Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Perjalanan Jauh


__ADS_3

Keesokan harinya seluruh masyarakat Roseland gempar dengan kejadian tadi malam. Tidak ada yang tidak tahu tragedi itu, bahkan sebagian orang ada yang melebih-lebihkan. Mereka mengatakan bahwa Lady Sofia memaksa dan mencium seorang pria tidak dikenal dengan ganas.


"Kasian sekali pria itu."


"Lalu, bagaimana nasib Duke tua yang akan dinikahinya?"


"Mereka mengatakan bahwa Duke tua itu kecewa dan membatalkan pernikahannya."


"Benarkah?"


"Bagaimana nasib Marquess Jasper sekarang?"


"Sudah pasti dia jatuh miskin."


"Astaga, mengerikan sekali."


"Sungguh tragis."


Kabar itu sampai ditelinga Marquess Jasper. Dia tidak menyangka kabar itu akan cepat sekali menyebar. Bahkan sekarang seluruh pegawainya mengetahui kejadian itu.


Sejak tadi malam hingga kini, Sofia terus menerus mengurung diri didalam kamarnya. Bahkan dia menolak memakan makanan kesukaannya.


Elie yang terus memperhatikan Sofia merasa khawatir. Dia tidak ingat kapan Nona mudanya menolak makan Kue yang dibuat khusus untuknya. Kue dengan banyak sekali buah strawberry dan buah Berry didalamnya.


"Tuan.."


"Nona menolak makan sejak tadi pagi."


"Dia belum makan apapun."


"Makan siang yang Saya antar tidak disentuh sedikitpun."


Mau tidak mau Jasper naik keatas dan masuk kedalam kamar putrinya.


Tok


Tok


Tok


"Sofi.."


Ayahnya membuka pintu perlahan. Terlihat Sofia sedang melukis diberandanya.


"Bagaimana perasaanmu?"


Jasper membelai rambut anaknya dengan lembut.


"Aku baik-baik saja Ayah."


"Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?"


Sofia terdiam, dia ragu untuk mengatakan kebenarannya, namun Ayahnya terus menatapnya. Seakan-akan dia tidak akan beranjak dari sana sebelum Sofia bercerita.


"Mereka mengatakan Aku akan menikah dengan seorang Duke tua."


"Apa?"


"Siapa yang mengatakannya?"


"Lady Amber."


"Kau mempercayainya?"


"Tidak tau, tapi orang-orang mempercayainya."


"Dasar tukang gosip itu."


"Karena sudah seperti ini, tidak ada yang bisa kita lakukan."


"Dan sebenarnya, Kau tidak akan menikah dengan seorang Duke tua seperti yang dikatakan oleh wanita itu."


"Apakah begitu?"


"Tentu saja."


"Tapi, sekarang lebih baik kita lupakan saja masalah pernikahan itu."


"Aku tidak ingin putriku satu-satunya yang sangat Aku cintai menjadi sedih."


"Terimakasih Ayah.." Sofia memeluk Ayahnya dengan erat. Beberapa tetes air mata jatuh pada pundak Ayahnya.


"Jangan menangis."


"Kita akan baik-baik saja."


Mereka terus berbincang sampai terdengar suara perut Sofia yang kelaparan.


"Ah, sebaiknya Aku memanggil Elie."

__ADS_1


"Maafkan Aku.." Sofia masih merasa menyesal, namun Ayahnya hanya tersenyum lalu menutup pintu kamarnya.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


"Nona, ini Saya.."


"Masuklah Elie."


Elie masuk dengan membawa baki penuh berisi makanan kesukaan Sofia.


"Aku sangat lapar, terimakasih.."


Elie senang melihat nafsu makan Sofia kembali. Dia terus memperhatikan Nona mudanya yang lahap memakan semua makanannya.


Setelah semua makanan hampir habis, Elie sudah tidak tahan untuk bertanya.


"Nona.."


"Hmm.."


"Saya ingin mendengarnya langsung cerita fenomenal itu.." Elie meremas-remas tangannya dengan kencang.


"Ah.."


"Apakah sekarang cerita itu sudah seperti legenda Kapten Hades?"


"Semua orang membicarakannya Nona.."


"Tapi Saya ingin mendengar langsung dari sumbernya.."


"Dasar Kau ini.." Sofia mencubit pipi Elie dengan gemas.


"Ok, dengarkan baik-baik karena Aku tidak akan mengulanginya."


"Tentu saja, Saya sudah bersiap."


"Semua itu benar, Aku mencium pria tidak dikenal."


"Sudah? Begitu saja?"


"Ya, hanya begitu."


"Tapi, sayangnya dia sudah menghilang."


"Anda tidak melihat wajahnya Nona?"


"Haloooo, kita memakai topeng."


"Ah tentu saja." Elie terlihat kecewa dengan jawaban Sofia.


"Nona, apakah Anda sudah berkemas?"


Pertanyaan tiba-tiba Elie membuat Sofia bingung. Dia mengerutkan keningnya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Berkemas?"


"Tuan tidak memberi tau Anda?" Elie menjadi bingung dengan reaksi Sofia.


"Tentang apa?"


"Kita akan pindah Nona.."


"Kita akan pindah ke Lilbert."


Lilbert adalah sebuah desa yang terpencil, letaknya berdekatan dengan laut. Banyak desa desa yang berdekatan disana. Namun akses yang harus ditempuh cukup lama, sekitar 3 hari 2 malam dari Roseland.


Lilbert adalah salah satu desa berkembang, belum ada butik-butik mewah seperti di Roseland. Disana hanya ada toko-toko kecil yang menyediakan keperluan sehari-hari.


