
"Ceritakan sekarang!"
Richi berhasil menggendong Sofia sampai kedalam kamarnya.
"Bisakah Aku minum segelas air dulu?" Richi membuka kemejanya yang basah.
Refleks Sofia menutup wajahnya.
"Astaga.."
"Apa yang Kau lakukan??!"
"Bajuku basah sayang.."
"Lihatlah.."
Sofia perlahan membuka jari-jarinya yang tertutup rapat, sedikit demi sedikit seluruh tubuh atas Richi mulai terlihat dengan jelas.
"Apa yang terjadi?" Sofia terkejut melihat tubuh Richi yang penuh goresan dan jahitan. Dia mendekat dan menyentuh perut Richi yang masih diperban.
"Apa yang terjadi padamu?" Sofia menggigit bibirnya.
"Ah, Aku terjatuh dari kuda sayang.."
"Apakah ini akibat perbuatannya?" Sofia mengepalkan kedua tangannya.
Richi hanya mengangkat kedua alisnya tanpa mengatakan apapun.
"Seharusnya tadi kau tembak saja Dia!"
Richi tertawa mendengar perkataan Sofia.
"Aku tidak ingin menjadi seperti dirinya, Sayang. Nenek akan lebih baik dalam memberikan hukuman, dari pada Aku."
"Aku harap begitu.." Sofia memeluk tubuh Richi dengan lembut.
"Jangan terluka, Aku tidak sanggup terus-menerus melihatmu seperti ini."
"Maaf.."
"Ini yang terakhir.."
"Aku janji.."
EKHM!!
Seseorang berdiri disamping tempat tidur, Sofia refleks mendorong Richi menjauh, Dia sangat malu hingga menutup seluruh wajahnya dengan selimut yang dekat dengannya.
"Maafkan Saya yang hina ini Tuan Duke.."
"Tapi Yang Mulia ingin menemui Anda.." Count France berbicara dengan menundukkan kepalanya.
"Ah.."
"Aku akan menemuinya.."
"Sekarang, pergilah.."
"Saya mengerti, Tuan."
KLIK
Count France pergi, kemudian menutup pintu dari luar.
"Pergilah.."
"Yang Mulia menunggumu.." Sofia merapihkan pakaiannya yang kusut.
"Aku akan menemuinya nanti.."
"Dia ingin menemuimu sekarang.."
"Tapi Aku ingin bersama denganmu.."
"Aku akan menunggumu kembali.."
"Sungguh?"
Sofia menganggukan kepalanya.
Richi mendekat dan menarik Sofia kedalam pelukannya, rasa hangat dan nyaman membuat Sofia enggan melepaskan pelukan Richi, namun Dia tidak ingin membuat Yang Mulia Ratu menunggu.
Sofia mendorong Richi menjauh.
"Sekarang..."
"Pergilah.."
"Aku mengerti.."
"Tunggu Aku kembali.."
Richi mengecup kening Sofia kemudian pergi.
* * *
Ratu Ranee sedang duduk di ruang kerjanya, Dia membolak-balikkan laporan yang dibawa oleh Hades. Sedangkan Hades duduk di sofa dengan nyaman sambil menghisap cerutu, asap berwarna abu-abu mengepul diatas kepalanya.
"Mengapa Kau menurunkan tingkat kewaspadaan mu?"
"Aku tidak mengerti."
BRAK!
Ratu Ranee melempar laporan Hades diatas meja, kemudian berdiri dan bersandar pada meja.
Hades hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kau sudah tau apa yang akan terjadi jika sampai Richard kembali dalam keadaan terluka."
"Dia baik-baik saja, Ma'am."
"Baik-baik saja?"
"Kau pikir Aku buta?"
"Dia datang dengan menaiki peti mati!"
"Dimana letak 'baik-baik saja' yang Kau maksud?!"
Hades menghisap lagi cerutunya dengan santai.
"Astaga!"
"Kau memang menyebalkan sama seperti Ibumu!"
"Aku memang anaknya." Hades terkekeh melihat Neneknya yang cemberut.
