
Pulau Pace, Januari 1500.
Hari ini pun langit cerah, sinar matahari terasa hangat, dan udara terasa sangat segar, sungguh menenangkan jiwa.
Richi mengelilingi Paviliun Rose, dia mengambil setangkai mawar merah dan memasukannya kedalam gelas air. Richi membawanya ke dalam dan menaruhnya di meja samping tempat tidur Sofia.
Mata Sofia masih terpejam, sudah dua hari berlalu namun dia masih belum sadarkan diri. Richi selalu menunggunya dan tidak beranjak dari Paviliun Rose sedikitpun. Dia mendekat kearahnya dan menggenggam tangannya dengan lembut.
"Bangunlah Esme..."
"Kau akan menyukai tempat ini..."
"Bukalah matamu..." Richi membelai rambut Sofia.
"Aku berjanji akan mengantarmu pulang saat Kau sudah sembuh nanti..."
"Jadi..."
"Kumohon, bangunlah.."
"Tatap Aku.."
"Maki Aku.."
"Cerca Aku.."
"Aku tidak peduli.."
"Kumohon bangunlah..."
Tidak ada respon sedikitpun dari Sofia. Hati Richi terasa sesak sekali, Dia merasa sangat sakit jauh didalam lubuk hatinya.
"Sakit sekali..." Richi mengusap dadanya berulang kali.
Seseorang berjalan ke arah Paviliun Rose. Terdengar suara langkah kakinya semakin mendekat, tidak lama kemudian terlihat Joy datang dengan membawa baki dengan sebuah mangkuk dan gelas diatasnya.
"Selamat pagi.."
"Tuan Richi..."
"Makanlah dulu.."
Joy memindahkan mangkuk yang berisi sup hangat dan segelas susu ke atas meja.
Richi tersenyum, namun Dia tidak berkata apapun.
"Jika Anda memakan dan menghabiskan Sup dan susu ini, Saya berjanji akan membuat wanita muda ini bangun." Joy tersenyum dengan lembut.
Richi tidak mengatakan apapun, dengan cepat dia mengambil semangkuk sup itu dan menghabiskannya dalam hitungan detik.
Joy tersenyum melihat Richi memakan semua makanan yang Dia bawa.
"Kapan Esme akan sadar?" Richi mengelap sisa Sup yang menempel di sudut bibirnya.
Joy tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Richi.
"Nona Muda ini akan membuka matanya ketika Dia menginginkannya Tuan." Joy tertawa melihat ekspresi Richi yang sudah sangat berharap.
"Kau mempermainkan ku Joy.." Richi kesal mendengar jawaban perempuan tua itu.
"Saya mengatakan kebenarannya Tuan. Peluru itu mengenai usus sebelah kanan, beruntung peluru tersebut tidak mengenai organ vital yang lain, sehingga Saya dapat mengeluarkan peluru itu cukup mudah dan menyimpannya, apakah Anda menginginkannya?" Joy mengangkat kedua alisnya.
"Kau bisa menyimpannya, Aku tidak tertarik untuk melihatnya sedikitpun." Jawab Richi dingin.
"Nona Esme akan kehilangan banyak darah jika saja anda tidak menekan lukanya saat itu."
"Tapi... Aku yakin darahnya sangat banyak keluar."
"Ya... Untung saja Anda menekannya, jika tidak saya tidak tau apa yang akan terjadi Tuan, mungkin Nona Esme akan mengalami syok dan sangat mengancam nyawanya."
Suasana berubah menjadi hening.
"Lalu, apakah sekarang Esme baik-baik saja?"
__ADS_1
"Ya untuk sekarang. Tapi Nona Esme berada dalam masa kritis beberapa jam yang lalu, namun masa itu sudah lewat." Joy mencoba tersenyum untuk membuat Richi lebih tenang.
"Benarkah? Dia akan baik-baik saja sekarang?"
Joy tidak menjawab, Dia hanya mengangguk kepalanya.
"Syukurlah...." Richi menghembuskan nafas lega.
Richi mengecup punggung tangan Esme, dia menciumnya beberapa kali sebelum mendengar Joy terbatuk disampingnya.
Ekhm
Joy hanya tersenyum melihat Richi yang terlihat malu.
"Hanya itu yang ingin Aku sampaikan.. " Joy keluar dan menutup lagi pintu Paviliun Rose.
"Terimakasih Joy.."
Dia tersenyum, Joy dapat mendengarnya meskipun sudah berada dibalik pintu.
* * *
Seminggu sudah berlalu sejak insiden penembakan pada Sofia. Hari inipun belum ada tanda-tanda Sofia akan membuka matanya. Richi terus menunggunya dan tidak pergi kemanapun.
Richi terus bertanya perkembangannya pada Joy, dan sudah hampir frustasi karena belum melihat Sofia membuka matanya.
Joy menanggapinya dengan santai, karena suhu tubuh Sofia sudah normal dan lukanya sudah hampir kering meskipun masih berdarah.
Richi selalu mengganti perban di perut Sofia, padahal Joy sudah menyuruh pelayan untuk menggantinya, namun Dia tetap bersikeras ingin melakukannya sendiri. Dia merasa sangat bertanggung jawab karena Sofia terluka akibat melindunginya.
