
Istana Kerajaan, Roseland. April 1500.
Tok
Tok
Tok
Sofia menoleh ke arah pintu, tanpa sadar Dia mengerutkan keningnya.
"Sofi.."
"Sweet heart.."
"Bukalah pintunya."
Deg
Deg
Deg
Terdengar suara dalam dan berat dari balik pintu. Sofia tersenyum, lalu berlari ke arah pintu dan membukanya dengan cepat.
KLAK.
Pintu terbuka.
Richi berdiri tepat didepan pintu dengan senyum lebar di wajahnya. Dia memegang sebuah kotak kecil berwarna kelabu yang dibungkus kain bercorak abstrak.
"Apakah sudah terlalu malam untuk berkunjung?" Richi melihat arloji ditangannya. Jarum jam menunjukkan angka 11 malam.
"Sepertinya hampir tengah malam."
"Kalau begitu.."
"Aku akan kembali nanti.." Richi tersenyum dan hendak pergi lagi.
Namun..
Sofia menggelengkan kepalanya, Dia menarik lengan Richi dari saku celananya lalu mengajaknya masuk.
"Ingat, Kau yang mengajakku.." Richi mengedipkan sebelah matanya.
Sebuah cubitan mendarat tepat di perut Richi.
Achk!
"Sakit?"
"Tentu saja.." Richi mengusap-usap perutnya yang rata dan berotot itu.
"Dasar pembual." Sofia cemberut, Dia berjalan lebih dulu kedalam kamarnya, lalu duduk di tempat tidur dan menyilangkan tangannya didada.
Richi mengikutinya dari belakang, kemudian berlutut didepan Sofia.
Dia mengambil kotak kecil dari saku celananya dan memberikannya pada Sofia.
"Apa ini?" Sofia mengerutkan keningnya.
"Bukalah.."
Dia mengambilnya lalu membuka kain penutup dengan tidak sabar.
Sebuah kilauan berwarna hijau terlihat dari dalam kotak.
Sofia mengambilnya.
"Liontin?"
Richi mengangguk dan tersenyum.
"Untukku?"
Lagi-lagi Richi mengangguk.
"Tapi.."
"Kenapa Liontin?"
"Ah.."
"Itu adalah peninggalan Ibuku.."
"Kalau Kau tidak ma.."
"Aku mau!"
"Aku akan memakainya sekarang juga!"
Sofia mengalungkan Liontin itu dilehernya, namun Dia kesulitan untuk mengunci bagian belakangnya.
Richi berdiri dan memutar tubuh Sofia. Dia merapihkan rambut Sofia yang basah dan tergerai, lalu memasangkan Liontin itu dilehernya.
Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari leher Sofia yang jenjang dan putih. Rambut-rambut halus tumbuh menghiasi bagian belakang lehernya.
CUP.
Sebuah kecupan mendarat disana.
"Heii.." Refleks Sofia membalikan tubuhnya, sekarang mereka berdua berhadap-hadapan dan hanya berjarak beberapa cm saja.
Richi terkejut dan segera menutup wajahnya.
"Ada apa?" Sofia menyentuh kening Richi.
"Apa Kau sakit?"
Richi menggelengkan kepalanya.
"Tapi.."
"Kenapa wajahmu memerah.."
HAHAHA
Richi tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sofia.
"Apakah terlihat seperti itu?" Ucap Richi.
"Ya.."
"Aku baik-baik saja Sofi.."
"Sungguh?"
Richi membuka tangannya, Dia tersenyum aneh.
Tanpa sadar Sofia mengerutkan keningnya lagi.
"Kau terlihat bingung." Ucap Richi.
"Tentu.."
"Namun, Kau terlihat lebih aneh Richi."
"Begitukah?"
Kali ini Sofia yang mengangguk.
Richi tertawa, Dia menarik Sofia kedalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.
"Kau sangat wangi.."
"Aku menyukainya.." Richi berucap tanpa sadar, namun beberapa saat kemudian Dia menyesali perkataanya. Perkataannya terdengar vulgar.
__ADS_1
"Ah, maafkan Aku." Ucapnya kemudian.
Deg
Deg
Deg
Richi tidak menyadari bahwa beberapa kata yang keluar dari mulutnya membuat jantung Sofia berdebar tidak karuan. Sekarang seluruh wajah Sofia terlihat lebih merah dari wajahnya.
Sofia tidak merespon perkataan Richi, tubuhnya seperti berhenti bergerak, kecuali jantungnya yang terlihat akan melompat dari tempatnya.
"Astaga.."
"Maafkan Aku.."
"Otakku tidak bisa berpikir jernih jika sedang bersamamu.." Richi mencium kedua punggung tangan Sofia yang dingin seperti marmer.
