
Pulau Pace, Februari 1500.
"Richi..." Gumam Sofia.
"Ya.."
"Ya.. ini Aku.." Richi menggenggam tangan Sofia lebih erat.
Sofia sudah bisa membuka matanya, dia melihat sekeliling. Lingkungan yang sangat berbeda, Sofia tidak tau sedang berada dimana. Dia melihat ke arah kanan, terdapat setangkai mawar diatas meja.
Sofia mencoba mengambil mawar itu, namun lengannya tidak sampai. Dengan cepat Richi mengambilnya dan memberikannya pada Sofia.
"Mawar?" Gumam Sofia.
"Ya.. Aku mendapatkannya dari kebun.."
"Kau memetiknya? Untukku?" Tanya Sofia.
"Mmm, anggap saja begitu.." Richi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dimana ini.." Sofia melihat sekeliling lagi.
"Ah.. ini Paviliun Rose milik Hades.."
"Paviliun Rose?"
"Ya.."
"Pulau Pace, Kau ingat?"
"Ah.. tempat kita mendarat.." Sofia menatap langit-langit kamar yang bercat putih gading.
"Mmm, bagaimana lukamu? Masihkan terasa sakit?" Richi menatap Sofia dengan lembut.
Sofia menyentuh bagian perutnya yang terasa kaku dan sedikit perih.
"Sedikit perih, kurasa. Apakah Aku terluka parah?"
"Sangat parah cinta.. Kau membuatku menyesali setiap hal buruk yang kulakukan padamu.." Richi menundukkan kepalanya.
Jantung Sofia berdebar dengan kencang mendengar perkataan Richi. Dia tidak tau apakah dia masih bermimpi atau sudah bangun. Tapi semua ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
"Esme..."
"Esme..."
"Kau mendengarku?" Richi bangkit dari tempat duduk lalu memandang Sofia dengan lembut.
"Apakah Kau merasakan sakit lagi? Panas lagi?" Richi membolak-balik tangannya diatas dahi Sofia.
"Tidak, tidak..." Pipi Sofia bersemu merah, wajah Richi terlalu dekat dengannya.
"Tapi pipimu merah, Esme..." Richi kembali mengecek dahi Sofia.
"Aku baik-baik saja Richi.. sungguh.."
Richi kembali duduk dan memperhatikan Sofia.
"Bisakah Kau mengambilkan segelas air? Aku haus.."
"Ah tentu, tunggu sebentar."
Richi berjalan kearah pintu.
"Bamus, tolong bawakan segelas air."
"Siap Tuan!!" Dari jendela terlihat Bamus berlari menuju Mansion.
Tidak lama kemudian dia kembali membawa segelas air.
"Ini Tuan.."
"Oke, Kau bisa kembali."
Bamus kembali ke ruangan sebelah. Setelah itu Richi kembali, menaruh gelas dimeja dan membantu Sofia duduk dan menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Minumlah.."
Sofia mengambilnya lalu meneguknya sekaligus.
"Pelan-pelan, tidak ada seorangpun yang akan mengambilnya darimu.." Richi mengambil gelas kosong dan menyimpannya diatas meja.
"Aku tau, terimakasih.." Gumam Sofia.
"Berapa jam Aku tertidur?" Tanya Sofia.
__ADS_1
"Kau tertidur 7 hari Esme.." Richi menundukkan kepalanya.
"7 hari? Sungguh? Selama itu?"
"Ya.. Kau berhasil mengurungku disini. Sebenarnya apa saja yang Kau mimpikan?"
"Ah.."
"Aku tidak begitu ingat."
"Aku hanya mengingat sedikit tentang Ayah dan Ibuku.." Sofia mencoba tersenyum.
"Siapa nama Ayahmu? Aku akan membawanya kesini jika hal itu akan membuatmu merasa lebih baik dan bahagia."
Jantung Sofia kembali berdetak dengan kencang, rasa kesal tiba-tiba saja muncul.
"Apa? Membawa Ayahku kesini? Dan bertemu dengan kalian?"
"Aku tidak akan pernah mengatakannya!"
"Seharusnya Kau mengembalikanku ke Roseland! Meskipun aku dalam keadaan tak bernyawa sekalipun!" Sofia memandang Richi dengan tatapan dingin.
"Esme!"
"Kumohon.. Jangan berbicara seperti itu! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" Richi menatap Sofia dengan lembut.
"Aku berjanji tidak akan melakukan hal apapun, katakan padaku siapa nama Ayahmu, Aku akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi, untukmu.."
"Aku janji.." Richi menggenggam tangan Sofia.
"Aku tidak akan membiarkan kalian mengetahuinya!" Sofia menepis tangan Richi dengan cepat.
"Mengapa? Apa yang salah?"
"Apa yang salah? Kau masih tidak mengerti? Kau seorang Perompak!"
"Ah.."
