
Tepi Pantai, Pulau Pace. Januari 1500.
Sore hari ini matahari terlihat sangat indah, sinarnya yang berwarna orange terasa hangat dikulit. Angin berhembus sepoi-sepoi membuat siapapun yang merasakannya terhanyut dalam perasaan bahagia dan tenang.
Tidak ada satupun awan hitam yang terlihat dilangit maupun tanda-tanda akan hujan, sehingga pekerjaan memperbaiki kapal berjalan dengan mulus.
"Aku akan keluar membersihkan wajahku.." Richi menunjuk wajahnya.
Sofia hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak keberatan Kau muntahi, tapi lain kali jangan diwajah." Richi mengangkat kedua alisnya.
Sofia terkikik dibawah selimut, Dia tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulutnya.
Perbaikan Kapal sudah benar-benar selesai. Kapten Hades terus memantau pekerjaan awak kapalnya. Dia tidak ingin ada kesalahan sehingga perjalanan mereka ke Pulau Pace akan terhambat.
"Apa yang terjadi pada wajahmu?" Hades tertawa terbahak-bahak melihat Richi yang baru keluar dari Kabin.
Semua awak penasaran mendengar Kapten Hades tertawa, mereka mengikuti pandangan sang Kapten.
Terdengar gelak tawa dari seluruh penjuru kapal, Richi tidak memperdulikan mereka dan pergi ke dapur untuk membersihkan wajahnya.
"Mengapa Kau tidak membersihkannya dikabinku?" Hades mengelap air matanya yang keluar.
"Esme menghabiskan seluruh persediaan airmu." Jawab Richi singkat.
"Aah, Aku harus menagih bayaran padanya." Hades menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hades kembali ke dalam anjungan, sedangkan Richi bergegas mencuci wajahnya.
Kapal bergerak dengan tenang searah dengan berhembusnya angin. Bendera hitam milik Hades berkibar dengan bebas.
"Kapten!! Pulau Pace!!" Juru teropong berteriak dari atas tiang.
Beberapa awak berebut mengambil teropong yang tergeletak di atas meja, mereka tidak sabar ingin segera sampai. Dan tidak lama lagi mereka akan segera mendarat disana, di Pulau Pace.
Kapten Hades melihat melalui teropong, dia memastikan tidak ada siapapun disana.
Kapten Hades menyipitkan matanya.
"Kapal kecil?" Gumam Hades.
Dia kembali melihat keseluruhan pulau dengan teropong, tidak ada kapal lain disana, hanya ada kapal kecil yang tergeletak dipinggir, tapi tak terlihat seorangpun disana.
Dia mulai berpikir dan menimbang-nimbang beberapa hal.
"Apakah kalian keberatan jika kita kembali pada misi?" Tanya Hades.
Terlihat raut wajah kecewa dari para awak kapalnya, mereka sudah sangat menunggu momen ini, momen mereka kembali ke Pace.
"Ah, sudahlah..Bersiap menurunkan jangkar!"
Kapten Hades akan mengambil resiko, Dia tidak mau melihat awak kapalnya bersedih karena tidak jadi mendarat di Pace.
"SIAAP KAPTEN!!!" Semua awak berubah ceria setelah mendengar perintah Kapten Hades.
Richi yang memperhatikan menjadi penasaran, Dia naik ke atas dek dan berjalan ke arah Hades.
"Mengapa Kau mendadak berubah pikiran?"
"Lihatlah.." Hades menyerahkan teropong pada Richi.
Richi mengambilnya dan mulai melihat dengan teropong itu.
"Sebuah kapal?"
Hades mengangguk dan tidak berkata apapun.
"Mungkin penduduk?" Tanya Richi.
"Tidak, mereka tidak kubiarkan berada ditepi pantai."
"Ah, tentu saja." Gumam Richi.
"Apakah mungkin?..." Ucapan Hades terhenti saat Richi menatapnya.
"Mungkin saja, kita harus bersiap." Jawab Richi dingin.
