
Marquess Jasper membuka lemari besinya dan mengambil sebuah kotak kayu yang sudah usang.
Dia meniup debu yang menempel dan membukanya dengan sebuah kunci yang selalu di kalungkan di lehernya.
Klak
Kotak itu terbuka, Marquez Jasper mengambil kertas yang terlipat kemudian membukanya.
Dia tersenyum, lalu mengusap air matanya.
"Ron!"
"Saya, Tuan.."
"Siapkan kereta kuda, Kita akan pergi ke Istana besok pagi."
"Saya mengerti."
* * *
Musim salju telah berakhir beberapa hari yang lalu, semua orang menyambut musim semi dengan riang gembira. Cuaca memang masih cukup dingin, tapi tak menghalangi mereka untuk melakukan parade tengah malam dengan pakaian yang unik di festival nanti.
"Nona.."
"Mm.."
"Mengapa tidak jadi pergi?"
"Ah, Aku tidak ingin membuat Richi khawatir.."
"Tapi, tapi.."
"Anda sangat menantikan Festival ini."
"Aku akan melihatnya dari sini.."
"Haruskan Saya memberitahu Tuan Duke?"
"Tidak, tidak."
"Jangan lakukan itu."
"Lagipula Richi terluka parah, Aku tidak ingin bersikap egois."
"..." Elie tidak bertanya lagi, Dia menuangkan secangkir coklat hangat dan membuka toples cookies untuk Sofia.
"Terimakasih, Elie.."
Sofia menutup jendela lalu duduk untuk mengambil sebuah cookies.
Sudah hampir tengah malam di Ibukota Roseland, Sofia tidak bisa tidur, Dia memakai sandal dan mantelnya kemudian membuka jendela kamarnya.
"Cukup dingin huuh.."
"Aku tidak bisa melihat apapun." Sofia merasa sedih, namun Dia tidak mengatakan apapun.
Elie pergi melihat karnaval dengan Kapten Clark, Dia minta ijin beberapa hari yang lalu dan Sofia menyetujuinya. Dia tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan Elie.
Tok
Tok
Tok
"Elie?"
Sofia berjalan kearah pintu lalu membukanya dengan cepat.
"Mengapa sudah pulang Elie?"
"Richi?"
Richi tersenyum didepan pintu kamarnya.
"Mengapa?"
"Mari pergi.."
"Kemana?"
"Tidak ingin?"
"Ingin.." Sofia menautkan jari-jarinya. Dia tidak tau kemana Richi akan membawanya, tapi lebih baik pergi dengannya dari pada diam bersedih sendirian.
"Ganti dulu pakaian mu, Sayang.."
"Ah.."
"Maafkan Aku.." Sofia menutup belahan payudaranya yang terlihat.
"Tunggulah didalam..." Sofia menarik tangan Richi dengan cepat.
Richi ingin menolak, namun Sofia memaksanya.
"Apa Kau mengerti maksud dari ajakan seorang perempuan pada lelaki tengah malam seperti ini?"
"Dan mengajaknya masuk kedalam kamarnya?" Richi menatap Sofia yang bingung.
"Aku tidak bermaksud apapun."
"Kau tau, diluar cukup dingin."
"Lebih baik menunggu didalam, Aku takut butuh waktu cukup lama untuk berganti pakaian." Sofia menaikan kedua alisnya.
Richi tertawa mendengar perkataan Sofia.
"Yaa, yaa.."
"Hanya Aku yang berharap terjadi sesuatu." Richi menutup wajahnya yang memerah.
"Ada apa?"
"Tidak, tidak ada apapun."
"Sudah selesai?"
"Tunggu.."
"Ah.."
"Bisakah Kau membantuku menarik sleting di punggungku?"
"Aku sulit untuk menariknya."
"Tentu.."
Richi berjalan masuk kedalam kamar ganti Sofia.
