Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Jawaban Semua Pertanyaan


__ADS_3

Istana Kerajaan, Roseland. Maret 1500.


Sofia terdiam membatu saat pria itu berjalan mendekat kearahnya. Dia meremas-remas kedua tangan hingga basah karena keringat. Seketika udara yang dingin terasa panas.


"Nona Sofia?"


"Yyaa.."


Sofia tersenyum dan mengangguk.


"Ah.."


"Maafkan Saya karena terlambat menyapa Anda.."


"Tidak apa-apa.."


"Maaf, Anda?"


"...."


"Maafkan Saya, perkenalkan Saya adalah Count France." Dia membungkukkan punggungnya.


'Ah.. buka seorang Duke..' Sofia sangat merasa lega sekali.


"Saya Sofia, Tuan." Sofia mengangkat sedikit roknya dan membungkuk.


"Tentu saja, Nona."


"Saya sudah mengenal Anda.."


"Mari ikuti Saya.."


"Tuan Marquess sudah menunggu kedatangan Anda.."


"Ayah?"


"Ya, Beliau sudah menunggu didalam."


"Mari.."


Sofia mengangguk dan mengikuti Count France dari belakang.


Istana Kerajaan terasa sepi, hanya beberapa orang pelayan yang berlalu-lalang melakukan pekerjaannya. Sofia dapat melihat kebun anggur yang berada ditengah-tengah kebun bunga yang membeku. Seluruh bangunan berwarna putih bersih.


Sofia berjalan lebih cepat karena tidak ingin tertinggal Count France yang berjalan lebih dulu didepannya.


Dulu, Sofia masuk ke aula lewat pintu depan, sekarang Dia memutari aula dan masuk keruangan yang lebih kecil.


"Nona.."


"Tuan Marquess Jasper ada didalam."


"Saya akan menemui yang Mulia Ratu terlebih dulu."


"Maafkan Saya.."


"Baik, terimakasih Tuan." Sofia masuk kedalam ruangan itu tanpa didampingi siapapun.


Dia berjalan perlahan sambil mengamati ruangan yang sepi itu.


"Apakah sekarang Aku terlihat seperti seorang pencuri?"


"Astaga Sofia, berjalanlah lebih anggun. Elie akan melotot jika melihat bagaimana Kau berjalan saat ini." Sofia mengutuk dirinya sendiri.


Semakin berjalan kedalam, cahaya semakin terang, Sofia semakin penasaran. Dia berjalan lebih cepat dan berhenti saat melihat Ayahnya yang duduk sambil menghisap cerutu.


"Ayah..."


Sofia berlari ke arah Marquess Jasper dengan cepat. Gaunnya yang panjang hampir membuatnya terjatuh.


"Sofi.."


"Kau sudah tiba?" Marquess Jasper menaruh cerutunya di asbak.


"Ya, Ayah.." Asap sisa tembakau masih mengepul diudara.


"Dimana Elie?"


"Elie terluka, Dia akan kembali setelah mengobati lukanya."

__ADS_1


"Ah, begitu."


"Duduklah.."


Sofia duduk disebelah Ayahnya, dan kembali mengamati ruangan yang terang dan sangat mewah itu.


Beberapa ornamen yang unik mengusik keingintahuannya.


Pedang, anak panah, kain mewah tergantung dengan indah. Namun, pandangan terhenti pada sebuah lukisan yang sangat besar. Sebuah potret seorang Pria muda, dengan mata sebiru samudera, Pria yang beberapa bulan ini terus bersamanya.


Dia mengucek matanya beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Sofia memiringkan wajahnya, berjalan ke arah lukisan dengan cepat dan menutup mulutnya.


BRUUUGH


"Astaga.."


"Astaga..."


"Tidak mungkin.."


Sofia terjatuh tepat didepan lukisan.


"Sofi?"


"Ada apa?"


Jasper berjalan kearah nya karena khawatir.


Sofia menunjuk lukisan itu dengan cepat.


"Mengapa?"


"Mengapa ada potrer seorang PEROMPAK didalam Istana Ayah?"


Seseorang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sofia yang sangat kencang.


Dia berjalan lebih cepat dan melihat Sofia yang terduduk dilantai, kemudian membantunya berdiri sambil menatap Jasper yang membungkukkan badan.


"Yang Mulia Ratu.." Jasper mengucapkan salam.


Sofia terkejut dan menundukkan kepalanya.


"Kau memang seperti yang Aku bayangkan."


"Kemari, duduklah di sebelahku."


Sofia mengikuti Ratu Ranee dengan cepat.


"Kau sudah melihat Perompak itu?"


Sofia mengangguk tidak berani menatap Ratu Ranee.


"Apakah Kau mengenalnya?"


Sofia lagi-lagi mengangguk.


"Dia Duke of Roseland, Sofia." Jasper mengatakannya dengan jelas sekali.


Sofia terkejut, membelalakan matanya dan menutup mulutnya.


"Duke of Roseland?"


"Tidak mungkin.."


"Tidak mungkin, Ayah.." Sofia menggelengkan kepalanya.


"Dia.. Dia seorang Perompak.." Sofia menatap Ayahnya, namun tidak terlihat Ayahnya akan menyangkal perkataannya.


"Dia bersamaku sepanjang waktu dikapal Hades." Sofia memberanikan diri.


