
Istana Kerajaan, Roseland. Maret 1500.
Sofia sudah seminggu berada di Istana Kerajaan. Ratu Ranee selalu melarangnya pulang dengan alasan "Kelak, Kau akan tinggal disini. Jadi biasakanlah." Itulah perkataan yang selalu Beliau katakan jika Sofia meminta izin untuk pulang.
Selama itu juga Sofia sudah mengelilingi seluruh ruangan yang ada di Istana. Dari depan hingga belakang, dari bawah sampai atas. Namun, hingga detik ini pun Dia tidak hapal seluruh ruangan yang dikunjunginya itu. Bahkan, Dia lupa jalan untuk kembali ke ruangannya sendiri.
Beruntung Elie selalu menemaninya ketika berada disana. Saat ini pun Elie membantu Sofia kembali ke ruangannya.
"Aku tidak sanggup lagi berjalan Elie.."
"Dimana kita sekarang?"
"Nona.."
"Kita sudah melewati jalan ini puluhan kali.."
"Apakah Anda benar-benar tidak ingat?"
"Astaga Elie, kau juga tau aku tak pernah pergi kemanapun ketika berada di mansion."
"Itu memang benar."
"Kita harus mengikatkan tali dikaki Anda, Nona." Elie terkekeh membayangkan hal lucu itu.
"Astaga Elie, Kau pikir Aku anak kecil yang akan tersesat."
"Anda lebih buruk Nona, bahkan anak kecil pun tau jalan pulang."
"Tertawalah sesukamu.." Sofia kesal melihat Elie yang menertawakannya.
Kamar yang ditempati Sofia tidak lebih besar dari kamar Duke of Roseland, Richard.
Ratu Ranee sengaja memilih kamar untuk Sofia yang berjarak dekat dengan kamar cucunya itu. Berbeda dengan kamar Richi, kamar yang ditempati oleh Sofia didominasi warna Lilac dengan wallpaper bunga-bunga kecil berwarna putih yang memenuhi dinding. Sofia menyukai kamar ini, Dia sudah merasa nyaman hanya dengan sekali lihat. Terutama karena kamar ini mempunyai aroma yang sama dengan kamar Richi, yaitu aroma lavender.
Sofia berjalan ke arah jendela yang besar dan membukanya dengan sekali dorong. Dia dapat melihat taman belakang yang luas.
Saat ini salju diluar sudah tidak setebal dulu saat hari pertama Sofia tiba. Jalanan yang kemarin tertutup salju mulai terlihat dan tidak ada lagi tanaman yang membeku, pertanda musim semi akan segera tiba.
Di ibukota Roseland saat Pertengahan Maret selalu diadakan festival. Semua orang akan mengenakan pakaian hangatnya dan melakukan parade, Sofia sudah tidak sabar ingin melihatnya.
"Nona, udara semakin dingin. Lebih baik Anda menutupnya."
"Ah.."
"Sebentar lagi saja."
"Saya akan mengambilkan minuman hangat." Elie berjalan keluar.
"Kapan Kau akan kembali?"
"Musim semi akan segera tiba.."
Sofia mengepalkan tangannya lalu menghela nafas.
"Sudah satu bulan, Kau tidak mengirimkan lagi surat."
"Apakah hanya Aku yang menahan rindu?"
Dia menutup jendela kemudian duduk di tempat tidur.
"Nona, minumlah.."
"Anda terlihat kedinginan." Elie memberikan segelas susu hangat.
"Bukankah Kau ada janji ke pelabuhan?"
"Kau belum pergi?" Sofia menghabiskan seluruh isi gelas dengan cepat.
"Ah.." Pipi Elie bersemu merah.
"Sebentar lagi makan siang."
"Kau harus cepat berangkat dan kembali sebelum malam."
"Bisakah Saya?"
"Tentu saja!"
"Kapten Clark akan menunggumu."
"Terimakasih, Nona.." Elie membungkuk lalu berlari keluar.
"Dasar, anak itu."
"Mau sampai kapan Dia terus menempel seperti prangko?"
"Aku harus sedikit mendorongnya."
Begitulah Sofia menghabiskan seluruh harinya di Istana. Terkadang Ratu Ranee menemuinya untuk minum teh bersama atau sekedar untuk berbincang-bincang.
Tok
Tok
Tok
Sofia melirik ke arah pintu, tapi tidak ada siapapun yang membuka pintu. Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.
CLAK!
Pintu terbuka dan Count France berdiri tepat didepan pintu.
"Ah.."
"Selamat siang Tuan.." Sofia tersenyum dan membungkukkan punggungnya.
"Selamat siang, Lady.."
__ADS_1
"Saya kemari karena Ratu Ranee.."
"Yang Mulia?"
"Benar, Beliau ingin bertemu dengan Anda, Lady.."
"Ah.."
"Apakah sekarang?"
"Anda bisa bersiap lebih dulu.." Count France tersenyum dengan ramah.
"Terimakasih, Tuan.."
"Saya akan bergegas.."
"Tentu.."
Count France pergi setelah mengutarakan maksud kedatangannya.
Sofia masuk kedalam kamar lalu bersiap dengan cepat. Dia tidak mau menggunakan pakaian yang berlebihan dan hanya ingin menggunakan pakaiannya saat ini karena merasa nyaman.
"Astaga.."
"Aku tidak tau kemana jalannya.."
"Elie.." Sofia ingat Elie tidak ada disana.
"Ah.."
"Aku akan menemukan ruangannya.."
Sofia berjalan lurus melewati lorong yang sepi. Dia tidak yakin harus berjalan ke arah mana, Dia hanya menggunakan ingatannya yang samar.
"Aku yakin belok ke kanan."
"Mm.."
"Lalu ke kanan lagi.."