Ya, Sofia berdiri didepan cermin dengan bagian punggungnya yang terekspos. Sorot lampu yang temaram membuat kulitnya yang pucat terlihat bersinar. Richi mentup lagi wajahnya, Dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Apakah ada masalah?"
"Tidak, Cinta.."
"Tak ada masalah apapun."
__ADS_1
"Hanya Aku yang bermasalah."
"Aku tak mengerti.."
"Tidak perlu Sayang."
"Aku akan membantumu dengan cepat."
"Aku senang mendengarnya."
* * *
"Kemana kita akan pergi?"
Mereka menunggangi kuda dengan cepat, Sofia duduk didepan dan Richi dibelakangnya.
"Kita akan tiba sebentar lagi.."
"Jangan terlalu cepat, Aku takut jatuh.."
"Aku akan memelukmu.."
"Percayalah.."
"Jika kau berkata seperti itu.."
Dari kejauhan sudah mulai terlihat lampu-lampu yang terbang semakin tinggi.
"Lampu apakah itu?"
"Itu lentera sayang.."
"Lentera?"
"Ya.."
"Didalamnya ada surat yang berisi harapan."
"Surat harapan?"
"Ya.."
"Apakah kita bisa melakukannya?"
"Kita akan pergi kesana sekarang."
"Sungguh?"
"Ya, berpeganglah lebih erat, atau kita akan terlambat."
"Aku mengerti.."
Richi mengendarai kudanya lebih cepat.
* * *
Danau Bleu adalah tempat untuk melepaskan ribuan Lentera pada malam festival musim semi. Semua orang berkumpul di padang rumput dengan membawa lentera masing-masing, kemudian menerbangkannya bersama.
Setelah menerbangkan lentera, mereka akan berjalan mengelilingi kota dengan memakai kostum dan berakhir di halaman istana kerajaan.
"Apakah hanya perasaanku saja.."
"Apakah ini Danau Bleu?"
"Benar sayang.."
"Rumahku ada di seberang sana.."
"Kau lihat itu?"
"Bangunan 3 lantai yang cukup terang itu?"
"Aku tau.." Richi tersenyum lalu mencubit pipi Sofia dengan gemas.
Dia turun dari Kuda lebih dulu, Kemudian mengikatkannya di pohon Cemara.
"Kemari, turunlah.."
"Aku takut jatuh.."
"Aku akan menangkapmu.."
"Baiklah.."
HAAPP
Richi berhasil menangkap Sofia dengan baik. Sofia tertawa dan mencium pipi Richi dengan cepat.
"Terimakasih.."
"Dengan senang hati, istriku.."
"Aku bukan istrimu.." Pipi Sofia memerah, Dia berjalan lebih cepat didepan Richi.
"Kau akan." Richi mengejarnya lalu memeluknya dari belakang.
"HEII!!"
"Orang-orang akan melihat.."
"Sebenarnya.."
"Aku tidak peduli.."
"Dasar tidak tahu malu."
"Berkatalah sesukamu." Richi memutar tubuh Sofia dengan mudahnya, lalu memegang wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tanganmu dingin.."
"Ya, tapi wajahmu panas.."
"Tidak mungkin!" Sofia memegang dahinya.
Memang benar suhu tubuhnya sedikit meningkat, semua itu karena ulah Richi, jantungnya berdetak lebih cepat dan membuat tubuhnya terasa panas.
"Jangan terlalu dekat, Kau membuatku terbakar." Sofia mengipaskan tangannya.
"Tapi Kau membuatku hangat.." Richi memeluk lagi Sofia.
Sofia mencoba mendorong tubuh Richi.
"Sebentar saja.."
"Biarkan Aku memelukmu sebentar lagi.."
"Baiklah, sebentar saja.."
* * *
"Sini tanganmu.."
"Untuk apa?" Sofia menatap Richi bingung.
"Kita akan bergandengan tangan.."
__ADS_1
HAHAHA
Sofia tertawa keras mendengar perkataan Richi.