"Baiklah.."
Richi kemudian pergi kebawah, Dia berjalan kearah Kabin Hades.
Richi membuka pintu perlahan dan masuk, kemudia melihat Sofia yang sedang mengurut-urut kepalanya.
"Masih terasa pusing?"
"Ya.."
Richi menyentuh kening Sofia dengan lembut.
"Masih sangat panas... Berbaringlah..." Richi terlihat khawatir.
"Aku baik-baik saja.." Jawab Sofia.
"Kalau begitu, bersiaplah..."
"Mengapa?"
"Karena Kita akan segera mendarat."
"Sungguh?" Sofia terkejut mendengarnya.
"Tentu.. "
"Aku boleh turun?"
"Ya, Tapi Kau diam dulu disini, Aku turun lebih dulu dan mengambilkan pakaian."
"Tidak! Tidak! Aku akan menggunakan selimut ini! Kau tidak boleh meninggalkanku!" Sofia menggenggam erat lengan Richi dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu, apakah Kau bisa melepaskan lenganku sekarang? Jari-jarimu terlihat pucat."
"Ah.. maafkan Aku.." Refleks Sofia melepaskannya.
Beberapa awak kapal menurunkan jangkar saat jarak pulau sudah beberapa meter dari Kapal, dan tidak lama kemudian, Kapalpun berhenti bergerak.
"Pulau Pace!!"
"Pulau Pace!!"
"Pulau Pace!!"
Semua awak bersorak senang ketika sampai di Pulau Pace.
Matahari belum genap tenggelam, beberapa semburatnya yang indah masih terlihat jelas. Bahkan dalam keadaan sedikit cahaya pun, pulau Pace terlihat sangat indah dengan hamparan pasir yang putih bersih dan air laut yang jernih berwarna biru muda. Beberapa kerang terlihat berkilauan tertimpa cahaya matahari. Kepiting merah bersembunyi dibalik pasir bersama bintang laut.
"Kita sudah mendarat. Kau ingin berjalan sendiri?"
"Aku bisa berjalan..." Jawab Sofia.
Dia mencoba turun dari tempat tidur, namun saat mencoba berdiri, lututnya terasa lemas sehingga Sofia akan terjatuh jika saja Richi tidak menopangnya.
"Aku akan membantumu.." Richi tidak mendengar jawaban Sofia, dia langsung menggendongnya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu.
"Perahumu sudah siap." Terdengar suara Ben dari balik pintu.
"Yaa.." Jawab Richi.
Kemudian suara kakinya terdengar menjauh.
Richi berjalan dengan menggendong Sofia dilengannya.
"Peganglah leherku dengan erat, atau Kau akan terjatuh." Gumam Richi ditelinga Sofia.
Mau tidak mau Sofia memeluk leher Richi dengan erat, Dia tidak mau tenggelam seperti terakhir kali.
"Jika seperti itu, Aku yang akan mati terlebih dulu.." Ucap Richi dengan susah payah karena lehernya terasa sakit.
"Ah maafkan Aku..." Refleks Sofia melonggarkan pelukannya, Dia merasa sangat malu sekali dan ingin menghilang seketika.
"Sekarang lebih baik..." Gumam Richi.
"Aw Aw Aw..."
Terdengar tepukan tangan Hades dari atas geladak.
"Kalian terlihat sangat serasi seperti Beauty and the Beast!" Hades tertawa terbahak-bahak begitupun awak Kapal lain yang melihat.
Sofia mencoba menyembunyikan wajahnya dengan rambutnya yang tergerai.
"Kau terlihat sangat bahagia." Ucap Richi dingin.
"Tentu saja! ini adalah pemandangan yang langka! Bukan begitu?" Hades bertanya pada awak kapal lain.
"Benar Kapten! Tuan Richi terlihat seperti seorang pangeran!" Bamus berkata dari kejauhan.
"Tentu saja! Tuan Richi kita sangat tampan!" Jawab Top dari arah dapur.
