Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Mendarat di Sebuah Pulau


__ADS_3

Diatas Kapal Perompak Blanc, Januari 1500.


Badai sudah berlalu, namun hujan deras masih mengguyur Kapal Perompak Blanc. Tahun sudah berganti beberapa jam yang lalu, tidak ada yang merayakan, mereka semua sibuk mengelap lantai yang basah karena guyuran hujan yang sangat deras.


Beberapa awak masih membetulkan bagian depan Kapal yang rusak akibat terkena Meriam Kapal Hades. Memang persenjataan Kapal Hades tidak main-main.


Perjalanan ke 'Le Paradise' masih cukup jauh karena cuaca yang masih saja buruk. Angin terus berhembus ke segala arah sehingga menyusahkan navigasi.


Meskipun cuaca seperti ini, tidak ada satupun awak yang mengeluh, mereka semua mengerjakan pekerjaan masing-masing dengan serius.


Langit sudah berubah terang, namun cuaca masih saja belum berubah. Awan gelap sepertinya terus-menerus mengikuti laju Kapal Blanc kemanapun pergi.


"Kapten, semua ini terjadi apakah karena kita membawa seorang wanita keatas kapal?" Ujar Rond.


"Astaga, apa Kau percaya mitos itu Rond?" Kapten Blanc menggelengkan kepala.


"Apa maksudnya Kapten?" Tanya Sam.


"Kapal kita akan dikutuk jika membawa wanita!" Jawab Rond.


"Benarkah??" Sam terkejut mendengarnya.


"Itulah yang Aku dengar dari Kakek buyutku. Konon dahulu kala ada seorang perompak yang memiliki kapal yang sangat besar sekali, dengan membawa puluhan awak didalamnya. Saat perjalanan menuju pulau yang jauh, mereka menemukan seorang wanita yang terdampar diatas pasir."


Terdengar suara gemuruh petir tiba-tiba.


"Lalu.. Kapten kapal itu membawa naik wanita itu keatas kapal."


"Dan.."


"Dan, dan apa Rond?" Sam sangat penasaran sekaligus merasa takut.


"Dan, setelah beberapa hari berlayar, kapal itu tenggelam begitu saja dalam badai yang sangat hebat, dan tidak diketahui kemana semua awak menghilang."


Terdengar lagi suara petir yang suaranya memekakan telinga.


"Astaga Rond, Kau menakuti seluruh awak!" Kapten Blanc memukul kepala Rond dengan keras.


"Aku tidak mengada-ada Kapten, ini cerita kakek buyutku!" Rond memperlihatkan keseriusan diwajahnya.


"Yaya, Aku mengerti. Itu hanya mitos! Jangan disebut-sebut, akan membawa sial."


"Benarkah Kapten?" Sam masih penasaran.


Kapten Blanc hanya mengangguk dan tertawa terbahak-bahak.


Dalam hati Kapten Blanc, Dia juga merasa ketakutan setengah mati. Tapi Dia tidak mau membuat seluruh awak kapalnya ketakutan.


"Aku harus menghentikan segala rumor!" Gumamnya.


Hari sudah semakin sore, namun cuaca masih saja sama seperti semalam, tidak terlihat tanda-tanda hujan akan berhenti.


"Kapten! Sebuah pulau!!!" Juru teropong berteriak dari atas tiang.


"Tingkatkan kecepatan! Kembangkan layar!" Kapten Blanc berteriak dari arah anjungan.


Kapal Blanc melaju dengan kecepatan penuh, hujan dan petir berhenti begitu saja ketika mereka mendekati pulau itu.


"Kapten! 'Le Paradise' !!" Juru kemudi berteriak kencang.


"Aah, akhirnya Aku bisa mengeringkan pakaianku!" Seru Rond dari dek depan.


"Kau akan melepaskannya disini Rond!" Kapten Blanc tertawa terbahak-bahak bersama para awak kapal yang lain.


Sam hanya tersenyum simpul melihat seluruh perilaku teman-temannya. Dia kembali memikirkan rencana Nona Sofia.


