Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Paviliun Rose


__ADS_3

Pulau Pace, Januari 1500.


Matahari sudah tenggelam, sehingga tidak ada sedikitpun cahaya yang terlihat kecuali berasal dari obor yang dibawa oleh Bamus dan Ben yang berasal dari Kapal Hades.


Richi dapat merasakan genangan darah yang berasal dari perut Sofia, Dia mencoba menghentikan darah yang keluar dengan menekan bagian yang tertembus peluru.


"Esme.."


"Esme.."


"Kumohon sadarlah.."


Tubuh Sofia terasa dingin, keringat mengalir dari dahinya.


"Esme... Kau harus sadar Esme.."


"Kumohon..."


Richi berulang kali memanggil Sofia, namun Sofia tidak merespon sedikitpun.


Hades kembali setelah menghajar Gerald, kedua tangannya penuh dengan darah segar yang masih menetes.


"Bagaimana keadaannya?" Hades menatap Richi yang terlihat pucat. Dia dapat melihat ekspresi wajahnya meskipun keadaan gelap.


"Esme, dia... " Richi tidak dapat melanjutkan perkataannya, tangannya bergetar.


"Dia akan baik-baik saja. Kita harus cepat membawanya ke mansion." Gumam Hades.


Richi menggendong Sofia dengan hati-hati, Dia tidak ingin peluru yang bersarang diperutnya bergerak dan melukai organ tubuhnya yang lain.


Darah segar menetes dari perut Sofia dan mengotori sepatu Richi.


Tubuh Richi terasa lemas, Dia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Richi masih terkejut, Dia tidak menyangka Sofia akan menghalangi peluru yang ditunjukkan Gerald kepadanya. Seandainya saat itu Richi tidak berada didekat Sofia, mungkin Sofia tidak akan melakukan hal nekat seperti itu.


Hades mengambil salah satu obor dan membantu menerangi jalan Richi.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Hades.


Richi tidak menjawab apapun, Dia terus-menerus memperhatikan pernapasan Sofia.


"Tenanglah, Dia akan baik-baik.."


Terlihat sebuah mansion yang besar dari kejauhan, beberapa orang pelayan berlari menghampiri Hades.


Seorang perempuan tua kesulitan berlari ke arah Hades, namun Dia tidak terlihat akan menyerah.


"Tuan Hades.. "


"Tuan Hades... Anda kembali.." Dia memeluk Hades dengan erat.


"Ya.. apa kabarmu?"


"Aku sehat sekali!" Perempuan itu mengecup pipi kiri dan kanan Hades.


"Apakah ini tuan Richi?"


"Ya.."


"Astaga... Tuan Richi sudah besar sekali..."


"Kenapa perempuan muda ini? Ya Tuhan..." Perempuan tua itu menutup mulutnya.


"Kris! Kris! Cepat siapkan ruangan! Cepat!"


Seorang lelaki muda berlari masuk kedalam mansion dengan cepat.


"Bawa dia kedalam Tuan.."


"Baiklah Joy.." Gumam Richi pada perempuan tua itu.


Richi dengan cepat menggendong Sofia kedalam dan membaringkannya diatas tempat tidur.


Dia tidak pergi selangkah pun dan duduk dipinggir tempat tidur, tangannya menggenggam tangan Sofia dengan erat.


"Kau akan menyakitinya.." Ucap Hades.


Refleks Richi melonggarkan genggamannya.


"Joy, Dia tertembak. Bisakah Kau menyelamatkannya?" Richi menatap Nenek Joy.


"Aku akan melakukannya semampuku Tuan, kuharap peluru itu tidak pergi ketempat yang sulit.." Joy mengelap keringat didahinya.


Dasar segar masih terus mengalir dari perut Sofia. Joy menutupnya dengan sebuah kain putih.


"Sebaiknya kita pergi, Kau hanya akan menggangu jika berada disini." Hades mengajak Richi pergi keluar.


"Tapi..."

