
Pulau Pace, Februari 1500.
Sofia berjalan dengan wajah penuh senyuman. Dia bersenandung senang sambil memegang dadanya. Jantungnya masih berdebar dengan cepat meskipun Richi telah lama pergi.
Dia masuk ke dalam Paviliun Rose dan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.
Aww..
Rasa sakit dibagian perutnya tidak membuat rasa senangnya berkurang sedikitpun.
"Aku tidak tau jika Richi bisa bersikap semanis itu.."
"Hatiku harus bersiap jika berhadapan dengannya."
"Tolong jangan berdebar terlalu cepat." Sofia menatap dadanya dan mengusap-usapnya.
Malam semakin larut, Elie masih belum kembali. Sofia tidak bisa tidur kalau belum menceritakan rasa bahagianya pada Elie.
Dia berguling kekiri dan kekanan untuk mengusir rasa bosan.
"Apa yang Elie lakukan?" Rasa panik mulai menyerangnya.
"Apakah Elie meninggalkanku?"
"Tidak, tidak.."
"Tidak mungkin Elie melakukannya.."
Sofia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.
Saat itu pintu terbuka.
CLACK!
"Nona?" Elie berjalan masuk dan terkejut melihat Sofia yang masih terbangun.
"Elie..!!" Sofia berlari dan memeluk Elie.
"Ada apa Nona?"
"Ada apa?" Elie khawatir dan melihat wajah Sofia.
"Tidak, tidak.."
"Aku khawatir karena Kau belum juga kembali." Sofia berjalan kembali ke tempat tidur.
"Ah.."
"Maafkan Saya, Nona. Madam Joy mengajak saya berbincang didapur. Saya tidak bisa menolaknya."
"Madam Joy?"
"Ya.."
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Mm.."
"Kami membicarakan Tuan Hades."
"Kapten Hades?"
"Yaa.."
"Ada apa dengannya?"
"Tidak ada apapun, ini hanya cerita lama.." Elie membuka lemari pakaian dan mengganti pakaiannya.
"Ceritakan padaku.."
"Kapten Hades sudah tidak mempunyai orang tua Nona, itulah yang diceritakan oleh Madam Joy.."
"Hanya itu?"
"Ayah dari Kapten Hades adalah seorang Perompak yang sangat terkenal.."
"Sungguh?" Sofia menopang dagunya sambil berbaring tengkurap.
"Benar.."
"Kalau tidak salah Dia bernama Tuan Dominic."
"Dominic?"
"Benar, Dominic. Dan istrinya bernama Charlotte."
"Charlotte?"
"Dimana Aku pernah mendengar nama itu?" Sofia kembali mengingat nama-nama yang dirasanya tidak asing.
"Anda mengetahuinya, Nona?"
"Dulu Aku pernah membacanya disurat kabar yang sudah lama di perpustakaan. Judul koran itu 'Meninggalnya Putri Charlotte karena tenggelam.' Tapi itu tidak mungkin Putri Charlotte kan?" Tanya Sofia.
__ADS_1
"Saya tidak tau, Nona. Madam Joy tidak mengatakan apapun tentang putri." Elie kembali mengingat perbincangannya dengan Madam Joy, tapi tidak ada hal seperti itu. Elie menggelengkan kepalanya.
"Mungkin itu hanya kebetulan.." Sofia tersenyum, tapi Dia masih penasaran.
"Lagi pula, tidak mungkin seorang Putri menikah dengan bajak laut bukan?" Sofia menatap Elie.
"Tentu Nona, itu merupakan sebuah aib." Jawab Elie.
"Aku akan menanyakannya pada Ayah nanti saat pulang." Mata Sofia berbinar-binar setelah mengatakan pulang.
"Ya, Nona.."
"Kita akan pulang, dan bertemu Tuan."
Tapi ada satu hal penting yang Sofia dan Elie lupakan.
* * *
"Nona.."
"Ayo cepat bangun.."
"Tuan Richi akan kesini sebentar lagi.."
Sofia mengerjapkan matanya beberapa kali. Matahari sudah bersinar terang. Sofia lupa Dia mempunyai janji dengan Richi.
"Astaga, Elie.."
"Bantu Aku berpakaian..!"
Dengan cepat Elie membantu Sofia berdiri lalu pergi kekamar mandi.
Madam Joy sudah mengantarkan pakaian untuk Sofia.
Sebuah Maxi dress bermotif daun kelapa dengan dasar warna pastel, Topi pantai berwarna putih tulang dan sandal gladiator berwarna coklat untuk dipakai Sofia.
"Ini akan sangat bagus dipakai anda, Nona.." Elie sudah membayangkan Sofia dengan Maxi dress itu.
"Ini semua untukku?" Sofia menatap seluruh dress dan pemberian Joy itu.
"Benar, Nona." Dengan cekatan Elie mengeringkan rambut Sofia lalu memakainya dress. Bagian pinggir kiri dan kanan rambut Sofia dikepang kecil lalu diikat kebelakang. Sehingga rambut Sofia yang tersisa bisa digerai.
"Anda sangat cantik.." Elie mengagumi Nona mudanya itu.
"Hentikan.."
"Kau membuatku malu.."