"Bagaimana caranya Aku membantu Nona?" Gumam Sam.


Sam berkeliling Kapal mencari perahu kecil, dia menemukan sebuah perahu menggantung disebuah kanan Kapal. Lalu memeriksa keadaannya.


"Aku pikir, Nona bisa menggunakan perahu ini." Sam tersenyum senang membayangkan raut wajah Sofia yang tersenyum kepadanya.


Dari kejauhan matahari sudah mulai tenggelam, cahayanya yang berwarna keemasan membuat siapapun yang melihatnya berhenti melakukan aktivitas. Mereka menikmati moment yang sangat indah ini dengan penuh senyuman.


"Satu hari lagi melihat matahari tenggelam!!!" Teriak Juru Teropong diatas tiang.


Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


Sofia yang mendengar kegaduhan diluar menjadi penasaran, Dia mendekatkan telinganya ke dinding kayu, namun sayangnya, Dia tidak dapat mendengar apapun. Yang Dia tau, hujan sudah berhenti dan langit sudah gelap karena beberapa awak menyalakan lentera.


Jangkar diturunkan, kapal berhenti didekat batu karang yang cukup besar. Sebagian awak kapal berenang mencapai pulau, sebagian lagi memakai perahu yang kecil.


Kapten Blanc dan Rond memakai perahu kecil. Sam dan beberapa awak yang masih muda berenang menuju pantai. Meskipun air laut terasa dingin, tapi mereka semua bersemangat berenang ke tepian.


Sofia ditinggalkan seorang diri diatas kapal, tidak ada yang mengingat keberadaannya karena terlalu senang melihat pulau 'Le Paradise'.


Sam kembali keatas Kapal menggunakan perahu kecil milik Kapten Blanc. Dia mencari kesempatan agar bisa menyelinap pergi ke kapal.


Sofia berteriak dari dalam kabin, namun tidak ada seorangpun yang datang. Dia sudah bosan seharian dikurung. Sofia menghentak hentakan kakinya dengan kencang, menendang-nendang pintu Kabin dan berteriak-teriak.


"Nona, apa Anda baik-baik saja?" Sam berlari melewati dek dan sampai didepan Kabin.


"Sam? Aku baik-baik saja."


"Syukurlah.."


"Bagaimana? Apakah Aku bisa pergi?"

__ADS_1


"Sebenarnya, bisa Nona."


"Baiklah, Aku akan pergi sekarang."


"Tapi Nona, ada yang harus Aku katakan."


"Katakanlah.."


"Disini banyak Kapal lain yang merapat. Ada kapal pemerintah juga dan perompak lainnya."


"Benarkah? Mungkinkah Aku bisa meminta bantuan mereka?" Ucap Sofia penuh harap.


"Aku tidak yakin, Nona." Sam menjawab ragu-ragu.


"Bagiamana jika Kau terlebih dulu mengantar Aku ke daratan?" Mata Sofia berbinar-binar ketika mengatakan daratan.


"Anda ingin mendarat di 'Le Paradise'?"


"Yaaa, antarkan Aku."


"Tapi, Nona.. itu tempat.."


"Tempat apa?" Sofia semakin dibuat penasaran.


"Itu tempat yang tidak layak Anda kunjungi."


"Kau semakin membuatku ingin mendarat Sam."


"Sebaiknya jangan Nona."


"Antarkan Aku, segera!!" Sofia melotot dan tidak mau mengalah.


"Tapi, Aku tidak yakin bisa menjamin keselamatan Anda.."


"Aku yang akan menjamin keselamatan ku sendiri!" Ujar Sofia yakin.


Mau tidak mau Sam hanya bisa menuruti perintah Sofia. Dia tidak tau mengapa dia mau saja menuruti keinginan Sofia, tapi yang jelas, Sam tidak mau mengecewakannya.


Sofia keluar dari dalam kabin, dia berjalan mengikuti Sam seperti anak bebek.


Sam menunjuk keperahu kecil yang ada dibawah dan turun terlebih dahulu, kemudian menunggu Sofia turun. Sofia ragu-ragu turun dari atas kapal, namun Sam menyakinkan nya bahwa Sofia akan baik-baik saja karena Sam akan menangkapnya.


