
Diatas Kapal Marine, Februari 1500.
Sofia tertidur lelap setelah menghabiskan seluruh Bagelen yang dibawa Elie, Dia bahkan menghabiskan teh hangatnya.
Perjalanan ke Pulau utama Roseland masih cukup jauh. Perjalanan memerlukan waktu kurang lebih 10 jam, dan mereka baru menempuh setengah dari perjalanan.
Ini ke 3 kalinya Elie naik kapal. Dia memang mudah beradaptasi sehingga tidak mengalami mabuk laut yang parah seperti Nona mudanya. Hanya sedikit mengoleskan balsem pada perutnya dan semua akan baik-baik saja.
Elie mengelilingi kapal dengan riang. Dia senang Nona Sofia tidak lagi marah padanya. Saat mengintip Nona mudanya tertidur lelap, Elie memutuskan untuk berjalan-jalan dan meninggalkan Nona Sofia agar tidur lebih lama.
"Nona, Elie.." Seseorang memanggil Elie dari belakang.
Elie menengok kearah suara dan terlihat Kapten Clark berjalan kearahnya.
Dengan cepat Elie berbalik dan membungkukkan punggungnya.
"Saya Tuan.."
"Apakah Anda sudah makan siang?"
"Saya?" Elie menengok kekiri dan kekanan.
"Yaa.. betul Anda, Nona Elie.."
"Maukah Anda makan siang bersama saya?"
"Saya tidak pantas, Tuan.." Elie menundukkan kepalanya.
"Tidak usah seperti itu, bukankah dulu saat mencari Lady Sofia kita sudah cukup dekat?" Clark mengingat Elie saat pertama bertemu dengannya dulu di Pelabuhan.
"Jangan berbicara seperti itu, Tuan."
"Nanti orang lain bisa salah paham.." Wajah Elie bersemu merah.
Clark tertawa mendengar perkataan Elie.
"Mari kita makan.." Clark berjalan lebih dulu ke dek atas, sedangkan Elie mengikutinya dengan gugup.
* * *
Mereka hanya makan berdua diatas dek. Prajurit yang lain makan di geladak bawah. Elie merasa malu, Dia tidak ingin mempermalukan Nona mudanya karena perilakunya yang tidak sopan.
"Nona.."
"Makanlah.." Clark mengambilkan Elie sepotong steak.
"Ah.."
"Saya bisa melakukannya sendiri.."
"Biarkan Saya membantu Anda.." Clark memotong steak itu menjadi beberapa bagian kecil.
"Terimakasih.." Elie tidak bisa menyembunyikan pipinya yang sudah semerah kepiting rebus yang ada didepannya.
"Saya rasa.."
"Anda sudah bahagia sekarang.." Clark tersenyum sambil mengunyah Steak miliknya.
"Bahagia?" Elie mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Ya.."
"Saat Anda naik ke Kapal ini dulu, wajah Anda terlihat kusut, mata Anda sembab dan Anda terus menangis."
"Saya mengingatnya dengan jelas saat itu.."
"Ah..."
Elie tertawa mengingat saat-saat kelam itu.
"Tentu saja, Tuan. Saya sangat bahagia sekali saat ini."
"Apakah karena telah berjumpa dengan Lady Sofia?"
"Tentu saja!!"
"Saya sangat bahagia sekali karena sudah berjumpa lagi dengan Nona.."
"Dan.. Saya berhutang terimakasih kepada Anda, karena Anda selalu memberikan semangat kepada Saya saat itu, Tuan."
"Saya senang dapat membantu Anda, Nona Elie.."
Ekspesi Elie berubah dengan cepat ketika membicarakan tentang Nona mudanya. Bahkan mata Elie berbinar-binar dengan sangat cantik ketika tau bahwa Clark mengetahui alasannya sangat bahagia. Elie senang ada seseorang yang mau berbicara dengannya tentang Nona mudanya.
"Syukurlah, Nona.."
"Saat itu saya sangat khawatir.."
"Saya ingin bertanya, namun sepertinya Anda tidak ingin diganggu oleh siapapun."
"Begitukah?"
"Ya.."