Marquess Jasper telah memutuskan agar Sofia untuk sementara waktu tinggal di Lilbert. Marquess Jasper tidak ikut dengan Sofia karena harus mengurus banyak pekerjaan di Roseland. Hanya Sofia dan Elie serta beberapa pelayan yang akan tinggal di Lilbert.


Sofia sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Dia tidak menyangka Ayah nya akan berbuat sejauh itu.


"Nona, mungkin ini untuk kebaikan Anda."


"Kita akan kembali setelah rumor yang terlanjur beredar mereda."


Seperti yang dikatakan oleh Elie, Ayahnya langsung memberitahunya setelah Dia selesai makan dan turun kebawah. Beberapa kereta kuda telah siap dan penuh dengan barang-barang yang akan digunakan nanti.


"Berhati-hatilah dijalan."


"Ayah akan kesana setelah menyelesaikan pekerjaan disini."


"Apakah sekarang Ayah membuang ku?" Sofia enggan untuk berpisah dengan Ayahnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin sayang."


"Jaga dirilah.."


"Jangan nakal."


"Aku tidak ingin jauh-jauh darimu, Ayah.."


Sofia tidak sanggup lagi menahan air matanya, dia tidak pernah jauh dari Ayahnya sampai saat ini. Hanya Ayahnya lah satu-satunya keluarga baginya.


Sejak tadi, Dia sudah menahan diri agar tidak menangis. Namun, saat waktunya akan berpisah, rasanya dadanya terasa sesak sekali, sehingga seluruh emosinya meluap begitu saja saat menatap Ayahnya.


Marquess Jasper memeluk putrinya dengan erat, dia sangat menyayangi Sofia. Ini adalah hal berat yang harus dipilih olehnya. Jasper ingin Sofia berkembang menjadi wanita yang kuat dan berani.


Dengan enggan Sofia melepas pelukan Ayahnya, kemudian mengecup pipi kanan dan kiri Ayahnya yang sudah tua itu.


"Aku pergi Ayah.." Sofia melambaikan tangannya kemudian masuk kedalam kereta kuda.


Jasper tetap berdiri sampai kereta kuda menghilang dikejauhan.


* * *


Setelah beberapa jam melewati jalanan yang nyaman, kini dimulailah perjalanan sebenarnya. Semakin lama jalanan semakin terjal dan berbatu. Sofia terlempar kesana-kemari, Elie memegangnya dengan kuat agar tidak terjatuh.


Diluar sudah semakin gelap, tidak terlihat satupun cahaya lampu. Yang ada hanya pohon-pohon yang sangat berdekatan sehingga cahaya matahari pun sudah masuk kedalam celah-celah nya.


Tidak ada satupun yang berbicara didalam kereta, hanya terdengar suara nafas lembut yang saling bersahutan.


Semakin lama terdengar suara jangkrik dan hewan-hewan malam lainnya yang sudah mulai keluar dari sarangnya.


"Elie.."


"Apakah masih lama?"


"Ini belum setengah jalan Nona.."


"Perjalanan masih akan memakan waktu 2 hari."


"Kita akan beristirahat beberapa jam lagi."


"Akan ada penginapan disana."


Sofia menghela nafas panjang. Ini adalah perjalanan tarlama sepanjang hidupnya. Bokong dan punggungnya sudah benar-benar sakit. Dia tidak sengaja membenturkan punggungnya saat kereta kuda berbelok dengan tajam beberapa saat yang lalu.


Seperti yang dikatakan oleh Elie, kereta kuda melaju semakin lambat. Lalu benar-benar berhenti.


Terlihat cahaya dari sebuah pondok yang lumayan besar dengan sebuah papan nama yang tergantung 'petite maison'.


"Mari kita turun Nona."


Sofia turun dengan perlahan. Dia memijat bagian punggungnya yang sakit dan kakinya terasa sangat pegal sekali.


Dia menghirup udara yang sangat segar. Tempat ini terlihat nyaman. Pepohonan yang besar dan rindang mengelilinginya. Ada sebuah ayunan kecil didepan pondok, seorang anak perempuan sedang menaikinya dan diayunkan oleh anak laki-laki yang lebih besar.


Karena langit semakin gelap, Sofia bergegas mengikuti Elie. Sekarang kakinya terasa kesemutan karena terlalu lama duduk didalam kereta kuda.


Sesampainya didalam kamar, Sofia langsung menjatuhkan dirinya diatas sebuah kasur yang terlihat sangat nyaman.


Braak


"Aaw..."


Elie yang mendengar teriakan segera berlari dan menghampiri Sofia.


"Nona.."


"Ada apa?" Muka Elie terlihat sangat khawatir.


"Tidak, tidak apa-apa.." Sofia memijit bokongnya yang kini terasa sakit.


Tempat tidurnya terlihat nyaman sekali tetapi sebenarnya tidak. Kasurnya tipis bagaikan sebuah papan penutup lubang.


"Beristirahatlah Nona, Saya akan menyiapkan makan malam."


Elie berjalan keluar dan menutup pintu.


"Seluruh tubuhku terasa remuk."


"Ini lebih buruk dari pada perjalanan malam itu ke kedai Perompak."


"Apakah Aku bisa bertahan 2 hari lagi?"


"Semoga saja seluruh tubuhku sampai dalam keadaan utuh."


Karena sangat lelah, Sofia tertidur begitu saja setelah menyelesaikan makan malamnya. Bahkan, gaunnya masih menempel ditubuhnya. Elie dengan cekatan menggantinya dengan kamisol yang biasa dipakai Sofia saat tidur.


Notes :


Negara Roseland cukup besar, sehingga mempunyai beberapa pulau-pulau yang terpisah.

__ADS_1


Desa Lilbert adalah salah satu desa yang terpencil, letaknya berdekatan dengan laut.


__ADS_2