Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Dermaga


__ADS_3

Pelabuhan, Roseland. February 1500.


Kapal Marine yang dinaiki oleh Sofia dan Elie akan tiba di dermaga tidak lama lagi.


Mereka akan tiba dalam 1 jam jika angin berhembus dengan kencang ke arah Utara.


Selama Elie tertidur di Kabin, Sofia menghabiskan waktunya dengan Kapten Clark di Anjungan. Dia belajar bagaimana mengendalikan kapal, mengenal bagian-bagian penting kapal dan tempat yang bagus untuk melihat pemandangan secara keseluruhan.


Dan sekarang, disinilah Dia berada. Di dek teratas, atau lantai 4. Kapal Marine memang lebih modern dibandingkan dengan kapal pelaut atau kapal Perompak. Jadi tidak heran jika peralatannya terlihat lebih canggih.


Sofia menyukai tempatnya berbaring saat ini. Kapten Clark meminjamkan kursi lipat, sehingga Sofia dapat bersantai meskipun hanya sesaat.


Dia melihat pemandangan didepannya tanpa halangan sedikitpun. Pikirannya terbang melayang melintasi luasnya samudra. Menembus langit dan mengembara diatas sana.


"Ada dimana Richi saat ini?"


"Sedang apa?"


"Aku mulai merindukannya.."


Duk


Duk


Duk


Terdengar suara orang menaiki tangga dengan tergesa-gesa, Elie celingukan mencari Sofia kesana kemari. Dia mencari keseluruh bagian kapal, namun tidak kunjung menemukannya. Beruntung, salah satu prajurit melihat Elie yang kebingungan, lalu mengantarkannya menemui Sofia.


"Astaga, Nona..."


"Saya mencari Anda, namun tidak dapat menemukan Anda dimanapun.."


Tidak ada jawaban dari Sofia.


"Nona..!"


"Nona Sofia!"


Sofia terkejut mendengar seseorang memanggilnya, lalu melihat ke arah Elie yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Elie?"


"Saya memanggil Anda beberapa kali.."


"Apakah suara Saya tidak terdengar?"


"Ah.."


"Maafkan Aku, Elie.." Sofia mengusap rambut yang menghalangi pandangannya.


"Apa yang Anda lakukan disini??" Elie melihat sekeliling dan tidak ada siapapun disini selain mereka berdua.


"Kapten meminjamkan tempat ini padaku.."


"Bukankah tempat ini indah?"


Elie melihat sekali lagi, dia mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Tidak ada apapun disini, Nona.."


Sofia tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Elie.


"Tentu.."


"Memang tidak ada apapun, Elie.." Sofia menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak mengerti..."


"Sudahlah.."


"Kau tidak perlu mengerti, Elie.."


"Ah.."


"Kemarilah.."


"Ada apa, Nona?" Elie berjalan mendekat.


"Apakah tidak ada yang ingin Kau katakan padaku?"


"Apakah itu?"


"Seperti makan siang?" Sofia mengangkat kedua tangannya.


Awalnya Elie mengerutkan keningnya karena tidak mengerti, namun lama-kelamaan pipinya berubah merah seperti buah tomat yang sudah terlalu matang.


"Ada apa Elie?"


"Kau terlihat menyembunyikan sesuatu.." Sofia menatap Elie lekat.


Elie mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh.


"Katakan saja.."


"Aku tidak akan marah.." Sofia mengangkat kedua bahunya.


"Sungguh?"


"Sungguh, Nona?"


"Ya.."


"Lagipula, Aku sedikit penasaran dengan apa yang terjadi."


Elie berjalan mendekat dan jongkok disamping Sofia.


"Nona.."


"Jangan kesal, Ok?"

__ADS_1


Sofia mengangguk setuju.


"Kapten Clark mengajak saya makan siang.."


"Beliau sedikit memaksa.."


"Dan Saya tidak bisa menolaknya.."


"Hmm.."


"Lalu.."


"Saya tidak mengerti apa tujuannya.."


"Mungkinkah beliau meminta Saya untuk mendekatkan Nona dengannya?"


"Bukan seperti itu Elie, Kau lebih tau dariku.." Sofia menghembuskan nafasnya.


"Tapi.."


"Saya bukan siapa-siapa, Nona..."


"Siapa yang bilang Kau bukan siapa-siapa?"


"Kau adalah keluargaku!"


"Aku akan memberikan mas kawin yang besar untuk calon suamimu kelak!" Sofia menyilangkan kedua lengan didadanya.


Elie terharu mendengar perkataan Sofia, Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Sofia dengan erat.


"Anda terlalu baik hati, Nona.."


"Kau terlalu dekat, Elie.."


"Astaga, Aku sesak nafas.."


Elie tertawa melihat ekspresi Nona mudanya yang kesusahan.


"Ah.."


"Mungkinkah Kau sudah menyukainya?"


Elie menutup wajahnya yang sudah mulai panas.


"Elie?"


"Sungguh?"


Elie menganggukkan kepalanya.


"Astaga..."


"Sejak kapan??"


"Mungkin.."


"Sejak pertama bertemu, Nona.."


"Mengapa Kau tidak menceritakan apapun?"


"Karena..."


"Saat itu Saya hanya ingin menemukan Anda, Nona.."


