Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Air Terjun


__ADS_3

Pulau Pace, Februari 1500.


Langit tampak cerah, beberapa awan putih terlihat menghalangi sinar matahari yang terik. Angin berhembus sepoi-sepoi membuat sebagian rambut Sofia terbang kesana-kemari.


Aliran sungai yang deras membawa perahu kecil yang dinaiki Sofia dan Richi melaju cukup kencang. Richi berhenti mendayung dan duduk membelakangi Sofia. Dia memasukan kakinya kedalam air yang jernih, punggung mereka bersentuhan. Keringat mengalir dari punggung Sofia, Dia mengipas-ngipaskan tangannya.


"Kemana kita akan pergi?" Sofia kembali memulai percakapan.


"Kita akan kedanau."


"Danau?"


"Seperti Danau Ble?"


"Ya.."


"Seperti Danau Ble."


"Apakah lebih biru dari Danau Ble?"


"Tidak, Danau ini lebih hijau dari Danau Ble."


"Aku tidak sabar ingin melihatnya.."


"Kau bisa melihat air terjun didekat sana."


"Apakah ada air terjun?"


"Ya.."


"Kita akan melihat air terjun setelah melewati danau."


"Sungguh?"


Richi menganggukan kepalanya.


"Seandainya Aku membawa kertas dan kuas."


"Kau ingin melukis?" Richi melirik ke arah Sofia.


"Jika ada kanvas, Aku akan melukis."


"Tapi tidak usah khawatir, Kita bisa melakukannya nanti." Sofia tersenyum, kemudian kembali menggerakkan kakinya didalam air.


"Aku tidak tau Kau suka melukis.."


"Hanya sekedar hobi.."


"Bukan hal yang istimewa.."


"Tapi.."


"Aku ingin mengetahui semua hal tentangmu.."


"Kau akan mengetahuinya.." Tidak sengaja, tangan Sofia menyentuh tangan Richi. Refleks Sofia menariknya lagi.


Richi menaikkan kakinya. Dia menghadap punggung Sofia dan memeluknya dari belakang.


Sofia terkejut, tapi Dia tidak menolak pelukan Richi.


"Kau berkeringat.."


"Apakah terasa panas?" Richi meniup tengkuk Sofia yang berkeringat.


Tubuh Sofia bergidik ketika Richi meniup lehernya. Refleks Dia menutup lehernya.


Richi tertawa melihat kedua telinga Sofia yang berubah merah dari belakang.


"Uughhh.."


Sofia kesal karena terus dipermainkan.


Perahu masih bergerak mengikuti aliran sungai. Hanya ada mereka berdua disana. Sepertinya semua orang sengaja tidak pergi ketempat ini karena mengetahui Richi dan Sofia akan berada disana.


Sekelompok burung camar melintas dan hinggap di atas pohon Cemara yang tinggi. Beberapa diantaranya membawa ranting-ranting yang cukup kecil di kedua kakinya.


"Aku suka wangi tubuhmu.." Richi berbisik di telinga Sofia.


Jantung Sofia kembali berdegup kencang sesaat setelah Richi menjauhkan bibirnya dari telinga Sofia. Hembusan nafasnya yang hangat masih terasa ditelinganya. Lagi-lagi pipi Sofia bersemu merah dan Dia kembali menutupnya.


"Kita akan segera sampai, apa Kau ingin Aku menggendongmu lagi?"


"Aku akan berjalan.."


"Ah.."

__ADS_1


"Padahal Aku menyukai saat kau memeluk leherku erat.." Richi tertawa.


"Jangan tertawa.."


"Kau yang menyuruhku.."


"Tentu.."


"Aku memang ingin Kau memelukku.."


"Kau memanfaatkan ku.." Sofia mencubit lengan Richi yang memeluknya.


* * *


Dari tempat mereka, Danau yang luas mulai terlihat. Seperti yang dikatakan Richi, Danau itu lebih hijau dari Danau Ble, dan air nya sangat jernih, sehingga kumpulan ikan berwarna-warni dapat terlihat dengan jelas disana.