"Setiap hari Kau terlihat semakin kurus saja Esme..." Richi menggenggam pergelangan tangan Sofia dan mengelapnya dengan kain hangat.
"Kau sudah terlalu lama tidur.. "
"Bangunlah..."
"Aw.."
"Aw.."
"Aw.."
"Apakah kalian sedang bermain Dokter dan Pasien?" Hades tertawa melihat Richi sedang mengelap tangan Sofia.
"Pergilah jika Kau hanya ingin membuat gaduh. Esme tidak akan membuka matanya jika mendengar suaramu." Jawab Richi dingin.
"Astaga, mungkin Esme tau jika Kau selalu ada disebelahnya, jadi Dia terus menutup matanya." Hades tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Richi yang kesal.
"Sial!" Richi melempar kain yang dipegangnya ke arah mulut Hades yang sedang tertawa.
PUKK!!
"Brengsek!" Hades melempar kain itu ke sudut ruangan.
"Apa yang Kau inginkan?"
"Ah, hampir saja Aku lupa. Beberapa kapal militer mendekat. Nenek tua itu sudah mengetahuinya."
"Sudah semestinya. Dia terus memantau keadaan." Jawab Richi.
"Kau harus bersiap dan menemui mereka."
"Tidak, Aku tidak akan pergi sebelum melihat Esme bangun."
"Ah astaga!! Aku akan menjaganya untukmu. Jadi Kau pergilah."
"Aku meninggalkan Esme berdua denganmu? Tidak, tidak akan pernah!"
"Ayolah.. Aku akan menunggunya hingga Dia bangun."
"Siapa yang tau apa yang ada didalam isi kepalamu, Tuhan pun tidak ingin mengetahuinya." Ucap Richi dingin.
HAHAHA
__ADS_1
Hades tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan ketus Richi.
"Astaga.. Apa yang salah dengan isi kepalaku." Hades menggelengkan kepalanya.
"Sesekali Kau harus membenturkannya, siapa tau isinya keluar."
"Ya.. Ya.. Aku akan mencobanya." Hades tertawa lagi.
"Berhentilah tertawa, Kau akan menakuti Esme."
Ekhm..
Hades meredam suaranya dengan cepat.
"Ah, satu hal lagi."
Richi menatap Hades tanpa rasa penasaran.
"Bagaimana dengan Gerald?"
"Dia masih hidup?"
"Tentu! Aku tidak ingin mengotori kedua tanganku." Hades menepuk-nepukan kedua tangannya.
"Kau bisa lebih kotor lagi Hades, Aku menantikannya." Jawab Richi dingin.
"Astaga, HAHAHA Kau selalu menghiburku Tuan.." Hades tertawa mendengar lagi perkataan Richi yang sinis.
"Aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku, tapi Nenek tua itu tidak akan menyukainya."
"Tentu! Kau harus menjaga posisimu! Masalah itu harus dicabut sampai akarnya." Hades menatap Richi.
"Ah! TENTU! Mereka semua harus membayarnya, satu nyawa tidak akan cukup." Pandangan Richi berubah dingin.
"Aku menunggunya hingga saat itu." Hades dan Richi saling berpandangan.
"Ya.. untuk saat ini Aku akan melepaskannya. Namun, jika sesuatu yang buruk menimpa Esme, Dia akan menyesal telah kubiarkan hidup saat ini." Richi memandang Sofia yang terbaring ditempat tidur.
"Baiklah, hanya itu yang ingin kukatakan. Ben dan Bamus berjaga di ruangan sebelah. Mereka akan berlari ketika Kau memanggilnya." Kemudian Hades keluar dari Paviliun Rose.
"******** itu akan mendapatkan balasannya." Richi menghembuskan nafas dengan kesal, Dia kembali menatap Sofia dan membelai pipinya yang sudah semakin tirus.
"Bangunlah oke? Ada banyak hal yang harus kudengar darimu.. dan ada banyak hal yang harus Kau tau.." Richi mengecup kening Sofia dengan lembut.
Tiba-tiba, jari-jari Sofia bergerak beberapa kali. Richi terkejut dan mundur kebelakang beberapa langkah.
"Esme..."
"Esme..."
"Ini Aku..."
"Bukalah matamu..."
Richi mendekat dan menggenggam tangan Sofia dengan erat.
Nggh....
Sofia mencoba membuka matanya, dia mengerjap beberapa kali.
Richi berlari ke arah jendela dan menutup tirai nya sehingga cahaya matahari tidak akan masuk. Dia berjalan lagi ke arah Sofia dan membelai rambutnya.
"Esme..."
"Bukalah matamu..."
Sofia dapat mendengar suara Richi dengan jelas, dia mencoba membuka matanya, namun matanya seperti rapat dan susah untuk dibuka.
Richi mengambil lap, lalu membasahinya. Dia mengelap kedua mata Sofia lalu meniupnya.
"Kau bisa membuka matamu?"
Sofia mencobanya lagi, perlahan dia dapat melihat cahaya dari kejauhan, lalu semakin lama semakin jelas. Dan sangat jelas sekali, wajah Richi berada tepat didepannya.
__ADS_1
"Richi..."