
Lautan, Diatas Kapal Hades. Januari 1500.
Jangkar sudah diangkat, layar sudah dikembangkan, Kapal sudah melaju lagi dengan kecepatan penuh.
Angin malam yang dingin membantu Kapal Hades dengan senang hati kembali ketengah lautan.
Terdengar teriakan-teriakan awak kapal yang bersorak senang karena telah kembali berlayar.
Sofia hendak keluar dari dalam Kabin Kapten Hades, namun terdengar suara langkah mendekat ke arah Kabin.
Sofia bingung, dia kembali lagi kedalam kamar mandi dan mencoba diam dulu didalam sana dan bernafas setenang mungkin.
KLAK!
Suara pintu terbuka.
"Apa yang Kau temukan disana?" Terdengar suara Kapten Hades.
"Seperti biasa, hanya sekumpulan wanita yang dijualnya dari berbagai daerah." Kali ini suara Richi.
Sofia menempelkan daun telinganya tepat didepan pintu kamar mandi.
"Kau tidak menemukan yang Kau inginkan?" Kapten Hades berbicara dengan serius.
"Aku lupa, dan semua rencana menghilang begitu saja."
"Ya, tapi Kau mendapatkan hadiahnya." Kapten Hades tertawa.
Richi diam tidak menjawab.
"Mengapa? Mengapa Kau terlihat seperti itu?" Hades menatap Richi tajam.
"Seperti apa?" Richi tidak mengerti.
"Seperti ini."
PLETAK!
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di bagian atas kepala Richi.
"Brengsek!!" Richi mengusap kepalanya berulang.
"Gerald.. Dia akan menikahi Esme." Jawab Richi.
"Begitukah?" Hades mengangkat kedua alisnya.
Jantung Sofia berdebar dengan kencang ketika mendengar namanya disebutkan.
"Tapi, dia bilang tidak akan pernah mau. Dan bukan Gerald yang akan menikahinya." Tambah Richi.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Hades menggelengkan kepalanya.
"Kau pikir Aku mengerti?"
"Haaah.. Lalu, mengapa Kau peduli?" Hades kembali memandang Richi dengan sinis.
"Aku? Aku peduli? Tidak sama sekali! Aku hanya ingin membuat lelaki itu menderita." Jawab Richi.
"Kau yakin Dia akan menderita karena seorang wanita?"
__ADS_1
Sekarang Richi mulai tidak yakin dengan jawabannya.
Sofia sudah cukup banyak mendengar. Dia keluar dari kamar mandi dengan cepat dan menabrak Richi dengan sengaja.
BUUKK!
Richi terkejut bukan main melihat Sofia keluar dari kamar mandi. Sedangkan Hades, Dia hanya tersenyum penuh misteri.
Sofia melangkah keluar dengan emosi, Dia bahkan membanting pintu Kabin Hades.
BRAKK!
"Sungguh wanita yang penuh tenaga." Hades menggelengkan kepalanya.
"Kau tau Dia ada didalam?" Richi memandang Hades curiga.
Hades hanya mengangkat kedua bahunya dan memalingkan wajah.
"Dasar brengsek!" Richi menendang pantat Hades dan berlari keluar menyusul Sofia.
"Pasangan yang menyenangkan." Hades menggelengkan kepalanya sambil bersiul.
Sofia berjalan dengan kesal, dia menendang apapun yang ada didepannya.
"Lelaki brengsek!"
"****!"
"Tidak tau malu!"
"Perompak menyebalkan!"
"Lagi pula siapa yang ingin Kau peduli!"
"Dasar brengsek!"
Richi berhasil menyusul Sofia, Dia mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Sofia. Richi menahan bibirnya agar tidak tertawa mendengar ocehannya.
"Kau akan menabrak pintu jika jalan menunduk seperti itu." Richi menahan jidat Sofia dengan telapak tangannya sebelum membentur pintu kabinnya.
Sofia berbalik dan menabrak dada Richi yang berada tepat didepan wajahnya, sedangkan payudara Sofia menyentuh perut Richi yang penuh otot.
"Kau menyukainya?" Richi menatap wajah Sofia yang sudah semerah kepiting rebus.
"Aku menyukainya." Jawab Richi dengan ceria.
Refleks Sofia berbalik lagi dan menutup pintu dengan cepat, namun Richi menahannya dan ikut masuk kedalam Kabin.
Seperti biasa, Sofia langsung loncat ketempat tidur Richi dan menarik selimut sampai ke atas dadanya.
Richi memutari tempat tidur dan duduk tepat disebelahnya.
Suasana hening sementara. Tidak ada satupun diantara mereka yang memulai pembicaraan.
