
Tangis Sofia pecah seketika melihat pria yang ada didepannya.
Dia menangis seperti seorang gadis kecil yang kehilangan permennya.
"Huuuh huuuuuuu"
"Uuuuh huuuuuuuuu"
"Mengapa Kau lama sekali! Huuuuu..."
"Kau terlihat kacau.." Dia menyelimuti tubuh Sofia dengan mantelnya.
Nafas Sofia dengan cepat memburu, tubuhnya tersentak beberapa kali, dia merasakan rasa panas menyelimuti seluruh tubuhnya seketika.
"Menjauhlah.. menjauhlah dariku..!!" Pekik Sofia tiba-tiba.
Sofia mendorong tubuh Richi menjauh.
"Ada apa?" Richi terkejut mendengar perkataan Sofia.
"Menjauhlah! Tubuhku panas, menjauhlah! Ada yang aneh dengan tubuhku! Menjauhlah!" Sofia berteriak kencang.
"Esme.. Esme! Apa yang kau minum?" Tanya Richi.
"Aku tidak tau! Aku tidak tau! Menjauhlah!"
"Katakan padaku, apa yang Kau minum!" Richi memaksa mendekati Sofia.
"Aku tidak meminum apapun! Demi Tuhan! Menjauhlah!" Sofia bersikeras mendorong Richi menjauh.
"Kumohon...." Sofia menutup bagian kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kau? Kau menghirup sesuatu?"
"Aku hanya pergi mandi dan langsung kemari. Kumohon menjauhlah..." Sofia memohon.
"Sabun.. Sabun itu! Kau menggunakannya?"
"Tentu saja, semua orang memakainya..." Sofia sudah tidak punya tenaga untuk mendorong ataupun berdebat.
"Brengsek!!" Richi dengan cepat menggendong tubuh Sofia.
"Apa yang Kau lakukan? Lepaskan Aku, kumohon...."
Richi keluar dari ruangan itu, kemudian mencari ruangan lain, mendorong pintunya, lalu masuk dan menguncinya dari dalam.
"Kumohon.. pergilah, jangan mendekat..." Richi tidak menghiraukannya dan menurunkan Sofia ditempat tidur.
Saat hendak pergi, Sofia menarik tangan Richi dan mendekatkannya ke wajahnya.
"Aku merindukanmu.. ku mohon jangan pergi..." Gumam Sofia ditelinga Richi.
"Astaga.. Kau mahluk kecil! Apa yang harus kulakukan padamu?!"
"Jangan pergi.." Sofia memeluk lututnya dan menangis.
__ADS_1
"Aku tidak, tidak akan pergi.." Gumam Richi.
"Kau berjanji brengsek! Kau tidak akan pergi!" Sofia menarik bahu Richi dan duduk diatas perutnya dengan cepat.
"Esme! Apa Kau sadar dengan apa yang sedang Kau lakukan sekarang?"
Sofia menggelengkan kepalanya. Bahkan Sofia tidak sadar bahwa dia tidak menutup payudaranya, dan juga bagian tubuhnya yang lain.
Richi menutup kedua matanya. Sungguh sebuah neraka baginya. Dia sudah tidak sanggup lagi meneruskan semua ini jika Sofia terus mendesaknya seperti itu.
Setelah malam-malam panjang yang dia habiskan untuk mencari Sofia. Mencari dari satu pulau ke pulau lainnya. Dan malam penuh badai yang terus menyerang, sekarang Sofia tepat diatas tubuhnya, sedang menggodanya bagaikan buah terlarang yang ada disurga.
"Esme, hentikan.. kumohon.." Gumam Richi.
"Jika Kau terus melakukan hal seperti ini, Aku akan benar-benar berada didalam neraka."
Sofia tidak menghiraukan perkataan Richi, Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Richi. Kini bibir mereka hanya berjarak tidak labih dari 5 cm saja. Dia membelai hidung, pipi dan bibir Richi dengan lembut. Tersenyum bagaikan melihat sebuah kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidupnya.
"Richi..." Gumam Sofia lembut.
Sofia menghirup aroma tubuh Richi dan bergumam "Aku menyukai aroma tubuhmu.."
"Ah, Sial!" Ucap Richi.
Dia sudah tidak bisa mengontrol tubuhnya lagi, Richi bangkit dan membuat tubuh Sofia berada tepat di bawah tubuhnya.
"Kau yang memintanya Esme.." Ujar Richi.
Richi menengguk sebuah botol yang ada disebelah tempat tidur, dia mencelupkan jarinya kedalam botol itu, lalu menempelkan jarinya yang basah dibibir Sofia. Jarinya membuka mulut Sofia yang lembut dan basah. Menjelajahi setiap sudut didalamnya.
"Nhgggh..."
