
Lautan, Diatas Kapal Perompak Hades. Januari 1500.
Susana lautan cukup tenang dengan angin yang berhembus kencang. Langit terlihat biru cerah tanpa awan sedikitpun. Burung-burung camar melintasi Kapal Hades, mereka pergi bergerombol untuk mencari ikan-ikan kecil yang terlihat dari permukaan.
"Seberapa dekat mereka?" Richi mengambil teropong salah satu awak kapal.
"Tidak terlalu jauh, sekitar 3 kilo." Jawab Bamus.
"Kurasa, ini perbuatan Gerald." Jawab Hades tanpa ekspresi.
Raut wajah Richi sudah mulai terlihat kesal. Hari ini benar-benar sangat buruk untuknya. Dia hampir kehilangan Sofia dan sekarang orang yang benar-benar tidak ingin Dia temui berada beberapa kilo saja dari tempatnya.
"Aku tebak, Dia memata-matai kita sejak dari Pulau 'Le Paradise'." Ucap Richi dengan kesal.
"Memang begitu." Hades mengangkat kedua bahunya.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Ben sebagai perwakilan awak kapal yang lain.
"Tentu saja, kita akan menunggu mereka." Jawab Hades santai.
Richi hanya tersenyum mendengar jawaban Hades.
"Sungguh jawaban yang tepat sekali." Richi dan Hades saling berpandangan.
Kapten Hades menyuruh Juru kemudi untuk menghentikan laju kapal dan menurunkan jangkar. Tidak ada satupun awak yang menolak perintah Kapten Hades. Mereka dengan patuh mengikuti setiap rencana yang Kapten berikan.
"Jarak semakin dekat Kapten!" Juru teropong berteriak dari atas tiang.
Richi melihat lagi melalui teropong yang sedang dipegangnya.
"Sebaiknya kita menyambut mereka." Gumamnya.
"Jangan sampai mengecewakan!" Teriak Kapten Hades dari anjungan.
"SIAP KAPTEN!!" Semua awak kompak menjawab.
Dua kapal bajak laut yang mengikuti Kapal Hades sudah mulai terlihat.
Terlihat bendera hitam dengan lambang tengkorak memakai penutup mata sebelah berkibar diatas tiang. Kapal perompak bayaran, mereka sudah terkenal dikalangan Perompak. Hades tidak sedikitpun gentar melihat kapal mereka semakin dekat.
Seringaian jahat terlihat dibibir Hades, Richi selalu tau apa arti dari seringai itu. Hades akan benar-benar menghancurkan dua kapal perompak itu. Dia tidak pernah main-main jika sedang kesal atau terburu-buru.
Letusan meriam terdengar bersamaan dari kedua kapal Perompak itu. Terlihat dua buah bola meriam melayang ke arah Kapal Hades.
"Merunduk!" Kapten Hades berteriak dari dek atas.
Semua awak bersembunyi dibawah.
DUAAAAR!!!!
Bola meriam mengenai tiang dan bagian depan Kapal.
"Keluarkan 4 meriam!" Kapten Hades memberi perintah.
Semua awak sudah bersiap, lalu ketika Kapten Hades mengangkat tangannya, suara ledakan terdengar dari bawah, meluncurlah 4 bola meriam keudara bersamaan.
DUAAAAAAARR!!!
Tidak berselang lama kemudian, terdengar ledakan dari 2 Kapal Perompak itu. Api yang besar muncul dari salah satu kapal.
"Aku tebak, satu bola meriam mu masuk ke bagian senjata." Richi terkekeh melihat api yang meluap-luap dari kejauhan.
"Aku tidak merencanakannya." Hades mengangkat kedua bahunya tanpa ekspresi.
"Siaga!" Suara Kapten Hades menggelegar terdengar diseluruh Kapal.
"SIAP KAPTEN!" Semua awak menjawab bersamaan.
Sofia bisa mendengar dengan jelas suara ledakan dari dalam Kabin. Dia menutup telinganya dengan rapat karena bunyinya sangat keras sehingga telinganya sedikit sakit.
Mangkuk yang dipegangnya terjatuh ketika dua bola meriam Kapal Perompak lain menghantam Kapal Hades tadi.
Dia memegang bagian tempat tidur dengan erat karena Kapal sempat bergoyang dengan kencang sesaat.
Rasa mual tiba-tiba terasa olehnya, kepalanya berdenyut lagi, kenangan buruk saat terjatuh dari kapal kembali menghantuinya.
"Tembakan 4 meriam!"
Awak kapal kembali mengisi meriam dengan bola, lalu disusul suara ledakan beberapa saat kemudian. 2 kapal Perompak itu kembali terbakar.
"Kau benar-benar akan menghancurkannya." Richi menatap Hades yang sedang melipat kedua tangannya di dada.
