Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Meminta Izin


__ADS_3

Istana Kerajaan, Roseland. April 1500.


Pagi menjelang siang di Istana Kerajaan Roseland.


Richi terus berputar-putar didepan cermin diruang kerja Neneknya.


Ratu Ranee hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucunya.


"Ekhm..."


"Bagaimana penampilanku, Nek?"


"Kau selalu terlihat luar biasa Richard." Ratu Ranee berjalan mendekat, lalu menepuk-nepuk punggung Richi yang lebar.


"Tentu saja." Richi tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapih.


"Ada apa dengan matamu?" Ratu Ranee baru menyadarinya setelah mereka saling berhadap-hadapan. Terdapat lingkaran hitam besar pada kedua mata Richi.


"Ah.."


"Aku tidak bisa tidur semalam." Richi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


HAHAHA


Ratu Ranee tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan cucunya.


"Apa yang Kau khawatirkan?"


"Aku takut."


"Takut Tuan Jasper akan menolak ku." Richi terlihat gugup, keringat berkumpul di dahinya.


"Apa?"


HAHAHAHA


Lagi-lagi Ratu Ranee tertawa dengan keras.


"Siapa yang akan berani menolak mu?"


"Kau adalah lelaki tertampan di dunia ini!"


"Cucuku!"


"Cucu yang sangat kubanggakan!"


"Tidak ada yang dapat menandingi kehebatan mu." Ratu Ranee tersenyum dengan sangat bangga.


Punggung Richi ditepuk-tepuk dengan keras sekali lagi, Richi hanya meringis menahan sakit.


"Cepat, pergilah."


"Sebelum Dia pergi ke kebunnya."


"Kau tidak akan mengantarku?"


"Yakin?"


"Astaga!"


"Bercerminlah!"


"Lihatlah betapa besarnya dirimu!" Ratu Ranee kembali berjalan ketempat duduknya.


"Neek..."


Ratu Ranee menatap Cucunya dengan gemas.


"Neneek.." Richi memandang Neneknya dengan penuh harapan.


"Pergilah Richard!"


"Baiklah, Baiklah." Richi kembali menatap cermin, kemudian menghela nafas panjang sebelum meninggalkan Neneknya.


"Astaga, Anak itu." Ratu Ranee menggelengkan kepalanya.


Hari ini, Richi berpakaian rapih sekali. Dia mengenakan kemeja putih lengkap dengan jas berwarna navy bergaris silver dan sepatu hitam mengkilap. Richi menaikkan rambutnya ke atas, kemarin sore Dia menyempatkan diri untuk memangkas rambut walaupun hanya sedikit.


Kali ini Dia memilih Theo sebagai kawan perjalanannya ke Mansion Marquess Jasper.


"Bersikap baiklah Theo."


"Hari ini kita akan bertemu dengan Calon Ayah mertuaku." Richi membelai rambut Theo yang halus dan panjang.


"Apakah Aku terlihat tampan?" Richi menatap Theo dengan serius.


"...." Theo hanya menatapnya sambil terus memakan rumput.


"Baiklah, baiklah..."


Richi menyerah menunggu jawaban Theo, Dia mulai menaiki kudanya, kemudian meluncur dengan cepat meninggalkan Istal kerajaan.


* * *


Marquess Jasper sudah selesai sarapan, Dia sudah bersiap dengan pakaian berkebunnya.


Musim semi telah tiba, inilah saat yang ditunggu-tunggu olehnya.


"Semua anggurku akan mekar lagi musim ini."


"Mekar dengan cantik seperti Sofia."


Marquess Jasper menatap keluar jendela dengan wajah berseri-seri.

__ADS_1


"Ron!"


"Saya, Tuan.."


Ron dengan cepat menghampiri majikannya.


"Ikut denganku ke kebun!"


"Baik, Tuan."


"Kalau begitu..."


"Saya permisi."


Ron meninggalkan Marquess Jasper untuk menyiapkan kereta kuda yang akan mereka gunakan nanti.


Setelah selesai dengan kopinya, Dia meninggalkan meja makan, kemudian mengambil peralatannya ke gudang belakang.


"Tuan.."


"Tuan.."


Ron berlari dengan cepat, kemudian berdiri dibelakang Jasper dengan raut wajah terkejut.


"Ada apa?"


"Itu, Tuan."


Jasper menaikan kedua alisnya.


"Yang Mulia berada di teras depan."


"Yang Mulia?"


"Tuan Duke.."


Jasper mengerutkan keningnya.


"Duke Richard?"


Ron hanya menganggukkan kepalanya.


Dengan cepat Jasper melempar pakaian berkebunnya, lalu mengambil jas yang tergantung dan berjalan dengan cepat ke teras depan.


Dari kejauhan Richi dapat mengenali calon Ayah mertuanya yang sedang berjalan ke arahnya dengan cepat.


Deg


Deg


Deg


Jantung Richi berdebar tidak karuan. Dia, tidak pernah setegang itu sebelumnya.


Jasper membalas salam calon suami anaknya itu dengan senyuman.


