Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Perubahan Rencana


__ADS_3

Lautan, Diatas Kapal Perompak Hades. Januari 1500.


Hades tersadar dari lamunannya saat mendengar suara ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


Dia berdiri dan membuka pintu dengan cepat.


Terlihat Ben berdiri tepat disana.


"Kapten, kita sudah bisa berlayar. Angin kencang sudah berhembus lagi beberapa saat yang lalu."


"Baiklah, lanjutkan perjalanan."


"Siap Kapten!" Ben memberi hormat pada Hades lalu pergi ke anjungan.


Hades menutup pintu dan kembali kedalam Kabin. Richi sudah bangun dan sedang mengelap dahi Sofia yang berkeringat.


"Apakah sekarang kau merangkap tiga pekerjaan?" Hades memandang Richi dengan tatapan menghina.


"Sebaiknya Kau keluar saja jika hanya ingin menggangguku." Richi menjawabnya dengan ketus.


"Oh oh oh.. maafkan Aku, Tuan. Aku takut.." Hades mengangkat kedua tangannya.


"Menjijikan." Richi membuang muka dan mengelap lagi dahi Sofia.


"Kau akan membuat dahinya mengkilap jika terus mengelapnya seperti itu."


"Tapi tubuhnya panas!"


"Benarkah?" Hades menyentuh dahi Sofia, dan benar yang dikatakan oleh Richi. Dahi Sofia tidak sekedar panas, bahkan sangat panas sekali.


Hades berjalan keluar dan naik ke anjungan dengan cepat.


"Rubah haluan ke arah Utara." Dia berteriak dengan keras.


"Tapi Kapten, misi kita di Selatan.."


"Kita akan melakukannya nanti, sekarang lakukan apa yang Aku katakan!"


"Baiklah, kita akan kemana..." Tanya Ben.


"Tujuan kita Pulau Pace."


"Pulau Pace?"


"Ya, cepat putar arah dan melaju secepat mungkin." Perintah Kapten Hades.


"Siap Kapten!" Semua awak bersorak dengan kencang.


Kapten Hades kembali kedalam Kabinnya.


Ben berkumpul bersama awak kapal yang lain.


Bamus meninggalkan posnya dan masuk kedalam anjungan karena penasaran mendengar Ben berteriak.


"Apakah ada hal yang menyenangkan terjadi?" Tanya Bamus.


"Tidak, tidak ada." Jawab Ben ketus.


"Ayolah, Aku mendengarmu bersemangat tadi saat Kapten keluar."


"Kita akan mengubah haluan, sebaiknya Kau bersiap."


"Jadi, kita akan pergi kemana?" Bamus masih penasaran.


"Kita akan kepulau Pace." Jawab Ben singkat.


"Sungguh?" Mata Bamus berbinar-binar mendengar pulau tujuan mereka.


* * *


"Apakah kapal ini berputar arah? Atau ini hanya perasaanku saja?" Tanya Richi pada Hades yang baru kembali dari anjungan.


"Coba Kau tebak." Hades mengangkat kedua pundaknya.


"Apakah sesulit itu menjawab pertanyaan ku?" Richi sangat kesal dengan semua hal yang Hades perbuat.


"Sebenarnya tidak, tapi Aku menyukai perubahan raut wajahmu." Hades tertawa terbahak-bahak.


Richi melempar lap basah kearah wajah Hades.


"Ah Sial!!" Hades membuang lap yang menempel diwajahnya.


"Kau terlihat cocok dengan lap itu!" Richi tertawa keras melihat Hades kesal.


"Kau akan membuatnya terbangun."


Refleks Richi berhenti tertawa dan menutup mulutnya, Dia kembali memperhatikan Sofia yang bernafas dengan berat.


"Kurasa Esme bermimpi buruk.." Richi menyentuh dahi Sofia.

__ADS_1


"Kurasa dia bermimpi tentangmu!" Hades mencoba menahan tawanya.


"Sial!" Gumam Richi.


"Berhentilah menyakitinya." Ucap Hades.


"Aku menyakitinya? Kapan?" Tanya Richi.


"Astaga, apakah kau pura-pura bodoh atau benar-benar bodoh? Aku sudah tidak tau perbedaannya." Jawab Hades.


"Tapi dia mengenal Gerald."


"Dia 'hanya' mengenal Gerald." Hades menegaskan kata hanya dalam perkataannya.


"Bagaimana Kau mengetahuinya?"


"Aku hanya menebaknya." Jawab Hades percaya diri.


"Kau dan mulut besarmu." Richi mencibir.


"Kurasa, Esme menyukaimu.." Hades mulai menggunakan kemampuannya dalam memancing lawan.


"Esme? Menyukaiku? Tidak, dia membenciku."


"Dia memang pantas membencimu." Jawab Hades.


"Sial!" Richi melempar lap kedua kewajah Hades.


PLUKK!!


"Hentikan! Kau akan membuat wajahku kotor!" Hades mengelap wajah dengan tangannya.


"Esme membenciku." Gumam Richi.


"Mengapa Kau yakin Dia membencimu?" Tanya Hades.


"Karena, karena Dia tidak tersenyum padaku."


"Mengapa Esme harus tersenyum kepadamu?"


"Karena semua wanita tersenyum kepadaku." Jawab Richi percaya diri.


Hades mengambil lap yang terjatuh lalu melemparnya dengan keras ke wajah Richi.


PLUKKK!!!


"MENJIJIKAN!" Richi membuang lap itu ke pojok kabin.


Hades tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Richi.


"Kau pantas mendapatkannya!" Seru Hades puas.