Sofia turun dengan sangat perlahan, Sam membantunya sebagai tangga, Sofia menginjak punggung Sam ketika turun dari kapal. Kakinya hampir terpeleset, namun dengan sigap Sam menangkapnya.


"Terimakasih, Sam.." Sofia tersenyum dengan tulus.


Sam hanya menganggukkan kepala dan menunduk. Dia tidak ingin Sofia mengetahui wajahnya yang sudah berubah menjadi merah seperti tomat.


Sam mulai mendayung perahu, Sofia duduk dibagian belakang. Matanya terus memandang Kapal Blanc yang perlahan menjauh.


Gilanya dalam situasi ini, Sofia tetap memikirkan Richi dan Kapal Hades.


"Mengapa Aku selalu mengingat **** itu?" Gumam Sofia.


"Apa Nona?" Sam menoleh ke arah Sofia.


"Tidak, tidak ada apapun."


Hamparan pasir mulai terlihat. Meski tidak jelas berwarna apa, tapi Sofia yakin pasir itu berwarna putih. Sofia melihat banyak sekali lampu-lampu yang menyala diatas pulau. Dia melihat kearah lautan, benar saja. Banyak kapal yang mendarat tidak jauh dari Kapal Blanc. Dia melihat berkeliling, berharap menemukan Kapal Hades, namun Kapal Hades tidak ada dimanapun.


"Apa yang Aku harapkan sebenarnya." Gumam Sofia.


Perahu kecil berhenti ditepi pantai, Sam membatu Sofia turun. Perahu bergoyang ke kiri dan ke kanan, sehingga tubuh Sofia tidak seimbang dan hampir terjatuh lagi.


"Santai saja Nona. Kau tidak akan terjatuh."


"Tentu Sam, Aku percaya padamu." Sofia mengedipkan sebelah matanya.


Entah bagaimana seorang Lady sepertinya bisa mengedipkan mata pada seorang lelaki, terlebih dia seorang Perompak. Tidak ada yang tau sebanyak apa Sofia berubah, dia berubah karena keadaan yang memaksanya. Dia harus bisa beradaptasi dan menjalani kehidupannya sekarang.


Perahu kecil berhenti ditepi pantai. Sam menyeretnya ke pinggir agar tidak hanyut terbawa ombak. Sofia berjinjit diatas pasir, karena dia tidak mengenakan alas kaki.


"Brrrr, dingiiin sekali Sam."


"Kau telanjang kaki Nona." Sam tertawa.


Sofia kembali mengikuti Sam yang berjalan cepat didepannya.


"Berhati-hatilah, Nona. Banyak kerikil tajam disekitar sini."


"Berjalanlah lebih pelan, Sam. Aku kesusahan mengikutimu."


"Ah, tentu saja. Maafkan Aku.." Sam kembali tertawa.


Perjalanan lumayan jauh, cahaya semakin terlihat terang. Banyak sekali bangunan-bangunan yang terlihat mewah didepan sana. Lampu-lampu berkelap-kelip mengelilingi bangunan tersebut. Terdengar hentakan musik yang sangat keras, dan terdengar sampai luar.


"Tempat apakah ini Sam?" Sofie mengernyitkan dahinya.


"Ah, ini 'Le Paradise' Nona, tempat bersenang-senang."


"Maksudmu?"


"Kau akan mengetahuinya nanti." Sam tidak lagi mengatakan apa-apa.


Udara diluar cukup dingin, Sofia memeluk tubuhnya sendiri. Kakinya sudah terasa sakit, entah ada berapa banyak kerikil yang dia injak. Cahaya bulan yang terang menerobos masuk melalui celah-celah dedaunan. Suasana yang cukup indah. Seandainya saja saat ini Dia berada di Roseland, ditempat paling aman untuknya.


"Nona! Nona!"

__ADS_1


"Ah, ya Sam.."


"Jangan melamun..." Sam mengusap-usap kepala Sofia.


