
Pulau Pace, Februari 1500.
Sore menjelang malam di Kediaman Kapten Hades. Seluruh pelayan sibuk mempersiapkan makan malam.
Madam Joy berlalu lalang dengan membawa beberapa tangkai bunga di tangannya dan Chris mengekornya seperti seekor itik.
Richi keluar dari dalam kamarnya, dia sudah berpenampilan rapih dan berencana menemui Sofia.
Dia melihat ke arah Paviliun Rose yang tampak sepi, kemudian berjalan kesana. Sesampainya disana Dia menjadi gugup dan bingung akan mengatakan apa.
Padahal Dia sudah menyusun kata-kata yang akan diucapkannya tadi didalam kamar. Bahkan berlatih mengatakannya saat sedang mandi.
"Sial..!" Umpatnya.
Richi jadi frustasi, akhirnya Dia berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar Sofia.
Elie yang sejak tadi mendengar suara langkah kaki yang tidak berhenti penasaran dan pergi keluar kamar untuk melihat.
CLACK!
Pintu terbuka, Richi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Seperti biasa Richi terlihat sangat tampan meskipun sedang bingung. Sore ini dia menggunakan kemeja dengan dua kancing atas yang terbuka berwarna putih dengan beberapa garis hijau dan merah di dadanya. Celana bahan berwarna hitam melengkapi penampilannya.
"Tuan Richi?" Elie berjalan mendekat, Dia mengamati Richi dari ujung rambut sampai ujung kepala.
'Sangat tampan sekali..' Gumamnya dalam hati.
"Ah.."
"Apa yang Tuan lakukan disini?" Elie memulai pembicaraan dengan sopan.
"Tidak ada.." Richi mengusap kepalanya.
"Apakah kebetulan Anda ingin menemui Nona Sofia?"
"Tidak." Jawab Richi cepat.
"Sungguh?"
"Ya, Aku tidak begitu peduli." Richi mencoba terlihat tidak tertarik, namun perilakunya berlawanan dengan perkataannya. Dia mencoba melihat kedalam kamar melalui celah pintu yang terbuka.
"Tuan ingin melihat Nona?"
"Ya.."
"Ah tidak.." Richi kembali mengusap rambutnya.
"Nona baru selesai mandi.."
"Sekarang sedang berbaring ditempat tidur."
"Apakah Dia Sudah makan?"
"Belum.."
"Chris belum datang menjemput.."
"Ah.."
"Bisakah Kau membujuk Sofia agar datang keruangan ku nanti malam?"
"Maaf? Keruangan Anda, Tuan?"
"Ya.."
"Ada masalah dengan itu?"
"Maafkanlah kelancangan Saya, Tuan.."
"Apakah Anda ingin membicarakan sesuatu?"
"Itu bukan urusanmu." Jawab Richi dingin.
"Ah maafkan Saya.."
"Apakah menurutmu Dia tidak akan mau?"
"Mm..."
"Mungkin lebih baik jika Tuan memintanya sendiri.." Elie menjawab degan gugup.
"Dia selalu kesal jika melihatku.." Richi menjawab putus asa.
"Suasana hati Nona sedang baik Tuan.."
"Mungkin Tuan bisa masuk sekarang.." Elie mencoba tersenyum.
"Sungguh?"
Elie menganggukan kepalanya. Dia membuka pintu kamar lalu mempersilahkan Richi masuk.
Richi berjalan masuk kedalam dan Elie menutup pintu dari luar.
CLACK!
Sofia sedang berbaring diatas tempat tidur, Dia melirik kearah pintu masuk dan terkejut melihat Richi.
"Kau.." Sofia refleks menarik selimut. Saat ini Dia hanya memakai kamisol karena baru selesai mandi.
"Ya.." Richi berjalan mendekat ke arah Sofia.
Jantungnya berdebar dengan kencang melihat Sofia yang terbaring dan hanya menggunakan pakaian tidur yang tipis sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.
'Elie sial..' Umpat Richi dalam hati.
"Bagaimana lukamu?" Richi menatap Sofia dengan lembut.
"Apa yang Kau inginkan?!" Sofia tidak kuasa untuk menatap Richi yang berada didepannya.
Richi mulai kehilangan kata-kata. Dia mengusap rambutnya ke belakang.