Perlahan, Richi mengecup kening Sofia, turun kepipinya dan bibirnya. Sentuhan yang lembut membuat Sofia merasa nyaman. Bagian tubuhnya yang lain terasa panas dan bergejolak.
Bibir Richi membuka bibir Sofia. Menggigit bagian bawahnya dengan lembut. Aroma tubuh Sofia terasa memabukkan baginya.
Sungguh diluar akal sehat bahwa Richi tidak bisa mengontrol dirinya sekarang. Dia tidak percaya, saat ini dia sedang mencium seorang wanita terlarang yang sedang dikuasai oleh obat perangsang.
Jantungnya berdegup begitu kencang saat belaian tangan Sofia yang dingin terasa di punggungnya.
Sungguh sesuatu yang baru baginya. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak wanita yang tidur dengannya, tapi tidak ada yang seperti Sofia. Richi tidak pernah menikmati hal-hal kecil seperti sentuhan, tapi Sofia berbeda. Hal kecil seperti itu membuatnya terasa panas dan membara.
Tangan lentik Sofia terus-menerus menggodanya dibagian dada dan perut. Semakin lama tubuh Richi semakin tegang.
Seakan-akan tangan itu memang diciptakan untuk membuatnya bahagia.
Leher Sofia yang jenjang dan halus membuatnya haus, dia menjilati semua bagian lehernya, memasukan lidahnya kedalam telinga Sofia yang cantik dan membuatnya mendesah.
"Hnnnng...."
Desahan Sofia membuatnya buta dan tidak lagi mengenal kata terlarang. Richi tidak menahan dirinya lagi. Dengan cepat dia melumat payudara Sofia yang sejak tadi terus-menerus menggodanya.
"Nnngg..."
Tangannya menjelajahi setiap inci tubuh Sofia, mencari bagian-bagian yang akan membuatnya kembali mendesah dengan nikmat.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Sofia kembali mendapatkan kesadarannya. Jantungnya berdegup dengan kencang ketika menyadari apa yang sedang terjadi antara dirinya dan Richi.
"Riiiichi.."
"Hmmm..."
"Heentikaan Richi.." Sofia berbicara susah payah.
"Kumohon..."
Richi susah payah menahan dirinya sendiri karena godaan yang terus menerpanya, dan sekarang wanita ini dengan mudahnya mengatakan dia harus berhenti?
ASTAGA!
Tuhan memang mempunyai selera humor yang kejam. Ya.. Tuhan memang sedang menggodanya. Entah apa yang Tuhan rencanakan, tapi Richi memang sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Richi menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Richii kumohon..." Sofia mencoba mendorong tubuh Richi yang menempel ditubuhnya.
Richi mengontrol akal dan tubuhnya. Mencoba berbicara dengan akal sehatnya, Dia bukan tipe lelaki yang senang memaksa, terlebih wanita yang ada didepannya. Dengan susah payah, dia berhasil melepaskan diri dari Sofia.
Sofia menangis begitu saja ketika Richi melepasnya.
"Menjauhlah." Ucap Richi.
"Jangan pergi.. kumohon." Balas Sofia.
"Apa yang sebenarnya Kau inginkan?" Gumam Richi.
Richi menatapnya tajam. Dia mengambil mantel dan memakaikannya pada Sofia.
"Jangan menangis." Richi mengusap air matanya dengan lembut.
"Dan jangan melakukan hal itu pada orang lain!" Ancamnya.
Sofia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Richi membuka pintu dan menggendong Sofia keluar.
Suasana 'Le Paradise' masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang mengetahui apa yang telah terjadi pada 3 pria tua yang mencoba memperkosa Sofia. Kini ruangan itu kembali bersih, tanpa ada sedikitpun noda darah disana. Seperti tidak terjadi apapun.
Sofia masih gemetar karena teringat kejadian yang baru saja Dia alami. Tubuhnya mengingat dengan jelas apa yang telah terjadi, dia merasa kotor dan tidak ingin lagi berada ditempat itu.
"Menjijikan.." Gumamnya.
"Kau seperti tidak pernah mengalami hal seperti itu." Ucap Richi.
"Aku tidak pernah mengalami pelecehan seksual! Ini pertama dan terakhir!" Ucap Sofia kesal sambil menahan air matanya.
"Ya, tentu saja. Karen Kau melakukannya dengan Gerald atas dasar suka sama suka." Richi berkata dengan wajah datar.
"Aku ingatkan, Aku tidak pernah dan belum sekalipun tidur dengan siapapun! Jika hanya tidur bersama itu dihitung, berarti Aku hanya tidur bersamamu!" Sofia berteriak ditelinga Richi.
Richi menutup telinganya dengan jarinya, dia menutup mulut Sofia yang terus berbicara.
__ADS_1
"Aku harus mencari kain untuk menutup mulutmu."
"Dasar brengsek!!" Sofia menggigit tangan Richi dengan keras.