Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Ketegangan


__ADS_3

Pulau Pace, Februari 1500.


Richi membantu Sofia kembali mengenakan Gaunnya yang hampir terlepas. Dia menahan dirinya sendiri dengan sekuat tenaga.


Sofia menatap Richi dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana mungkin sekarang mereka tidak berbicara sama sekali, sedangkan baru beberapa saat yang lalu tubuh mereka menempel begitu erat.


"Jangan menatapku dengan tatapan itu.." Richi telah selesai mengikat tali gaun Sofia.


"Tatapan apa??" Sofia menengadah untuk dapat melihat Richi.


"Ini..." Richi meletakan telunjuknya di pelipis Sofia dan mengetuk-ngetuknya.


"Ah..."


"Kau terlihat tidak puas.." Jawab Sofia.


Sofia dapat merasan bagian bawah Richi masih tegang dan hampir mengenai pahanya.


Richi tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sofia.


"Sayangku..."


"Kau tau?"


"Saat ini Aku hampir menggigit lidah ku sendiri karena menahan diri..."


"Aku tidak pernah merasa seputus asa ini..." Richi mencengkram bahu Sofia dengan lembut.


"Kau sangat berhasil menyiksaku.." Kemudian Dia menarik Sofia kedalam pelukannya.


"Aku tidak bermaksud menyiksamu..." Gumam Sofia.


"Ah.."


"Tentu saja Sayang..."


"Akulah yang bersalah disini.."


Richi melepaskan pelukannya dan menatap Sofia dengan senyuman yang aneh.


"Aku mencintaimu..." Ucap Richi dengan lembut.


Deg


Deg


Deg


Jantung Sofia berdetak dengan cepat mendengar pernyataan Richi yang tiba-tiba seperti ini.


Dia tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu.


Sofia menutup mulutnya dan berjalan mundur.


"Hati-hati sayang.."


"Kau akan membentur batu karang.." Tangan Richi sudah melingkari pinggang Sofia.


Sofia masih merasa terlalu terkejut untuk mencerna perkataan Richi.


Dia bingung harus merespon apa dalam situasi semacam ini.


"Maafkan Aku jika perkataanku membuatmu tidak nyaman.." Richi kembali menggenggam tangan Sofia.


"Aku hanya ingin Kau tau, bahwa Aku memang sangat mencintaimu..."


Sofia menatap Richi, Dia menggenggam erat tangannya dan menciumnya dengan lembut.


"Mungkin.."


"Aku mencintaimu lebih dulu..."


"Jauh sebelum Kau mencintaiku.." Gumam Sofia.


"Hah?"


"Tidak, tidak.."


"Mungkin Aku salah dengar.."


"Maaf?" Richi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku mencintaimu jauh sebelum Kau mencintaiku.." Sofia menjawab dengan tegas.


"Kukira Kau membenciku.." Richi tidak percaya diri mendengar jawaban Sofia.


"Mungkin ada satu titik ketika Aku benar-benar membencimu.." Raut wajah Richi berubah tegang mendengar perkataan Sofia.


"Tapi.."


"Rasa cintaku jauh lebih besar.." Mata Sofia berkaca-kaca mengingat setiap momen yang pernah terjadi sampai saat ini.


Richi mengusap air mata yang hampir keluar dari sidut mata Sofia. Dia mengecup kedua matanya dengan lembut.


"Jangan menangis..."


"Maafkan Aku.."


"Mulai saat ini rasa cintaku padamu akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.."


Richi mengecup kening Sofia.


* * *


Mereka tiba di Mansion saat langit sudah hampir gelap. Matahari sudah hampir tenggelam dilautan dan pemandangan sudah lagi tak terlihat indah. Richi menggendong Sofia karena Dia terlihat kelelahan saat berjalan. Richi khawatir lukanya akan kembali terbuka jika dia tidak menggendongnya.


Elie sudah menunggu dengan cemas didepan Paviliun Rose, Dia segera berlari kedepan ketika Chris memberitahunya bahwa Richi dan Sofia sudah terlihat disekitar Mansion.


