
Pulau Pace, April 1500.
Kapal masih berlayar dengan tenang, kurang lebih satu jam lagi mereka akan sampai di Pulau Pace.
Elie sudah memberikan satu gelas air putih yang berisi obat tidur pada Sofia, sehingga Dia tertidur sepanjang perjalanan ke Pulau Pace.
Marquess Jasper khawatir putrinya akan kelelahan dalam perjalanan, belum lagi perasaan tegang yang akan membuatnya stress sehingga Dia menyetujui rencana Elie untuk membuat Sofia tertidur.
"Sudah tidur?"
"Sudah, Tuan."
"Beristirahatlah dengannya."
"Saya mengerti." Elie kembali lagi ke dalam kabin tempat Sofia tertidur.
Marquess Jasper berkeliling dengan santai diatas kapalnya yang masih berlayar, beberapa awak kapal menyapanya. Mereka membungkukkan punggung dengan hormat.
Dia berhenti berjalan diujung kapal, kemudian mengambil kursi dan duduk sambil menghisap cerutu yang sudah lama tidak Dia buka.
Asap berwarna abu-abu mengepul diudara, aroma tembakau yang pekat tercium memenuhi haluan.
"Jadi.."
"Hari ini adalah harinya.."
Jasper menghisap lagi cerutunya.
"Apakah Aku sudah menjadi Ayah terbaik, Ross?"
Marquess Jasper memandang langit yang cerah. Matahari sudah mulai terlihat dan sinarnya yang hangat mulai menyelimuti dunia.
"Aku masih ingin melihatnya tumbuh lagi.."
"Rasanya selalu tak cukup. Bukankah begitu?"
"Aku ingat sekali waktu Kau pergi."
"Kau terburu-buru membawa semua hal."
"Tak henti-hentinya air matamu mengalir."
"Jujur saja, Aku ingin menghentikan mu saat itu."
"Aku ingin Kau tinggal bersamaku dan Sofia."
"Namun, Aku tak bisa.."
"Kulihat keteguhan dimatamu.."
"Dan Aku hanya bisa mengantarmu dengan senyuman pahit."
"Apakah Kau bahagia dengan semua keputusanmu?"
"Ku harap begitu.."
"Dan maap.."
"Kita tidak bisa mencegah Sofia membencimu..'
"Kau memang ingin Dia begitu kan?"
"Aku kesal setiap kali Dia mencibirmu.."
"Namun, Aku tidak bisa mengalahkannya."
"Semua ini terjadi sesuai dengan apa yang telah Kau rencanakan bukan?"
"Dan selamat, Kau berhasil.."
"Tapi, Aku bersyukur sekarang Dia tau betul apa yang telah terjadi sebenarnya."
"Meskipun Aku tidak tau bagaimana Dia mengetahui semuanya." Jasper mengangkat kedua alisnya.
Kemudian, Dia kembali menghisap sisa cerutunya.
* * *
Toooot
Tooooooot
Suara tanda Kapal akan segera berlabuh.
Daratan Pulau Pace sudah mulai terlihat. Pulau yang indah dikelilingi pohon-pohon hijau dan pasir yang putih.
Namun, sebelum itu kita terlebih dahulu harus melewati beberapa batu karang yang sangat berbahaya.
Marquess Jasper masuk ke tempat kemudi, Dia berbicara dengan Kapten Kapal dan terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah, baiklah.."
"Semoga berhasil Kapten!" Jasper menepuk punggung Kaptennya.
HAHAHA
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
* * *
Sofia mengerjapkan matanya yang terasa berat, Dia kembali mendengar hiruk-pikuk diluar Kabin.
"Ell.."
"Saya, Nona.." Elie mendekat kearahnya.
"Sepertinya Aku tertidur.."
"Anda tertidur sangat lelap, Nona.." Elie terkekeh.
"Apakah Kita masih jauh dari Pace?"
"Kita sudah sampai, Nona.." Elie membuka tirai jendela Kabin.
"Astaga..!" Raut terkejut langsung terlihat dari wajah Sofia.
Jantungnya berdebar dengan kencang.
Dia tidak merasakan apa-apa tadi pagi.
Namun, setalah sampai ditempat ini, rasanya perutnya terasa bergejolak.
"El.."
"Kurasa Aku mabuk.." Sofia terlihat lebih pucat dari sebelumnya.
"Sebentar-sebentar, Nona.."
"Saya ambilkan air dan baskom.."
Elie berlari keluar kabin, Dia menuju dapur dengan cepat dan kembali dengan air dan baskom ditangannya.
"Nona.."
"Minumlah.."