Richi memandang langit-langit Kabin. Pikirannya jauh menembus atap kapal.
Ada ribuan pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Sofia. Namun satupun tidak ada yang Dia ingat.
Pikirannya selalu blank seperti itu jika sudah berhadapan dengannya. Entah apa yang terjadi pada otaknya yang cerdas, semua itu menjadi tidak berguna saat bersama Sofia.
__ADS_1
Sofia menggeser badannya secara perlahan, Dia tidak mau menyentuh Richi sedikitpun.
"Mengapa Kau menjauh?" Tanya Richi, tangannya memaksa Sofia membuka selimutnya.
"Jangan mendekat!" Sofia menepis tangannya.
"Padahal Kau memelukku dengan erat saat berada di atas perahu." Suara Richi terdengar sedih.
"Aku hanya memegang pakaian mu! Apakah Kau mulai hilang ingatan? Seharusnya Kau mengembalikanku ke Roseland!" Umpat Sofia.
"Jika Kau masih ingat, Ben yang membawamu. Bukan Aku." Jawab Richi.
"Aku tidak peduli siapapun yang membawaku ke atas kapal ini. Aku hanya ingin kembali ke Roseland secepatnya."
"Seharusnya Kau mengatakannya pada Hades."
"Kalian memang Perompak yang menyedihkan. Aku bahkan tidak lagi takut padamu!"
"Sungguh?" Richi menarik selimut Sofia dengan cepat.
Terpampang dengan jelas bagian payudara Sofia yang tidak bisa ditutup.
Richi mengalihkan pandangannya dan menutup lagi tubuh Sofia dengan selimut.
"Seharusnya Dia memberikanmu pakaian pria." Richi mendengus kesal.
"Apa maksudmu? Aku menyukainya." Jawab Sofia ketus.
"Ya, jika Kau memang senang menggoda, pakaian itu memang sangat cocok untukmu." Jawab Richi.
"Aku tidak memperhatikan bagian tubuh manapun pada siapapun! Aku wanita terhormat!" Ucap Sofia dengan kesal.
"Wanita terhormat sungguh? 'Kecurigaan adalah baju besi yang berat, dan aku dengan bobotnya sendiri lebih dari sekadar melindungi'." Ucap Richi.
Sofia mengerutkan dahinya. Dia tidak salah dengar. Benar, Richi mengutip salah satu buku penyair yang pernah dia baca. Tapi, tapi mengapa Perompak sepertinya mengetahui hal seperti itu?
"Semua tragedi berakhir dengan kematian, semua komedi diakhiri dengan pernikahan." Ucap Sofia dengan tenang.
"Ha.." Richi tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Sofia.
"Ketika kekasihku bersumpah bahwa hatinya tulus, aku mempercayainya, meskipun aku tahu ia berbohong." Richi memandang Sofia dengan lembut.
"Kita semua tahu siapa diri kita, tetapi kita takkan pernah tahu seperti apa kita nantinya." Sofia balas menatap Richi dengan dingin.
Richi semakin penasaran dengan Sofia. Dia tidak tau lagi harus berkata apa. Dia tidak menyangka Sofia akan membalas semua kata-katanya. Tidak ada satupun wanita yang akan mengetahui apa yang dia katakan, kecuali wanita itu seseorang yang menyukai buku.
Sekarang Dia tau, Sofia bukan sembarang wanita. Tapi, rasa curiga sudah terlanjur merasuk kedalam hatinya. Terlebih saat mengingat Gerald dan Sofia saling mengenal.
"Dimana Kau menemukan semua kata-kata itu?" Richi memandang Sofia penuh tanda tanya.
"Aku tidak perlu mengatakannya padamu!" Jawab Sofia.
Sofia masih mengingat dengan jelas buku-buku favoritnya. Dia selalu menyimpan karya-karya penyair itu tepat disebelah tempat tidurnya. Dia tidak tau akan menggunakannya saat ini. Diatas kapal Perompak dengan seorang Perompak yang ada disebelahnya.
Memang benar, Tuhan mempunyai selera humor yang menyebalkan. Sofia bahkan tidak lagi heran jika kelak dia akan beradu argumen lagi dengan Richi tentang hal-hal yang remeh.
"Ah, Kau membuatku semakin menginginkanmu." Richi berbicara dengan lembut ditelinga Sofia.
Sofia terkejut dan mencoba berjarak sejauh mungkin.
__ADS_1
"Jangan! Jangan menginginkan hal semacam itu! Jangan berfikir tentang hal itu!" Umpat Sofia.
"Apapun yang Aku inginkan, Aku pasti akan mendapatkannya." Jawab Richi dengan percaya diri.