
Kediaman Marquess Jasper, Roseland. Februari 1500.
Tidak ada yang berubah dari Roseland sejak terakhir Sofia pergi. Hanya saja tumpukan salju yang putih terlihat dimana-mana. Tidak heran udara semakin dingin. Marquess Jasper sengaja membawakan jaket yang tebal untuknya.
Jalan-jalan terasa lebih licin dari biasanya, karena semalam salju turun sangat tebal. Kusir kereta kuda harus ekstra berhati-hati dalam mengendalikan Kudanya.
Dari kejauhan, Sofia dapat melihat dengan jelas Danau Bleu yang membeku. Warnanya yang biru masih terlihat jelas meskipun salju menutupinya.
Dia sangat merindukan kamarnya yang beraroma pohon ek, jendelanya yang besar menghadap Danau Bleu dan berandanya yang menjadi tempat favoritnya untuk melukis. Tangannya sudah gatal sekali ingin memegang kuas ketika membayangkan semua itu.
Akhirnya mereka tiba di pintu gerbang. Lambang Roseland tercetak dengan jelas di kedua pintunya. Sofia tersenyum senang melihat rumahnya yang terlihat sama seperti sebelumnya.
"Heaven.." Gumamnya.
Kereta kuda berhenti tepat didepan pintu rumah. Ron dan pelayan yang lain sudah menunggu kedatangan Sofia dihalaman.
Kusir membuka pintu dengan cepat, lalu pelayan mengerubungi Sofia bagaikan kumbang yang mengerubungi bunga.
"Nona.."
"NONA.."
"Nona Sofia.."
"Tuhanku, Nona.."
"Astaga, lihat Anda.."
"Anda terlihat kurus.."
"Kulit Anda lebih berwarna sekarang, Nona.."
Sofia tertawa dengan lepas mendengar ocehan para pelayannya.
"Merindukanku?" Sofia menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Tentu saja, Nona!"
"Anda membuat kami khawatir setengah mati..!"
Elie turun secepat kilat dari kereta kuda yang dinaikinya bersama Kapten Clark. Dia berlari kearah Sofia ketika semua pelayan mengerubunginya.
"Kalian semua!!"
"Hentikan.."
"Nona lelah karena perjalanan!"
"Kembalilah pada pekerjaan kalian!"
"Astaga, Elie..!"
"Kau seperti penyihir saja!"
"Aaah.."
"Aku tidak peduli, lakukan saja perkejaan kalian."
Sofia hanya tertawa melihat tingkah laku pelayannya.
"Ayo, Nona.." Elie menggandeng tangan Sofia masuk kedalam rumah.
"Elie.."
"Bagaimana dengan Dia?" Sofia menunjuk kearah Kapten Clark yang berbicara dengan Marquess Jasper.
"Ah.."
"Biarkan saja, Nona.."
"Anda lebih penting sekarang.."
Elie mendorong Sofia masuk, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Kapten Clark yang ternyata sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Astaga.." Gumam Elie.
"Apa Elie?"
"Tidak, Nona. Tidak.."
* * *
Seperti yang sudah dibayangkannya, aroma pohon ek dan lavender memenuhi kamarnya.
Tidak ada satupun yang berubah didalam kamarnya.
Sofia membuka pintu ke arah berandanya. Udara yang dingin berhembus kearahnya dengan cepat.
"Astaga.."
"Dingin sekali.."
Danau Bleu terlihat lebih jelas. Tidak ada lagi bunga teratai atau burung bangau yang hinggap diatasnya. Semua beku dan bersalju.
"Apa yang harus Aku lukis?" Sofia menggaruk keningnya.
"Anda harus mandi dulu, Nona.." Elie mengejutkan Sofia dari arah belakang.
"Astaga, Elie.." Dia mengusap-usap dadanya. Jantungnya berdebar dengan kencang.
"Ayo, Nona.."
"Mandi dulu.." Elie mendorong Sofia kearah kamar mandi.
"Airnya nanti dingin, Nona.."
__ADS_1
"Baiklah.."
"Aku akan mandi. Kau, temui lah Clark, ucapkan terimakasih padanya."
Elie diam tidak menjawab. Dia menautkan jari-jarinya.
"Ayo sana pergi.."
"Iiya, Nona.." Elie berlari menuruni tangga dengan cepat.
"Dasar, anak itu.." Sofia menggelengkan kepalanya. Dia mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu lalu masuk kedalam bathtub yang berisi air hangat.
"Astaga.."
"Sudah berapa lama Aku tidak bersenang-senang seperti ini?" Sofia tidak mengingat kapan terakhir Dia dapat membersihkan tubuhnya dengan sangat nyaman.
Hari-hari yang telah dilewatinya seperti sebuah mimpi yang bahkan tidak pernah sekalipun Dia bayangkan. Semuanya benar-benar diluar akal. Semua hal yang terjadi, setiap rasa sakit yang Dia rasakan, entah mengapa sekarang terasa samar.
Namun, rasa rindunya bukan sekedar kebohongan. Rasa yang tidak pernah Dia rasakan sebelumnya. Bagaimana bahagianya menyukai seseorang, sakitnya menyukai seseorang, senangnya perasaan yang terbalas, dan sakit karena menahan rindu. Itulah yang Pria itu ajarkan padanya.