"Kau lebih tau dari siapapun keadaannya yang sebenarnya." Dia meniup asap yang mulai mengganggunya.
"Aku tidak tau Kau akan menggunakan peti mati."
"Jantungku nyaris terbang begitu melihat Kau datang."
Hades hampir tertawa melihat Ratu Ranee yang terkejut saat itu.
Tok
Tok
Tok
"Nek.."
"Masuklah Richard.."
KLIK
__ADS_1
Richi membuka pintu lalu masuk dan memeluk Ratu Ranee yang sedang berdiri didepan meja kerjanya.
"Ada apa dengan pakaianmu?" Ratu Ranee terkejut melihat cucunya yang setengah telanjang.
"Basah, Aku akan mengambil yang baru."
"Duduklah saja, biar France yang membawanya."
Count France segera mencari pakaian Richi sebelum Ratu Ranee memberinya perintah.
"Astaga.."
"Kenapa Hades ada disini Nek?"
"Dia memberikan laporan. Duduklah dulu, Kau terlihat lelah."
Richi duduk disebelah Hades, kemudian dengan sengaja menginjak kakinya.
AWW!
"Hentikan bocah!"
HAH
"Dasar brengsek!"
"Kau sengaja memberiku obat itu!"
Hades tertawa mengingat semua hal yang telah Dia rencanakan saat berada di Pulau Rayons.
EKHM
"Kalian berdua, cobalah untuk tenang." Ratu Ranee melayangkan pandangan sinis pada Hades.
"Aku mengerti.."
"Aku mengerti.." Hades mengangkat kedua tangannya.
Ratu Ranee membuka lemari dan mengambil sebuah dokumen, lalu menandatanganinya.
Tok
Tok
Tok
"Masuklah France.."
France datang dengan membawa kemeja hitam, kemudian dengan cepat memberikannya pada Richi.
"Terimakasih.."
France mengangguk kemudian kembali keluar, dan menutup pintu dengan cepat.
"Kau tampak tampan, Sayang.." Ratu Ranee tersenyum bahagia melihat cucunya yang sudah besar.
"Aku tau, Nek.." Richi tersenyum.
"Hades.."
"Saya, Ma'am.." Suasana tampak tegang seketika. Kapten Hades mencoba bernafas dengan tenang, meskipun hatinya berdebar tidak karuan.
"Karena Richard sudah menyelesaikan semua misinya ketika Gerald tertangkap.."
"Maka, sekarang Kau bebas."
Deg
Deg
Deg
Hades mengepalkan kedua tangannya.
"Pulau Pace.."
"Rawatlah baik-baik pulau itu. Sekarang Aku tidak akan mencampuri lagi urusanmu."
"Pulau Pace seutuhnya milikmu."
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Hades, Dia menggigit bibirnya, tidak ingin terbawa oleh suasana.
Pulau Pace, pulau yang selalu dikunjunginya bersama ke dua orang tuanya ketika masih hidup dulu, bersama cinta pertamanya, pulau yang menyimpan banyak sekali kenangan, kini telah menjadi miliknya. Benar-benar miliknya.
"Kau baik-baik saja Hades?" Richi menepuk punggung Hades dan membuyarkan semua lamunannya.
"Ah.."
"Tentu.."
"Aku hanya terlalu bahagia."
"Hapuslah air matamu kawan."
"Kau terlihat seperti perempuan."
"Sialan!" Hades menghapus air mata yang hampir mengalir di pipinya.
"Richard.."
"Ya, Nek.."
"Apakah Kau ingin segera menikah?"
Richi berdiri dan mengangguk dengan cepat.
HAHAHAHA
Ratu Ranee tertawa melihat tingkah laku cucunya.
"Siapakah yang ingin Kau nikahi?"
"Esme.."
"Ah.."
"Esmeralda?"
Richi menggaruk kepalanya, Dia tidak bisa berhenti tersenyum.
Hades menendang kakinya dengan kencang.
AWW
"Berhentilah tersenyum!"
"Kau terlihat MENJIJIKAN."