Segelas air langsung Sofia habiskan dalam sekali teguk. Dia tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan dipintu Kabin Sofia.
"Mungkin itu Ayah.."
"Bukalah.."
"Baik, Nona.." Elie berjalan dan membuka pintu dengan cepat.
Braak!!
"Ah.." Baskom ditangan Elie terjatuh begitu saja saat Dia melihat seorang Pria didepan pintu.
"Elie.."
"Ada apa?"
Seseorang berjalan mendekat ke arah Sofia dengan cepat. Terlihat wajah yang sangat Sofia kenal dengan baik. Dia tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.
"Astaga..."
"Hades!!!"
Sofia turun dari kasur dengan cepat, Dia berjalan tertatih-tatih ke arah Hades dan memeluknya dengan erat.
"Halo sweetie.." Hades mengecup kening Sofia dengan lembut.
"Sudah lama sekali Hades!"
"Sungguh? seperti baru kemarin." Hades terkekeh, Dia membalas pelukan Sofia.
"Kau terlihat sehat dan cantik." Hades mengacak-acak rambut Sofia yang halus dan mengembang.
"Tentu saja.."
"Tapi beberapa saat yang lalu Aku mabuk laut."
"Sungguh?"
__ADS_1
"Ya!"
"Tapi entah mengapa setelah melihatmu rasanya Aku kembali bugar!"
HAHAHA
Hades tertawa terbahak-bahak melihat Sofia yang tersenyum cerah.
"Apakah Kau begitu merindukan ku?"
"Cih!"
"Jangan bermimpi!"
Sofia kembali berjalan ke kasurnya. Hades membantunya dengan cepat.
"Hei turunkan!" Sofia menendangkan kakinya, namun Hades menahannya dan terus menggendongnya hingga ke tempat tidur.
"Nah.."
"Beristirahatlah.."
"Huh!"
"Aku tidak akan mengucapkan terimakasih!"
"Tidak perlu, sweet heart.." Hades kembali mengecup keningnya.
"Astaga!"
"Hentikan."
HAHAHA
"Dimana Elie?"
"Dia keluar, Jasper memanggilnya.."
"Sungguh?"
"Bukan karena Dia takut melihatmu?"
"Aku tidak menakutinya.."
"Lihatlah.."
"Aku berpakaian sangat rapih."
Sofia baru menyadarinya.
Hades menggunakan setelah taxido berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu dilehernya.
"Kau terlihat tampan." Sofia bertepuk tangan sambil tertawa.
"Haaa.."
"Ingatlah baik-baik penampilanku.."
"Karena Aku tidak akan pernah menggunakannya lagi."
"Mengapa tidak?"
"Kau terlihat luar biasa!"
"Terimakasih." Hades memalingkan wajahnya. Semburat merah terlihat dikedua telinganya.
Sofia tidak bisa menahan tawanya.
* * *
Sofia dan semua orang telah meninggalkan Kapal, Sekarang mereka berjalan diatas pasir putih yang cantik dan berkilauan.
Suasana yang sangat damai sangat terasa sekali, tidak mudah untuk menemukan semua ini dimanapun.
Seperti Dejavu.
Namun Sofia ingat saat pertama kali Dia tiba ditempat ini. Seseorang yang sangat jahat telah menunggunya dibalik pepohonan dengan senjata api ditangannya.
Dia mengingat perlakuan buruk Richi padanya dan semua orang, namun anehnya mereka semua bersedih ketika Dia terluka dan hampir mati.
Semua itu terasa seperti mimpi buruk, dan sekarang Dia berjalan lagi ditempat yang sama, namun dengan semua orang yang akan melihatnya menikah dengan seseorang yang Dia benci sebelumnya.
Bukankah itu konyol?
Sofia tertawa.
Menertawakan semua hal yang Dia lakukan dulu.
Dia yang menulis surat lalu kabur dan masuk kandang singa.
Lepas dari singa masuk kandang harimau.
Semua hal bodoh yang telah Dia perbuat.
Ayahnya akan menangis histeris jika Dia menceritakan semua hal yang terjadi.
"Ayah tidak perlu mengetahuinya.." Sofia mengangkat kedua alisnya.
* * *
Joy dan semua pelayan telah menunggu di depan Paviliun Rose. Mereka sudah menyiapkan segalanya dari beberapa hari yang lalu. Joy ingin semuanya sempurna dan tak ada kesalahan sekecil apapun.
Ketika semua orang mulai terlihat, Joy berlari dengan semangat penuh menuju kerumunan dan berhasil menemukan Sofia dengan cepat.