"Maafkan Aku.."


"Nona, tunggulah disini. Aku akan melihat kedalam. Bersembunyilah, Ok?"


"Jangan terlalu lama Sam!" Sofia mulai merasa takut ditempat antah berantah ini.


Sam berlari meninggalkan Sofia. Punggungnya menghilang dikegelapan malam.


Sofia berjongkok didekat pepohonan yang rimbun. Dia bersembunyi agar tidak ada seorangpun yang melihatnya.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah dan suara orang sedang berbicara.


"Bagaimana ini?"


"Tidak ada satupun yang Dia sukai."


"Kita harus menemukan yang lain."


Sofia menutup mulutnya dan berjalan mundur. Malangnya, kakinya menginjak sebuah kerikil tajam.


"Ahhhh..."


Dia menutup mulutnya lagi dengan rapat.


"Siapa itu?"


"Cari Dia!"


Mereka berjalan menyibak semak belukar, mengobrak-abrik semua tempat dan menemukannya dengan mudah.


Lelaki itu mengangkat tangan Sofia keatas.


"Aku menemukannya!"


"Lepaskan Aku!!"


Sofia berusaha melawan, dia menendang kakinya beberapa kali dan menggigit tangan lelaki itu. Namun apalah daya seorang wanita yang kelelahan, makan tidak teratur dan istirahat tidak ditempat yang nyaman, dengan mudahnya lelaki itu menggendong Sofia seperti sebuah mayat.


"Diamlah kucing liar! Atau Aku akan mengurungmu selamanya!"


Sofia terlalu lelah untuk melawan, dia diam dan menahan air matanya agar tidak menetes.


"Bawa dia kebelakang!"


Pria itu bertubuh sangat besar, seperti Kapten Hades. Dia berjalan semakin kedalam dan terus kedalam, kemudian berhenti disebuah gudang.


Dia menurunkan Sofia, dan memasukannya kedalam kandang.


"Tunggulah." Pria itu berjalan keluar.


"Astaga, tempat apa ini?" Sofia melihat sekeliling, dia menutup mulutnya.


"Ya Tuhan.." Terlihat puluhan wanita yang dikurung seperti dirinya.


Mereka berpakaian tidak layak, sebagian ada yang tidak sadarkan diri, sebagian sedang memakan makanan sisa dan sebagian lagi sedang memandangnya.


"Halo..." Ucap Sofia canggung.


Mereka hanya diam tidak menjawab.


"Halo, ada yang tau dimanakah ini??"


Seorang perempuan muda mendekat meskipun terhalang jeruji.


"Apakah Kau anak baru?"


Sofia tidak mengerti dan hanya mengangguk.


"Ini 'Le Paradise' Tempat penjualan wanita." Ucap wanita itu.


"Apa? Penjualan wanita?" Sofia memekik ngeri membayangkannya.


"Ya, menjual wanita seperti kita. Apakah tidak ada yang memberitahumu sebelum mereka membawamu?"


"Tidak, tidak. Siapa yang membawa kalian?" Sofia merasa tidak nyaman berada disini. Dan dia juga khawatir pada wanita-wanita lain yang ada didalam sini.


"Tuan G. yang menjual kami."


"Tuan G? Siapa tuan G itu?"


"Tidak ada yang tau, sebaiknya Kau bersiap. Mereka pasti akan membawamu sebentar lagi."


"Kemana?"


"Tentu saja ketempat itu."


"Bisakah Aku menolak?"


"Jika bisa, mungkin kami tak akan terkurung disini, Nona." Wanita itu tertawa miris.


Sofia tidak bertanya apa-apa lagi. Dia teringat percakapannya dengan Elie sore itu di Roseland. Bahwa Kapal Perompak Hades menculik wanita muda dan tidak pernah kembali.


"Apakah Kapal Hades yang membawa mereka kemari? Tapi, wanita itu menyebutkan Tuan G. Siapa tuan G? mungkinkah? Tidak, Tidak. Aku tidak boleh berpikiran buruk." Gumam Sofia.

__ADS_1


__ADS_2