"Rencanaku begitu."
"Terserah padamu." Richi turun dari anjungan dan memeriksa bagian Kapal yang rusak.
Tidak berselang lama, dari kejauhan 2 bola meriam meluncur ke arah Kapal Hades, bunyi ledakan terdengar sangat dahsyat.
DUAAAR!!!
__ADS_1
Bagian depan Kapal Hades hancur, tiang utama patah sebagian. Beberapa awak kapal tertimpa tiang.
Terdengar teriakan dari segala arah.
Hades yang berada diatas dek kembali memberikan perintah.
"Tembakan 6 meriam!!"
"SIAP KAPTEN!!!"
6 bola meriam meluncur bersamaan, seketika dua kapal Perompak itu bergoyang dengan hebat kemudian terbakar dari segala arah.
"Ah, seharusnya Aku melakukannya sejak tadi." Gumamnya.
"Naikan jangkar! Lanjutkan perjalanan ke Pulau Pace!"
"Siap Kapten!!"
Tiang yang terkena meriam cukup parah. Namun, meskipun tiang besar patah, masih ada tiang kecil yang bisa menaikkan layar meskipun tidak akan secepat tiang besar. Beberapa tempat terbakar, tapi awak kapal Hades bekerja dengan cepat sehingga kekacauan dapat teratasi.
Dua Kapal Perompak itu sudah tidak mengikuti, kapal mereka terbakar parah, Hades benar-benar menghancurkannya.
Richi hampir terjatuh dari dek karena goncangan tadi, beruntung dia memegang bagian pinggir kapal dengan erat.
Sofia yang berada didalam Kabin terlempar cukup keras kelantai, dia tidak menyangka akan ada lagi serangan lagi pada Kapal Hades, Sofia memijat bagian pinggulnya yang terbentur tadi. Dia berusaha naik lagi ketempat tidur untuk mengambil selimut, karena dia tidak memakai pakaian.
* * *
Kapal melaju dengan kecepatan penuh. Tiang dan bagian yang rusak lainnya sudah teratasi. Richi kembali menemani Sofia di dalam Kabin Hades. Tubuhnya masih demam, Sofia mengeluh mual dan pusing dan terus memegang bagian pinggangnya.
"Apa yang terjadi pada tubuhmu?"
"Aku hanya sedikit terlempar." Jawab Sofia singkat.
"Biarkan Aku melihatnya.." Richi mendekat kearah Sofia.
"Tidak, tidak.. Aku baik-baik saja." Sofia memegang erat selimutnya.
"Maaf karena pakaianmu sudah tidak bisa dipakai lagi." Gumam Richi.
Gaun Sofia robek karena Richi membukanya dengan paksa kemarin saat mencoba melepas pakaiannya yang basah.
"Selimut ini hangat, Aku tidak keberatan. Tapi, Kau harus menggantinya nanti." Jawab Sofia.
"Aku akan memberikan apapun yang Kau inginkan."
"Sungguh??"
"Kalau begitu, apakah Kita akan mendarat?" Raut wajah Sofia berubah cerah seketika.
"Ya, kita akan mendarat... Kau terlihat sangat bahagia."
"Tentu saja! Kau akan mengantarku pulang? ke Roseland?"
"Bukan."
"Bukan Roseland? Kemana kita? Kau sudah berjanji akan mengantarku pulang!"
"Apakah Aku mengatakan hal seperti itu?"
"Memang tidak persis seperti itu, tapi Kau mengatakan akan ke Roseland!"
"Tentu! Sehingga Kau bisa bahagia bersama Gerald! Tentu saja, Aku akan melakukannya." Richi menghembuskan nafasnya dengan kesal.
"Mengapa Kau selalu mengaitkan ku dengan lelaki itu?"
"Tentu saja! Karena Kau akan menikahinya!"
"Apakah Aku mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu?"
"Tidak, namun Dia akan menikahi mu."
"Dengar! Aku memang akan menikah, tapi bukan dia yang akan kunikahi! Aku lebih memilih lelaki yang Ayahku pilihkan! Meskipun dia tua, keriput dan bau!" Sofia berbicara dengan sekali nafas. Dia memandang Richi dengan kesal.
Richi tertawa terbahak-bahak mendengar Sofia yang berbicara dengan cepat dan tanpa jeda.
"Ah tentu! Kau tidak masalah dengan siapapun!"
"Dasar brengsek! Aku tidak akan pernah memilihmu! Meskipun hanya Kau pria terakhir di muka bumi ini!"
"Apakah begitu??" Richi mendekat ke arah Sofia.
Jari-jarinya yang panjang dan dingin menyentuh kening Sofia yang panas, sehingga Sofia terkejut.