Joy tidak akan pernah melupakan saat itu, seorang gadis cantik yang berlumuran darah karena melindungi kekasihnya. Itulah hal yang pertama kali Dia bayangkan.
"Esmee.."
"Madam Joy!"
Sofia berlari melewati kerumunan dan memeluk Madam Joy dengan cepat.
"Astaga.."
"Kau terlihat luar biasa, Esme!"
"Terimakasih, Madam.."
"Anda sangat cantik seperti biasa.." Sofia tersenyum dengan hangat. Dia tidak bisa menutupi rasa bahagianya.
"Ah.."
"Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu.."
Sofia mengerutkan keningnya.
"Gustooo.."
"Kemarilah..!"
Seorang lelaki paruh baya berlari dengan cepat kearah Sofia dan Joy.
"Ada apa sweet heart?" Gusto mengecup kening Joy dengan lembut.
Sofia terkejut, namun dengan cepat dia tersenyum.
"Gusto.."
"Inilah Sofia.."
"Ah.. tentu saja.." Gusto menggenggam tangan Sofia dengan lembut.
"Saya Gusto, Nona.."
"Pengasuh Tuan Richi.." Gusto tersenyum dengan hangat.
"Ah..."
"Maafkan Saya, Tuan.."
"Perkenalkan saya Sofia Esmeralda.." Sofia membungkukkan punggungnya dengan hormat.
"Tidak perlu seperti itu, Nona.."
"Anda membuat Saya malu.." Gusto menggaruk kepalanya.
"Esme.."
"Gusto adalah suamiku.." Joy tersenyum dengan lembut.
"Tentu saja Madam.."
"Saya dapat melihatnya dengan jelas.." Semua orang yang memperhatikan ikut tertawa.
"Astaga, Kau membuatku malu Gusto.."
"Mari semuanya masuk."
Yang Mulia Ratu berada ditempat yang berbeda, Ratu Ranee sedang bersama dengan Richi di tempat yang akan digunakan menikah nanti.
* * *
Pelayan wanita sedang membantu Sofia berpakaian, termasuk Elie.
Sofia bersikeras tidak ingin menggunakan riasan yang terlalu tebal, namun Elie berhasil membujuknya dengan mengatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang terjadi satu kali seumur hidup.
"Anda terlihat luar biasa, Nona.."
Rambut Sofia dikepang kecil kebelakang. Dengan hiasan bunga-bunga kecil yang cantik.
__ADS_1
Sofia menatap dirinya dalam cermin besar didepannya. Dia tersenyum dan hanya bisa menunduk.
"Sudah tiba waktunya, Nona."
"Mari.."
Elie menggandeng tangan Sofia dengan erat.
Jantungnya tidak bisa berhenti berdetak dengan kencang. Elie tidak percaya bahwa hari ini adalah hari yang benar-benar Dia nantikan. Nona mudanya, yang telah Dia temani hingga saat ini, kini harus Dia serahkan pada Pria pilihannya sendiri. Ada rasa bahagia dan sedih yang bercampur menjadi satu.
Seolah Sofia mengetahui apa yang Elie rasakan, Sofia berhenti berjalan dan menggenggam tangan Elie dengan erat.
"Terimakasih, Elie.."
"Kau adalah sahabat terbaikku.."
Deg
Deg
Deg
Elie tidak bisa lagi menahan air matanya.
Elie berjalan ke arah Marquess Jasper, kemudian menyerahkan tangan Sofia padanya. Elie tersenyum dan mundur dengan perlahan.
* * *
Marquess Jasper berjalan dengan menggenggam tangan Sofia, Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Putri semata wayangnya itu. Tangan Sofia terasa dingin dalam genggamannya yang hangat.
"Ayah..." Ucap Sofia tiba-tiba.
"Ya.."
"Apakah Ayah bahagia?" Sofia menatap wajah Ayahnya yang sudah terlihat tua. Terlihat guratan halus pada dahi dan matanya.
"Tentu saja." Marquess Jasper tersenyum. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak ingin terlihat menangis didepan Sofia.
"Aku senang mendengarnya.." Jawab Sofia.
Sebuah kereta kuda berwarna putih menunggu didepan pagar.
Marquess Jasper membantu Sofia naik.
Kereta kuda berjalan dengan santai melewati kebun-kebun bunga, melewati danau yang cantik dan air terjun yang terlihat dari kejauhan.
"Mungkinkah?" Sofia melihat keluar jendela.
"Ada apa?"
"Kebun Rose.." Sofia membelalakkan matanya.
"Tidak mungkin.." Lalu Dia menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak mungkin membiarkan semua orang masuk kesana."
"Ah.."
"Kebun Rose.." Jasper tersenyum.