"Kau baik-baik saja Sofi?"
"Aku.."
"Aku baik-baik saja.." Sofia menjawab dengan terbata-bata.
"Sofi.."
"Kau tau.."
"Hmm.."
"Memelukmu, membuatku merasa sangat nyaman.." Richi tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia tersenyum dengan mata yang hampir tertutup.
Deg
Deg
Deg
"Seolah-olah Kau dan Aku memang tercipta untuk saling melengkapi.." Richi kembali mencium punggung tangan Sofia yang masih terasa dingin.
Lagi dan lagi suara berat dan dalam itu bergema didalam telinganya, menggodanya dan terus-menerus menyudutkannya.
Richi membelai rambut Sofia dengan lembut dan penuh kasih.
"..."
"Terimakasih.."
"Terimakasih karena telah hadir dalam hidupku Sofi..."
"Dan mau menerima seluruh kekuranganku.." Richi menggigit bibir bawahnya. Terdengar getaran di setiap kata yang terucap dari bibirnya.
Richi kembali menarik Sofia kedalam pelukannya.
Sofia tidak bisa berkata apapun. Dia tidak kuasa membuka mulutnya, kata-kata yang Dia coba keluarkan seperti lenyap bagai buih ditepi pantai dan hilang begitu saja.
Richi melepaskan pelukannya, Dia menatap Sofia, kening mereka kini bersentuhan.
"Biarkan Aku mencium mu.." Bisik Richi ditelinga Sofia.
Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Api gairah yang sudah lama tertahan telah meluap begitu saja. Mata yang berwarna hijau itu terlihat lebih gelap dan kini memandang Sofia penuh hasrat.
Sofia kesulitan bernapas mengimbangi Richi yang terus-menerus menciumnya tanpa henti, seluruh tubuhnya lemas dan tak bertenaga. Dia tidak kuasa lagi menopang tubuhnya sendiri. Refleks Richi menahannya. Tangannya yang kekar menahan berat tubuh Sofia. Tubuhnya terlihat serasi mengisi ruang kosong tubuh Richi.
Richi hanya ingin terus menciumnya, dan melakukan hal yang lainnya tanpa berpikir apapun.
Jari-jari Richi yang dingin membelai tengkuknya. Sofia bergidik dan hampir menjerit, namun bibir Richi lebih cepat menutup bibirnya.
"Ngghh.."
Jari-jarinya kini menyentuh telinga Sofia, mengusap setiap bagian-bagian kecil dan berlekuk didalamnya.
"Mmmh.."
Sofia dengan susah payah memanggil namanya.
Richi menyentuh liontin yang menggantung indah di leher Sofia, dan menciumnya dengan lembut.
"Liontin ini terlihat sempurna ditempatnya.." Gumam Richi.
Satu malam lagi berlalu sebelum keberangkatan mereka ke Pulau Pace.
* * *
"Nona.."
"Nona.."
Elie mencoba membangunkan Sofia yang masih tertidur nyenyak ditempat tidurnya yang nyaman.
Semua tirai telah dibuka, sinar matahari yang terang langsung masuk kedalam kamar dan menghangatkan seluruh ruangan.
"Nona.."
"Saya membawa sarapan.."
Elie menarik selimut yang menggulung tubuh Nona mudanya itu.
"Astaga...!!" Dia terkejut dan hampir terjatuh melihat sesuatu yang ada didepan matanya.
Elie dengan cepat menutup lagi tubuh Sofia seperti sebelumnya.
"Nona.."
"Maafkan Saya.."
"Saya akan kembali lagi nanti.." Elie berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa.
"Seharusnya mereka mengunci kamar."
"Apa yang akan terjadi jika seluruh istana mengetahuinya."
Elie menggelengkan kepalanya.
* * *
Cahaya matahari yang semakin lama semakin terang membuat Sofia merasa tidak nyaman. Seluruh cairan didalam tubuhnya seperti terhisap keluar. Dia berkali-kali mengerjapkan matanya yang terasa rapat.
"Hmm.."
"Sayang.."
"Tidurmu nyenyak?" Richi mengecup kening Sofia dengan lembut.
"Richi?" Sofia terperanjat dan segera tersadar dari tidurnya. Dia mencoba membuat jarak sejauh mungkin dari Richi.
"Mau kemana?" Richi menarik lagi tubuh Sofia dan mendekapnya dengan erat.
"Mengapa?"
"Mengapa Kau ada disini?" Nada terkejut terdengar dari suara Sofia.
"Kau tidak ingat?" Richi terlihat kecewa.
"Apa?"
"Ah.."
"Mengecewakan.." Dia menghela nafas berat.
"Cepat pergi.."
"Bagaimana jika ada Elie.."
"Elie?"
