
Lautan, Didalam Kapal Perompak. Desember 1499.
Ombak yang besar terus-menerus bergulung. Sebuah gelombang besar berwarna coklat tua menyerang Sofia, jutaan galon air laut menghantam tubuhnya dalam sekejap, meninggalkan ribuan butir pasir diseluruh tubuhnya.
Sofia menendang-nendang kakinya agar bisa mengambil nafas, namun semua itu sia-sia ketika seluruh tubuhnya seperti ditelan bulat-bulat oleh palung yang hitam dan dalam.
Dia mulai berteriak, namun air laut yang asin dan keruh masuk kedalam hidung dan tenggorokannya dengan cepat, nafasnya tercekat, kini Dia sudah tidak bisa lagi melihat langit yang biru.
Sofia terbangun dengan keringat dingin diseluruh tubuhnya, dia masih merasakan sakit saat menarik nafas. Rasa takut yang dirasakan saat mimpi, masih terasa sampai sekarang. Selimut tebal itu hampir terjatuh ke lantai, tubuh bagian bawahnya terekspos begitu saja, Sofia masih tidak peduli.
Dia melihat sekeliling, bersyukur bahwa semua itu hanyalah mimpi buruk. Namun, kelegaannya itu hanya sesaat, sekarang dia ingat sedang berada dimana. Sofia menahan agar air matanya tidak terjatuh, dia mulai merindukan Ayahnya, Elie dan Roseland.
Kenyataan yang pahit mulai menghampirinya. Dia mulai menggigit ujung kukunya, hal yang dilakukan Sofia ketika sedang gugup dan berfikir keras.
Bagaimana caranya agar dia dapat pergi dari kapal perompak ini. Bagaimana caranya agar dia dapat selamat tanpa kekurangan bagian tubuh manapun. Bagaimana caranya agar dia dapat kembali secepatnya dan bertemu dengan Ayahnya. Sofia berfikir keras.
Dia mencoba turun dari tempat tidur dengan hati-hati, belajar dari kesalahan yang pernah dia lakukan sebelumnya. Sekarang Sofia tidak tau sedang berada dimana dan jam berapa. Dia mencoba menempelkan telinga ke dinding kayu dan mencuri dengar percakapan.
Sofia meraba-raba dinding dengan perlahan, dia tidak mau menimbulkan kekacauan dan membuat Kapten Hades atau orang lain masuk kedalam ruangan ini lagi.
Sayup-sayup Sofia mendengar suara lonceng berbunyi 7 kali. Hanya itulah yang terdengar. Suara gesekan air dan kapal membuat Sofia tidak bisa mendengar apapun.
Kali ini, Sofia berjalan kearah pintu, dia mendekatkan daun telinganya dan mencoba berkonsentrasi.
".....sebuah pulau telihat."
"Merapat."
"Dia akan kembali hari ini." Terdengar suara Ben.
Sofia menjauh secepat mungkin dari pintu ketika terdengar langkah kaki mendekat, dia melompat ke atas tempat tidur seperti kucing dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Klak
Suara langkah kaki mendekat.
"Aku harus memanggil mu apa?" Terdengar suara Ben dibalik selimut.
Sofia menurunkan selimut dan menatap Ben.
"Esme. Namaku Esme." Jawab Sofia dengan gugup.
"Nama Esme terlalu bagus untukmu. Seharusnya kau dipanggil Coquine *nakal saja."
"Dasar brengsek!" Sofia melempar bantal lagi.
__ADS_1
Ben tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Sofia, dia pergi lalu tidak lupa mengunci pintu.
"Dasar perompak sial!" Umpat Sofia kesal.
Laju kapal terasa semakin melambat, terdengar teriakan beberapa orang di geladak atas. Sofia dapat mengetahui bahwa salah satunya adalah Ben. Suaranya khas, begitu berat.
Sofia penasaran sedang berada dimana, dia mencoba mengintip lewat lubang kunci, namun yang terlihat hanyalah beberapa kaki yang berlalu-lalang. Dia mulai bosan, sekarang dia ingat, dia belum makan apapun sejak pagi, dan sekarang diluar terlihat sedikit gelap. Sudah berapa lama waktu yang Sofia habiskan diatas kapal ini.
Tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang yang dia kenal, yang selalu membuatnya berdebar ketika mengingat namanya. Sofia mencoba mengintip lagi, sekarang terlihat seseorang sedang berdiri didepan pintu.
"Kau sudah kembali? Sudah Kau selesaikan?"
