
Istana Kerajaan, Roseland. April 1500.
Pengumuman telah selesai diberikan, semua orang telah kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
Suasana hari itu sangat sibuk sekali, semua pelayan tidak ada yang diam ditempat satupun. Mereka mondar-mandir dengan berbagai macam barang dipundak dan tangannya. Begitupun dengan Elie, Dia mengumpulkan beberapa pakaian yang akan dikenakan Sofia di Pulau Pace nanti.
Marquess Jasper pergi dengan Ratu Ranee ke ruang kerjanya. Sedangkan Sofia dan Richi memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar kerajaan.
"Sebenarnya untuk apa kita ke Pulau Pace?" Sofia tiba-tiba berhenti berjalan dan Richi hampir saja menabraknya.
"Ah.."
"Kita hanya akan berjalan-jalan disana."
"Jangan berbohong." Sofia menatap mata Richi dengan lekat.
Richi menggaruk kepalanya berulang. Sebenarnya Sofia tidak mengetahui apa-apa perihal keberangkatan mereka ke Pulau Pace besok.
"Katakan!" Sofia bersikeras ingin mengetahuinya. Dia menggenggam tangan Richi dengan erat.
"Kita akan menikah."
"Apa?"
"Kita akan menikah disana."
"Menikah?"
"Menikah menikah?" Sofia mengulang-ulang pertanyaannya.
"Ya.."
"Me-ni-kah."
"Menikah." Richi mengatakannya tanpa berkedip.
Lutut Sofia terasa lemas tak bertenaga. Dia terjatuh begitu saja.
"Sofi!" Richi menahannya dengan cepat.
"Kau baik-baik saja?" Richi terlihat sangat khawatir. Sofia tampak pucat sekali. Bulir-bulir keringat mengalir didahinya.
"Sofi?" Richi kemudian membantunya duduk di bangku taman.
"Mm.."
"Pelayan!" Richi berteriak ke arah lelaki yang berjalan tak jauh dari mereka.
"Saya, Tuan."
"Bawakan segelas air."
"Cepat!"
"Saya mengerti." Dia berlari dengan cepat memasuki istana.
"Sofi.."
"Sayang.."
"Apa yang Kau rasakan?"
"Bicaralah.." Richi mengusap kening Sofia yang basah.
"Ini, Tuan.."
Richi mengambil segelas air dan membantu Sofia minum.
Glek
Glek
Glek
"Kau boleh pergi."
"Saya mengerti."
Pelayan itu berjalan mundur, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Richi.."
"Ya.."
"Aku disini.."
"Kita akan menikah besok?"
"Itu rencananya, Sayang."
"Kau tidak menyukainya?"
Sofia menautkan jari-jarinya.
"Ada apa?"
"Katakan saja.." Richi memandang Sofia dengan tatapan lembut. Dia tidak ingin memaksakan apapun pada kekasihnya itu.
Namun, jauh didalam lubuk hatinya, Dia merasa resah. Richi takut Sofia menolak menikah dengannya besok.
"Mengapa.."
"Mengapa Kau tidak mengatakan apapun padaku sebelumnya?" Sofia menatap Richi dengan bingung.
"Aku.."
"Aku tidak bermaksud seperti itu.."
"Aku tidak tau Kau akan bereaksi seperti ini.."
"Hanya saja.."
"Aku sangat senang sekali ketika Nenek memberi restu untuk menikah denganmu, Dan.."
"Dan Ayahmu juga merestui kita, Aku tidak sabar, Aku ingin sekali cepat menikah denganmu." Richi meremas-remas kedua tangannya.
"Aku mengerti."
"Ayo kita menikah!" Sofia tersenyum dan menggenggam tangan Richi yang dingin.
"Hah?" Sekarang Richi yang terkejut mendengar jawaban Sofia.
"Kau tidak marah?"
"Aku hanya kesal."
"Kau tau.."
"Mungkin hanya Aku yang tidak tau apa yang akan terjadi besok."
"Sampai kapan Kau akan merahasiakannya dariku?"
"Sampai kita tiba di Pace." Richi tersenyum memperhatikan deretan giginya yang rapih.
"Dasar Kau penjahat!"
"Kau senang melihatku kebingungan nanti?"
Richi tidak bisa menahan senyumannya. Dia tertawa lepas kemudian memeluk Sofia dengan erat.
"Jangan melarikan diri!"
"Jangan kabur!"
"Jangan menghilang!" Richi menatap Sofia dengan lekat.
Sofia hanya terkekeh mendengar perkataan Richi.
"Jangan tertawa!"
__ADS_1
"Aku serius!"
"Iya, iya."