"Maafkan Saya, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya sangat menghawatirkan Nona, Saya."
"Tentu, Nona.."
"Saya tidak keberatan."
"Karena sekarang Saya merasa sudah mengenal Anda, walaupun sedikit."
Elie batuk dan hampir mengeluarkan seluruh steak yang ada di dalam mulutnya ketika mendengar perkataan Kapten Clark.
__ADS_1
Dengan cepat Clark memberikan serbet pada Elie.
"Terimakasih.."
"Apakah Anda merasa tidak nyaman makan dengan Saya?"
"Bukan, bukan seperti itu.."
Elie mengetahui statusnya dengan sangat jelas, Dia hanyalah seorang pelayan. Sedangkan seseorang yang duduk dihadapannya adalah seorang Kapten Angkatan Laut yang sangat dihormati. Clark adalah seorang Pria terhormat, seharusnya Nona mudanya lah yang duduk disini, bukan dirinya.
"Lalu, ada masalah apa?" Clark berhenti makan dan menyimpan garpu di atas piringnya.
"Saya malu duduk disini bersama Anda.."
"Saya tidak pantas, Tuan.."
Clark tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Elie.
"Astaga, Nona.."
"Anda tidak perlu merasa khawatir.."
"Saya yang mengajak Anda.."
"Jadi, makanlah dengan santai.."
"Ok?"
Elie tidak menjawab, Dia hanya menganggukkan kepalanya.
Makan siang itu terasa sangat lama bagi Elie, Dia ingin cepat-cepat mengakhirinya, tetapi tidak sopan jika meninggalkan kursi lebih dulu sebelum tuan rumah selesai dengan makanannya.
"Makanan ini terasa lebih lezat jika dimakan bersama dengan orang lain, bukankah begitu?" Clark menatap Elie yang kebetulan sedang menatapnya.
Elie dengan cepat mengalihkan pandangannya, Dia merasa sangat malu sekali. Benar-benar perbuatan yang tidak sopan.
"Nona?"
"Ah.."
"Tentu, Tuan. Makanan ini sangat lezat." Elie melipat serbetnya dengan gugup.
"Syukurlah, Saya khawatir Anda tidak menyukainya." Clark berdiri dan Elie pun dengan cepat berdiri.
Elie benar-benar sudah merasa tidak nyaman dan Clark menyadari ketidaknyamanan itu dengan cepat. Dia berjalan turun dari Dek terlebih dahulu dan menunggu Elie dibawah.
"Terimakasih, Nona.."
"Silahkan beristirahat kembali.." Clark membungkuk dan tersenyum.
Dia berjalan menjauh dengan enggan, sesekali menengok ke belakang untuk melihat Elie yang sudah berjalan menjauh ke arah Kabin Sofia tanpa menengoknya sekalipun.
"Ah..."
"Sulit sekali.." Gumam Kapten Clark.
* * *
"Astaga.."
"Jangan melakukan hal bodoh Elie!"
"Kau harus sadar posisimu?" Elie menampar dengan keras pipinya.
PLAK!!
"Haa.."
"Inilah realita.." Elie menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia berhenti didepan Kabin dan membuka pintunya perlahan. Nona mudanya masih terlelap, Elie masuk dengan berjinjit dan tidur disamping Sofia.
* * *
Suara gemuruh membuat Sofia terbangun dari tidurnya yang lelap. Dia mengusap-usap matanya yang terasa lengket.
Sofia melihat Elie tertidur lelap disebelahnya. Dia tidak ingin membuat Elie terbangun dan duduk dengan sangat berhati-hati agar tidak menggoyangkan tempat tidur.
"Sudah berapa lama Aku tertidur?"
"Syukurlah mabuk lautku sudah berkurang.."
"Aku benci mengalaminya.."
Sofia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari Kabin.
Suasana Kapal yang terasa sangat asing dan sangat berbeda dengan kondisi Kapal Hades, begitupun dengan awak kapalnya.
Seluruh awak Kapal Hades memakai pakaian khas perompak yang dominan berwarna hitam. Bahkan beberapa orang hanya menggunakan rompi tanpa pakaian dalam. Sofia tertawa mengingat saat-saat berada disana.