"Mengapa kita harus bergandengan tangan?"
"Kau tidak ingin?"
Dengan cepat Sofia meraih tangan Richi. Richi hanya tertawa melihat Sofia yang salah tingkah.
"Kita akan berlari.."
"Pegang tanganku erat."
"Harus lari?"
"Ya.."
"Mereka sudah menunggu.."
"Mereka?"
"Ayo.."
Richi dan Sofia berlari melewati hutan yang cukup gelap, mereka sudah mulai mendengar suara orang-orang yang berbincang.
"Kita hampir sampai.." Richi berhenti berlari kemudian berjalan ke arah suara dan cahaya yang mulai terang.
"Nona..."
"Nona....."
Seseorang memanggilnya dari kejauhan. Sofia dapat dengan mudah mengenai suara itu.
"Elie?"
Richi mengangguk dan melambai kearah pria yang berjalan di belakang Elie.
"Kapten Clark?"
"Ya.."
"Mereka menunggu sejak tadi.."
"Apakah Elie membujuk mu?"
"Elie hanya mengatakan keinginannya." Richi tersenyum.
Sofia menutup mulutnya, Dia tidak percaya Elie melakukan semua ini untuknya.
"Apa kau senang?"
"Ya..."
"Terimakasih.."
"Kau harus mencium ku nanti." Richi mengangkat kedua alisnya.
"Aku akan mencium Elie."
"Hei!"
"Itu tidak adil."
Sofia menarik kerah baju Richi dan menciumnya dengan cepat.
CUP!
"Lakukan dengan benar." Richi memegang wajah Sofia dan menciumnya.
Kaki Sofia terasa lemas merasakan mulut Richi yang mendesaknya untuk membuka bibirnya. Dengan sigap Richi menopang tubuh Sofia.
Ekhm!
Kapten Clark sudah berdiri didepan mereka. Sofia mendorong Richi menjauh dan hampir terjatuh.
"Anda baik-baik saja Nona?" Elie merasa malu melihat Nona mudanya berciuman tepat didepan matanya.
"Aku baik-baik saja, Elie.." Sofia mengipaskan tangannya. Wajahnya terasa sangat panas sekali saat ini.
"Selamat malam Tuan Duke.."
"Malam, Kapten." Mereka berjabat tangan dan saling memberi hormat.
"Apakah sudah dimulai?"
"Sudah hampir selesai, Tuan."
"Ah, ini Nona." Elie memberikan sebuah lentera pada Sofia.
"Lentera?"
"Ya.."
"Tulislah sesuatu.." Kapten Clark memberikan sebuah pena dan kertas pada Richi.
"Terimakasih, Elie.."
"Tentu, Nona."
Sofia dan Richi berjalan ke arah kerumunan orang yang sedang menerbangkan lentera.
"Apa yang ingin Kau tulis?" Richi menatap Sofia.
"Rahasia.."
"Ah.."
"Aku mengerti.."
Richi menulis lebih dulu kemudian memberikan kertas lain pada Sofia.
"Sudah?"
"Ya.."
"Ayo masukan.."
Mereka memasukan kertas harapan, kemudian menerbangkannya ke atas.
"Indah sekali bukan?" Sofia menatap Richi, namun ternyata Richi sedang menatapnya.
"Mmm.."
"Cantik sekali.." Gumam Richi.
"Ya, mereka sangat cantik."
"Kau yang sangat cantik."
Sofia memalingkan wajahnya, Dia tidak ingin Richi melihat wajahnya yang sangat merah saat ini.
Ribuan lentera bercahaya terang terbang di langit yang gelap, suasana yang sangat indah sekali untuk dinikmati bersama pasangan dan keluarga.
Note :
__ADS_1
Richi "Semoga kita Bahagia selamanya."
Sofia "Semoga kita dapat menjadi keluarga bahagia, kau dan aku dan anak-anak kita kelak nanti."