
Istana Kerajaan, Roseland. Maret 1500.
Ratu Ranee berjalan menyusuri lorong-lorong yang panjang, disetiap dinding yang mereka lewati tergantung banyak sekali lukisan-lukisan antik yang sangat berharga.
Sofia tidak punya banyak waktu untuk mengamati, Dia tidak ingin tertinggal terlalu jauh. Padahal Ratu Ranee sudah cukup tua, namun Beliau mempunyai langkah yang gesit dan panjang.
Mereka menaiki anak tangga yang sangat banyak, Sofia tidak tau ada berapa jumlahnya, yang jelas lebih banyak dari tangga dirumahnya.
Ratu Ranee berjalan ke sayap sebelah kanan. Beliau berhenti di depan sebuah pintu berwarna emas yang besar. Pelayan membukanya dengan cepat lalu Ratu Ranee menggandeng Sofia masuk kedalam.
"Sofia.."
"Ini adalah ruangan yang biasa digunakan oleh Richard."
"Beristirahatlah sesukamu.."
"Aku akan berada diruang kerja dilantai tiga."
"Berkunjunglah kapanpun Kau mau.."
Ratu Ranee kemudian pergi setelah memastikan Sofia merasa nyaman berada dikamar Richi.
Kini, Sofia hanya seorang diri disana. Dia meminta waktu untuk sendiri dan Ratu Ranee menyetujuinya.
Ruangan yang sangat besar, mungkin 3 kali lipat dari luas kamar Sofia. Ruangannya didominasi warna emas dan banyak sekali lukisan yang tergantung di dinding.
"Inikah kamar Duke of Roseland?" Gumam Sofia.
Dia berjalan perlahan sambil mengamati setiap detail yang rumit pada kamar Richi. Benda-benda seperti globe yang bundar, teropong bintang, dan peta Pulau Roseland berada di dekat jendela kamarnya yang besar.
"Apakah Aku bisa melihat bintang siang hari seperti ini?" Sofia menyentuh teropong dan mulai membuka lensanya.
"Ah.."
"Aku akan meminta Richi mengajariku nanti."
Sofia melepaskan alas kakinya ketika menginjak karpet Persia yang terbentang dari ujung pintu ke bawah tempat tidur. Rasa nyaman mulai membuatnya bahagia.
"Lembut sekali.."
"Terasa hangat dikaki.."
Dia berputar-putar didalam kamar yang kosong, Sofia tidak dapat merasakan aroma Richi dimanapun. Hanya aroma lavender yang dapat diciumnya.
"Apakah tempat tidur Richi beraroma seperti Dia?" Sebuah pikiran konyol hinggap dikepalanya.
"Astaga, apa yang aku pikirkan." Sofia menggelengkan kepalanya. Namun, kakinya dengan cepat berjalan ke arah tempat tidur.
"Kepala dan hati memang tidak sinkron. Bukankah hal seperti itu sudah biasa?" Sofia membela dirinya sendiri.
Pandangan matanya berhenti pada sebuah potret yang ada diatas meja sebelah tempat tidur Richi.
Sebuah potret keluarga, Sofia dapat melihat dengan jelas Richi yang masih kecil diapit seorang perempuan cantik dan lelaki tampan yang dapat Sofia pastikan Ayah dan Ibunya.
"Mereka tampak bahagia.." Tangan Sofia tidak sengaja menyentuh sesuatu diatas tempat tidur Richi.
"Sebuah topeng?" Topeng mata berwarna hitam yang sangat mewah.
Entah mengapa Sofia merasa tidak asing dengan topeng yang sedang dipegangnya.
"Dimana Aku pernah melihat topeng ini?"
"Dimana..."
"Dimana.."
"Astaga..."
BRUK!!
Tidak sengaja Dia menjatuhkan topeng itu di atas kakinya.
"Topeng lelaki itu.."
__ADS_1
"Topeng lelaki itu.."
"Tidak mungkin.."
"Ini tidak mungkin."
"Semua ini terlalu sempurna untuk menjadi sebuah kebetulan.."
Sofia menggelengkan kepalanya.
Dia kembali menaruh topeng itu ditempat semula.
"Sebaiknya aku menyimpan pertanyaan ini untuknya."
"Kejutan apa lagi yang menantiku?"
Ada perasaan terkejut, senang dan entahlah yang Sofia rasakan. Semua hal mengejutkan itu datang bertubi-tubi sehingga Dia benar-benar tidak tau harus bereaksi apa.
Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, Sofia berbaring diatas tempat tidur Richi. Dia dapat menghirup aroma lavender yang kuat. Perasaan nyaman dan tenang mulai melandanya, rasa kantuk pun menyerangnya.
* * *
Elie sudah mengoleskan balsem dipinggangnya yang terbentur. Dia baru beberapa menit berada Mansion dan ingin segera kembali ke Istana Kerajaan.