Sedangkan semua awak Kapal Marine adalah Prajurit Angkatan Laut, yang tentu saja mereka semua memakai seragam yang dominan berwana putih dan berpakaian rapih.
Bahkan mereka semua membungkuk ketika berpapasan dengannya, berbeda sekali dengan awak kapal Hades yang mengedipkan sebelah matanya pada Sofia, lagi-lagi Sofia tertawa.
"Aku mulai merindukan seluruh awak Kapal Hades.."
Sofia berjalan lebih cepat ke geladak, dia ingin cepat-cepat melihat langit. Ruangan tanpa cahaya membuatnya sesak.
"Tuan.." Sofia menyapa seorang prajurit yang sedang mengikat sebuah tali digeladak depan.
"Saya, Lady?" Pria itu menunjuk kedadanya.
Sofia mengangguk dan berjalan mendekat.
__ADS_1
"Apakah perjalanan ke Pulau Roseland masih lama?"
"Ah.."
"Kita akan tiba sebentar lagi, Lady."
"Mungkin sekitar satu jam lagi, karena harus manuver terlebih dahulu untuk menyimpan barang bawaan di gudang."
"Terimakasih, Tuan."
"Dan, dimanakah Kapten Clark?"
"Kapten?"
"Beliau berada di Anjungan, Lady."
"Saya akan mengantarkan Anda kesana."
Prajurit itu berdiri dan berjalan didepan Sofia.
Tok
Tok
Tok
"Kapten! Lady Sofia ingin menemui Anda.."
Seorang pria yang dikenal Sofia membuka pintu dengan cepat.
"Ah.."
"Lady Sofia.."
Clark berjalan keluar dan mempersilahkan Sofia duduk dikursi terdekat.
"Silahkan duduk, Lady.."
Prajurit muda itu kembali ke tempatnya mengikat tali.
"Terimakasih.." Sofia menerima tawaran Clark dan duduk dengan senang hati.
"Apa yang membawa Anda menemui Saya?"
"Ah.."
"Bisakah Saya langsung pada intinya?"
"Tentu saja, Lady.."
"Silahkan.." Kapten Clark memberi waktu Sofia untuk berbicara.
"Maaf.."
"Apakah Anda masih mempunyai makanan, Tuan?"
"Saya rasa, Elie belum makan apapun sejak dari tadi.." Sofia melipat kedua tangan diatas pahanya.
"Untuk Nona Elie?"
"Yaa.."
"Maafkan Saya, Lady.."
"Tapi, Nona Elie sudah makan siang dengan Saya tadi.." Clark tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, bibirnya penuh dengan senyuman.
"Makan bersama Anda?" Sofia mengernyitkan dahinya.
"Betul sekali.."
"Apakah Nona Elie kebetulan tidak mengatakannya pada Anda?"
"Bukan begitu, mungkin karena Saya tidur jadi Elie belum mengatakannya."
"Maaf tapi.."
"Mengapa Anda mengajaknya makan?"
"Hal seperti itu tidaklah umum dikalangan pelayan.."
"Maafkan ketidak sopanan Saya, Lady.."
"Apakah kebetulan Nona Elie sudah mempunyai pasangan?"
Sofia terkejut mendengar pertanyaan Clark, Dia semakin mengerutkan dahinya karena tidak mengerti.
"Maaf?"
"Apakah maksud dari pertanyaan Anda?"
"Karena Saya tidak ingin mencampuri urusan pribadi Elie.."
"Karena.." Clark ragu untuk mengatakannya, namun Dia ingin mendapatkan dukungan dari Sofia.
"Karena Saya menyukainya, Lady.."
"Anda?"
"Menyukai Elie?"
"Benar sekali.."
"Bisakah Anda membantu Saya?" Mata Clark memandang Sofia dengan tatapan memohon. Sofia tidak tau harus menjawab apa. Dia tidak ingin membuat Elie merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Saya akan memikirkannya, Tuan.." Sofia tersenyum.
Clark tidak yakin apakah Sofia benar-benar akan membantunya atau hanya ingin membuatnya berhenti memohon.