__ADS_1
"Elie sudah masuk, tapi kemudian Dia keluar dengan cepat.."
"Astaga..!!"
"Apa yang akan Elie pikiran?!"
"Apalagi?" Richi mengangkat kedua bahunya.
"Tidak mungkin.."
"Apakah.."
"Apakah...."
"Apakah kita.. melakukannya?"
Richi hanya tersenyum namun tak memberikan penjelasan.
"Richi.."
"Jawab aku.." Sofia mencoba mendorong tubuh Richi.
"Hmm.."
"Richi.."
"Aku mohon.."
"Jawab pertanyaanku.."
"Tentu saja.."
"Tidak mungkin.."
"Mengapa?"
"Mengapa Kau melakukannya?"
"Kita belum menikah!"
Sofia hampir menangis karena mendengar perkataan Richi. Dia merasa malu dan tidak sanggup bertemu dengan siapapun.
Hahaha
Richi tertawa cukup keras.
"Dengar dulu perkataan ku.."
"Apaaa?" Sofia membelalakkan matanya, air mata hampir mengalir dari pipinya.
"Astaga Sofia.." Richi menghapus air mata Sofia yang sudah terlanjur mengalir.
"Maafkan Aku, Sayang."
"Tidak mungkin Aku melakukannya pada wanita yang tertidur.." Richi memeluk erat lagi tubuh Sofia.
"Aku?"
"Aku tertidur?" Sofia menunjuk dirinya sendiri.
Richi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sungguh?"
"Yaa..."
"Kau tertidur lelap dalam pelukanku."
"Apa lagi yang akan Aku lakukan padamu?"
"Sungguh?"
Richi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah..."
"Syukurlah.." Sofia bernafas dengan lega. Dia membalas pelukan Richi.
"Kau senang?"
"Tentu saja!"
"Aku tidak bisa membanggakan diriku jika hal itu terjadi.."
"Terimakasih..." Sofia membenamkan wajahnya di dada Richi yang bidang.
"Berhenti menggerakkan kepalamu sayang.."
"Tapi Aku menyukainya.." Sofia menatap Richi dengan mata berbinar-binar.
"Ah.."
"Terserah saja." Richi tersenyum kemudian mencium kepala Sofia.
* * *
Semua orang telah berkumpul di Aula besar, termasuk yang Mulia Ratu Ranee. Richi dan Sofia duduk bersama, mereka sedang menjadi pusat perhatian saat ini.
Marquess Jasper berjalan ke arah Sofia, kemudian menyentuh pundaknya.
"Ayah.."
Marquess Jasper tersenyum, kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Sofia. Richi tersenyum dan menganggukan kepalanya, Marquess Jasper membalasnya dengan senyuman.
Ratu Ranee berjalan menuju singgasana. Dia tersenyum kearah Richi dan Sofia.
Semua orang berdiri dan membungkukkan punggungnya.
"Que Sa Majesté la Reine Ranee vive une longue vie." Semua orang berkata serempak setelah Ratu Ranee duduk.
Ratu Ranee tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih telah hadir ditempat yang bahagia ini."
"Seperti yang telah kita ketahui.."
"Bahwa cucu Saya tercinta Richard Dexter The Duke of Roseland sudah bertunangan dengan Lady Sofia Esmeralda, Putri dari Marquess Jasper."
Terdengar suara tepukan tangan yang meriah dari Aula. Sofia dan Richi berpandangan dan tersenyum.
"Besok pagi sekali, semua orang yang hadir disini akan berangkat ke Pulau Pace."
Suara sorakan terdengar bersahut-sahutan dari dalam aula.
Ratu Ranee hanya tersenyum melihat antusiasme semua orang.
Beberapa pandangan iri terlihat dari kubu wanita-wanita yang berkumpul karena merasa patah hati. Terutama Lady Amber, sosok yang menyebarkan gosip Sofia akan menikah dengan Duke tua kala itu. Dia memandang Sofia dengan tatapan benci dan iri.
"Aku berasa seseorang mengutukku, Richi."
"Hah?"
"Siapa yang berani melakukannya?"
"Apa Kau tidak merasa ada tatapan dingin yang terus-menerus menatap ke arahku?" Sofia bergidik.
"Itu hanya perasaanmu saja Sayang." Ucap Richi tidak peduli. Sebenarnya Richi mengetahuinya dengan jelas tanpa perlu melihat. Dengan sengaja Dia merangkul pinggang Sofia dan mencium pipinya.
"ARGH!" Tersebut jeritan kecil dari arah belakang.
Richi menahan tawanya agar tidak keluar. Sofia menatapnya tidak mengerti.
"Ada apa?"
"Tidak Sayang, tidak." Richi tersenyum lalu kembali memperhatikan Neneknya.
__ADS_1