Sebenarnya jantung Sofia berdebar tidak karuan. Dia terkejut melihat Richi ada di Paviliun Rose, Dia bahkan belum merapihkan rambutnya yang masih basah karena baru keramas setelah sekian lama dan sekarang hanya mengenakan baju tidur yang tipis ini.
'Astaga Elie, mengapa Kau membiarkannya masuk? Kau ingin mempermalukan ku?'
"Maafkan Aku.."
"Apakah Kau merasa terganggu?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Sofia. Richi tidak mau membuatnya lebih kesal lagi. Dia sadar kedatangan tidak diharapkan oleh Sofia.
"Baiklah.."
"Aku akan pergi sekarang.." Ucap Richi sambil membalikan badan ke arah pintu.
Namun tangan Sofia dengan cepat meraih ujung kemejanya.
Richi merasa Dejavu, Dia ingat Sofia pernah melakukan hal yang sama. Begitupun Sofia, Dia teringat kejadian diatas Kapal Hades.
Dengan cepat Dia menarik tangannya kembali.
"Ah.."
"Maaf.." Gumam Sofia. Dia menutup wajahnya yang merah dengan kedua tangannya.
'Tangan bodoh.' Umpat Sofia dalam hati.
Jantung Richi kembali berdebar, sekilas Dia bisa melihat semburat merah dipipi Sofia. Namun Richi tidak mau merasa senang lebih dulu. Sekarang Dia bingung harus melakukan apa.
Richi tidak jadi pergi, Dia duduk diatas tempat tidur. Richi menarik tangan Sofia dari wajahnya.
"Jangan menutupnya.."
"Aku ingin melihatmu.." Ucap Richi ditelinga Sofia.
Sofia semakin gugup. Saat ini bahkan telinganya ikut berubah merah karena Richi terlalu dekat dengannya.
Sofia mendorong tubuh Richi menjauh, namun Richi menahannya dan menarik Sofia kedalam pelukannya.
"Lepas.." Sofia masih mencoba mendorong.
"Sebentar saja.."
"Kumohon.." Richi meminta dengan lembut.
Lambat-laun Sofia menyerah dan Dia membiarkan Richi memeluknya.
Jantung Sofia meloncat-loncat tidak karuan, Dia tidak ingin Richi sampai mengetahuinya.
Richi melepaskan pelukannya dengan enggan. Dia menatap wajah Sofia, membelai rambutnya yang basah dan mencium ujungnya.
"Maafkan Aku.." Ucap Richi lembut.
Sofia menutup mulutnya, Dia tidak menyangka Richi akan meminta maaf padanya.
"Mengapa Kau meminta maaf?" Sofia mencoba menatap mata Richi.
"Aku.."
"Aku bersalah padamu.."
"Apa salahmu?" Sofia mengepalkan kedua tangannya.
"Tentang Gerald.."
"Aku bersalah..." Richi menundukkan kepalanya.
Dada Sofia terasa sakit mendengar Richi mengucapkan nama ******** itu.
"Mengapa Kau melakukannya padaku?!!"
"Mengapa?!"
"Mengapa tidak?!" Sofia kesal mendengar jawaban Richi yang tidak membuatnya puas.
"Aku belum bisa mengatakan.."
"Belum? belum bisa?"
"Ya..."
"Apakah Kau akan mengatakannya padaku nanti.."
"Aku akan mengatakannya nanti.." Richi menjawab dengan sedih.
"Nanti? apa bedanya dengan sekarang?!"
"Karena..."
Richi belum bisa mengatakan alasannya sekarang.
"Karena apa?" Sofia memukul dada Richi beberapa kali.
Richi tidak menjauh dan menerima pukulan itu, Dia merasa pantas mendapatkannya.
"Baiklah.."
"Kalau itu saja yang ingin Kau katakan.."
"Keluarlah.." Sofia menunjuk ke arah pintu yang tertutup.
Richi tidak ingin pergi seperti ini. Dia ingin hubungannya dengan Sofia membaik. Dia bingung harus mengatakan apa. Richi hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Maafkan Aku.."
"Aku tidak tau kau mengatakan apa, sebaiknya Kau pergi." Sofia mengalihkan wajahnya ke arah berlawanan.
"Maafkan Aku.."
"Maafkan Aku, Sofia.."
"Cukup!" Sofia menatap wajah Richi dengan marah.
"Gerald membunuh kedua orang tuaku." Gumam Richi perlahan.
