
Richi melepas celana panjangnya dan berjalan ke arah kamar mandi.
DUK!
Kepala Sofia terbentur dipan tempat tidur.
'Ah...'
'Sakit sekali' Sofia mengusap-usap kepalanya.
Richi berhenti berjalan, dia kembali berjalan ke arah tempat tidurnya.
'Jangan...'
'Jangan kembali..'
'Kumohon..'
Sofia menutup mulutnya dengan erat.
"Esme?" Richi merunduk dan melihat Sofia yang sedang menyembunyikan wajahnya.
"Bukan!"
"Aku bukan Esme!"
"Menjauhlah!"
Richi tertawa mendengar perkataan Sofia. Sudah jelas sekali itu adalah suaranya, tidak mungkin ada orang lain yang berani masuk ke dalam kamarnya.
"Keluarlah sayang.."
"Mengapa Kau menungguku ditempat seperti ini?" Richi tidak dapat menahan tawanya, lucu sekali melihat calon istrinya berada dibawah kasur dan berpura-pura menjadi orang lain.
"Hentikan!"
"Jangan tertawa!"
"Salahmu datang tiba-tiba seperti itu!"
"Iya, iya sayang.."
"Maafkan Aku, kemarilah.." Richi mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Ah..!"
"Mana celanamu!"
Sofia menutup matanya dengan cepat, Dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak terlihat.
"Celana?"
"Haaa.."
"Untuk apa Aku memakainya?"
"Pakai sekarang.."
"Atau Aku tidak akan keluar.."
"Baiklah, baiklah cinta.."
Richi mengambil celana yang tergeletak dan memakainya dengan cepat.
"Sudah.."
"Ayo keluarlah.."
"Sudah dipakai?"
"Sungguh?"
"Sudah.."
"Bukalah wajahmu dan lihatlah sendiri.."
"Tidak.."
"Tidak..."
"Aku tidak percaya.."
Richi menggapai tangan Sofia dan menariknya dari bawah tempat tidur dengan cepat.
Ah!
"Lihatlah.."
"Tidak.." Sofia mendorong dada Richi yang berotot dan terasa dingin.
"Kau.."
"Kau tidak memakai pakaian!"
"Aku akan mandi, pakaianku sudah kotor.."
"Aku tidak akan membuka mataku!"
"Aku akan mencium mu jika Kau tidak membuka mata."
"Jangan!"
Sofia membuka mata dengan cepat, benar saja, Richi memang sudah memakai celana, tapi dada Richi telihat dengan jelas. Dadanya yang bidang, perutnya yang rata dan memperlihatkan otot-otot yang kuat. Kulit Richi terlihat begitu indah dimatanya.
"Sudah puas melihatnya?" Richi terkekeh melihat Sofia yang tertangkap basah menatap tubuhnya.
Ekhm!
"Sekarang Kau terlihat lebih baik." Sofia malu-malu mengatakannya.
"Banyak wanita mengatakan Aku lebih baik tanpa pakaian." Richi menarik Sofia kedalam pelukannya.
"Tentu saja!"
"Dan aku bukan salah satu wanita itu!" Sofia mendorong Richi menjauh, namun tenaganya tidak bisa mengalahkan tenaga sang Duke of Roseland.
"Jangan menolak.." Gumam Richi ditelinga Sofia.
Telinga Sofia terasa panas seketika, Dia mengusap-usapnya dengan cepat.
Richi melepaskan pelukannya dan menggendong Sofia ke atas tempat tidur.
"Apakah kau menungguku?"
"Kau berjanji akan kembali.."
"Ah.."
"Maafkan Aku.."
"Nenek ingin Aku tinggal lebih lama."
__ADS_1
"Dia tidak suka berduaan dengan Hades."
"Apakah Hades ada disini?"
"Ya.."
"Dia akan kembali besok malam."
"Awak kapal yang lain juga?"
"Tidak, mereka sudah kembali kekapal."
"Begitu.."
"Tunggu.."
"Mengapa Kau memikirkan Pria lain didalam kamarku?"
"Pria lain?"
"Ya!"
"Hades dan awak kapal?"
Richi menganggukan kepalanya.
"Ada apa ini?"
"Mungkinkah?"
"Apa?" Richi menatap Sofia dengan tajam.
"Mungkinkah Kau.."
"Cemburu?"
"Cemburu?"
"Tidak, tidak.."
"Aku hanya tidak suka mendengar Kau mengucap nama Pria lain."
HAHAHAHA
Sofia tertawa mendengar perkataan Richi.
"Tentu.."
"Tentu.."
"Kau tidak mungkin cemburu." Sofia mengacak-acak rambut Richi dengan gemas.
"Akhirnya.."
"Apa?" Sofia mengangkat alisnya.
"Kau tertawa.." Richi memeluk Sofia dengan lembut, dan Sofia membalas pelukannya.
"Richi.."
"Hmm.."
"Apakah masih terasa sakit?" Sofia menyentuh dengan hati-hati bagian tubuh Richi yang terluka.