"Nona..."


"Nona..."

__ADS_1


"Anda baik-baik saja??" Elie berlari kearah Richi yang menggendong Sofia.


"Ah.."


"Aku hanya kelelahan berjalan.." Jawab Sofia dengan ceria.


Beruntung pakaian mereka berdua sudah kering ditengah perjalanan sehingga Elie tidak akan menanyakan banyak hal.


Richi mengantar Sofia hingga kedalam Paviliun Rose dan menurunkan Sofia diatas tempat tidur.


"Beristirahatlah.."


"Aku akan menjemputmu saat makan malam jika Kau tidak merasa lelah.."


"Terimakasih.."


"Aku akan menunggu.."


Richi pergi setelah Elie berada disamping Sofia.


Pintu tertutup dan Elie mulai menginterogasinya.


"Nona.."


"Apakah hari ini menyenangkan??"


"Anda pergi kemana?"


"Apakah Anda merasa bahagia??" Elie menatapnya dengan mata berbinar-binar.


"Haa...." Sofia menghembuskan nafasnya.


"Aku bahagia Elie.."


"Sangat bahagia.." Sofia menarik Elie kedalam pelukannya.


"Apa yang terjadi??"


"Richi sangat baik padaku.."


"Aku tidak bisa berkata apa-apa menghadapi perubahan yang begitu cepat ini."


"Dan.."


"Dan....?"


"Dia mencintaiku.." Gumam Sofia.


"Tuan mengatakannya pada Anda, Nona??"


"Ya..."


"Namun, kupikir itu hanyalah ilusi karena hari ini terlalu sempurna untukku."


"Aku hampir ketakutan semua ini tidak benar-benar terjadi dan hanya khayalanku saja..."


Tiba-tiba Elie mencubit pipi Sofia dengan keras.


Sofia menggosok-gosok pipinya yang merah.


"Nona..."


"Bukankah terasa sakit?"


"Tentu saja!" Sofia balas mencubit Elie.


AWWW


"Bagaimana?"


"Apakah sakit?"


Elie menggosok pipinya.


"Tentu Nona.."


Mereka berdua tertawa bersamaan sambil menggosok pipi masing-masing yang masih terasa perih.


Elie membantu Sofia membersihkan badan, lalu membantu memakai Gaun biru tua yang menutupi seluruh tubuhnya dengan sangat pas.


Elie mengikat rambut Sofia dengan keatas dan membentuknya seperti sebuah bola.


"Anda tidak lelah?"


"Aku baik-baik saja.."


"Jika lelah, jangan memaksakan diri Nona. Saya akan menemani Anda.." Elie menatap Sofia dengan khawatir.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Sepertinya itu Richi..." Sofia berdiri dari tempatnya duduk. Dia hampir terjatuh karena menginjak gaunnya, dengan cepat Elie membantunya.


"Berhati-hatilah, Nona.." Elie semakin khawatir.


"Terimakasih.."


CLACK


Pintu terbuka, dan terlihat Richi berdiri dengan wajah yang segar dan terlihat sangat tampan. Sofia tidak pernah merasa bosan melihat Richi. Matanya selalu mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya.


"Kau selalu terlihat cantik..." Richi mengambil tangan Sofia dan mengecupnya dengan penuh kasih.


"Terimakasih.." Wajah Sofia kembali bersemu merah.


"Sudah siap sayang?'

__ADS_1


"Tentu.."


"Ingin Aku menggendongmu lagi?"


"Tidak perlu.." Sofia tersenyum lalu meletakkan tangannya diatas tangan Richi. Mereka berjalan bergandengan tangan.


* * *


Meja makan sudah terisi penuh dengan berbagai hidangan laut. Berbagai jenis Udang, Lobster, Ikan dan banyak kepiting dengan sausnya yang berwarna merah.


Semua orang telah menunggu kedatangan Sofia dan Richi.


Hades melihat keluar saat Sofia dan Richi tiba.


Sofia merasa tidak nyaman karena semua orang menunggu kedatangannya.