__ADS_1


"Beristirahatlah Tuan Richi, Saya akan bekerja sekarang." Joy menatap Richi dan Hades bergantian lalu tersenyum.


"Baiklah, Tolong selamatkan Esme.. Aku mempercayakannya padamu Joy.."


Richi menyeret kakinya dengan enggan. Dia mengikuti Hades keluar dari kamar.


Hades memutuskan duduk dibawah pohon sambil menikmati sebatang cerutu.


"Berikan Aku satu.." Richi duduk disebelah Hades.


Hades memberikan satu batang cerutu pada Richi lalu membakar ujungnya dengan cerutu miliknya.


Richi menghisapnya secara perlahan, lalu terbatuk beberapa detik kemudian.


"Jangan pernah bermain api jika kau tidak bisa memadamkannya." Gumam Hades.


Richi kemudian membuang cerutu itu dan menginjaknya.


"Hei!! Cerutu ini mahal!" Hades mengambil cerutu yang dibuang Richi lalu meniupnya beberapa kali.


"Ah, sudah tidak tertolong lagi.." Hades terlihat kecewa.


"Mengapa Kau menyuruhku pergi lebih dulu?" Tanya Richi dengan tiba-tiba


"Tidak ada alasan." Hades mengangkat kedua bahunya, kepulan asap putih keluar dari bibir Hades.


"Kau mengetahuinya bukan? Kau mengetahui bahwa ******** itu ada disana." Richi mengepal-ngepalkan kedua tangannya.


"Aku tidak yakin." Jawab Hades singkat.


"Sungguh Kau ******** brengsek!" Richi mengayunkan tinjunya kearah Hades.


BUUKK!!


"Aku tidak tau bahwa gadis itu akan berani menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng." Hades mengelap darah dari ujung bibirnya.


"Akupun tidak tau." Gumam Richi.


"Semoga Dia baik-baik saja."


"Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, Kau akan merasakan akibatnya Hades!" Richi menatap Hades dengan tatapan dingin yang menusuk.


Mereka berdua tidak berbicara lagi, Hades menghabiskan beberapa cerutu sebelum kembali ke dalam mansion. Sedangkan Richi duduk sendiri dibawah pohon.


"Kuharap Esme baik-baik saja.."


Jantung Richi seakan berhenti berdetak saat mendengar letusan pistol dan melihat Sofia tumbang didepan matanya.


Aarrrgh!!!


Richi memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Entah mengapa matanya terasa sangat perih, Dia tidak ingat kapan terakhir kali menangis, namun saat ini dia tidak bisa menahannya lagi. Air mata yang hangat meleleh dari sudut matanya. Richi terisak, air matanya bercucuran seperti aliran sungai yang tidak bisa dibendung lagi.


Uuuh


Uhhhhk


Uhhhh


"Sakit sekali! Sakit sekali rasanya!" Richi kembali memukul dadanya.


"Kumohon Tuhan.. Selamatkan Dia, bukan Dia yang harus mengalami semua ini, tapi Aku... Kumohon berikanlah belas kasihmu Tuhan.. Aku mohon..." Richi bersujud, dia tidak dapat mengontrol emosinya.


Uuuh


Uhhhhk


Richi kembali memukul lagi dadanya yang terasa sesak dan perih.


Hades yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum penuh arti.


* * *


Matahari sudah terlihat, sinarnya yang hangat sudah kembali. Suara burung saling berciutan terdengar merdu ditelinga. Angin sepoi-sepoi menggerakkan rambut Richi yang cukup panjang sehingga terasa menggelitik bagian dalam telinganya.


Richi tertidur dibawah pohon sampai pagi. Dia terlalu lelah sehingga tidak sadar sudah jatuh tertidur disana.


"Tuan.. Tuan.. Bangunlah.."


"Sarapan sudah siap."


Seorang pelayan wanita membangunkan Richi yang tidur dibawah pohon.


"Ah..." Richi mengedipkan matanya beberapa kali.


