
Diatas Kapal Perompak, Desember 1499.
Seseorang menarik Selimut yang menutupi tubuh Sofia dengan paksa, kemudian selimut itu terlempar begitu saja dengan cepat, Refleks Sofia menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Orang itu menarik tangan Sofia dan mengamati wajahnya, lalu tertawa terbahak-bahak.
Terlihat seorang pria bertubuh besar, berkulit hitam dengan kepala tanpa sehelai pun rambut. Matanya berwarna hitam dia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang tidak rapih. Samar-samar tercium bau alkohol dari nafasnya.
"Hades, Kau menyembunyikan seekor domba kecil dikabinmu??"
Tiba-tiba pintu terbanting dengan keras, Richi berjalan dengan raut wajah tegang dengan baju basah oleh keringat. Terlihat sebuah pistol ditangan sebelah kanannya.
"Lepaskan Dia, Rond!"
"Tuan Richi?? Mungkinkah dia peliharaan Anda?" Rond memutar-mutar Sofia bagaikan sebuah boneka.
Sofia terlalu takut untuk berteriak, dia hanya diam dan menahan air matanya agar tidak terjatuh. Pergelangan tangannya mulai terasa panas dan sakit.
"Lepaskan dia saat Aku masih bersikap baik." Richi menatap mata Rond, tidak terlihat sedikitpun rasa takut darinya.
"Oh, oh, oh Tuan Richi. Maafkan kelancanganku, Tapi sepertinya Tuan Muda ku juga ingin melihat domba kecil ini. Aku akan membawanya kekapal Blanc." Rond menyeret tubuh Sofia bagaikan seekor hewan, dia tidak memperdulikan reaksi Sofia sedikitpun.
Sofia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, air matanya tumpah begitu saja. Dia tidak ingin seseorang mendengarnya menangis.
"Aku bilang LEPASKAN!" Richi berteriak, dia tidak bisa mengontrol emosinya ketika melihat Sofia mulai menangis.
Pistol ditangan kanannya sudah diarahkan tepat di tengah kepala Rond, namun seseorang menahannya dari belakang.
"Hentikan Richi." Terdengar suara Kapten Hades.
"Ah, Kapten Hades!! Sungguh waktu yang tepat sekali. Sudah sekali kita tidak berjumpa." Rond melambaikan tangannya pada Hades.
Terlihat sedikit senyuman di bibir Kapten Hades.
"Apa yang Kau inginkan?" Hades mulai bertanya.
"Kau sangat mengetahuinya Kapten. Aku hanya ingin membawa domba kecil ini ke kapal Blanc." Rond menjawab dengan santai.
Kapten Hades tertawa terbahak-bahak, sedangkan Richi tidak dapat mengontrol raut wajahnya, dia sangat marah, sangat marah sekali.
"Rond, Kau tidak akan pernah mau tau apa yang akan dilakukan Tuan Richi jika Kau membawa domba malang itu ke kapal Blanc."
"Aku hanya akan meminjamnya sebentar. Tolonglah, Kaptenku akan marah jika Aku tidak mendapatkan apapun setelah menyusup kedalam kapalmu Kapten."
"Sebetulnya Aku tidak peduli." Kapten Hades mengangkat kedua pundaknya.
"Leherku jaminannya, Kapten. Kumohon, biarkan Aku membawa gadis kecil ini."
"Akan pergi kemana Kapal Blanc?" Hades mulai bertanya.
"Kau sudah mengetahuinya bukan?" Rond tersenyum malu-malu.
Hades menatap Richi yang sedang dipenuhi oleh amarah, kemudian melihat ke arah Sofia yang menahan agar suara tangisnya tidak keluar, padahal sudah jelas sekali air mata mengalir dari kedua matanya bagaikan sungai Nil.
"Kau boleh membawanya." Hades berucap dengan santai.
"Hades!" Richi menarik kerah Kapten Hades lalu mendorongnya ke sudut kabin.
Rond mengambil kesempatan emas itu dengan cepat, dia menggendong Sofia dan berlari keluar dari Kabin dengan sangat cepat.
Richi yang merasa dibodohi melepaskan Hades yang sedang tertawa lalu berlari mengejar Rond dengan kecepatan penuh.
Sofia tidak sempat berteriak, sebuah pukulan di belakang lehernya, membuatnya tidak sadarkan diri.
Suasana geladak sungguh kacau, semua awak kapal memegang pedang ditangan kanannya, bagian lambung kapal bocor karena terkena meriam.
Kapal terus bergoyang ke kiri dan ke kanan. Asap hitam mengepul dibagian belakang kapal. Terlihat sebuah Kapal berwarna putih merapat dekat dengan Kapal Hades, Rond melompat dengan mudahnya, lalu mengangkat tangan tanda harus pergi.
Dengan cepat semua awak Kapal Blanc kembali dan mengembangkan layar.