"Kalian membuat mataku SAKIT!" Jawab Ben dengan muka malas.
"Astaga.. Ben kita sangat sensitif!!" Hades menepuk-nepuk punggung Ben.
"Hentikan Kapten, Kau melukai punggungku.." Ben terlihat kesakitan.
"Kau seperti wanita bodoh Ben!!" Koki memukul kepalanya dengan sendok besi.
PLETUK!!
"Dasar brengsek!!" Ben meringis kesakitan.
Semua awak tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Ben. Sofia masih menyembunyikan wajahnya karena merasa malu.
"Kau turunlah lebih dulu. Ben akan membantumu." Kapten Hades menunjuk ke arah Ben yang sedang mengusap-usap kepalanya.
"Astaga.. Aku lagi Kapten?" Ben merasa keberatan.
"Kau cocok melakukan hal seperti itu Ben!" Kapten Hades mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah, baiklah. Terserah padamu saja Kapten!" Mau tidak mau Ben menyetujuinya.
Ben naik lebih dulu ke perahu kecil yang sudah disiapkan untuk Richi, Lalu Richi menggendong Sofia dengan hati-hati dan naik ke atas perahu kecil, kemudian awak Kapal lain menurunkan tambang, sehingga perahu kecil turun.
"Berhati-hatilah.." Hades berteriak dari atas Kapal Hades.
Richi hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun.
"Mendayung lah dengan cepat.." Richi duduk dengan memangku Sofia diatas pahanya.
"Baiklah! Kau bosnya!!" Ben mendayung tanpa berkata apapun lagi.
Kapal Hades dengan Pulau Pace hanya berjarak 20 meter, sehingga kapal yang dinaiki Ben, Richi dan Sofia sampai dengan cepat. Ben turun lebih dulu kemudian menarik perahu ketepi.
"Kita sudah sampai, Aku akan kembali." Ucap Ben.
Richi menggendong Sofia kemudian turun ke Pulau Pace, setelah itu Ben kembali ke laut dan mendayung ke arah Kapal untuk mengangkut awak kapal yang lain.
"Dimanakah ini?" Tanya Sofia setelah yakin Ben sudah pergi.
"Kita di Pulau Pace." Jawab Richi.
Dia mengamati sekeliling dengan matanya yang tajam.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tidak bersuara." Gumam Richi ditelinga Sofia.
Sofia mengerti dan hanya mengangguk.
KRAKK
Dari kedalaman hutan terdengar suara ranting yang patah.
Refleks Sofia memeluk Richi dengan erat. Richi melihat kearah datangnya suara.
"Keluarlah.." Ucap Richi dengan dingin.
Kemudian dari dalam hutan terlihat seseorang yang Sofia kenal beberapa bulan kebelakang.
Seseorang yang membuatnya selalu berada dalam posisi sulit. Yang membuat semua orang salah paham, dan sangat menjijikkan jika mengingat hal yang telah dia perbuat padanya beberapa hari yang lalu.
"Astaga... Kau mengetahui keberadaan ku?" Ucap lelaki itu dengan raut wajah yang memuakkan.
"Haah.. Kau sangat menjijikkan!" Ucap Richi dingin.
Sofia menggenggam erat leher Richi sehingga Richi kesusahan bernafas.
"Tenanglah sayang, Aku tidak akan memberikanmu padanya jika Kau tidak ingin." Gumam Richi ditelinga Sofia.
Sofia mendesis mendengar pernyataan Richi.
"Berikan wanita itu padaku!" Ucap Gerald dengan lantang.
"Menjijikan! Jangan pernah mendekatiku!" Jawab Sofia dengan kesal dan marah.
"Haah, Bagaimana jika begini.. Aku akan membebaskan hutang ayahmu!" Gerald tertawa terbahak-bahak.
"Aku lebih memilih mati dari pada bersama dengan ******** sepertimu!" Jawab Sofia.
"Apakah sekarang Kau mulai rabun dan tidak melihatku GERALD?" Richi menyebutkan namanya dengan jijik.
