Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Peti Mati


__ADS_3

Istana Kerajaan, Roseland. Maret 1500.


Elie turun dari kuda dengan cepat, Dia tidak peduli dengan kudanya dan membiarkannya dipintu masuk begitu saja.


Dia berlari dengan cepat kedalam Istana, melewati beberapa bangsawan tanpa tersenyum atau mengangguk, Dia tidak peduli. Saat ini hanya Sofia lah yang ada didalam pikirannya.


Elie menaiki tangga dengan cepat. Dia langsung menuju kamar Sofia.


BRAK!


"Nona.."


"Nona Sofi.." Elie berkeliling dan tidak menemukan siapapun disana.


"Dimana Nona?"


"Dimana?


Elie berlari keluar kamar, Dia menuju gedung selatan dan hampir menabrak Yang Mulia Ratu.


"Maaf.."


"Maafkan Saya, Yang Mulia.."


"Maafkan Saya.."


Beberapa penjaga menahan tubuh Elie yang bergetar hebat.


"Lepaskan Dia.."


Mereka melepaskan Elie dengan cepat.


"Mengapa Kau berlari seperti itu didalam istana?"


"Istana bukanlah lapangan!"


"Mohon ampun Yang Mulia.."


"Saya, Saya mencari Nona Sofia.."


"Sofia?"


Yang Mulia Ratu mendekat dan mengangkat dagu Elie.


"Kau pelayannya?"


"Benar Yang Mulia.." Elie tidak dapat menahan air matanya lagi.


"Ada apa?"


"Tuan Richard, Yang Mulia.."


Deg


Deg


Deg


Jantung Ratu Ranee berdebar dengan kencang.


"Apakah Richard sudah tiba?"


Elie mengangguk dengan cepat.


"Temukan Sofia dan bawa Dia ke ruangan bawah paling Utara."


Elie mengangguk lagi dengan cepat, kemudian mohon ijin pergi.


"Bersiaplah.."


"Saya mengerti Yang Mulia."


* * *


Sofia masih berdiri ditempatnya. Dia tidak bisa beranjak kemanapun. Pikirannya melambung jauh ke angkasa. Memikirkan Richi dan memikirkan Richi. Perkataan Gerald terngiang-ngiang didalam telinganya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Apa maksudnya?"


"Aku tidak mengerti.."


Lampu-lampu mulai dinyalakan, langit sudah semakin sore namun Elie belum tampak dimanapun.


"Mengapa Elie belum kembali?" Dia berjanji akan pulang sebelum malam.


"Apakah terjadi sesuatu?"


Sofia berjalan ke arah pintu masuk kerajaan. Dia berjalan ke arah taman dan duduk dibawah sorotan lampu penerang.


"Astaga.."


"Siapa yang membuat kuda itu kedinginan?" Sofia berjalan ke arah kuda yang berdiri dibawah pohon.


"Mana pemilikmu?"


"Aku akan membawamu ke istal.."


"Tenanglah, Oke?"


Sofia berjalan menuntun kuda dengan perlahan. Dia mengenakan gaun yang cukup panjang sehingga harus berjalan dengan hati-hati agar tidak menginjaknya.


"Apakah ini benar ini arah ke istal?"


Suasana sudah gelap, sehingga Sofia tidak yakin dengan arahnya.


"Turunkan petinya dengan hati-hati.."


"Bawa ke ruangan itu.."


Deg


Deg


Deg


Entah mengapa Sofia tidak asing dengan suara itu. Siapa?


"Hades?"


"Benarkah Hades?"


"Kalau begitu? Richi sudah pulang?"


"Ya Tuhan.." Sofia tidak bisa berhenti tersenyum. Dia mengikatkan kuda didalam kandang dengan cepat dan berlari ke arah kereta kuda yang dikerubungi banyak orang.


"Astaga.."


"Bukankah itu Ben?"


Sofia menyibak beberapa orang dan berdiri tepat di depan Hades.


Hades terkejut melihat Sofia dan menutup wajahnya.


"Hades!!"


Semua orang mundur beberapa langkah dan memberikan Hades dan Sofia privasi.


"Mengapa tidak mengabariku?!"


"Aku sangat merindukan Richi!"


"Mana Dia?"


"Mana Dia? Aku harus memberikannya pelajaran!" Sofia memukul dada Hades.


Hades menghembuskan nafasnya perlahan. Dia memegang pundak Sofia dengan erat.


"Ada apa?"


Hades menatapnya dengan tajam.


"Dengar.."


ARRRGH!


"Ada apa Hades?"


"Top!"


"Ya, Kapten.."


"Antarkan Esme.."


"Kesana?"


"Ya.."

__ADS_1


"Cepatlah."


"Siap Kapten!"


"Mari, Nona.."


Sofia mengerutkan keningnya, Dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.


"Top!"


"Ada apa?"


Top tidak mengatakan apapun, Dia berjalan lurus memasuki ruangan demi ruangan. Kemudian berhenti didepan sebuah pintu berwarna putih.


"Dimana ini?"


"Nona, masuklah.."


"Aku?"


"Ya.."


"Baiklah.."


CLACK


Sofia membuka pintu perlahan, kemudian masuk dan pintu tertutup lagi.


"Ruangan apa ini?" Sofia menutup matanya, cahaya yang terang membuatnya silau.


Dia berjalan masuk, tidak ada siapapun didalam sana. Semakin dalam cahaya semakin redup.


Kursi-kursi berjajar rapih mengelilingi sebuah peti berwarna hitam.


"Peti apa itu?"


Sofia berjalan mendekat dan menyentuh peti itu dengan perlahan.


"Apakah tidak apa-apa Aku melihatnya?"