Kapal mulai menjauh, Richi menembakkan pistol beberapa kali, namun Kapal Blanc tidak berhenti. Richi menjatuhkan diri kedalam laut dan mencoba mengejar dengan cara berenang, namun sia-sia. Kapal Blanc semakin jauh dengan bantuan angin yang berhembus kencang.
Ben yang melihat Sofia digendong oleh Rond juga mencoba mengejarnya dengan berenang kelautan, namun sama saja. Tidak ada yang bisa mengejar kecepatan Kapal Blanc ketika layar sudah dikembangkan.
"Astaga, sungguh sebuah pertunjukan yang spektakuler." Kapten Hades bertepuk tangan beberapa kali.
Beberapa awak kapal mencoba menarik Richi dan Ben untuk naik ke atas Kapal Hades.
"Kau brengsek! Apa yang Kau lakukan!" Richi naik dengan cepat lalu mendorong Hades ketiang yang cukup besar.
Kapten Hades mengangkat kedua tangannya.
"Aku tidak berbuat apapun, sungguh."
Bbuuk!!!
Richi melayangkan sebuah tinju ke wajah Hades dengan kuat.
"Astaga.." Hades mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
__ADS_1
Awak kapal lain yang melihat berpura-pura tidak melihat dan menyibukkan diri dengan hal lain. Hanya Ben yang diam memperhatikan.
"Aku harus mendapatkan perawatan." Hades menggelengkan kepalanya.
"Pergi kemana Kapal Blanc?!" Richi melontarkan pertanyaan dengan suara keras.
"Aku akan memikirkannya." Hader tertawa terbahak-bahak, lalu berjalan kearah anjungan.
"Dasar sial!" Richi masuk kedalam kabinnya.
Ben diam, tidak berkomentar apapun. Dia menundukan wajahnya dan menunggu matahari mengeringkan bajunya yang basah.
"Kau seperti anjing." Top menghampiri Ben yang sedang duduk.
"Kau seperti anjing tua." Balas Ben.
Top tertawa terbahak-bahak.
"Mengapa kau melompat? Ingin menjadi seperti seorang pahlawan?"
Ben tidak menjawab apapun.
"Kau membuatku malu Ben, astaga." Top menggelengkan kepalanya.
"Keringkan badanmu, atau Kau akan terkena Flu anjing."
"Perompak tidak pernah sakit."
Top meninggalkan Ben yang masih duduk.
Ben menatap langit yang berwarna kelabu, rintik-rintik hujan mulai turun membasahi wajahnya, angin berhembus sangat kencang, badai yang besar akan segera datang. Dia mulai mengkhawatirkan Sofia.
"Seharusnya aku berenang sampai mati tadi." Gumam Ben dengan raut wajah sedih.
"Apa yang sebenarnya Kapten pikiran?" Ben berdiri dan berjalan masuk kedalam anjungan.
Terlihat Kapten Hades sedang berbicara dengan Juru Kemudi.
Hades pura-pura tidak memperhatikan Ben yang menatapnya dengan tajam. Sehingga Ben memanggilnya dengan ragu-ragu.
"Kapten..."
"Hmm.."
"Dimanakah Esme?"
"Kau melihatnya tadi, dia didalam Kapal Blanc."
Hades berbicara lagi dengan Juru Kemudi.
"Tapi Kapten, mungkin Esme sedang dalam bahaya." Ben menautkan seluruh jarinya.
"Pergilah ke bawah! Betulkan bagian yang berlubang. Kau mengganggu." Seru Kapten Hades.
Ben tidak bisa berkata apapun setelah mendengar perintah Kapten Hades. Dia berjalan menuju lambung kapal yang bocor dan mulai membantu membetulkannya.
* * *
Richi membanting pintu dengan keras. Dia masuk dan berbaring diatas tepat tidur yang berantakan.
Selimut dilantai, kertas-kertas berserakan. Tinta tergelatak dilantai, bantal tercabik-cabik. Sungguh pemandangan yang kacau.
Ruangan ini terasa sunyi sekali. Richi menatap bagian tempat tidur yang biasa ditiduri oleh Sofia. Dia mengusap-usapnya beberapa kali.
"Mengapa Aku begitu kacau?"
"Mengapa hatiku terasa sakit?"
"Aku tidak menyukai perasaan ini."
"Hades sialan!"
Richi mengepal-ngepalkan kedua tangannya dan menggebrak tempat tidur.
* * *
Sebelum Sofia di bawa ke Kapal Blanc
Siang itu, setelah Richi merasa canggung karena mencoba membantu Sofia yang hampir jatuh dari tempat tidur, dia langsung pergi keluar Kabin.
Sebenernya, Richi ingin kembali kedalam dan meminta maaf, namun bayangan Gerald terus-menerus terbayang dikepalanya.
Memikirkannya saja sudah membuatnya muak.
Richi berjalan kearah anjungan dan melihat Juru Kemudi sedang berbicara dengan Hades.
Seorang Juru teropong berteriak dari atas tiang.
"Kapal Putih, Blanc!!!"