"HAHAHA, Aku sudah mengetahui seluruh tubuhnya sepupu! Kau masih menginginkannya?"
"Dasar ********! Jangan bermimpi!" Sofia sudah melupakan rasa sakit di kepala dan tubuhnya, dia merasa jijik melihat Gerald dan mendengar semua perkataannya.
"Jangan begitu manis.. Aku tulus padamu, Aku akan membantu Ayahmu.. Kau kembalilah padaku.. Kita akan menjalani pernikahan yang bahagia."
"Aku tidak SUDI!" Sofia meludah ke arah Gerald.
"Ayolah sepupu, Kau tidak akan menginginkannya! Keluarganya penuh hutang! Nenek tua itu tidak akan merestui mu!"
"Aku akan membayar semua hutangnya, Siapakah ayahmu?" Tanya Richi pada Sofia.
"Tidak, tidak, Aku tidak perlu bantuanmu." Jawab Sofia.
"Bahkan disaat seperti ini Kau tetap tidak mengatakannya?" Richi kesal mendengar perkataan Sofia.
"Aku tidak akan mengatakan padamu atau pada kalian, Aku tidak mau membahayakan seluruh anggota keluargaku." Jawab Sofia dingin.
Richi tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Sofia.
"Ya Tuhan..." Gumam Richi.
"Berikan wanita itu padaku sepupu! Kau tidak ingin ada beban lain bukan dalam hidupmu. Ayolah..."
"Kau.. berhentilah berbicara! Aku sudah muak melihat semua tingkahmu dan ayahmu! Enyahlah sebelum Aku membunuhmu!"
Tiba-tiba Gerald mengeluarkan pistol dari arah belakang bajunya dan mengarahkannya ke arah Richi.
"Berhentilah menuduh Ayahku! Kau anak sial! Pergilah bersama Ayah Ibumu ke neraka!" Ucap Gerald dengan marah.
Richi menurunkan Sofia dan berlari kearah Gerald.
Gerald tidak menurunkan pistolnya sedikitpun, dia mengacung-acungkannya pada Richi.
Sofia menopang tubuhnya dengan berpegang pada pohon yang ada didekatnya, Dia mencoba mengumpulkan kekuatan agar bisa berdiri.
Sekarang jarak Gerald dan Richi hanya beberapa meter saja. Gerald memegang pistol, sedangkan Richi tidak membawa senjata apapun.
"Aku akan membunuhmu dan Kau akan menyusul Ayah Ibumu!" Teriak Gerald.
Tidak lama kemudian terdengar suara letusan pistol.
DUAAR!!
Beruntung Richi mengelak dengan cepat, sehingga peluru itu hanya mengenai angin dan berakhir di pasir.
Kapten Hades berlari dari kejauhan karena mendengar suara ledakan pistol, begitupun dengan awak yang lain.
Sofia terkejut dan hampir menjerit, namun dia menutup mulutnya dan menahan tangisannya.
Richi berdiri dan berjalan kearah Sofia, sedangkan tangan Gerald bergetar dengan hebat.
"Kau baik-baik saja?" Sofia melihat seluruh tubuh Richi.
"Seperti yang Kau lihat.. Bersembunyilah." Richi menunjuk ke arah Hades yang berlari.
Gerald kembali mengacungkan lagi pistol kearah Richi, kemudian dia menarik pelatuknya dengan cepat.
Richi tidak sempat melihat karena langit sudah mulai gelap.
"Awaaaasss..." Sofia berteriak dengan cepat.
DORR!!
Suara letusan pistol kembali terdengar.
Timah panas yang keluar dari pistol menembus daging dengan mudahnya.
Darah segar menetes dari perut Sofia.
Tubuh Sofia terjatuh didepan tubuh Richi yang tegang.
Tangan Gerald gemetaran, dia terjatuh dan awak kapal Hades dengan cepat mengamankannya.
__ADS_1
"Esme!!!"