"Kemana kita akan pergi? Aku bertanya dengan sungguh-sungguh." Richi sudah lelah dengan jawaban yang berbelit-belit.


"Pulau Pace." Jawab Hades singkat.


"Pace? Nenek tua itu akan mengetahuinya." Jawab Richi.


"Esme akan membaik dengan cepat disana." Gumam Hades.


"Kau berbalik arah karena Esme?" Richi menatap Hades.


Hades tidak menjawab pertanyaan Richi, dia sibuk membolak-balik peta yang baru dilihatnya sebagian.


"Kau menyukainya?" Tanya Richi dengan dingin.


Hades masih diam, Dia tidak menjawab sedikitpun.


"Aaah, apakah aku mengganggu kalian?" Richi mencoba memancing Hades dengan perkataannya yang menyudutkan.


"Hentikan, Kau terdengar cemburu." Jawab Hades singkat.


"Astaga! Mengapa Kau selalu membuatku seperti lelaki yang mendambakan cinta?" Richi kesal mendengar pernyataan Hades.


"Kau memang terlihat seperti itu. Lihatlah tanganmu."


Richi melihat tangannya yang sedang menggenggam tangan Sofia.


"Astaga.." Dengan cepat Richi melepaskan tangannya.


Hades tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Richi.


"Aku tidak melakukannya dengan sengaja! Aku sedang merasakan panas tubuhnya." Jawab Richi beralasan.


"Ya.. yaa... Kau bisa merasakannya dengan menyentuh dahi, tidak perlu menggenggam tangannya dengan erat." Hades mencibir dengan sengaja.


"Aku tidak melakukannya!" Richi terus menyanggah perbuatannya.


"Terserah padamu." Hades melanjutkan membaca dan tidak berkata apa-apa lagi.


Wajah Richi memerah setelah mengingat hal yang dia lakukan beberapa saat yang lalu.


Dia tidak mengingat dengan jelas bagaimana tanganya bisa berada disana dan menggenggam tangan Sofia seperti itu.


"Sungguh memalukan." Gumamnya perlahan. Dia tidak ingin Hades sampai mendengarnya.

__ADS_1


"Aku mendengarnya." Hades terkekeh beberapa saat kemudian.


"Sial."


* * *


Kapal Hades masih melaju dengan kecepatan penuh, semua orang bersemangat karena sebentar lagi mereka akan pulang ke Pulau Pace.


Hades sudah pergi dari Kabin, Dia berada di anjungan bersama juru kemudi.


Richi masih bersama Sofia, dia memberi Sofia beberapa sendok air karena mulutnya terlihat kering.


"Haruskah Aku memberinya dengan mulutku? Itu akan lebih cepat dan banyak." Gumam Richi.


"Tidak, tidak. Aku tidak boleh melakukan itu pada wanita yang tidak sadarkan diri." Richi menepuk dahinya dengan keras.


"Tapi, Aku memberinya minum, bukan melecehkannya." Richi kembali berpikir kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak." Gumamnya Kemudian.


Secara tiba-tiba Sofia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya.


Richi terkejut dan memanggil namanya.


"Esme.."


"Esme.." Richi mengusap-usap rambut Sofia dengan lembut.


Sofia mencoba membuka mulutnya perlahan.


Dengan cepat Richi membantunya duduk.


"Air.." Bisik Sofia ditelinga Richi.


Dengan sigap Richi mengambil gelas dan membantu Sofia minum.


Sofia memegang kepalanya dan memijatnya perlahan.


"Kepalaku sakit.." Gumam Sofia.


Richi memijat bagian kepala Sofia yang sakit dengan lembut.


Sofia masih setengah sadar, dia beberapa kali memejamkan matanya lagi.


"Esme.. Kau harus makan sesuatu. Koki membuatkan semangkuk bubur untukmu."


Sofia melihat keatas meja, terlihat semangkuk bubur dengan potongan daging dan satu gelas susu disana.


Dia menggelengkan kepalanya, Sofia tidak ingin makan apapun dan hanya ingin berbaring.


"Ayolah, Kau tidak akan bertahan jika seperti ini." Richi mencoba membujuk Sofia.


"Biarkan saja Aku mati..." Sofia berkata dengan susah payah.


"Jangan katakan hal seperti itu!" Richi berteriak padanya.


"Maaf, maafkan Aku.." Richi membelai rambut Sofia.


"Tolong jangan mengatakan hal seperti itu. Aku berjanji akan mengantarmu pulang saat Kau sembuh nanti." Richi menatap Sofia.


"Kau berjanji?" Tanya Sofia.


"Ya, aku janji." Richi mengambil mangkuk bubur dan menyuapi Sofia.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


Tuk


Tuk


Tuk


"Richi..."


"Keluarlah..."


Terdengar suara Ben yang terburu-buru. Richi menyerahkan mangkuk pada Sofia dan berjalan kerah pintu.


"Habiskan!" Richi menatap Sofia.


Sofia mengangguk-anggukkan kepalanya patuh.


Richi pergi keluar dan melihat Ben yang terlihat tegang.


"Ada apa?"


"Ada dua Kapal bajak laut mengikuti kita Richi.."


"Dua Kapal bajak laut?" Richi mengerutkan dahinya.


"Ya..."


"Aku akan keatas."


Richi berjalan dengan cepat kedalam Anjungan.

__ADS_1


Semua awak terlihat panik diatas geladak. Mereka sudah bersiap memegang pedang ditangan sebelah kanan.


Hades tidak menunjukan ekspresi apapun, tapi Richi mengetahuinya dengan jelas, Hades tidak akan membiarkan siapapun mengganggu perjalanannya ke Pulau Pace.


__ADS_2