* * *
Hari bahagia telah tiba, Semua orang sudah tidak sabar berangkat ke Pulau Pace. Padahal matahari masih belum terlihat pagi itu.
"Selamat pagi, Nona!"
Elie membuka tirai dengan cepat sambil bersenandung riang. Masih sangat pagi sekali, tapi Dia terlihat sangat semangat membangunkan Sofia dari tidurnya yang nyenyak.
"Ell..."
"Berisik.."
"Ayo, ayo bangun Nona.." Elie menarik selimut Sofia dengan sekali tarikan.
"Kembalikan Eliie..."
"Kumohon.."
"Dingin sekali..." Sofia kembali meringkuk dan menarik selimutnya yang tebal dan hangat itu.
"Nona.."
"Semua orang telah bersiap."
"Termasuk Yang Mulia Ratu.."
Deg
Deg
Deg
Sofia duduk dengan cepat, Dia mengikat rambutnya dan langsung meminum segelas air dimeja sebelah tempat tidurnya.
Pfftt
Elie mencoba menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Sofia.
"Ell.."
"Apa yang harus Aku lakukan terlebih dahulu?" Sofia menatap Elie dengan serius.
"Anda harus mandi, Nona.." Elie membelalakan matanya.
Brrr
Bulu kuduk Sofia berdiri. Dia enggan sekali menurunkan kakinya dari tempat tidurnya yang nyaman.
Elie gemas melihatnya, Dia membantu Sofia berdiri dan mengantarnya ke kamar mandi.
"Ayo.."
"Ayo.."
Beberapa pelayan wanita telah menunggu kedatangan Sofia, mereka telah menyiapkan bak air hangat yang penuh dengan berbagai macam bunga dan ramuan wewangian.
"Selamat pagi Lady Sofi.." Mereka menundukkan kepalanya serentak.
"Ah.."
"Selamat pagi.."
"Mohon bantuannya.." Sofia tersenyum dengan tulus.
Seluruh pelayan saling berpandangan. Mereka membalas senyuman Sofia dengan anggukan kepala.
"Tentu saja Lady!"
"Benar!"
"Serahkan pada kami!"
Elie tersenyum senang melihat semua temannya yang memperlakukan Sofia dengan baik.
* * *
Terlihat seseorang yang sudah tidak asing lagi berdiri di atas Kapal Marine. Dia melambaikan tangannya ke arah Elie dengan semangat kemudian memanggil namanya dengan kencang.
"Elie.."
"Lihat kemari.."
Elie merasa tidak nyaman, Dia menyembunyikan wajahnya di balik punggung Sofia.
"Kenapa sembunyi?" Sofia melirik ke arah Elie yang terlihat malu-malu.
"Tidak apa, Nona."
"Biarkan Saya seperti ini untuk beberapa saat."
Sofia mengangkat kedua alisnya.
"Ya.."
"Terserah saja.."
Kapal Kerajaan sudah terlihat penuh, mereka naik ke atas kepala satu per satu.
Yang Mulia Ratu menaiki Kapal yang berbeda, kapal yang berukuran cukup kecil dan hanya memuat 10-12 orang saja.
"Ayah.."
"Mengapa Ratu Ranee tidak pergi bersama Richi?" Sofia menunggu jawaban Ayahnya.
"Akan berbahaya jika penerus tahta satu kapal dengan Sang Ratu."
"Tuan Richi menaiki Kapal Marine."
"Aku tidak begitu mengerti.."
"Untuk meminimalkan kejadian yang tidak diharapkan." Marquess Jasper tersenyum, kemudian mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Hmm.."
"Begitupun denganmu.."
"Saat nanti Kau punya anak, Kau tidak diperbolehkan satu kapal dengan Anak mu, Kalian akan menaiki kapal yang berbeda."
"Ahh.."
"Aku cukup mengerti.."
"Tapi.."
"Bukankah akan terasa sepi?"
"Tentu saja.."
"Tapi memang sudah ada peraturannya."
"Ah.."
"Ayo naik.."
"Kekapal mana?"
"Kapal kita.." Marquess Jasper menunjuk sebuah kapal berukuran cukup besar berwarna putih dengan layar berwarna biru langit.
"Ayah membelinya?"
"Itu kapal yang biasa Ayah dan Ibumu pakai."
"Sungguh?"
"Ya.."
__ADS_1
"Ayo naik.."
Sofia naik dengan perlahan, Marquess Jasper membantunya agar tidak terjatuh ke air.
"Pakailah ini sayang.." Jasper memberikan mantel tebal pada Sofia.
"Terimakasih, Ayah.."
"Masuklah kedalam kabin, beristirahat.."
"Aku akan menunggu Elie dulu.."
"Ah.."