"Ah.."
"Apakah selanjutnya ke kiri?"
.
.
.
.
Aaargh!!
"Astaga.."
"Dimana ini?"
"Mengapa tidak ada satupun pelayan?"
"Astaga.."
"Ratu Ranee pasti sudah menunggu.."
"Apa yang harus Aku lakukan."
Dari kejauhan terdengar suara seseorang berbicara. Sofia berjalan mendekat.
Ruangan yang selalu terkunci itu terbuka. Sofia yakin ketika pagi di lewat dengan Elie, ruangan itu terkunci. Sofia ingat karena pintu ini sama besarnya dengan pintu kamar Richi, namun warnanya hitam kelam, bukan emas.
"Mungkin Dia dapat mengantarku bertemu dengan Yang Mulia."
Sofia berjarak semakin dekat, dari kejauhan Dia dapat mengetahui bahwa itu adalah suara seorang pria.
"Kau sudah melakukannya?!"
Langkah Sofia terhenti karena mendengar suara yang dia kenali, tubuhnya terasa membeku seketika.
"Sudah, Tuan."
"Kau yakin Dia masuk kedalam jurang?!"
"Saya memastikannya sendiri, Tuan."
Sofia hampir terjatuh, Dia memegang pintu dan menutup mulutnya. Keringat dingin mengalir dipunggungnya.
HAHAHAHAHA
Pria itu tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan lelaki bertubuh mungil yang ada disebelahnya.
Tanpa melihat wajahnya pun Sofia mengetahui dengan jelas siapa pria brengsek yang ada didalam sana.
Sofia memutar tubuhnya dengan cepat, lalu berlari meninggalkan lorong itu.
BRUGH!!
Tubuhnya menabrak seseorang dan berhenti seketika.
"Lady Sofia?" Count France memegang bahu Sofia dengan erat.
"Ah.."
"Tuan.." Dahi Sofia berkeringat. Count France menawarkan sapu tangan pada Sofia.
"Terimakasih.."
"Mengapa Anda berada disini?"
__ADS_1
"Mm.."
"Maafkan Saya Tuan, Saya tersesat.." Sofia ingin cepat pergi dari tempat itu.
"Begitukah?"
"Maafkan Saya, seharusnya Saya menunggu Anda tadi.."
"Tidak apa-apa, Tuan."
"Ini salah Saya yang tidak mengingat seluruh ruangan."
Count France tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sofia.
"Lady, jangankan Anda. Saya juga sering tersesat, padahal sudah puluhan tahun berada disini."
"Ah.."
"Begitukah?"
"Tentu saja, mari Saya antarkan.."
"Terimakasih, Tuan." Sofia merasa lega dapat segera pergi dari tempat itu.
Ratu Ranee sudah berada disana. Beliau duduk sambil membaca sebuah buku.
"Maafkan atas keterlambatan Saya, Yang Mulia.." Sofia membungkuk ketika Ratu Ranee melihat kearahnya.
"Ah.."
"Sofia, duduklah.."
Sofia duduk disebelah Ratu Ranee, namun pikirannya masih berada disana. Ditempat pria itu berada dengan suara dan wajahnya yang menjijikkan.
"Terimakasih.."
"Ada yang ingin Aku sampaikan.."
"Mengenai apa Yang Mulia.."
"..."
"France, mana Dia?" Ratu Ranee menatap Count France yang berdiri disebelah pintu.
"Ah.."
"Saya akan segera kembali."
Sofia mengerutkan dahinya karena tidak mengerti.
"Sofia.."
"Saya, Yang Mulia.."
"Aku harap Richard akan pulang lebih cepat, agar kalian bisa segera melangsungkan pernikahan." Ratu Ranee tersenyum menatap Sofia.
"Pernikahan Yang Mulia?"
"Ya.."
"Pernikahan akan dilaksanakan saat musim semi jika Richard pulang lebih cepat."
Wajah Sofia memerah, Dia tidak menyangka Ratu Ranee akan membahas hal seperti itu. Senyuman tidak bisa lepas dari bibirnya. Sejenak Dia melupakan kejadian yang baru saja Dia alami.
"Ah.."
"Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu.."
"Seseorang Yang Mulia?"
"Ya.."
"France, bawa Dia masuk."
"Baik, Yang Mulia."
Count France keluar dan menemui seseorang.
Pintu terbuka dan Pria itu masuk kedalam. Jantung Sofia berdetak dengan kencang. Rasa marah dan benci menjadi satu, Sofia tidak yakin ekspresi apa yang sedang Dia perlihatkan saat ini.
Ratu Ranee berdiri dan memeluk pria itu, Dia terkejut melihat Sofia, namun dengan cepat Dia tersenyum dan menunjukkan raut wajah tidak bersalah.
"Sofia.."
"Dia adalah cucu dari adikku yang telah wafat."
Deg
Deg
Deg
Jantung Sofia berdetak semakin cepat, Dia sudah mengepalkan kedua tangannya. Rasa marah benar-benar tidak bisa dibendung lagi.
"Sofia?"
Ratu Ranee berjalan kearahnya dan menatap Sofia.
"Ada apa Sofia?"
"Tidak, tidak ada apapun Yang Mulia.." Sofia tidak berani menatap Ratu Ranee.
"Gerald.."
"Perkenalkan ini Lady Sofia Esmeralda. Putri satu-satunya Marquess Jasper."
Gerald tersenyum dan menarik punggung tangan Sofia dan menciumnya.
__ADS_1
"Senang bertemu dengan Anda, Lady Sofia.." Sebuah senyuman licik tergurat dibibirnya.
Sofia merasa jijik, Dia menghempaskan tangan Gerald. Beruntung, Ratu Ranee tidak melihatnya.