Deg


Deg


Deg


Peti bergeser sedikit demi sedikit. Sofia mengerahkan sedikit lagi tenaganya dan peti terbuka.


BRUGH


Sofia terjatuh ketika melihat seseorang yang terbaring didalam peti.


"Tidak.."


"Tidak mungkin."


Sofia melihat kekiri dan kekanan, tidak ada siapapun disana.


"Aku tidak melihat siapapun disana.."


"Tidak.."


Sofia berdiri dengan susah, lututnya terasa lemas sekali. Dia memegang pinggir peti dan melihat lagi.


"Tidak.."


"Richi.."


"Kaukah itu?"


"Richi..."


"Richi.."


"Richi kumohon buka matamu.." Sofia menggoyangkan tubuh Richi dengan keras.


"Richi.."


"Kumohon.."


"Kumohon buka matamu..."


"Kumohon.."


ARGH


ARGH


HAHAHA


AAAAAH


AAAH


"Buka matamu!"


"Richi!"


Air mata mengalir deras dikedua pipinya. Sofia menggenggam tangan Richi yang dingin dan menciumnya.


Aah


Aaaah


"Bangunlah.."


"Bangunlah..."


"Kumohon..."


UUUH


UUUH


HUUUU


"Kumohon Tuhan..."


"Kumohon bangunkan Dia.."


Ah


Aaah


Aaah


Sofia mencium tangan Richi, pipi, kening, bibir dan seluruh wajahnya, air mata membasahi seluruh wajah Richi.


BUK!


BUK!


BUK!


Sofia memukuli dadanya yang terasa sesak, Dia sulit sekali untuk bernafas.


UUH


UHH


"Kumohon.."


"Kumohon bangunlah!"


"Richi!"


"Please.."


"Please.."


"Jangan seperti ini.."


"Jangan tinggalkan Aku.."


"Masih ada banyak hal yang belum aku katakan.."


"Masih ada banyak hal yang belum kita lakukan.."


"Kumohon.."


"Jangan tinggalkan Aku.."


"Untuk apa Aku hidup?"


"Bangunlah.."


"Jangan pergi seperti ini.."

__ADS_1


"Yaa..?"


"Katakan sesuatu.."


"Kumohon.."


UUH


UUH


HUHUU


"Bangunlah..."


DUG!


DUG!


DUG!


Sofia memukul lantai dengan kepalan tangannya.


"Bangunlah..."


Uhhhh


Huuu


Hu


Huu


Sofia memeluk lututnya, Dia menangis dengan kencang, matanya sudah sangat bengkak, Dia tidak peduli lagi dengan apapun.


CLACK!


Pintu terbuka dan tertutup lagi dengan cepat, seseorang masuk dan berjalan ke arah Sofia yang terduduk dilantai.


"Seperti yang Aku katakan.." Gerald berdiri disebelah Sofia dan mengusap kepalanya.


Sofia melihat ke atas dan menghempaskan tangan Gerald.


"Kau!"


"Kau manusia menjijikan!"


"Dasar binatang!"


HAHAHAHA


Gerald tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sofia.


"Lady.."


"Aku sudah mengatakannya padamu.."


"Apakah Kau masih terkejut?"


"Diam ********!"


"Aku tidak sudi berada diruangan ini bersama mu!"


"Pergi!"


"Pergilah!"


"Aku akan pergi setelah memastikan mayatnya dengan mata kepalaku sendiri."


"Aku sudah membayar mahal.."


"Kau!"


"Kau ********!"


Sofia berdiri dan mendorong Gerald ke dinding dengan sekuat tenaga.


BUGH!


"Perempuan sial!"


BRUK!


Gerald mendorong Sofia lantai dengan keras.


"Aku bisa dengan mudah membunuhmu!"


"Tidak akan ada seorangpun yang tau!"


"Dasar perempuan sial!"


"Dasar ********!"


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu!"


"Hingga Aku mati!"


"Aku tidak akan pernah membuatmu tenang hidup di dunia ini."


HAHAHAHA


Gerald tertawa terbahak-bahak.


"Astaga.."


"Astaga.."


"Membunuh kedua orang tuanya pun aku mampu, membunuhmu akan lebih mudah sayang."


"Berbaiklah padaku.."


"Aku janji akan melepaskan mu.."


Gerald berjalan ke arah Sofia dan mencium rambutnya.


"Menjijikkan!" Sofia meludah ke wajah Gerald.


"Astaga.." Gerald membersihkan dengan sapu tangannya.


"Dasar perempuan sial!" Gerald menarik rambut Sofia dengan kencang dan mendorongnya ke dinding.


Aaaw


BRUGH


Nggh..


Sofia memegang kepalanya yang terbentur, darah segar mengalir dari dahinya.


"Bicara lah sesukamu!"


"Tidak akan ada orang yang percaya!"


"Setelah kematian Richard, Aku yang akan menjadi penerusnya!"


"Orang lain tidak akan pernah percaya pada perkataanmu!"


"Kau.."


"Kau memang binatang.."


"Kau membunuh orang lain dengan mudahnya!"


"Tentu saja!"


"Aku akan melakukan apapun!"


"Membunuhmu untuk terakhir kali bukanlah hal yang sulit bagiku."


Gerald menutup mulut Sofia dan mencekik lehernya dengan kencang. Sofia meronta-ronta, kakinya hampir tidak mencapai lantai.


Aaarg


"Lepa..."


"Lepaaas.."


HAHAHHAA


"Kau memohon padaku?"


"Ingin lepas?"


"Bersujudlah.."


BRUGH


Tutup Peti terjatuh kelantai, Dia keluar dari dalam sana, kemudian berjalan ke arah Gerald dan menendangnya dengan kencang.

__ADS_1


DUGH!


__ADS_2