"Astaga!"
"Dasar sial!" Richi mengelus-elus kakinya yang terasa sakit.
* * *
Sofia tidak bisa istirahat dengan tenang, Dia masih menunggu Richi, padahal sudah hampir tengah malam.
Semakin larut udara semakin dingin, Sofia menarik selimut sampai dadanya.
"Elie.."
"Saya, Nona.."
"Tolong nyalakan perapian lebih besar.."
"Saya mengerti.."
Elie mengambil beberapa kayu bakar dan memasukannya ke dalam perapian dengan cepat.
__ADS_1
"Nona.."
Hmm
"Anda belum tidur?"
"Ah.."
"Aku akan.."
"Apakah Anda menunggu Tuan Duke?"
"Kau menyadarinya?"
"Tentu saja, Nona.."
"Ingin saya mencarinya?"
"Hah?"
"Tidak perlu, itu sangat memalukan."
"Biarkan saja, Aku akan tidur sebentar lagi.."
"Kau bisa kembali ke kamarmu.."
"Biarkan Saya menunggu Anda, Nona..."
"Tidak, Elie.."
"Istirahatlah, Aku akan tidur sekarang.."
"Baiklah, Nona.."
"Selamat malam.."
"Selamat malam Elie."
Sofia mencoba memejamkan matanya setelah Elie pergi, namun Dia terus-menerus membuka lagi matanya.
"Astaga.."
Sofia bangun dan membuka selimutnya, kemudian memakai sandal dan mengambil jubah nya.
"Dingin sekali.."
Uuuhk
"Mungkin setelah berjalan-jalan sedikit Aku akan lelah dan mengantuk."
Dia berjalan mendekati pintu dan memegang gagangnya yang dingin.
"Apakah tidak apa-apa berkeliaran tengah malam di Istana?" Sofia mulai ragu.
"Sebentar saja, tidak apa kan."
KLIK
Pintu terbuka, tidak ada siapapun didepan pintu.
Dia menoleh kekiri dan kekanan, benar-benar sepi.
"Aku tampak seperti orang bodoh."
"Haruskah Aku menunggu Richi dikamarnya?"
Sofia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak."
"Tapi, ini bukan pertama kali Aku masuk ke dalam kamarnya. Dulu sebelum Dia datang Yang Mulia bahkan menyuruhku tidur disini."
"Apakah sekarang akan berbeda?"
"Tidak, tidak Sofia."
"Jangan lakukan hal itu."
Pikiran dan tubuhnya selalu berlawanan jika menyangkut hal penting.
Matanya terpejam tapi tangannya sudah memegang gagang pintu kamar Richi.
"Astaga, astaga.."
KLIK
Deg
Deg
Deg
Pintu terbuka dengan lebar, namun tidak ada siapapun didalam.
Rasa kecewa mulai Dia rasakan.
"Dia memang belum kembali.."
"Seharusnya Aku tidur saja.."
"Aku akan melihat sebentar.."
Sofia masuk kedalam kamar Richi dan menutup pintunya.
KLIK
"Sama seperti sebelumnya.."
"Sangat wangi lavender.."
"Aku penasaran siapa yang menyukai bunga itu.."
Sofia teringat kembali saat pertama Dia masuk kedalam kamar Richi. Dia menyentuh setiap benda yang Dia lihat dan tersenyum bahagia.
"Topeng itu.."
"Benar.."
"Aku harus menanyakannya.."
Terdengar suara derap langkah mendekat ke arah kamar Richi.
'Astaga..'
'Siapa itu..'
Tanpa pikir panjang Sofia bersembunyi dibawah tempat tidur dengan cepat.
KLIK
Seseorang masuk dan menutup lagi pintunya.
Drap
Drap
Drap
Dia berjalan ke arah tempat tidur dan menyalakan lilin diatas meja.
Aroma Lavender tercium semakin kuat.
Sofia menutup mulutnya, Dia tidak ingin ketahuan.
Bruk
Sesuatu terjatuh.
__ADS_1
Sebuah pakaian?