DEG
DEG
DEG
Mata Sofia terbelalak mendengar perkataan Richi. Rasa pedih mulai mengusiknya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Dia tidak menyangka akan mendengar hal yang sangat menyakitkan seperti ini.
Hatinya mulai terasa sakit dan dadanya terasa sesak. Dia menempelkan tangan didadanya dan memukulnya beberapa kali.
DUK!
DUK!
__ADS_1
DUK!
Richi terkejut melihat perilaku Sofia. Dia menyentuh dadanya dengan lembut.
"Apakah terasa sakit?"
"Bagian mana yang sakit?"
"Katakan padaku?" Raut wajah Richi terlihat cemas.
Sofia hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak.."
"Tidak sakit?"
Sofia menganggukan kepalanya.
"Syukurlah.." Richi tersenyum dengan lega.
Sofia tidak dapat menahannya lagi, air mata yang sejak tadi dia tahan telah meleleh dan jatuh dari pelupuk matanya.
UHK..
"Sakit?"
"Bagian mana?" Richi berubah panik melihat Sofia yang menangis.
Sofia tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan berbohong!" Richi mengusap air mata Sofia.
"Tidak.."
"Aku baik-baik saja.." Sofia menutup hidungnya yang mulai berair.
Richi mengambil saputangan dari kantong celananya dan mengusap hidung Sofia dengan lembut.
"Maafkan Aku.."
"Maafkan Aku, Sofi.." Richi terus meminta maaf sambil mengeringkan air mata Sofia yang masih mengalir.
"Tidak.."
"Tidak.."
"Jangan meminta maaf.." Sofia mengusap air matanya yang terus keluar.
"Kumohon.."
"Jangan menangis.."
"Maafkan Aku.."
"Maafkan Aku.."
Sofia menarik tubuh Richi kedalam pelukannya. Dia memeluknya dengan erat. Sofia tidak tahan melihat raut wajahnya yang terus merasa bersalah.
Richi terkejut karena Sofia mendadak memeluknya. Dia membalas pelukan Sofia dengan lembut.
"Jangan meminta maaf.. Kumohon.." Gumam Sofia.
"Apakah Kau sudah memaafkan ku?" Tanya Richi.
Sofia tidak menjawab, Dia hanya menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Terimakasih.." Richi melepas pelukannya dan mencium kening Sofia dengan lembut. Air mata keluar dari sudut matanya. Sofia mengusapnya dengan jari-jarinya.
"Jangan menangis.." Ucap Sofia.
"Aku tidak.." Richi menggelengkan kepalanya.
Ssst
Sofia menyentuh bibir Richi dengan telunjuknya.
"Jangan mengatakan apapun.."
"Kau tidak melakukan kesalahan.." Untuk pertama kalinya Sofia tersenyum didepan Richi.
Richi sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Inilah, inilah yang diinginkannya, senyuman di wajah Sofia, untuknya, untuk dirinya.
Air mata mengalir dari sudut matanya, sekarang Sofia yang panik. Dia mengambil kain bersih yang ada disamping tempat tidurnya, karena dia sadar saputangan Richi telah kotor olehnya.
"Jangan menangis.."
"Sudah..."
"Sudah hentikan.." Ucap Sofia sambil mengusap air mata Richi.
"Cium Aku.."
"Aku akan berhenti menangis.." Richi tersenyum dengan usil.
"Aku?"
"Menciummu?" Sofia menjawab gugup.
Sekarang Dia tidak berhenti memandangi bibir Richi yang berwarna merah muda dan telihat lembut. Richi gemas melihat ekspresi Sofia yang lucu.
Dia menjilat bibir Sofia yang terbuka dengan cepat.
"Kau..!!" Sofia mengusap bibirnya yang basah.
Richi tertawa melihat ekspresi Sofia yang berubah dengan cepat.
"Hentikan..!" Ucap Sofia.
"Ya.."
"Ya.." Richi kembali mengusap air matanya yang keluar.
Sofia menarik kerah baju Richi dan mencium bibir Richi dengan cepat.
CUP!!
Richi terkejut, matanya terbelalak. Dia tidak menyangka Sofia akan melakukan hal itu.
"Apa??" Ucap Sofia dengan berani.
__ADS_1
Richi menarik bagian belakang leher Sofia dengan cepat dan mencium bibirnya.
Sofia tidak melakukan perlawanan.