"Ya Tuhan..."


"Indah sekali..." Sofia bersorak senang ketika Danau itu sudah ada di depannya.


Dia menutup mulutnya, matanya berbinar-binar melihat pemandangan yang ada dihadapannya.


"Aku tau Kau akan menyukainya.."


"Ini sangat indah sekali.."


"Apa nama Danau ini?


"Danau 'Clair', Bening seperti namanya.."


"Danau 'Clair'? Bagus sekali."


"Lalu.."


"Bisakah Aku berkemah disini?"


"Seperti yang orang-orang lakukan, mereka menulisnya dibuku." Sofia tampak antusias.


Richi tertawa melihat ekspresi Sofia.


"Jika Kau menginginkannya.." Richi memeluk erat Sofia.


"Kita akan melakukannya.." Richi mengedipkan sebelah matanya.


Setelah memasuki Danau 'Clair', sebuah ikan berwarna kuning bergaris putih mendekat ke arah perahu, dan berputar-putar didekat Sofia.


"Ikan itu sangat cantik..."


Richi mengikuti tatapan mata Sofia.


"Kau menginginkannya?"


"Tidak.."


"Aku hanya ingin melihatnya.."


Richi turun dari perahu, kemudian menarik perahu ke tepian dan mengikatnya pada sebatang pohon Cemara yang cukup besar.


Sofia turun dari perahu, Richi menggendongnya karena khawatir pakaian Sofia akan basah.


"Air terjun?"


"Tentu!!"


Richi berjalan lebih dulu, tangannya menggandeng tangan Sofia.


Perjalanan ke lokasi air terjun sangat menyenangkan. Sofia disuguhi berbagai macam tanaman yang tumbuh di sepanjang jalan.


Berbagai macam bunga berwarna-warni tumbuh disana. Richi memetik setangkai bunga berwarna kuning lalu menyelipkannya di telinga Sofia.


"Cantik sekali.." Richi mengecup kening Sofia.


Mereka kembali berjalan menyusuri jalan setapak. Terlihat kelinci putih sedang mengejar kupu-kupu di semak belukar. Sofia berhenti sejenak dan memperhatikannya.


Richi memperhatikan Sofia yang terus tersenyum sepanjang perjalanan.


* * *


"Kau mendengarnya??" Richi berhenti berjalan dan berbalik menatap Sofia.


"Ya.."


"Seperti suara gemuruh.."


"Apakah itu suara air yang jatuh?"

__ADS_1


Richi menganggukan kepalanya.


"Apakah sudah dekat?"


"Kita akan melihatnya sebentar lagi."


"Air terjun itu ada dibalik bukit itu.." Richi menunjuk bukit yang ada didepan.


Sofia berjalan lebih dulu mendahului Richi. Dia menyentuh tangan Richi dengan cepat.


"Ayo berlomba!!" Sofia berteriak dari depan.


Richi tertawa dan mengejar Sofia yang berlari.


Dengan mudah Sofia dapat dilewati oleh Richi, Richi menarik tubuh Sofia dan menggendongnya, lalu Dia berlari lagi.


"Aku bisa berjalan.." Sofia menggerakkan kakinya.


"Aku tau.."


"Aku hanya ingin melakukannya.." Richi mengecup bibir Sofia dengan cepat.


"Kau..!" Sofia memukul dada Richi dengan cepat. Richi hanya tertawa dan pura-pura tidak mendengar omelan Sofia.


Akhirnya mereka sampai didepan Air Terjun. Terdapat dua Ari terjun besar dan tinggi, air terjun itu bersebelahan. Yang kanan lebih tinggi dari yang kiri. Kira-kira tingginya 100 meter dan 80 meter.


"Dua??" Sofia terkejut melihat dua air terjun yang ada didepannya.


Padahal mereka berjarak 50 meter dari air terjun itu, namun pakaian mereka basah terkena percikan airnya.


"Ya.."


"Air terjun ini bernama 'Compagnon', Kau menyukainya?"


"Compagnon?"


"Jodoh?"


"Ya.."