"Tidak begitu.."
"Namun, beberapa waktu yang lalu, Aku hanya bisa membuka mataku."
"Seharusnya Aku ikut bersamamu.."
"Tidak sayang.."
"Aku tidak ingin Kau terluka."
"Apakah Kau senang bertemu dengan Ayahmu?"
"Tentu saja!"
"Aku sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan semua keluargaku.."
"Aku bersyukur.."
"Senang mendengarnya."
Sofia teringat sesuatu, Dia turun dari tempat tidur dan membuka laci, kemudian mengambil sebuah topeng dengan cepat.
"Apa ini?"
Richi mengambil topeng dari tangan Sofia, kemudian memutar-mutarnya.
"Ah.."
"Ini topeng pesta Debutante tahun lalu.."
"Aku tau.."
"Kau menggunakannya?"
"Tentu saja.."
"Ini milikku.."
"Apakah.."
"Apakah Kau mengalami kejadian tidak masuk akal saat itu?"
"Ha.."
"Aku ingat."
"Seorang wanita aneh menarik ku dengan kuat, lalu mencium ku didepan banyak orang.." Richi tertawa mengingat kejadian itu.
"Wanita aneh?"
"Hah?!"
"Ya.."
"Dia tidak tau siapa aku, lalu tiba-tiba mencium ku."
"Bukankah itu aneh?" Richi mengangkat kedua bahunya.
"Wanita aneh?"
"Padahal itu ciuman pertamanya!"
"Kau bilang itu aneh?!"
Richi menutup mulutnya, Dia tidak kuat untuk menahan tawa lagi.
Sofia mencubit tangannya dengan keras.
__ADS_1
Aww
AWWW
"Maaf sayang, maaf.."
"Aku tidak tau itu ciuman pertamamu.." Richi mengusap-usap kepala Sofia dengan lembut.
"Tunggu.."
"Kau tau itu Aku?"
"Hmm.."
"Saat itu tidak.."
"Nenek hanya mengatakan bahwa yang mencium ku bernama Sofia."
"Namun sekarang Aku tau.." Richi mencubit pipi Sofia dengan gemas.
Aww
"Lepaskan.."
"Terimakasih.."
"Kenapa?" Sofia bingung mendengar perkataan Richi.
"Karena saat itu Kau menarik ku, bukan orang lain."
"Dan, terimakasih karena Aku yang mendapatkan ciuman pertamamu.."
Richi meletakan tangannya dipipi Sofia dan mengecupnya dengan cepat.
CUP.
Sofia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.
"Aku senang karena Pria itu Kau.."
"Kau tau.."
"Hmm.."
"Saat itu Aku kembali karena ingin minta maaf padamu.."
"Tapi Kau telah tiada.."
"Saat itu Nenek sudah menungguku.."
"Ah begitu.."
"Aku hanya penasaran.."
"Mengapa malam itu Kau pergi ke kedai 'Je souffre et aime'?"
"Hmm.."
"Aku kabur karena tidak ingin menikah dengan Duke tua.."
"Duka tua?"
"Yyaa, karena semua orang membicarakannya begitu."
"Lady Sofia akan menikah dengan Duke tua.."
"Duke tua yang akan Dia nikahi.."
"Ayahnya bangkrut dan menjualnya pada Duke tua."
"Begitulah mereka membicarakan ku.." Sofia menggelengkan kepalanya mengingat masa-masa kelam itu.
Richi tertawa mendengar Sofia bercerita.
"Apakah sekarang Aku terlihat tua?"
Sofia memandang dari atas kepala Richi sampai kakinya.
"Hmm"
"Yaa, Kau lebih tua dariku.." Sofia tertawa melihat Richi yang cemberut.
"Kau akan menyesal mengatakan Aku pria tua."
"Kau tidak tau apa yang Pria tua ini inginkan!" Richi memicingkan matanya.
"Tidak, tidak.."
"Aku tidak ingin tau.." Sofia menutup wajahnya.
"Aku menginginkan seluruh dirimu.."
"Kau harus mengingatnya dengan jelas!"
"Tidak, tidak.."
"Aku tidak mendengar apapun.."
Richi tertawa melihat kelakuan calon istrinya, Dia tidak tahan untuk tidak memeluk Sofia.
"Aku merindukanmu.."
"Jangan pernah hilang dari pandanganku.."
"Aku akan mengikutimu kemanapun."
"Kau terdengar seperti seorang penguntit.." Sofia bergidik.
"Aku tidak peduli.."
"Aku hanya ingin melihatmu selamanya."
"Aku memaafkan penguntit sepertimu.."
"Karena Aku mencintaimu.."
Richi tersenyum, Dia mengigit bibirnya dan memeluk Sofia dengan erat.
"Aku.."
"Aku sangat mencintaimu.."
"Sangat mencintaimu.."
"Sangat cinta.."
"Aku juga.."
"Terimakasih telah mencintai ku.."
"Je t'aime.."
__ADS_1
"Je t'aime aussi.."