"Yang Mulia, silahkan duduk."


"Terimakasih, Tuan."


"Panggil saja Saya Richi."


"Ah.."


"Saya tidak pantas, Tuan."


"Tidak, Tuan."


"Saya akan sangat senang jika Anda memanggil Saya Richi."


"Baiklah.."


"Richi.."


Richi sangat lega dan senang sekali Marquess Jasper dapat membuatnya nyaman dengan memanggil langsung namanya.


"Apa yang membuat Anda datang kerumah Saya yang lusuh ini Yang Mulia."


"Ah, maksud Saya, Richi."


Richi mulai merasa tegang lagi. Dia meremas-remas kedua tangannya yang sudah basah karena keringat.


"Richi..?"


"Ah.."


"Maafkan Saya.."


"Anda bisa mengulangi pertanyaannya?" Richi malu sekali mengeluarkan semua perkataannya barusan. Itu tandanya Dia tidak memperhatikan lawan bicaranya.


"Tidak apa.."


"Saya hanya ingin tau maksud kedatangan Anda.." Jasper mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang disana dengan tersenyum seramah mungkin.


"Ah.."


"Saya.."


"Saya kemari karena.."


"Karena?"


"Karena Saya ingin melamar Anak Anda." Richi berkata dengan sekali tarikan nafas.

__ADS_1


Marquess Jasper membelalakkan matanya. Dia tidak percaya Tuan Duke datang sendiri dan menyampaikan keinginannya langsung.


".."


Richi mencoba menenangkan dirinya. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Richi.."


"Saya, Tuan.."


"Jagalah Sofia." Hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulut Marquess Jasper.


Dengan cepat Richi berjalan kearah tempat duduk Jasper dan memeluknya dengan erat.


"Saya akan melakukannya, Tuan!"


Jasper menepuk-nepuk punggung Richi dengan keras.


"Ya!"


"Berusaha keraslah."


"Tentu!"


Richi kembali duduk dan mulai menyampaikan pesan Neneknya pada Jasper dengan tenang.


"Ah.."


"Saya mengerti."


"Baiklah, Saya akan menyiapkan semua hal dan langsung mengirimnya ke Pace."


"Baik, Tuan."


"Terimakasih karena Anda sudah bersedia meluangkan waktu untuk Saya."


"Tidak masalah."


"Waktu Saya tidak terbatas untuk Anda." Lagi-lagi Marquess Jasper menepuk punggung Richi dengan keras.


* * *


Matahari sudah condong ke arah barat. Tidak terasa Richi menghabiskan waktu yang lama berbicara dengan Marquess Jasper. Bahkan Jasper mengajaknya makan siang bersama di Mansion. Mereka membicarakan banyak hal, dari hal sepele sampai hal yang penting menyangkut pekerjaan yang sedang dikerjakan Richi maupun Jasper.


"Sudah lama sekali Aku tidak mempunyai teman untuk diajak berbicara selama ini." Marquess Jasper menatap Richi dengan puas.


"Saya juga merasa senang bisa menemani Anda, Tuan."


"Berbicara dengan Anda membuat Saya merasa nyaman."


"Syukurlah jika Anda merasa begitu."


"Jangan sungkan-sungkan, datanglah kapan saja Richi."


"Saya akan melakukannya, Tuan."


"Lain kali Saya akan mengajak Sofia."


HAHAHA


Marquess Jasper tertawa keras mendengar perkataan Richi.


"Tentu saja, tentu saja!"


"Kau harus membawa anak nakal itu kemari."


Richi hanya tersenyum melihat Jasper tertawa bahagia.


Setelah puas berbincang-bincang Richi berpamitan untuk pulang.


"Saya akan kembali, Tuan."


"Kembalilah secepatnya."


"Saya mengerti.." Richi membungkuk, lalu berjalan ke arah Theo yang sedang memakan rumput pemberian Ron.


"Ayo kawan." Bisik Richi ditelinga Theo.


Richi naik ke punggung Theo, lalu menepuknya. Theo berjalan perlahan, tidak lama kemudian Dia berlari dengan cepat meninggalkan Mansion.


* * *


"Astaga Theo.."


"Sepertinya aku menghabiskan 1/4 hidupku disana tadi."


"Kau tidak tau betapa tegangnya Aku."


"Bersyukurlah Aku dapat mengendaraimu pulang!"


Richi mengelus-elus rambut Theo yang berkibar tertiup angin.


Mereka telah sampai didepan Istal, Richi turun dan berjalan mengantar Theo masuk.


"Beristirahat kawan."


"Kita akan berjumpa lagi nanti." Richi memberikan tali kekang Theo pada penjaga Istal.


Setelah selesai dengan kudanya, Richi berjalan masuk menuju kamarnya. Dia memijat punggungnya yang terasa sakit karena seharian orang-orang disekelilingnya selalu menepuknya dengan keras.


"Satu tugas penting telah selesai."


"Tinggal menunggu tugas terakhir." Dia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang hangat dan nyaman. Richi menutup kedua matanya dan kemudian tertidur dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2