Tok
Tok
Tok
"Antar Aku, jantungku berdebar dengan kencang Elie.."
"Tenanglah, Nona.."
"Semuanya akan baik-baik saja.." Elie mengusap punggung Sofia.
Mereka berjalan kearah pintu. Elie membuka pintu dan menarik Sofia keluar.
Richi berdiri membelakangi pintu. Hari ini dia memakai kemeja putih tulang dengan celana berwarna pastel. Ketampanannya dapat terpancar meskipun dari belakang.
Jantung Sofia berdebar dengan cepat. Dari jarak itupun Dia dapat merasakan aroma tubuh Richi yang membuatnya merasa nyaman.
"Maaf membuatmu menunggu.." Ucap Sofia.
Richi membalikan punggungnya dan berhadapan dengan Sofia.
Richi tertegun melihat Sofia yang begitu dekat. Dia kehilangan kata-kata dan hanya diam tidak mengatakan apapun.
Sofia mendongakkan wajahnya. Dia menyentuh pundak Richi.
"Richi?"
"Ah.." Richi mengusap rambutnya.
"Kau terlihat sangat cantik." Richi mengambil tangan Sofia dan mencium punggung tangannya.
Pipi Sofia bersemu merah mendengar perkataan Richi.
Elie berjalan dengan cepat kearah Sofia. Dia memawa sebuah tas dari bahan rotan dan memberikannya pada Sofia.
"Nona, ini bekal. Bawalah.." Elie tersenyum senang.
Sofia hanya mengangguk.
Richi menggandeng tangan Sofia dan berjalan ke arah pantai.
Elie melambaikan tangannya sampai Sofia tidak terlihat lagi.
"Berbahagialah, Nona.." Elie menyela air mata disudut matanya.
__ADS_1
* * *
Khusus hari ini, Hades mengijinkan Richi dan Sofia berada dipantai.
"Kau ingin Ku gendong?" Richi dan Sofia berjalan menyusuri pantai berpasir putih.
"Jangan bercanda.."
"Aku tidak.."
"Aku tidak ingin Kau lelah." Richi menggenggam erat tangan Sofia.
"Aku tidak selemah itu." Sofia menatap Richi, namun topi pantai itu menghalangi pandangannya.
"Aku tau.." Lagi-lagi Richi menciumu tangan Sofia. Rasa panas mengalir dari tangan yang diciumnya. Sofia merasa tangannya berkeringat, Dia mencoba melepaskan genggaman Richi.
"Ada apa?" Richi menatap Sofia.
"Tanganku basah." Jawab Sofia malu.
Richi tertawa mendengar perkataan Sofia.
"Aku tidak keberatan cinta.."
"Meskipun seluruh tubuhmu basah untukku." Untuk kesekian kalinya Richi mencium tangan Sofia.
"Hentikan.."
"Jangan membuatku malu.."
Air laut membuat kaki Sofia basah. Dia berhenti dan berjongkok, kemudian melepaskan sandalnya.
"Aku akan membawanya.." Jawab Richi, kemudian Dia membawa sandal Sofia dipunggungnya.
"Terimakasih.." Gumam Sofia.
Sofia berlari-lari kecil diatas pasir putih, beberapa kali deburan ombak mengenai kakinya.
"Kau menyukainya?" Tanya Richi.
"Sangat.."
"Aku menyukai semua hal yang indah.."
"Kau pasti sangat menyukai ku.." Richi menatapnya.
"Aku tidak.." Jawab Sofia cepat. Dia mengalihkan pandangannya karena tau pipinya sudah berubah warna lagi.
Richi menahan tawanya, Dia tidak ingin Sofia kembali kesal seperti kemarin.
"Kau menyukai laut?" Sofia menatap Richi.
"Cukup suka."
"Tapi Aku jauh lebih menyukaimu.." Richi menatap Sofia lembut.
"Kau selalu membuatku malu." Deburan angin membuat topi yang dipakai Sofia terbang. Namun, dengan cepat Richi menangkapnya.
Richi kembali memakaikan topi itu dikepala Sofia.
"Pakailah, Aku tidak ingin orang lain mengetahui kecantikanmu.."
Sofia menutup wajahnya karena malu, Dia tidak sanggup lagi mendengar kata-kata manis dari mulut Richi.
"Terimakasih.."
Richi kembali menggenggam tangan Sofia. Dia berjalan lebih dulu.
"Kau ingin menaiki perahu?"
"Tentu..!!"
"Kita akan berlari.."
"Kau siap?"
"Jangan terlalu cepat!"
"Ah.."
"Aku akan menggendongmu kalau begitu."
Richi memutar badannya lalu mengangkat tubuh Sofia dengan cepat.
"Kau selalu melakukan hal seenaknya."
"Begitukah?"
"Ya.."
Richi berlari menyusuri pantai dengan Sofia diatas lengannya.
"Peganglah dengan erat."
__ADS_1
Sofia memeluk leher Richi dengan erat. Dia bisa merasakan detak jantung Richi yang cepat. Aroma tubuh Richi tercium sangat jelas dihidungnya. Sofia menghirupnya dalam-dalam, Dia tidak ingin kehilangan kenyamanan ini.