Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Semakin Jauh


__ADS_3

Diatas Kapal Perompak, Desember 1499.


Sofia meringkuk diatas tempat tidur, menggulung dirinya dengan selimut tebal yang terlipat rapi disebelahnya. Hembusan angin yang dingin masuk melalui celah-celah dinding kayu. Ruangan terasa sunyi, padahal baru saja seseorang menemaninya tadi.


Ketika sendirian, Sofia merasa sedih, bingung, takut dan ingin sekali rasanya menangis sekencang-kencangnya. Namun, dia menahannya. Dia tidak ingin terlihat lemah, meskipun hatinya sudah kocar-kacir membayangkan hal yang buruk akan terjadi padanya.


Kapal sudah mulai berlayar lagi, terdengar teriakan-teriakan awak kapal diluar. Sofia tidak tau apa yang sedang terjadi, dia seperti terisolasi diruangan itu sendiri.


Dia tidak tau hari apa ini, jam berapa atau dimana sekarang, Dia benar-benar tidak tau. Yang Dia tau, hanya siang dan malam.


Setelelah beberapa saat berlalu dalam kesunyian, terdengar suara langkah kaki mendekat, Sofia tidak sembunyi seperti sebelum-sebelumnya. Dia duduk dengan tegak dan melihat Ben masuk dengan membawa sebuah baki.


"Makanlah."


Ben meletakan baki dengan sebuah mangkuk berisi bubur gandum dan segelas air yang cukup keruh diatasnya.


"Aku tidak lapar." Sofia membuang mukanya dengan cepat.


"Terserah padamu." Ben pergi begitu saja tanpa berdebat dengannya. Sofia merasa senang namun merasa kesepian disaat yang bersamaan.


Sofia bangkit dari tempat tidur, dan mengintip mangkuk yang dibawa Ben. Bubur itu terlihat menyeramkan, terasa dingin dan beraroma seperti bubuk mesiu. Airnya tidak jernih dan terlihat kotor.


Sofia merasa jijik hanya dengan melihatnya, namun perutnya berkata lain. Dia memang belum makan seharian, dia ingat hanya makan roti selai kacang dan segelas susu hangat dari Elie waktu dirumah. Sofia menyesal tidak makan sebanyak-banyaknya.


"Aku mulai merindukan roti selai kacang itu.." Gumam Sofia.


Dia mulai mengaduk-aduk bubur gandum yang tidak terlihat seperti bubur gandum. Warnanya sangat pucat. Sofia memejamkan mata saat menjilatnya.


Iiiiuh


Rasanya memang tidak enak, sama seperti rupanya. Hampir saja Sofia muntah, namun dia menahannya. Dia tidak ingin ada orang lain lagi yang masuk kedalam karena Dia membuat keributan.


Dengan cepat sambil tidak mengunyah ataupun merasakan, Sofia memakan habis semua bubur gandum dan langsung meminum air keruh itu.


"Aku harus bertahan!"


Sofia memekik ketika semua bubur masuk kedalam kerongkongannya dan langsung meneguk habis air minum keruh itu.


Rasa mual tiba-tiba menyerangnya. Dia sudah tidak sanggup menahannya lagi. Semua bubur yang telah masuk kedalam lambungnya keluar begitu saja.


Mata Sofia terasa pedih, dia menahan air matanya agar tidak jatuh, namun terlambat. Saat butiran pertama jatuh, maka disusul oleh butiran-butiran lainnya.


Sofia menangis, dia menutup wajahnya dengan bantal dan tidak ingin seorangpun mengetahuinya.


Ben masuk beberapa saat kemudian, dia terkejut melihat genangan bubur yang mengalir dari atas tempat tidur kelantai. Saat akan marah, Ben melihat Sofia sedang menutup wajahnya.


"Kau baik-baik saja?" Ben mengetuk kepala Sofia dengan lembut.


Sofia menggelengkan kepalanya, dia masih menutup wajahnya.


"Aku akan membereskannya. Duduklah dengan benar."


Tanpa banyak berkata-kata, Ben mulai mengelap genangan muntah Sofia dengan sebuah kain dari sakunya. Dia membersihkannya dengan cepat.


"Lepaskan pakaianmu, Aku akan membawakan yang baru."

__ADS_1


"Yang bekas maksudmu?"


"Terserah kau mau atau tidak." Ben keluar dari kabin Richi dengan membawa kain kotor, mangkuk dan gelas yang kosong.


Sofia mencoba melepas pakaiannya dengan cepat, namun seseorang masuk begitu saja tanpa pemberitahuan.


"Ben! Aku belum seles.."


Terlihat Richi menutup pintu dan Dia terkejut melihat Sofia sedang bertelanjang dada. Dengan cepat Sofia menutup tubuhnya dengan selimut.


Richi berjalan mendekat dan duduk ditempat tidur. Sofia duduk sejauh mungkin dari Richi. Jantungnya berdegup sangat kencang, dia merasa malu dan ingin sekali menghilang dari sana saat itu juga.


Richi menyentuh ikal kecil dikening Sofia, dia memutar-mutarnya dengan lembut.