HAHAHA
Richi tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Sofia.
"Astaga... Perompak?"
"Tentu saja! Kalian orang-orang jahat! Aku tidak akan membiarkan Ayahku terlibat bahaya karena Aku!"
"Bukan? Bukan? Gerald menyebutmu sepupu! SEPUPU! Kalian adalah komplotan penjahat!"
"Hentikan Esme.. jangan menyamakan Aku dengannya! Aku muak mendengar namanya!"
"Ah.. sesama penjahat saling bermusuhan? Aku tidak akan pernah memilih siapapun diantara kalian! Pergilah!" Sofia menunjuk ke arah pintu.
Richi tidak ingin membalas perkataan Sofia, Dia pergi dengan menyimpan semua jawaban dan membanting pintu dengan keras.
BRAAAK!!!
Sofia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, air matanya mengalir deras, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Uuh
Uhhhk
Uhhhh
"Ayah..."
"Maafkan Aku Ayah..."
Uhhhh
Uhhh
Huuuuuhuu
Luka diperutnya mulai terasa sakit dan perih. Sofia menghapus air matanya dan mencoba tenang, Dia tidak ingin membuat lukanya semakin parah dan membuat dirinya sendiri terkurung ditempat ini.
* * *
Matahari sudah semakin tinggi, semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, termasuk Hades.
Dia sedang membolak-balikkan sebuah surat dan peta. Hades berada diruang kerjanya di Mansion. Ruangan ini cukup besar, berukuran 5x5 meter. Dengan dinding yang dilapisi kayu dan dipenuhi lukisan-lukisan hasil rampasan saat berpapasan dengan kapal dagang atau perompak lain.
Karpet Persia membentang dari depan pintu sampai tengah ruangan. Hades berjalan memutarinya sambil menghisap tembakau sisa yang dia dapatkan beberapa Minggu yang lalu.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Tuan, Madam Joy memanggil Anda..." Terdengar suara Chris dari balik pintu.
Hades melempar surat dan peta ke atas meja. Dia mengambil mantel yang tergantung dan berjalan ke luar.
Mansion tampak sepi, tidak ada seorangpun yang berlalu-lalang didalam. Hanya terlihat beberapa pelayan sedang memetik buah apel dibelakang.
"Tuan Hades.." Joy berjalan dengan cepat ke arah Hades.
"Ada apa Joy?"
"Mereka sudah mendarat Tuan.. Apakah Tuan Richi tidak akan kesana?" Joy terlihat gelisah.
"Ah.."
"Aku akan pergi.. dimana Richi?"
"Tuan Richi sedang duduk didepan Paviliun Rose Tuan.."
"Biarkan saja, Aku akan kembali. Sampaikan padanya apa yang terjadi."
"Saya mengerti.." Joy berjalan ke arah Paviliun Rose, sedangkan Hades pergi ke arah pantai.
* * *
Joy pergi ke Paviliun Rose, tapi Dia tidak menemukan Richi dimanapun.
Joy mencari berkeliling dan memanggil namanya beberapa kali.
"Tuan Richi.."
"Tuan Richi..."
Richi yang sedang mencoba memejamkan matanya dibawah pohon merasa kesal mendengar Joy memanggil manggil namanya.
"Joy.."
"Berhentilah berteriak oke?"
Joy berjalan ke arah Richi dengan wajah merah karena berlari.
"Tuan, ada harus saya sampaikan..." Joy berbicara dengan sekali nafas.
"Apa yang ingin Kau katakan?"
Dari kejauhan terdengar suara seorang wanita muda berteriak menyebutkan nama seseorang.
"Dimana? Dimana Nona?"
"Dimana Nona?"
Wanita muda itu berlarian membuka semua pintu yang Dia lewati, Joy menyipitkan matanya, Dia tidak mengenal wanita muda itu. Begitupula Richi Dia tidak mengingat siapa wanita itu.
"Joy, Kau mengenalnya?"
"Tidak, Tuan.."
"Saya akan kembali.."
"Tunggu.." Joy kembali berlari, Dia menghampiri wanita muda yang berteriak-teriak itu.
Richi memperhatikan dari kejauhan.
"Madam.. Dimana Nona? Dimana Nona?"
"Maaf, siapakah yang Anda cari?"
"Saya mencari Nona Sofia..."
"Sofia? Tidak ada seseorang dengan nama Sofia ditempat ini..." Joy mengerutkan dahinya.
"Yang Mulia Ratu mengarahkan saya ke Pulau ini! Jangan menipu Saya!"
"Biarkan Saya bertemu dengannya!"
Joy tampak bingung, Dia tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
Richi berjalan mendekat dan menepuk punggung wanita itu dari belakang.
PLUK!!
Wanita itu membalikan badannya dan terkejut melihat Richi.
__ADS_1
"Tuan...!!"
"Kamu..."