"Memang benar anakku. Aku yang memerintahkannya untuk berlayar." Ratu Ranee menjawab pertanyaan Sofia.


"Kau sudah bertemu dengan Hades?"


"Su.. sudah Yang Mulia.."


"Tapi, semua orang mengatakan sang Duke sudah berumur.."

__ADS_1


Ratu Ranee kembali tertawa mendengar perkataan Sofia, Jasper hanya menggelengkan kepalanya dan menutup wajahnya.


"Kau menyukai Perompak itu?"


Pipi Sofia tiba-tiba berubah merah mendengar pertanyaan Ratu Ranee.


"Ah.."


"Siapakah yang Kau sukai?" Ratu Ranee mulai penasaran.


"Rii.."


"Richi Yang Mulia.."


Ratu Ranee kembali tertawa.


"Kalian memang berjodoh anakku."


"Kemarilah.."


Dia mendekat dan Ratu memeluknya dengan erat.


Sofia bingung, namun Dia hanya tersenyum. Dia merasa sangat terkejut mendengar kenyataan yang sebenarnya. Semua itu benar-benar menjelaskan hal yang tidak masuk akal.


Seperti Richi yang mengetahui isi buku sastra, penampilan yang selalu mewah dan terlihat seperti bangsawan. Kapal-kapal Marine yang sangat menghormatinya dan segala sesuatu yang tidak masuk akal lainnya.


Namun, Dia kesal. Sangat kesal sekali. Sofia yakin Elie sudah mengetahui kebenaran ini sejak menemuinya di Pace, tapi mengapa Elie tidak memberitahunya? Apakah Richi mengancamnya? Sofia butuh penjelasan! Dia ingin secepatnya bertemu dengan Richi.


"Apakah Kau baik-baik saja Sofia?" Pertanyaan Ratu Ranee membuyarkan lamunannya.


"Saya baik-baik saja Yang Mulia.."


"Apakah mereka memperlakukanmu dengan buruk, awal kapal Hades?" Ratu Ranee menatap mata Sofia dengan lembut.


"Mmm..." Sofia kembali mengingat perilaku setiap awak kapal padanya. Mereka semua baik, tidak ada yang berani menyentuhnya, tentu saja kecuali Richi. Tapi tidak mungkin Aku mengatakan sesuatu yang buruk mengenai Richi disini bukan?


"Semua orang bersikap baik Yang Mulia.." Akhirnya, jawaban itulah yang keluar dari mulut Sofia.


"Tentu saja! Aku akan menghukum mereka, jika mereka berani menyentuhmu!" Ratu Ranee menyilangkan kedua lengannya didada.


Sofia hanya tersenyum melihat ekspresi Ratu Ranee yang terus-menerus berubah. Dia tidak menyangka bahwa Beliau adalah Nenek dari Perompak yang dianggap semua orang berbahaya.


Akhirnya, sedikit demi sedikit semua hal yang tertutup mulai terbuka. Sofia mulai menyatukan puzzle yang tercecer, dan menyatukan pada tempatnya.


Ratu Ranee mengatakan bahwa Dia melahirkan dua orang putri, yaitu Putri Christine dan Putri Charlotte. Richi atau Richard, Richard Dexter. Anak dari Putri Christine dan Duke James yang telah meninggal karena kecelakaan.


Sedangkan Hades atau Gabriel adalah anak dari Putri Charlotte dan Dominic yang merupakan seorang Kapten Perompak terkenal saat itu. Putri Charlotte dan Dominic serta Hades mengalami kecelakaan kapal, beruntung Hades dapat diselamatkan kala itu. Namun kelahiran Hades merupakan suatu rahasia Kerajaan, karena kehamilan Putri Charlotte oleh seorang Perompak merupakan sebuah aib.


Ratu Ranee menceritakan semua itu pada Sofia tanpa ada satupun yang ditutup tutupi, karena Ratu Ranee sudah yakin bahwa Sofia memang sangat sempurna berpasangan dengan Richard.


"Apakah Saya layak mengetahui semua ini Yang Mulia?"


"Saya merasa tidak pantas.." Sofia menautkan semua jarinya.


"Aku senang dapat menceritakan semua ini padamu, Anakku."


"Jangan kesal pada Richard. Kau tau, Dia sangat menyayangi Ibunya, bahkan sampai saat ini Dia belum bisa menerima kematian Ibu dan Ayahnya."


Sofia ingin bertanya bagaimana Ibu dan Ayah Richi bisa mengalami kecelakaan, namun Dia menahannya. Dia tidak ingin Ratu Ranee kembali mengingat saat sedih itu.


"Menginaplah disini untuk beberapa hari, Aku senang mempunyai seseorang untuk diajak berbicara.."


"Bisakah Saya, Yang Mulia?"


"Tentu.."


"Beristirahatlah dimanapun Kau suka."


"Adakah tempat yang ingin Kau lihat?"


"Ah.."


"Katakanlah.." Ratu Ranee memegang tangan Sofia.


"Ruangan Tuan Richi, bisakah?"


Ratu Ranee tertawa terbahak-bahak mendengar keinginan Sofia, Dia hampir mengeluarkan air mata jika saja tidak melihat ekspresi Sofia yang bingung.


"Ekhm.."

__ADS_1


"Tentu.."


"Mari ikuti Aku."


__ADS_2