Sofia hanya diam dan mencoba bernafas setenang mungkin.


"Kau menggodaku kucing liar?" Richi menatapnya dengan lembut. Tercium aroma minuman keras dari nafasnya.


Sofia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Lalu, apakah kau sedang bermain-main sekarang?"


Sofia menggelengkan kepalanya lagi.


"Ah, kucing liar ini menjadi pendiam." Dengan cepat Richi meraih tubuh Sofia dan memeluknya dengan erat


Sofia mencoba melawan dan mendorong tubuh Richi yang begitu kuat.


"Lepaskan!!"


Sofia bersembunyi dibalik selimut secepat mungkin.


Tidak lama kemudian Ben masuk dengan membawa sebuah pakaian yang hampir sama dengan yang sekarang digunakan.


"Richi?" Ben terlihat kaget melihat Richi diatas tempat tidur.


"Yaa.."


"Mengapa Kau ada disini?" Ben bertanya karena bingung.


"Apa yang salah? Kupikir ini kamarku?" Jawab Richi santai


"Ah.." Ben tidak berkata apa-apa lagi.


Dia meletakan pakaian ganti untuk Sofia dan pergi lagi dengan cepat.


"Tunggu.." Ucap Richi saat Ben akan menutup pintu.


"Apa kau memintanya untuk menggodaku?"


"Mungkin saja." Jawab Ben lalu menutup pintu.


"Dasar ****!!" Sofia berteriak dari balik selimut.


Richi melihat pakaian itu dan melemparkannya pada Sofia.

__ADS_1


"Kenakanlah."


Richi mulai membuka sepatu botnya satu-persatu lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Dia melepaskan kemeja satin putih tulang yang dia pakai, lalu menggantungkannya. Terlihat dada yang bidang dan perut yang penuh dengan otot-otot yang kuat, Sofia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Richi naik ketempat tidur dan berbaring dengan santai.


"Hei! Menjauhlah!" Ucap Sofia.


"Dengar Nona, ini tempat tidurku. Dan aku berhak tidur disini. Sebaiknya kita berbagi."


"Aku tidak ingin berbagi!"


"Bukankah kau sudah sering berbagi tempat tidur dengan Gerald." Terdengar nada pahit saat Richi membicarakannya.


"Tidak pernah!" Sofia menjawab dengan tegas.


"Terserah padamu. Jika kau ingin bermain denganku, lakukan besok, aku terlalu lelah sekarang." Richi terkekeh lalu memejamkan matanya.


"Dasar brengsek!" Sofia mengumpat dengan kesal.


Saat yakin Richi sudah tertidur, Sofia mulai memberanikan diri membuka selimutnya. Dia mencoba secepat mungkin mengganti pakaiannya yang basah dan bau. Sebelum itu, Sofia turun dari tempat tidur dan mematikan lampu minyak yang tergantung di langit-langit kamar.


Dia melepas pakaiannya lalu mengganti dengan pakaian yang kering.


Dari arah tempat tidur terdengar suara Richi sedang tertawa. Sofia belum mengenakan pakaiannya dengan benar, tapi dia merasa santai karena telah mematikan cahaya.


"Apa Kau tau? Aku bisa melihat dalam gelap?" Richi tertawa terbahak-bahak melihat Sofia yang kebingungan.


Sofia dengan cepat memakai pakaian gantinya dan masuk lagi kedalam selimut.


"Tenang saja, Aku tidak akan tergoda olehmu. Mungkin saja jika kau bukan piharaannya Gerald."


"Aku, bukan!"


"Ah, tentu saja, kau perempuan yang penuh dengan tipu muslihat!"


Richi menarik tubuh Sofia dengan kasar dan mendorongnya ke tempat tidur.


Tangan Sofia tidak sengaja menyentuh bagian perut Richi yang begitu keras dan berotot. Dia terkejut dan menjauhkan tangannya secepatnya.


"Lepaskan Aku!" Sofia mencoba mendorong Richi namun percuma. Tenaganya lemah dan jauh dari kata kuat.


"Sakit!" Sofia meronta-ronta.


"Jika kau berkata jujur, mungkin Aku akan sedikit lebih lembut." Richi menarik dagu Sofia dan menciumnya dengan paksa.


Sofia sangat terkejut ketika bibir lembut Richi menyentuh bibirnya. Richi memaksa membuka bibirnya dengan menekan ujung lidahnya diatas bibirnya.


Sofia berkali-kali membayangkan sedang berciuman dengan seseorang. Terlebih Richi, lelaki yang mungkin Dia sukai. Tapi, bukan ciuman seperti ini. Bukan dengan paksaan dan tempat yang seperti ini.


Sofia tidak bisa menahan air matanya, dia menangis lagi. Tetasan air matanya jatuh pada pipi Richi, Richi melepasnya begitu saja.


"Tidurlah. Aku tidak pernah memaksa siapapun.


Richi membalikkan tubuhnya dan mencoba tertidur.


Disisi lain, Sofia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, dan menahan tangisannya. Dia tidak ingin Richi atau siapapun melihatnya dalam kondisi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2