah membuka pintu jeruji, namun sia-sia, pintu itu terkunci.


"Aku mencarimu berkeliling, Nona. Astaga, apa yang harus Aku lakukan sekarang?" Sam menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Bagaimana dengan Kapten Blanc?" Sofia mengingat nama Kapten kapal itu.


"Kapten Blanc dan Rond mabuk berat Nona, mereka tidak akan bisa diandalkan dalam situasi ini." Suara Sam terdengar semakin cemas.


Dari kejauhan terdengar suara orang sedang bercakap-cakap.


"Sam, sembunyilah!" Gumam Sofia.


Sam mencari tempat gelap dan menyembunyikan dirinya.


"Bawalah beberapa wanita yang terlihat sehat! Atau kau akan ku penggal!" Ujar seorang lelaki bertubuh pendek dengan janggut yang luar biasa panjang sampai kedada.


"Siap Tuan!" Ujar seorang pria kurus yang dengan cepat masuk kedalam gudang lalu mengamati beberapa wanita termasuk Sofia.


"Kau kemarilah!" Dia menunjuk seorang wanita muda berkulit kuning langsat dengan rambut hitam sebahu.


"Kau! Kemarilah!! Ayo cepat!" Dan seorang wanita putih berambut blonde sepinggang.


Pria kurus itu berjalan ke arah jeruji Sofia dan tersenyum puas.


"Kau! Kemarilah." Sofia berdiri dengan enggan, namun wanita-wanita lain membisikkan sesuatu, seperti 'cepatlah berdiri atau Kau akan mati'.


Sofia berdiri dengan cepat.


"Ayo kalian berkumpul!" Wanita berambut hitam sebahu susah berjalan karena kakinya terluka.


Lalu pria itu tidak segan-segan mencambuknya dengan keras.


"Aaaaaaah"


Terdengar teriakan yang memilukan. Sofia tidak kuasa melihatnya dan hanya menutup mata sambil menahan tangisnya.


"Cepat berdiri! Wanita jalang brengsek!" Pria itu mencambuknya lagi dengan keras.


"Aaaaaaah, maafkan Aku Tuan, maafkan Aku." Wanita itu bersujud memohon ampun.


Sofia sudah tidak tahan lagi berada ditempat ini.


Sam yang melihat dari kejauhan khawatir melihat kondisi Nona Esme.


Wanita yang dipilih dibariskan, lalu tangannya dirantai satu-persatu.


Mereka berjalan beriringan layaknya sedang berparade.


Sofia keluar dari dalam gudang yang pengap itu. Dia diarahkan kesebuah ruangan lain yang cukup terang dan membuat matanya terasa sakit.


"Cepatlah! Astaga, haruskah aku mencambukmu?" Pria itu menatap Sofia dengan dingin.


Sofia menggelengkan kepalanya dan berjalan lebih cepat.


Pintu ditutup dan dikunci.


Seorang wanita cantik dengan pakaian yang minim sudah menunggu mereka disana.


"Kalian, bersihkan diri dulu. Lalu, kenakanlah pakaian ini." Dia menunjuk ketumpukan pakaian berwana hitam dan coklat.


Sofia dan wanita lain masuk kedalam sebuah pemandian yang besar dilengkapi dengan shower dan bak mandi yang besar.


Entah harus bersyukur atau bersedih melihat pemandangan ini. Disatu sisi Sofia merasa senang akan mandi, disatu sisi lain dia ketakutan apa yang akan terjadi padanya nanti setelah selesai mandi.


"Nona, cepatlah mandi, atau pria tadi akan mencambukmu juga." Wantia berambut blonde mengingatkannya.


"Ah, baiklah.."

__ADS_1


Sofia mulai membuka pakaiannya, dia membilas tubuhnya dengan sabun wangi dan membasahi rambutnya yang sudah lengket sekali. Dia bersyukur masih bisa merasakan air yang jernih diseluruh tubuhnya. Sungguh sangat lebih bersyukur apabila seseorang dapat membawanya pulang ke Roseland.


Sebuah air mata jatuh dipipinya, dia sudah tidak sanggup lagi menahannya.


Sofia menahan agar suara tangisnya tidak terdengar oleh orang lain.


"Jangan menangis, Nona!" Wanita blonde itu mengingatkan lagi.


"Ayo, Aku akan membantumu membilasnya." Wanita itu membantu membersihkan tubuh Sofia.


"Terimakasih.." Ujar Sofia.