"Konon, dulu hanya ada satu air terjun. Namun air terjun satunya muncul begitu saja tidak lama kemudian setelah ditemukan oleh penduduk."


"Begitukah?"


"Hebat sekali.."


"Air terjun ini sangat tinggi..." Sofia melihat ke arah wajah Richi, yang ternyata Richi juga sedang melihat kearahnya.


"Apa?" Sofia memalingkan wajahnya. Dia merasa malu karena ketahuan sedang memperhatikan Richi.


"Maaf.."


"Pakaianmu.." Richi menunjuk kearah pakaian Sofia yang tembus pandang. Wajahnya berubah merah padam, dia menutupnya.


Kedua belahan dada Sofia terlihat sangat jelas. Sofia mengenakan pakaian dalam berwarna biru muda, kontras dengan warna kulitnya yang pucat.


Richi menurunkan Sofia ditempat yang kering kemudian membalikkan badannya.


Jantung Sofia berdebar lagi, tubuhnya terasa panas saat mengingat mata Richi yang menatapnya. Dia tidak tau mengapa bisa merasakan hal itu.


Richi berjalan menyusuri anak sungai yang kecil, terkadang Dia melompat diatas bebatuan yang cukup besar dan membalikkan badannya hanya untuk melihat Sofia yang sedang berdiri menatapnya.


Sofia berjalan pelan mengikuti sungai, Dia berhenti didepan bunga anggrek bulan berwarna putih yang sangat cantik. Sofia mengamatinya dari dekat.


Dia duduk ditepi sungai dan memasukan kakinya lalu kembali bermain air. Lama kelamaan Sofia mulai memasukan seluruh kakinya, lalu separuh tubuhnya kedalam air. Ada perasaan tenang saat berada dalam air, terlebih Dia dapat merasakan kakinya menyentuh dasar.


Tidak lama kemudian, Richi kembali dengan sebuah bunga Lily ditangannya. Dia terkejut melihat Sofia berada dalam air, dengan cepat Richi turun kesana dan duduk di belakang Sofia. Dia menarik tubuh Sofia kedalam pelukannya, sedangkan sebagian tubuh Sofia masih berada didalam air.


"Kau membuatku terkejut.." Richi mencium rambut atas Sofia yang masih kering.


Sofia melihat keatas dan tersenyum melihat Richi.


"Untukmu.." Dia memberikannya bunga Lily pada Sofia.


"Terimakasih.." Sofia mencium bunga itu.


Sofia bersandar dengan nyaman dalam dekapan Richi saat gelombang air menyapu pahanya sehingga Maxi dress yang dikenakan Sofia mengembang seperti kelopak bunga.


Sofia menghirup bunga Lily yang ada ditangannya beberapa kali kemudian tersenyum dan melihat ke arah Richi yang sedang menatapnya.


Sinar matahari jatuh mengenai celah dedaunan yang ada diatas mereka. Sinarnya menerpa Sofia, mengenai pipinya yang berwarna merah, hidung dan bibirnya yang kecil.


Rambut Sofia yang bergelombang tergerai diatas payudaranya, Richi dapat merasakan tarikan nafas Sofia saat memeluknya dari belakang. Ini adalah pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Richi, Sofia tidak terlihat seperti manusia saat ini, Dia adalah mahluk yang dapat menggodanya dengan mudah, menerbangkannya keawan lalu menjatuhkannya dengan mudah, Richi tersenyum dan menggigit bibirnya.


Richi membalikan Sofia ke hadapannya. Sofia bersandar ketepi sungai yang penuh dengan bunga-bunga liar berwarna kuning. Richi mengangkat dagunya, sinar matahari menyentuh kelopak mata Sofia dengan lembut. Punggung Sofia melengkung dengan anggun dibawah kehangatan tangan Richi yang kuat. Tubuh mereka bersentuhan, Richi tidak dapat menahannya lagi, Sofia tidak melakukan penolakan dalam bentuk apapun, Dia menutup kedua matanya dan membiarkan Richi menciumnya.

__ADS_1


__ADS_2