Sofia menarik Elie kedalam pelukannya.


"Kau memang selalu memikirkan Aku.."


"Terimakasih, Elie.."


"Nona, Saya sesak nafas.." Elie mencoba mengendurkan pelukan Sofia.


* * *


Tooot


Tooot


Tooot


Kapal Marine merapat ke dermaga dengan aman. Suara riuh membuat Sofia merasa mual. Dia duduk didalam kabin menunggu semua orang turun lebih dulu. Elie membereskan barang-barang yang mereka bawa dengan cepat.


Tok


Tok


Tok


"Nona, Saya Clark.."


Sofia membuka pintu dengan cepat.


"Semua orang sudah turun, Anda bisa keluar sekarang..."


"Ah.."


"Terimakasih, Kapten.."


"Sama-sama, Lady.."


"Saya senang dapat membantu Anda.."


"Ah.."


"Elie sepertinya menyukai Anda. Anda bisa tersenyum sekarang.."


"Sungguh Lady?"


"Ya.."

__ADS_1


"Berkunjunglah ke Mansion jika Anda tidak sibuk.."


"Saya akan melakukannya! Secepatnya!" Kapten Clark tidak bisa berhenti tersenyum.


Sofia berjalan mengikuti Kapten Clark, lalu Elie mengikuti dibelakangnya.


"Sofia..."


"Sofia...!!!"


Terdengar suara teriakan seseorang memanggil namanya dari arah dermaga. Suaranya terdengar sangat akrab ditelinga Sofia. Dia melihat sekeliling dan menemukan seorang Pria paruh baya melambaikan tangan kearahnya.


"Ayah?"


Sofia dengan cepat berlari, melewati Kapten Clark dan melompati tangga, hampir saja Sofia tergelincir. Namun, Dia tidak peduli. Saat ini Dia hanya ingin segera memeluk Ayahnya, Marquess Jasper.


Marquess Jasper tersenyum sangat bahagia. Dia sudah tidak sabar ingin segera memeluk putrinya itu.


"Sofia.."


"Putriku.." Air mata mengalir dari pelupuk Marquess Jasper ketika Sofia memeluknya dengan erat.


"Ayah..."


"Aku merindukanmu.." Sofia menangis seperti seorang anak kecil dipelukan Ayahnya.


Elie masih berdiri di atas kapal, Dia menutup wajahnya, tidak sanggup melihat pertemuan yang mengharukan itu.


"Maafkan Aku, Ayah.."


"Maafkan Aku.."


Air mata Sofia terus mengalir bagaikan sungai. Berulang kali Marquess Jasper mengusap pipinya, namun terus-menerus basah karena air mata.


"Jangan menangis lagi putriku, nanti Kau sakit.."


"Mari Kita pulang.." Marquess Jasper menggenggam erat tangan putrinya.


* * *


Seseorang menepuk pundak Elie dari belakang, Elie terkejut dan hampir terjatuh, namun sebuah tangan yang kekar menyelamatkannya.


"Anda baik-baik saja, Nona?"


"Kapten Clark?"


"Berulangkali Saya memanggil Anda.."


"Namun sepertinya Anda sibuk memikirkan sesuatu.."


"Ah.."


"Maafkan Saya.."


"Saya sangat bahagia bisa melihat Nona dan Tuan Jasper kembali berkumpul.."


"Saya mengerti..."


"Maafkan Saya karena membuat Anda terkejut.."


"Tidak, terimakasih karena telah menolong Saya.."


Kapten Clark mengusap rambutnya kebelakang.


"Sama-sama, Nona.."


"Tampaknya Anda tertinggal kereta kuda.."


"Apakah Nona berkenan jika Saya mengantarkan Anda pulang?"


Elie tampak bingung. Disatu sisi Dia senang karena Kapten Clark perhatian padanya. Namun, Dia tidak ingin merepotkannya dengan hal sepele seperti itu.


"Tuan, lebih baik Anda beristirahat..."


"Lagi pula Mansion Tuan Jasper cukup jauh dari sini.."


"Itukah yang Anda khawatirkan?"


"Saya kelelahan?"


Elie mengangguk malu.


"Tidak masalah, Nona.."


"Saya bisa mengantarkan Anda.."


"Sebaiknya Anda tidak menolak."


"Mari.."


Kapten Clark membawa barang-barang yang dibawa Elie. Dia membawa tas yang berat itu seperti membawa sebuah bulu. Padahal Elie sangat susah sekali untuk mengangkatnya.


"Berikan koper itu.."


"Tapi Anda sudah membawa tas itu, Tuan.."


"Bukan masalah.."


Kapten Clark membawa koper ditangan kanannya, dan tas besar ditangan kirinya.


Elie tersenyum malu-malu melihat seorang lelaki yang mau bersusah payah untuknya. Hatinya sangat bahagia, Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Anda tersenyum..." Kapten Clark menengok kearah Elie.


"Tidak.." Elie mengusap dengan cepat kedua pipinya yang terangkat.


"Anda tidak bisa menyembunyikan warna merah itu, Nona.."


"Apakah terlihat?"

__ADS_1


Kapten Clark mengangkat kedua alisnya.


Elie sangat malu, Dia berjalan mendahului Kapten Clark dengan cepat dan setengah berlari.


__ADS_2