Jari-jari Richi yang indah turun ke bibir Sofia dan menekannya dengan lembut.
"Ssst... Seharusnya Kau menggunakan bibir ini dengan hati-hati."
"Aaakku.."
__ADS_1
"Ssst... Aku tau fungsi lain dari bibir ini. Kau akan menyukainya."
Tangan Richi yang lain menopang tubuh Sofia, jarinya yang panjang membuka bibir Sofia dengan lembut dan masuk kedalamnya.
Uuh..
"Bagian dalam mulutmu seperti buah yang matang, lembut dan berair."
Richi menarik jarinya dari mulut Sofia dan menjilatnya.
"Manis.." Gumamnya ditelinga Sofia.
"Hentikan... "
"Haruskah?" Mata Richi yang berwarna hijau menatap mata Sofia dengan lembut, Sofia tidak sanggup membalas tatapannya, berulang kali Sofia mencoba mengalihkan pandangannya, namun warna hijau itu terus-menerus menghisapnya seperti lubang hitam.
"Tidak, tidak.. jangan sampai jatuh kedalam sana.." Gumam Sofia.
"Jatuh kemana?" Gumam Richi.
Tangan Richi yang dingin menyentuh bagian belakang leher Sofia yang panas, Sofia terkejut dan hampir jatuh, namun dengan cepat Richi menopang tubuhnya.
"Apakah Kau selemah itu?" Bisik Richi ditelinga nya.
"Hentikan.. bisakah Kau menjauh dariku?" Sofia menatapnya dengan tatapan memohon.
"Ahh... wahai gadis nakal, jangan menatapku seperti itu. Apakah Aku terlihat seperti seorang predator?" Richi berbisik ditelinga Sofia dengan lembut.
"Kumohon, menjauh..." Sofia mencoba mendorong Richi dari sebelahnya.
Richi menarik tangan Sofia sehingga tubuh Sofia mendekat kearahnya, Sofia menarik selimut dengan kuat agar tubuhnya tidak terlihat.
"Kau masih menyembunyikan bagian tubuhmu?" Richi melirik bagian dadanya yang sedikit terekspos.
"Tentu saja!" Sofia menutup mata Richi yang terus memandangnya.
"Astaga.. Kau mahluk malang..." Richi menggelengkan kepalanya.
"Aku harus pergi sebelum bagian tubuhku yang lain terbangun." Richi tertawa getir kemudian berdiri dan berjalan keluar.
Sofia menatap punggung Richi yang semakin menjauh.
Dia senang Richi pergi, namun jauh didalam lubuk hatinya, Dia tidak ingin Richi pergi dan meninggalkannya sendiri.
Dengan cepat Sofia bangun dan tanpa sengaja tangannya menarik bagian ujung pakaian Richi.
Richi menoleh kearah Sofia dan melihatnya sedang kebingungan.
Sofia melepaskan pegangannya dengan cepat.
"Maaf, maafkan Aku.."
Richi tidak mendengar perkataan itu dan kembali kearah tempat tidur dengan cepat lalu melumat bibir Sofia yang masih mencoba berbicara.
Hmmp
Bibir Richi yang lembut menyentuh bibirnya. Rasa panas menjalar dibagian tubuhnya yang lain. Tangan Richi yang dingin membelai punggung Sofia yang panas, sehingga Sofia terlonjak karena terkejut merasakan sensasi dingin yang sejuk.
Lidah mereka saling bertautan satu sama lain. Mereka saling menginginkan. Tidak ada satu katapun yang terucap selain sentuhan dan belaian yang mendamba.
Jantung Sofia berdebar begitu cepat, dia tidak bisa mengontrol tubuhnya lagi. Seakan-akan jika Richi berhenti detak jantungnya pun akan berhenti.
Tiba-tiba rasa itu kembali datang.. perutnya kembali bergejolak..
Sofia mencoba mendorong tubuh Richi yang menempel ditubuhnya.
"Ric...i"
"Menjauhlah..."
Richi menatap Sofia, Dia tidak menghiraukan perkataannya.
"Kumoohon..."
Namun terlambat...
Kapal terasa bergetar, dan Sofia sudah tidak bisa lagi menahannya, seluruh isi perutnya keluar begitu saja tepat diwajah Richi.
HOEEEK..
Richi tidak sempat pergi, Dia berdiri dan tertawa terbahak-bahak.
Sofia merasa malu dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"ASTAGA.... "
"TUHAN.. APAKAH SEKARANG KAU SENANG?"
Richi menatap langit-langit Kabin dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Seharusnya Aku mendengarmu tadi..." Richi menarik selimut dan melihat wajah Sofia yang sudah semerah kepiting rebus.
"Aku sudah memperingatkanmu..." Gumam Sofia.