Dia khawatir Nona mudanya akan panik dan bingung jika ditinggalkan sendiri.
Sebenarnya Elie hanya ingin terus bersama dengan Sofia, Dia tidak ingin melihat Sofia menghilang lagi. Cukup satu kali dan Elie tidak ingin mengalaminya lagi.
Elie sedang bersiap menaiki kereta kuda ketika Kuda yang dikendarai oleh Kapten Clark terlihat mendekat kearahnya.
"Kapten Clark?"
Clark turun dari kuda, dan mengikatkan kudanya ke pohon Cemara yang membeku, kemudian berjalan ke arah Elie dengan cepat.
"Nona Elie.."
"Selamat sore.." Kepulan asap berwarna putih keluar dari mulutnya.
"Ah.."
"Apakah kedatangan Saya mengganggu Anda?"
"Ah.."
"Sebenarnya Saya akan pergi ke Istana Kerajaan.." Elie ragu mengatakannya, namun Dia tidak ingin pertemuannya dengan Sofia terhambat.
"Istana?"
"Apakah ada hal yang harus Anda lakukan disana?"
"Mm.."
"Nona Sofia berada disana.."
"Saya khawatir meninggalkannya sendirian.."
Clark tertawa mendengar jawaban Elie. Clark sangat mengetahui bahwa Elie begitu peduli pada Sofia.
"Ah.."
"Maukah Anda pergi bersama Saya?"
"Anda tahu, Kuda saya bisa berlari dengan kencang meskipun jalanan licin karena salju."
"Sungguh?" Mata Elie berbinar-binar mendengar perkataan Kapten Clark.
Clark tau jika Elie akan senang jika dapat sampai lebih cepat kesana.
"Tentu.."
"Saya akan membawa Anda lebih cepat.."
"Begitukah?"
__ADS_1
"Yya.."
"Kalau begitu, bawa Saya.."
Tanpa merasa malu Elie menggenggam tangan Kapten Clark yang dingin. Wajah Clark seketika terasa panas ketika Elie menyentuhnya.
Elie dapat merasakan kecanggungan itu dengan cepat, dan Dia menyadari semua itu karena perbuatannya.
"Ah.."
"Maafkan Saya, Tuan.." Elie tidak sanggup menatap mata Kapten Clark.
"Tidak masalah, Nona.."
"Mari, Saya akan membantu Anda naik.."
Kapten Clark membantu Elie naik ke atas Kudanya. Dia mengangkat pinggang Elie yang ramping, mau tidak mau Elie berpegang sangat erat pada bahu Clark yang lebar.
"Terimakasih, Kapten.." Semburat merah terlihat dikedua pipi Elie.
Kapten Clark hanya tersenyum, kemudian naik kebelakang Elie dan mulai menunggangi kudanya.
Hyaa!!
Deg
Deg
Deg
Debaran jantung Kapten Clark dapat dirasakan olehnya ketika punggung Elie menempel ke dadanya diatas kuda yang sedang berlari.
Sebelumya, Dia ingin cepat sampai ditempat Nona Sofia, namun entah mengapa sekarang Dia ingin perjalanan menuju Istana Kerajaan menjadi lebih lama?
Elie tidak dapat berkonsentrasi ketika tubuhnya terus-menerus bersentuhan secara tidak sengaja dengan Kapten Clark. Suara debaran jantung yang terus berdetak dengan kencang, Elie tidak tau itu milik siapa. Miliknya atau milik Kapten Clark, sungguh Elie tidak mengetahuinya.
Salju mulai turun dan membuat seluruh pakaian Elie putih, namun entah mengapa tubuh Elie terasa panas, Dia tidak pernah merasakan perasaan itu sebelumnya.
Semakin lama perjalanan semakin berbelok-belok, Elie dapat terlempar begitu saja jika Kapten Clark tidak memegang perutnya dengan erat.
'Astaga..'
'Aku akan mati jika kita terus begini.'
'Tuhan, tolong kuatkan hambamu ini.' Elie menggigit bibirnya hingga berdarah.
Dia tidak ingin perasaan terlalu bahagia itu memenuhi seluruh hatinya.
"Kita akan segera tiba.." Clark berbisik ditelinga Elie.
Elie tidak dapat menjawab apapun, pipinya sudah semerah kepiting rebus.
"Astaga.."
"Cobaan macam apa ini?"
"Yya??"
"Tidak, tidak.."
Mereka sampai didepan gerbang utama. Kapten Clark turun lebih dulu kemudian membantu Elie turun.
"Terimakasih, Kapten.."
"Saya senang bisa membantu Anda, Nona.."
"Ah, jika tidak keberatan.."
"Berkunjunglah akhir pekan nanti.."
"Saya akan menunggu Anda.."
Belum sempat Elie menjawab, Clark sudah mulai menunggangi kudanya dan berlari dengan cepat.
__ADS_1
"Ah.."
"Aku akan berusaha.." Gumam Elie.