"Bertahanlah! Kau harus kuat. Aku tidak tau mengapa seorang Lady sepertimu berada ditempat seperti ini."


"Kau tau?"


"Tentu saja Lady Sofia. Saya mengetahui Anda hanya dengan melihat kulit Anda. Apa yang sebenarnya anda lakukan disini?"


"Ceritanya sangat panjang sekali. Lalu, mengapa Anda bisa berada disini?"


"Saya hanya seorang pelayan Nona, seseorang mengatakan pada saya cara mendapatkan uang yang banyak dalam sekali bekerja, saat itu saya sangat membutuhkan uang karena ibu saya sakit. Tapi saya berakhir disini. Saya harap Ibu saya benar-benar mendapatkan uangnya." Wanita itu tidak menunjukan kesedihan, Dia mencoba terlihat tegar.


"Aku turut berduka. Apakah Anda berasal dari Roseland?"


"Iya, Saya dari Roseland Nona." Dia tersenyum setulus mungkin.


Sofia senang mengetahui ada yang mengenalnya. Dia tidak tahan untuk memeluk wanita itu.


"Nona, Anda membuat Saya malu." Ujar wanita berambut blonde.


"Siapakah nama Anda?" Tanya Sofia.


"Wenda. Nama saya Wenda."


"Wenda, Aku berjanji, jika Aku dapat keluar dari sini dan kembali ke Roseland, Aku akan membebaskan kalian semua! Percayalah!"


"Terimakasih Lady Sofia, Saya sangat senang mendengarnya." Wenda tidak kuasa menahan air matanya, dia cepat-cepat mengusaonya.


Setelah selesai membersihkan badan, mereka bertiga berjalan keluar bersamaan.


Sofia dan Wenda membantu wanita berambut hitam pendek yang bernama Nana karena kakinya terluka serius akibat dari cambukan tadi.


"Dia terluka Madam.." jawab Wenda.


"Astaga! Kita tidak bisa menjual barang seperti ini! Tinggalkan Dia!"


"Saya bisa Madam, Saya bisa." Nana memohon-mohon pada wanita yang kerap dipanggil Madam itu.


"Baiklah, awas saja jika Kau membuat keributan. Kepalamu yang jadi bayarannya."


Nana bergidik ngeri membayangkannya.


Sofia mengenakan pakaian yang sangat minim. Hanya sekedar penutup payudara dan penutup bagian intimnya saja. Baju ini seperti baju dalam.


"Madam, apakah Saya harus mengenakan ini?" Sofia mengernyitkan dahinya.


"Kau akan langsung terjual ketika keluar!" Madam itu tertawa terbahak-bahak.


"Saya merasa sedih melihat Anda berpakaian seperti itu, Nona.." Wenda berbisik ditelinga Sofia.


"Ha.. Aku harus bertahan Wenda! Sebaiknya aku berperilaku baik atau seseorang akan menghajar ku."


"Nona, jika mereka mengetahui siapa Anda sebenarnya, mereka tidak akan berani Nona.."


"Tidak Wenda! Aku tidak boleh membiarkan siapapun mengetahui identitas ku, Aku tidak ingin Ayahku dalam bahaya karena Aku." Sofia menatap langit-langit kamar itu.


"Semua sudah siap? Ayo ikuti Aku!" Madam itu berjalan ke sebuah lorong yang panjang. Cahayanya redup dan kadang berkelap-kelip.


Suara musik semakin terdengar keras sekali. Sofia memasuki sebuah ruangan yang minim cahaya, namun dia dapat melihat dengan jelas beberapa wanita yang hanya menggunakan pakaian dalam seperti dirinya sedang menari, meliuk-liukkan tubuhnya bagaikan seekor ular. Mereka dikelilingi oleh lelaki yang mabuk dan memegang minuman keras.


Sofia melihat sekeliling, samar-samar dia dapat melihat kelompok Kapal Perompak Blanc sedang minum dan bercumbu dengan berbagai macam wanita. Rasa mual mulai naik ketenggorokannya.


"Astaga... Pemandangan yang sangat menjijikkan." Gumam Sofia.


Seorang wanita muda melepaskan pakaiannya begitu saja dan menaiki tubuh Kapten Blanc. Dia bagaikan sedang menunggangi seekor kuda dipadang rumput yang hijau.


Sofia tidak sanggup lagi melihatnya, dia memalingkan wajahnya secepat mungkin.


"Kau, masuklah kedalam!" Madam menunjuk Nana. Dan memisahkan mereka bertiga.