__ADS_1
"Kapal Putih dari arah Utara!"
Saat Hades sedang memberikan perintah, dari kejauhan terlihat bola meriam yang melayang diudara mulai mendekati Kapal Hades.
"Merunduk!!" Perintah Kapten.
Terdengar suara hantaman yang keras, Kapal mulai bergoyang.
"Meriaam!!!" Terdengar suara teriakan Juru Teropong.
Dduaaaaar.
"Arahkan meriam ke Utara!" Teriak Kapten Hades.
Kapal Hades mempunyai 10 meriam, masing-masing 4 dibagian samping dan 1 dibagian depan dan belakang. Kapal ini berbeda dengan kapal Perompak lainnya. Bagian persenjataan sangat lengkap sehingga menjadi Kapal terbaik diantara kapal lainnya.
4 Meriam langsung menghantam Kapal Blanc, Kapal itu bergoyang, namun laju kecepatannya tidak berkurang. Kapal Blanc semakin mendekat dengan Hades, tembakan meriam sudah dihentikan. Bagian depan Kapal Blanc hancur, namun masih tetap berjalan. Kapal Blanc merapat ke kapal Hades.
Hades keluar dari anjungan dan turun ke geladak atas. Richi berjalan dibelakangnya dengan sebuah pistol ditangan kanannya.
Seorang Pria berkulit putih, dengan rambut putih melompat naik ke Kapal Hades, dia melambaikan tangannya.
Richi sangat mengenal lelaki itu dengan baik. Seorang Kapten, Kapal Blanc.
"Tuan Richi .. dan tentu saja Kapten Hades." Blanc tertawa terbahak-bahak.
"Lelucun apa yang kau dengar sehingga membuatmu melontarkan meriam mainan itu pada kapalku?" Hades tersenyum sinis.
"Aaah, Aku hanya ingin mengetahui ketangguhannya, Kapten." Blanc mengedipkan sebelah matanya.
"Aah, Aku belum menembakkan seluruh Meriamku, Blanc."
"Berbaik hatilah, Kapten. Bagaimana jika kita bermain pedang?" Kapten Blanc mengusulkan sebuah ide.
"Aku akan memikirkannya, sejenak. Baiklah." Seru Hades semangat.
"Bahkan itu belum beberapa detik Hades." Richi berkata ketus.
"Tuan Richi.. Maukah Tuan bermain bersamaku?" Blanc menatapnya penuh harap.
"Richi, bermainlah bersamanya! Aku sudah lama tidak melihatmu bermain pedang." Hades membujuk Richi.
"Aku akan melakukannya dengan satu syarat."
"Apakah itu Tuan?"
"Kau akan pergi begitu pedangmu terjatuh." Seru Richi dengan sangat percaya diri.
"Ahhaaa, baiklah, baiklah.." Blanc menyetujui syaratnya.
Permainan pedang dimulai. Hades memberikan masing-masing orang pedang yang sama.
Richi berdiri berhadap-hadapan dengan Blanc.
Pedang adalah salah satu keahliannya. Dia sudah menguasainya sejak berumur 7 tahun. Karena Ayahnya selalu menyibukkannya dengan berlatih pedang setiap hari.
Blanc sangat mengetahuinya dengan jelas, bahwa Richi adalah seseorang yang tidak dapat dia lawan. Tapi rasa penasaran selalu muncul jika berhadapan dengannya. Rasa percaya dirinya tidak bisa ditandingi oleh siapapun, hal itu membuat bulu kuduk Blanc berdiri.
Blanc tidak tau siapa Richi, tapi insting selalu memberi tahunya agar tidak berurusan dengan Richi.
Begitu dimulai, Blanc mulai menyerang Richi bertubi-tubi, Richi dengan lihai menjauh dan mengelak, tidak ada satu serangan pun yang mengenainya. Saat Keseimbangan Blanc goyah, karena kapal bergoyang. Richi memanfaat situasi dengan menyerang Blanc dan melepaskan pedang dari tangan Blanc dengan ujung pedangnya. Pedang itu terlempar begitu saja.
Kapten Hades bertepuk tangan dengan meriah.
"Silahkan pergi dengan tenang Blanc." Hades tersenyum.
"Aku akan pergi, sungguh sangat refreshing sekali Tuan. Aku menantikan permainan berikutnya." Blanc mulai berjalan menjauh dan melompat kekapalnya.
Disaat bersamaan beberapa awak kapal Blanc melompat kekapal Hades dan mulai menyerang.
"Dasar amatir." Gumam Richi.
Seluruh awak kapal disibukan dengan pertarungan pedang, Kapten Hades kembali ke anjungan dan memberikan perintah.
Disaat itulah terdengar suara pintu yang terbanting.
BRAAAKKK!!!
Deg
Deg
Deg
Detak jantung Richi berdetak sangat cepat, keringat mengalir didahinya.
"Esme!" Gumamnya.
Dengan bersusah payah, Richi berlari masuk kedalam kabinnya.
__ADS_1