Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Berakhirlah


__ADS_3

"******** mana yang berani menendangku!" Gerald melepaskan tangannya dari leher dan mulut Sofia, kemudian Dia berbalik untuk melihat siapa yang menendangnya.


"Kau.."


"Kau.."


"Tidak mungkin..!"


Dia memandang Gerald dengan tatapan marah dan benci, lalu menarik kerah bajunya dan mendorong Gerald ke dinding dengan keras.


BRUGH!


Sofia memegang lehernya yang terasa perih, Dia mencoba bernafas, dadanya terasa sangat sesak.


'Siapa yang telah menolongku?' Gumam Sofia dalam hati.


Dia mendongakkan wajahnya dan matanya terbelalak seketika, Sofia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Deg


Deg


Deg


"Richi..."


Jantung Sofia berdegup sangat cepat, dadanya terasa perih dan sakit, Dia susah sekali bernafas, air mata mulai mengalir lagi dipipinya.


Richi menatap Sofia yang kesakitan. Dia membenturkan kepala Gerald beberapa kali, darah segar menetes dari kepalanya.


"Sampah sepertimu seharusnya membusuk!"


"Le.."


"Leepas.."


"Lepaskan akuu.."


"Aku tidak akan membiarkan mu hidup walau untuk satu detik saja."


Richi membenturkan lagi kepala Gerald ke dinding.


Sofia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Richi.


Air mata terus-menerus mengalir.


Richi melepaskan Gerald yang sudah tidak berdaya, pakaiannya berlumuran darah.


"Esme.."


"Sayangku.."


"Kau baik-baik saja?"


Richi berlutut didepan Sofia dan memegang wajahnya yang basah dengan kedua tangannya, terlihat sangat jelas bekas cekikan dilehernya yang pucat, Richi menarik Sofia kedalam pelukannya.


"Maafkan Aku, Esme.."


"Maafkan Aku.."


Richi memeluk Sofia sangat erat, Dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sofia yang sangat dirindukannya.


"Aku merindukanmu.."


"Aku merindukanmu, Esme.."


Sofia tidak dapat menjawab apapun, bibirnya terasa kelu, Dia sangat terguncang hingga tidak sanggup untuk membalas pelukan Richi.


"Maafkan Aku terlambat menemuimu.."


"******** ini sengaja membuatku terjatuh dari kuda.."


"Maafkan Aku kekasihku.."


"Tidak ada satu haripun Aku habiskan tanpa memikirkan mu.."


Sofia melepaskan pelukan Richi dan mendorongnya.


"Esme?"


"Ada apa sayang?"


PLAK!!


Sofia menampar Richi dengan keras, pipinya berubah merah seketika.


"Apakah terasa sakit?" Sofia mengusap-usap pipi Richi yang baru saja Dia tampar.


"Saakiit.."


"Maafkan Aku.." Sofia mengecup pipi Richi.


"Mengapa Kau melakukannya?"


"Karena.."


"Karena Kau sudah membohongiku!" Sofia mengepalkan kedua tangannya.


"Bohong?" Richi mengerutkan dahinya.


Sofia melihat ke arah peti mati yang tutupnya terjatuh dan Richi mengikuti arah pandangannya.


"Ah.."


"Aku akan menceritakannya.."


"Sekarang.."


KLIK


Gerald mengangkat pistol ke arah Richi dan Sofia.


HAHAHAHA


"DAN SEKARANG KALIAN AKAN MATI!"


HAHAHAHAHA


Gerald tertawa terbahak-bahak, Dia bersandar di dinding karena kepalanya terasa berputar dan nyeri.


"Turunkan pistol itu sekarang..." Richi memandang Gerald tanpa rasa takut sedikitpun.

__ADS_1


"Esme, berlindunglah dibelakangku.."


"Aku tidak mau.." Sofia menarik kemeja Richi.


"Kumohon Esme.."


"Aku tidak sanggup melihatmu terluka lagi.."


"Kumohon.."


Sofia tidak bisa membantahnya lagi, Dia berlindung dibelakang tubuh Richi dengan cepat.


"Haaah, Astaga.."


"Kalian terlihat sangat konyol sekali!"


"Tenang saja, setelah membunuhmu, Aku akan membunuhnya."


"Bagaimana?" Gerald tersenyum lebar membayangkan kemenangannya.


"Berpikirlah sesukamu."


"Seharusnya Kau mati saja seperti orang tuamu yang bodoh itu!"


"Brengsek!"


"Ah, Aku harus menyusun lagi rencananya.."


"Padahal Aku ingin kalian mati dengan cara yang sama."


"Entah bagaimana Kau bisa selamat saat itu.." Gerald menatap langit-langit.


"Aku tau, sejak awal Kau sengaja berdiri disana! Aku tau!"


"Tentu saja, Aku melakukannya dengan sengaja."


"Berkat semua hal yang terjadi, bukankah Kau senang mereka mati?"


"Kau bisa bebas pergi kemanapun kau mau."


"Seharusnya Kau berterimakasih padaku."


"Cukup!"