"Aku merindukanmu.."
"Aku merindukanmu..."
"Sangat merindukanmu..."
Sofia memasukan seluruh tubuhnya kedalam air.
Perasaan damai, sepi, tenang terasa sekali.
.
.
.
PWAAAH
Dia mengangkat kepalanya dari air. Matanya berwarna merah karena menahan perih. Dia mengelapnya dengan handuk kering.
Jari-jarinya mulai mengkerut, namun Sofia masih merasa nyaman berada didalam air. Air mengingatkan pada Richi, air mata mulai mengalir menuruni pipinya.
"Astaga.."
"Hentikan Sofia.."
"Kau terlihat menyedihkan.." Sofia mengelap air matanya dan meraih handuk kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kamar mandi.
* * *
Setalah berpakaian, Sofia turun dari kamarnya dan berjalan ke perpustakaan.
Sebuah potret yang selalu ditutupi kain menarik perhatiannya.
"Elie.."
"Lukisan apa itu?"
"Ah.."
"Itu lukisan Madam, Nona.."
"Madam?" Sofia mengerutkan keningnya.
"Benar, Nona.."
"Buka.."
Elie terkejut mendengar perintah Nona mudanya, namun Dia tetap mematuhi perintahnya.
Elie membuka kain dengan perlahan, sebuah wajah yang familiar terlihat semakin jelas ketika kain yang menutupi terangkat sepenuhnya.
"Ibu?"
"Mengapa ditutupi?"
"Itu, itu karena Anda yang memintanya.."
Sofia terkejut mendengarnya.
Ya, benar. Dia ingat, Dia memang pernah mengatakan itu. Bahkan Ayahnya sangat sedih ketika mendengar Sofia mengatakan hal tersebut.
"Ah.."
"Aku ingat.."
Elie tidak berani melihat wajah Nona mudanya.
"Buka semua kain, dan bersihkan.."
"Aku ingin semua potret ibu terlihat bersih."
Elie mendongakkan kepalanya, Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Nona?"
"Hmm.."
"Sungguh?"
"Ya.."
"Lakukan secepatnya."
"Baik, Nona. Baik." Elie berlari dengan cepat ke arah dapur dan memberitahu semua pelayan rumah. Mereka terkejut mendengar hal itu, dan tidak percaya. Namun Elie meyakinkan bahwa semua itu memang nyata. Nona Sofia sendiri yang mengatakannya.
__ADS_1
Sejak saat itu, semua orang sibuk membersihkan potret Madam Rossie, mereka tersenyum bahagia bisa kembali melihat wajah Marchioness nya itu.
"Ayah..."
Sofia menemukan Ayahnya sedang bermain catur sendirian didalam perpustakaan.
Marquess Jasper menengok kearah Sofia dan tersenyum melihat putrinya mendekat.
"Kemarilah.."
Sofia duduk disebelah Ayahnya.
"Ayah.."
"Hmm.."
"Mengapa tidak mengatakan apapun tentang ibu?"
Jasper terkejut dan melihat putrinya yang berurai air mata.
"Ada apa Sofia?"
"Mengapa Kau menangis?"
"Mengapa Ayah?"
"Mengapa tidak mengatakan hal yang sebenarnya?" Sofia tidak bisa berhenti menangis.
Marquess Jasper tersenyum, Dia memeluk putrinya dengan erat.
"Ibumu yang menginginkan semua ini."
"Mengapa?"
"Mengapa Ibu ingin melakukannya?"
"Karena Dia tidak ingin kau bersedih menangisi kematiannya."
"Dia ingin Kau tumbuh menjadi gadis yang kuat hingga Kau dapat mengetahuinya sendiri."
"Lalu, bagaimana jika Aku tetap tidak mengetahuinya sampai akhir?"
"Aku yang akan memberitahumu saat Kau sudah menikah."
"Namun, tampaknya Kau mengetahuinya lebih dulu."
"Hanya ada satu orang yang mengetahuinya selain Ayah."
"Gabriel.."
"Hades.."
Sofia dan Marquess Jasper berpandangan.
"Hades?"
"Gabriel?"
Mereka mengucapkannya bersamaan.
"Ayah, yang memberitahukan ku semua itu adalah Hades.."
"Yang ditemui Ibumu adalah Gabriel, Sofia.."
"Aku tidak mengerti Ayah.."
"Ibumu mengatakan padaku, bahwa Dia akan menemui Gabriel di Lilbert.."
"Siapakah Gabriel?" Sofia bingung mendengar penjelasan Ayahnya.
"Tunggu..." Sofia menutup mulut Ayahnya yang hendak bicara.
"Aku tau, Richi pernah mengatakannya."
"UPS..." Sofia menutup mulutnya.
"Richi?"
"Tidak, tidak.."
"Ayah salah dengar.." Sofia mencoba tenang, Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Richi adalah seorang bajak laut.
Namun, diluar perkiraan Sofia. Ayahnya hanya tersenyum saja.
"Ayah?"
"Kau tidak bertanya siapa Richi?"
"Tidak perlu sayang.."
"Sungguh?"
"Ya."
"Mengapa?"
"Karena semua tidak penting lagi.."
"Kau akan menikah dengan Duke of Roseland tidak lama lagi."
"Menikah?"
"Dengan Duke tua itu?"
"Duke tua?"
__ADS_1