"Bagaimana keadaan Esme?" Tanya Richi sambil menggosok-gosok matanya yang sembab.


"Operasi sudah selesai sejak semalam, peluru berhasil dikeluarkan. Namun.."

__ADS_1


"Ada apa?!" Wajah Richi berubah panik.


"Nona belum siuman, Tuan.." Pelayan itu merasa sedih.


"Antarkan Aku kedalam.."


"Baik, Tuan.."


Pelayan itu berjalan lebih dulu, kemudian Richi menyusulnya dengan cepat.


"Tadi malam Aku mengantarnya kesini." Richi menunjuk ruangan yang ada disebelah kiri.


"Tuan Hades memindahkannya ke sebelah kanan, Tuan."


"Paviliun Rose?" Richi terlihat bingung.


"Benar..."


Richi berlari ke arah paviliun Rose yang terletak disebelah kanan.


Paviliun Rose adalah tempat yang sangat indah dikelilingi oleh berbagai macam bunga Rose.


Tidak ada seorangpun yang diijinkan masuk oleh Hades ke paviliun Rose, namun Hades membiarkan Sofia berada disana? Richi terkejut sekaligus bingung.


"Hades?"


Hades sedang memperhatikan Sofia yang masih belum sadarkan diri.


"Adakah yang ingin Kau katakan?" Hades memandang Richi tanpa ekspresi.


"Mengapa?"


"Tidak ada alasan khusus."


"Kau yakin tidak menyukainya?"


Hades tidak menjawab dan hanya menatap Sofia.


"Hades, Aku bertanya dengan sungguh-sungguh. Kau menyukainya?" Tanya Richi lagi.


"Tidak.."


"Lalu?"


"Tempat ini cocok untuk penyembuhan Kau tau? Tempat ini sangat nyaman bukan?" Hades melihat sekeliling.


"Kau tidak bisa membohongiku Hades!" Richi menatapnya dengan tajam.


"Aku tidak mengatakan kebohongan. Tempat ini cocok untuknya. Dia akan merasa berada di Roseland. Bukankah itu bagus?"


Richi tidak bertanya lagi, percuma bertanya ribuan kata pada Hades, Dia selalu memiliki jawaban yang membosankan.


"Sebaiknya Kau memegang ucapanmu!" Richi menatap Hades dingin.


"Tenanglah Tuan muda, Aku tidak menginginkan gadis kecil." Hades terkekeh melihat Richi yang kesal.


"Sebaiknya Kau mengingat setiap kata yang Kau ucapkan." Richi mengingatkan.


"Pasti.." Hades tersenyum getir. Entah mengapa ada perasaan sakit jauh dari lubuk hatinya. Dia tidak mengetahuinya dengan jelas, tapi Hades akan membuatnya jelas saat ini juga.


"Jagalah Dia, aku akan beristirahat."


Hades menutup pintu dan meninggalkan Sofia pada Richi.


Richi menarik tempat duduk dan meletakkannya tepat disebelah Sofia.


Kemudian, Dia duduk dan menatap Sofia cukup lama tanpa mengatakan apapun.


Suara cuitan burung terdengar sampai ke dalam, tempat ini memang sangat nyaman dan cocok untuk pemulihan, pikir Richi.


Dia kembali memandang wajah Sofia yang pucat.


"Kau..."


"Kau sangat pucat..." Richi membelai pipi Sofia yang dingin.


"Kau terlihat lebih kurus dari pertemuan pertama kita dulu."


"Apakah Aku yang membuatmu seperti ini?"


Richi mengurut-urut keningnya yang terasa sakit karena banyak berpikir. Sudut matanya kembali terasa perih.


"Sial.." Gumamnya perlahan.


"Esme..."


"Apa yang harus kulakukan padamu?"

__ADS_1


"Ya Tuhan..."


Richi menautkan jari-jarinya, Dia melihat keluar jendela, memandang langit yang biru dan kembali merenung.


__ADS_2