"Hentikan semua omong kosong mu!"


"Ah, membosankan.."


"Padahal tinggal selangkah lagi!"


HAHAHA


"Tutup mulutmu!"


"Selangkah lagi wanita itu akan jadi milikku!"


HAHAHAHA


"Aku tidak sudi!" Sofia menggenggam erat lengan Richi.


"Lebih baik Aku mati!" Sofia menggigit bibirnya.


"Tentu! Kali ini kalian akan benar-benar mati!"


"Richi..."


"Tenanglah, percaya padaku.."


"Aku tidak akan membiarkan ******** itu menyakitimu.."


Klik


Sofia menutup kedua matanya, Dia memegang erat pakaian dan lengan Richi.


Angin seperti berhenti berhembus, suasana menjadi hening seketika.


DDOORRR!!


Timah panas meluncur secepat kilat dari moncong pistol, aroma bubuk mesiu dapat tercium dengan jelas dalam ruangan.


BRAK!!


Pintu terbuka, semua prajurit mengarahkan senjatanya pada Gerald, Ratu Ranee berjalan memasuki ruangan dengan wajah yang murka.


Richi berhasil menghindar dan menarik Sofia kedalam pelukannya. Mereka terjatuh cukup keras, namun Richi menahan tubuh Sofia agar tidak terluka.


"Aku tak akan melakukan kesalahan bodoh untuk yang ke dua kali."


"Nenek.."


"Nenek.."


"Ini.."


"Ini tidak seperti yang Kau lihat.."


"Lihatlah kepalaku.."


"Anak sialan itu membenturkan kepalaku berkali-kali!"


Ratu Ranee memandang Gerald dengan marah.


"Jatuhkan senjatamu!"


"Aku tidak bersalah, Nek.."


"Percayalah.."


"Sekarang!"


Gerald menggelengkan kepalanya, Dia bersandar ke dinding.


"Tidak, Nek.."


"Kau tau Aku tidak bersalah."


"Seharusnya Aku yang mendapatkan semua itu!"


"Bukan Dia!"


"Bawa Dia keruang bawah tanah!"

__ADS_1


"Tidak.."


"Tidak.." Gerald mengarahkan pistol ke kepalanya.


Klik.


"Jatuhkan Gerald!"


"Tidak Nek, tidak!"


"Ayahku akan sangat sedih jika melihatku disana Nek!"


"Ah.."


"Aku tau Kau menyekap Ayah dan Ibumu.."


"Mereka akan senang melihatmu dihukum dan berubah jadi pribadi yang lebih baik."


"Tidak!"


"Kau melepaskan mereka?"


"Tidak!"


"Tidak!"


Gerald menggelengkan kepalanya.


"Tidak!"


"Tidak!"


Richi berlari dan menendang perut Gerald, Dia membungkuk kesakitan, dan pistolnya terlempar.


"Bawa Dia!"


"Siap Yang Mulia!"


Gerald berhasil diamankan oleh prajurit kerajaan, mereka membawanya ke ruang bawah tanah. Tempat penjara bagi kaum bangsawan.


"Richard, bawalah Sofia. Dia terlihat sangat terkejut.." Ratu Ranee menepuk punggung Richi.


"Aku mengerti.."


Richi menggendong Sofia dan membawanya keluar.


* * *


"Nona..."


"Anda baik-baik saja?"


Elie berlari dengan cepat ketika melihat Sofia keluar dari ruangan.


"Ah.."


"Elie.."


"Kau terlambat.."


"Maafkan Saya, Nona.."


"Saya berlari secepat kilat ketika melihat Tuan Hades tiba di dermaga.."


"Kau melihatnya?"


"Tentu saja.." Elie menatap Richi yang mengerutkan keningnya.


"Saya juga melihat peti mati itu, Nona.."


"Dan Tuan Richard ada didalam sana.."


Sofia memandang Richi meminta penjelasan.


Richi hanya tersenyum dan terkekeh.


Sofia kesal, Dia memukul-mukul dada Richi dengan keras.


Duk!


Duk!


Duk!


"Hentikan, Sayang.."


"Maaf, maaf.."


"Aku akan menceritakannya.."


"Harus!"


"Aku akan membencimu sampai mati jika penjelasan mu tidak memuaskan ku!"


"Kau tau, Aku tidak akan pernah dapat memuaskan keinginanmu, Sayang.."


"Tapi.."


"Saat ini saja Aku sangat puas bisa melihatmu.."


"Hentikan!"


"Kau membuatku malu!" Pipi Sofia bersemu merah.


"Elie, dimanakah kamar Sofia?"


"Ah.."


"Disebelah kamar Anda, Tuan.."


"Mmm.."


"Nenekku memang pengertian!" Richi tersenyum puas.


"Aku akan pindah!" Sofia cemberut dan mencubit perut Richi.


Argh


"Maaf, Sayang.."


"Maaf.."

__ADS_1


Elie berjalan lebih dulu, Dia tidak mau mengganggu Nona mudanya yang sedang kasmaran.


__ADS_2