"Dia akan melakukannya jika Rossie memintanya.." Jasper terkekeh.
Sofia hanya melongo mendengar penjelasan Ayahnya.
Dari kejauhan terlihat kerumuman orang-orang yang telah menunggu kedatangan Sofia.
Tiba-tiba Sofia merasa tegang, Dia mengepalkan kedua tangannya.
'Tarik nafas Sofi..'
'Kau bisa melakukannya.' Gumamnya dalam hati.
"Tenanglah Sayang, Kau akan baik-baik saja.." Jasper menggenggam tangannya.
Sofia mencoba tersenyum dan terus menguatkan diri.
Kereta kuda berhenti tepat didepan karpet merah yang tergelar.
Marquess Jasper turun lebih dulu, kemudian kembali membantu Sofia.
Sofia mencoba tersenyum setenang mungkin.
Diatas altar terlihat Hades yang tersenyum ke arahnya, juga Ratu Ranee yang duduk dibarisan paling depan. Dan tentu saja, calon suaminya berdiri dengan tenang disana dengan setelah berwarna hitam tanpa dasi.
"Ya Tuhan, Dia sangat memukau sekali.." Sofia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Richi.
"Aku pastikan akan berumur panjang untuk tetap menikmati keindahannya." Gumam Sofia.
"Tundukan pandanganmu Sayang.."
"Kau membuatku malu." Marquess Jasper berbisik ditelinga Sofia.
"Astaga Ayah.."
"Kau memperhatikanku?" Sofia merenggut kesal.
"Semua orang sayang.."
"Bersikaplah terlihat lebih malu."
"Sedikit saja."
Elie tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.
Mereka berdua berjalan diatas karpet merah dengan ribuan Bunga mawar yang menjadi background nya. Pemandangan laut yang biru terbentang dikedua sisinya, dan langit yang biru cerah menjadi atapnya. Seolah-olah pernikahan ini telah direstui oleh alam semesta dan seisinya.
Sofia berjalan dengan perlahan, Marquess Jasper menyesuaikan langkahnya, Dia tidak mau putrinya tersandung karena gaunnya yang terlalu panjang.
Diatas, Richi telah lama menunggunya dengan hati yang terus-menerus berdebar tidak karuan. Bulir-bulir keringat terlihat didahinya, berulangkali Hades mengusap dengan saputangannya.
"Tenanglah kawan."
"Tidak akan ada yang mengahalangi pernikahanmu."
"Kuharap begitu." Jawab Richi dingin.
"Astaga.."
"Jangan kaku begitu."
"Kau terlihat seperti robot." Hades menggelengkan kepalanya.
Saat mempelai wanita hanya beberapa langkah lagi, Hades turun dan meminta tangan Sofia pada Jasper, lalu Jasper memberikannya dengan senyum yang tertahan.
"Halo sweetie.."
"Kau sangat memukau sayang.."
"Terimakasih Hades.."
Hades berjalan dengan perlahan, Sofia mengikutinya dengan hati-hati.
Lalu, sampailah didepan Altar dengan Richi yang sudah menunggu.
Hades memberikan tangan Sofia pada Richi, kemudian Dia turun dan duduk di sebelah Yang Mulia Ratu.
"Halo Sayang.."
"Istriku.." Richi mengecup punggung tangan Sofia dengan penuh cinta.
"Belum.." Sofia tidak bisa menahan tawanya.
Penghulu berjalan ke depan altar.
"Selamat pagi semuanya."
"Hari ini akan menjadi momen yang sangat bersejarah."
"Karena Yang Mulia Duke Of Roseland Tuan Richard Dexter akan menikah dengan Putri Tuan Marquess Jasper yaitu Lady Sofia Esmeralda."
"Kepadanya Tuan Richard silahkan mengucapkan janji pernikahan."
Sofia dan Richi saling berpandangan. Richi menggenggam tangan Sofia dengan erat.
"Sofia Esmeralda, bersediakah engkau untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan dan Janji setiaku untuk tulus mencintaimu sampai maut memisahkan kita."
Deg
Deg
Deg
"Saya bersedia.." Ucap Sofia dengan berurai air mata.
Richi membuka cadar yang menutup wajah Sofia, Dia tersenyum memandang pengantinnya yang sangat cantik jelita.
Sofia tersenyum.
Kedua wajah mereka saling berdekatan satu sama lain, tidak ada seorangpun yang mengahalangi.
Sebuah kecupan tulus dibibir telah menutup janji suci mereka.
"Aku mencintaimu.."
"Aku sangat mencintaimu.." Gumam Sofia.
"Aku juga mencintaimu."
__ADS_1