"Jagalah diri Anda, Nona.." Ujar Wenda sebelum masuk kesebuah ruangan yang terang.

__ADS_1


Sofia hanya mengangguk-angguk dan menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Kau akan mendapatkan seseorang yang berbeda! Kau akan sangat mahal!" Madam tertawa terbahak-bahak.


Sofia mencoba menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Udara cukup dingin sehingga membuatnya sedikit menggigil.


Mereka berhenti didepan sebuah pintu yang besar. Madam itu membuka pintu dan mendorong Sofia masuk.


Terlihat beberapa pria tua sedang duduk dan minum minuman keras. Pandangan mereka langsung tertuju kearah Sofia yang setengah telanjang.


Sungguh Sofia ingin pergi secepatnya dari tempat itu sekarang juga. Seandainya ada sebuah kesempatan, Dia tidak akan segan-segan untuk lari.


"Tuan, tuan. Wanita ini spesial! Tidak ada duanya! Lihatlah kulitnya yang putih dan pucat ini! Lihatlah matanya yang coklat hazelnut dan rambutnya yang coklat terang ini! Tidak ada duanya!" Madam memutar-mutar tubuh Sofia bagaikan sebuah boneka.


Pandangan pria tua itu seperti hewan buas yang menatap seekor kelinci, Sofia merasa jijik melihatnya. Air liurnya seperti akan menetes kelantai jika dibiarkan sebentar saja.


Madam itu mendorong tubuh Sofia kelantai dan langsung pergi dari ruangan.


"Selamat bersenang-senang Tuan!!" Madam menutup pintu.


Klik


Para pria tua itu berjalan mendekati Sofia. Sofia berusaha berdiri dan membuka pintu, namun seseorang menarik tangannya dengan kuat.


"Aaah, lepaskan!!"


Sofia menendang-nendang kakinya kelantai, mencoba berjarak sejauh mungkin.


Mereka tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Sofia.


"Nona, Nona. Mau kemana sebenarnya! Ayo puaskan kami!"


"Apakah ini teknik baru?"


"Ingin dikejar? Astaga payudaramu membuatku tegang!"


Mereka tertawa memamerkan deretan giginya yang kuning dan bau tembakau.


Salah seorang dari mereka menarik tubuh Sofia ke kursi dan membantingnya.


"Lepaskan Aku! Lepaskan aku brengsek!" Sofia berhasil menendang perut pria itu dan membuatnya terjungkal.


"Wanita jalang brengsek!" Dengan cepat pria itu menampar pipi Sofia dengan keras.


PLAAAK!!


Suaranya sangat keras, pipi kanan Sofia berubah merah. Darah segar menetes disudut bibirnya.


Dia tidak akan mengangis! Tidak akan! Dia tidak mau menunjukkan kelemahannya, Tidak mau!


"Apakah terasa sakit sayang? Kemarilah biar aku usap." Pria lain mendekatinya dan meniup pipi Sofia.


"Menjauhlah tua bangka!" Sofia meludahi pria itu.


"Sungguh tidak biasa! Kau sangat menggemaskan!!" Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.


"Ayo kita lepaskan pakaiannya! Aku sudah tidak tahan untuk melahapnya!" Pria itu berjalan mendekat dan merobek baju atas Sofia.


Refleks Sofia menutup payudaranya yang sudah tidak memakai penutup lagi.


"HAHAHA, astagaaa! Kau masih menutupnya?" Pria itu datang lagi dan menampar pipi Sofia.


"Hentikan! Kau tua bangka menjijikkan!!" Lagi-lagi Sofia meludahi Pria tua itu.


PLAAAK!!


Kedua pipi Sofia kini berubah merah. Rasa panas mulai terasa disudut matanya. Dia menahannya agar air mata sialan itu tidak tumpah begitu saja.


Sofia masih menutup bagian payudaranya, mereka bertiga mendekat bersamaan dan menarik tangan Sofia dengan kuat.


Sofia menjerit, bersamaan dengan terdengar suara pintu terbanting.


BRAAAK


Terdengar suara langkah kaki mendekat, dengan mudahnya Dia membanting 3 pria tua itu ke dinding. Kemudian terdengar suara 3 tembakan beruntun dan disusul suara jeritan yang memilukan.


Dia berjalan kearah Sofia, lalu menutup tubuhnya yang tidak memakai sehelai benangpun.


Sofia melihat kearah pintu dan terkejut melihat siapa lelaki itu.


"Kau..."

__ADS_1


__ADS_2