'Seharusnya Aku berisitirahat saja jika akan membuat semuanya menunggu.' Gumam Sofia dalam hati.


Richi menarik kursi kosong disebelah Madam Joy untuk Sofia, sedangkan Dia duduk dikursi kosong sebelah Hades. Dia tidak ingin Sofia dan Hades bersebelahan, Richi sama sekali tidak menyukai ide itu.


Semua kursi telah terisi penuh, termasuk Elie. Hades menatap setiap orang satu-persatu.


"Mari kita makan.." Ucapnya.


Setiap orang menikmati setiap hidangan yang sudah tersaji. Mereka makan dengan lahap, karena masakan Madam Joy memang sangat enak.


Wajah Sofia belepotan karena memakan udang dengan sausnya, Richi mengelapnya beberapa kali.


Semua orang yang melihat mengetahui dengan jelas bahwa dua orang itu sedang jatuh cinta dan tidak ada yang menyangkalnya. Hades hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya yang seperti dua sejoli di mabuk asmara.


* * *


Makan malam berjalan dengan damai, tidak ada seorangpun yang memulai perdebatan atau hal yang menyinggung lainnya.


Namun tiba-tiba Hades berhenti mengunyah dan menatap Richi.


"Jadi.."


"Kapan Kau akan mengantarnya pulang?"


Richi menyimpan garpu dan menatap Hades dengan tenang. Sofia melakukan hal yang sama, begitupun Elie.


Suasana tegang mulai terasa saat Hades dan Richi saling bertatapan.


Joy mulai merasa tidak nyaman, baru saja dia merasa bahagia karena malam ini begitu tenang, namun beberapa detik kemudian semuanya kembali seperti malam kemarin.


"Aku akan mengantarnya."


"Kapan?"


Elie dan Sofia bertatapan.


"Segera, setelah Sofia sembuh."


Hades mengangkat kedua alisnya. "Begitukah?" Dia menatap Sofia.


Sofia mengangguk.


Namun, tiba-tiba Sofia teringat perkataan Richi tempo hari. Dia akan mengantarnya pulang jika Sofia setuju akan menikah dengan Duke tua itu.


Keringat dingin mengalir didahi Sofia, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Elie yang menyadari perubahan raut wajah Sofia menggenggam tangannya.


"Nona.."


"Ada apa?"


"Anda baik-baik saja?"


Sofia tidak berkata apapun, Elie semakin cemas. Richi yang terus memperhatikan gerak-gerik Sofia ikut khawatir.


"Ada apa Esme?" Richi mengusap keringat Sofia.


Sofia menatap Richi penuh arti. Dia tidak tau harus mengatakan apa. Ada banyak sekali pertanyaan didalam otaknya, namun tidak ada satupun yang bisa keluar dari mulutnya. Rasanya ingin pura-pura hilang ingatan saja dan tidak mengetahui apapun.


'Mengapa?'


'Mengapa jadi seperti ini?'


'Jika memang harus menikah dengan orang lain..'


'Mengapa Richi harus baik padanya?'


'Mengapa Dia bilang mencintaiku?'


Hades yang menyadari perubahan sikap Sofia dan mengetahui sebabnya.


Dia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan makan malamnya tanpa merasa terganggu. Sedangkan Richi belum mengetahuinya, Dia mencoba terus berbicara dengan Sofia, tapi Sofia tidak menjawabnya sedikitpun.


Dia tidak punya pilihan lain lagi. Richi berdiri dari tempat duduknya dan menggendong lagi Sofia.


"Apa yang Kau lakukan?"


Semua orang memandang mereka, tapi Richi tidak peduli. Dia berjalan keluar ke arah Paviliun Rose.


"Turunkan Aku!"


"Turunkan!"


"Aku tidak akan menurunkanmu."


"Sampai Kau mengatakan apa yang sedang Kau pikirkan."


"Aku tidak akan!"


"Kau akan mengatakannya.."


"Tidak akan!"


"Sesulit itukah?"


Sofia tidak menjawab, Dia memalingkan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2