"Baiklah.." Marquess Jasper berjalan ke arah ruang kemudi.
Elie dengan cepat menyusul Sofia yang sudah naik. Dia berlari dan hampir terjatuh karena menginjak genangan air.
"Argh.."
"Berhati-hati Nona.." Suara yang sangat Elie kenal. Pria itu menahan punggung Elie agar tidak terjatuh.
"Terimakasih, Kapten.." Elie berdiri dan menundukkan wajahnya.
Dia merasa malu sekali, ingin rasanya menghilang dari sana seketika.
"Anda baik-baik saja?"
"Berkat Anda.."
"Terimakasih.."
"Syukurlah kalau begitu."
"Mari Saya bantu naik ke atas kapal."
"Iya.."
Kapten Clark membantu Elie naik ke atas kapal, Dia khawatir melihat Elie yang terlihat terburu-buru dan hampir terjatuh.
"Sampaikan salam Saya pada Lady Sofia, Nona.."
"Tentu Kapten.."
"Saya akan menyampaikannya.."
"Baiklah, selamat tinggal.."
"Sampai jumpa di Pace nanti.."
"Sampai jumpa.."
Elie membalas lambaian tangan Kapten Clark yang berjalan semakin jauh.
"Waaaaa.."
"Apakah Aku seharusnya tidak melihat adegan romantis ini?" Sofia berpura-pura menutup kedua matanya.
"Nona.." Elie menutup wajahnya yang memerah.
"Apakah itu suatu kesengajaan?" Sofia senang sekali menggoda pelayannya yang setia itu.
"Tidak, Nona.."
"Saya benar-benar akan terj.."
"Aku tau, Aku tau.." Sofia menepuk-nepuk punggung Elie dengan cukup keras.
"Anda membuat Saya malu, Nona.."
Sofia hanya tertawa melihat tingkah Elie yang serba salah.
"Ah.."
"Dimana Kabin?" Sofia berhenti tertawa kemudian melihat Elie dengan raut wajah serius.
"Diujung lorong sebelah kanan, Nona.."
"Kemarin Saya membersihkannya.."
"Kau sudah pernah kemari?"
"Ya.."
"Tuan menyuruh Saya membersihkan kabin Anda, Nona."
"Hmm.."
"Mari kesana.."
Elie berjalan lebih dulu agar Sofia tidak tersesat.
KLAK!
Pintu kabin terbuka. Sofia langsung disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan.
"Ini..."
"Gaun ini akan dikenakan oleh Anda saat pernikahan, Nona." Elie tersenyum lalu meninggalkan Sofia sendiri dikabin nya.
"Gaun Ibu.." Gumam Sofia.
Terlihat sebuah amplop berwarna maroon yang sudah usang terselip diantara bunga-bunga yang menghiasi bagian leher gaun.
Sofia mengambilnya, lalu membolak-balik kemudian membukanya.
'Dear Sofia..'
'Apakah Kau menyukainya?'
'Suka atau tidak, Kau harus menggunakannya!'
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak tau akan mendapatkan kejutan yang luar biasa ini dihari pernikahannya.
'Ibu tidak tau ukurannya akan pas atau kekecilan.'
'Tapi Kau wajib menggunakannya.'
'Ini gaun pernikahan yang Ibu gunakan saat menikah dengan Ayahmu.'
'Berbahagialah!'
'Kau pantas mendapatkannya.'
'Ibu mencintaimu.'
Ibumu, Rossie.
Sekarang, Dia tidak bisa menghentikan air matanya yang mengalir bagaikan sungai Thames. Rasa haru membuatnya bahagia dan tidak sabar untuk menggunakannya.
Gaun A-line berwarna gading dengan detail tali-tali dibagian punggung. Gaun yang sederhana tapi akan membuatnya tampil memukau. Elie sudah menyesuaikan ukurannya untuk Sofia.
Brak.
Bruk.
Dukk.
Dari luar terdengar hiruk-pikuk yang cukup keras. Suara Ayahnya terdengar sangat jelas meskipun dari dalam kabin.
"Kembangkan layar!" Marquess Jasper memberikan perintah pada awak kapal.
Tidak lama kemudian Kapal terasa bergerak dan mulai berayun.
Perasaan familiar yang sangat Sofia kenal. Dia ingat bagaimana pertama kali saat Dia menginjakkan kakinya di atas kapal.
Benar-benar perasaan yang tidak menyenangkan.
Sofia duduk diatas tempat tidur, Dia memegang tiang penyangga dengan erat dan mulai memejamkan matanya, berharap rasa mual dan mabuk lautnya tidak bertahan lama dan segera menghilang.
__ADS_1
"Kembangkan layar!"
"SIAAAP KAPTEN!!"