"Belum semua, Aku mulai bosan didaratan. Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"
"Sesuatu yang sangat menarik." Terdengar suara orang tertawa, Sofia menebak suara itu suara Kapten Hades.
"Mengapa terkunci?"
Sofia melompat kebelakang karena terkejut, gagang pintu tiba-tiba bergerak naik turun.
"Ben menguncinya, dia tidak ingin kucing kecil ini kabur." Kapten Hades masih tertawa.
"Ben, kemarilah.."
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan membuka pintu.
Klak
"Jadi, Siapakah mahluk malang yang bersembunyi dibalik selimut tebalmu, Hades?" Richi semakin penasaran dengan apa yang dilihatnya.
"Kau akan mengetahuinya segera.." Kapten Hades berjalan keluar meninggalkan Richi dan Sofia.
Richi mendekat kearah tempat tidur, dia meletakkan tangannya diatas selimut tebal yang menutupi Sofia. Detak jantung Sofia berdebar dengan sangat cepat, dia takut Richi akan mendengarnya.
Dengan sekali tarik, selimut yang menutupi Sofia terlepas begitu saja. Richi sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, begitu juga Sofia.
Terlihat seorang gadis mungil dengan tubuh setengah telanjang sedang menatapnya terkejut dan tanpa rasa takut.
Tidak ada yang bersuara diantara mereka, dengan cepat Richi mengambil selimut dan menutup bagian kaki Sofia yang terbuka.
Sofia menutupnya rapat-rapat.
"Kita bertemu lagi." Richi memulai pembicaraan.
Lidah Sofia terasa Kelu, Dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, padahal ada banyak sekali pertanyaan terlintas didalam kepalanya.
__ADS_1
"Siapa namamu?" Richi kembali bertanya karena tidak ada respon dari Sofia.
"Esme." Hanya itulah kata yang keluar dari mulutnya.
"Esme? Apakah itu nama depan? Atau nama tengah?" Richi bertanya lagi.
Sofia tidak mengatakan apapun. Dia tidak ingin siapapun tau siapa dirinya, termasuk Richi.
"Baiklah, Esme. Selamat datang di kapal Hades." Richi tersenyum.
"Apakah Kau tau, bahwa kau adalah wanita pertama yang masuk kedalam kamar ini? Bahkan, Kau adalah wanita pertama yang menginjakkan kaki diatas Kapal ini?" Richi menjelaskan.
"Kau membual! Semua orang mengatakan bahwa kalian menculik puluhan gadis!" Entah dari mana asal keberanian itu, lidah Sofia tidak bisa berhenti berkata. Setelah sadar, dia menutup mulutnya.
Richi yang mendengar perkataan Sofia tertawa terbahak-bahak.
"Kupikir Kau ketakutan, ternyata Kau cukup berani untuk berbicara."
Sofia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Richi. Semua hal tentangnya membuat Sofia berdebar tidak karuan. Richi yang sadar Sofia terus memandanginya, sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Sofia, Sofia terkejut dan mundur kebelakang dengan cepat.
"Kau cantik, sama seperti namamu, Esme." Jantung Sofia berdebar begitu kencang, dia ingin menyembunyikan wajahnya secepat mungkin, Sofia tidak ingin Richi menyadari rasa gugupnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, terlihat Kapten Hades sedang terseyum sambil membuka pintu.
"Bagaimana reuninya?" Tanya Hades berpura-pura penasaran.
"Tidak ada yang istimewa." Richi tersenyum sinis.
Hati Sofia terasa sakit meskipun sedikit mendengar perkataan Richi.
"Ah, apakah Aku sudah mengatakan padamu? Dimana Ben menemukan gadis ini?"
"Apa maksudmu?" Rasa penasaran Richi mulai timbul.
"Ben, menemukannya sedang bersama Gerald ditepi pantai." Ucap Hades dengan santai dan tanpa ekspresi.
Tiba-tiba raut wajah Richi yang tenang berubah terkejut dan terlihat marah. Urat-urat lehernya tampak tegang, Richi mengepalkan tangannya dan mengatupkan giginya rapat.
"Bawa perempuan ini kekamarku!" Richi keluar dari Kabin Kapten dan menutup pintu dengan keras.
Bibir Kapten Hades menyunggingkan senyuman yang mencurigakan, Sofia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Nona, Kau akan pindah kamar." Lagi-lagi Hades tertawa dan meninggalkan Sofia dengan sejuta pertanyaan.
Notes :
__ADS_1
Palung adalah jurang yang ada didalam lautan.