
Pulau Pace, Februari 1500.
"Tuan!"
"Tuan!"
"Astaga syukurlah!"
"Dimana Nona?"
"Nona?"
"Siapa yang Kau maksud?" Richi tidak mengerti dengan maksud perkataannya.
"Yang Mulia Ratu mengatakan Nona ada di Pulau ini!!"
"Tolong pertemukan Saya dengan Nona!"
"Yang Mulia Ratu?"
"BENAR! RATU RANEE MENGATAKAN NONA ADA DISINI!"
"Siapa?"
"Nona SOFIA!"
"Sofia?" Richi bingung mendengar pernyataan tersebut.
"Nona Sofia! Salah satu awak kapal Hades menculiknya di Pulau Lilbert! Bulan Desember lalu!"
"Sofia?"
"Pulau Lilbert?"
"Yaa Tuan Richi..."
"Tidak..."
"Maksud saya.."
"Tuan Richard.. Tolong pertemukan saya dengan Nona Saya.."
"Kau mengetahuinya? Namaku?"
"Tentu! Nenek Anda mengatakannya.. Tolong pertemukan saya dengan Nona Sofia!"
"Tidak ada Sofia..."
BRUUUGH!!
Terdengar suara terjatuh dari paviliun Rose. Dengan cepat Richi membuka pintu dan masuk kedalam.
"Esme..."
Wanita itu langsung menabrak Richi dan menerobos kedalam.
Terlihat Sofia terjatuh dari atas tempat tidur, darah segar kembali membasahi balutan lukanya.
"NONA...."
"NONA...."
"YA TUHAN, NONA...."
Sofia tidak sanggup lagi menahan tangisnya.
"Elie......"
"Ya Tuhan, Elie...."
Uuhhh
Huuuuuu
Elie memeluk Sofia dengan erat.
Richi tertegun didepan pintu menyaksikan semua itu.
"Nona... Ya Tuhan..."
"Apa yang terjadi pada Anda..."
Elie menangis dengan kencang melihat luka di perut Sofia.
Uuuh
Huuuuuu
Huuuuuuu
"Nona..."
"Apakah terasa sakit?"
Huuu
"Aku mendengar suaramu, Elie... kupikir Aku berhalusinasi..."
"Aku merindukanmu.."
"Aku merindukanmu Elie..."
"Rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di hatiku.." Sofia menangis dengan kencang.
Uhhhhhhh
Huuuuuu
Huuuuu
Richi membantu Sofia kembali ke atas tempat tidur, Sofia menepis tangannya, namun Richi tetap bersikeras membantunya.
"Terimakasih Tuan.." Elie menundukkan kepalanya.
Richi tidak mengatakan apapun, Dia masih belum mengerti.
"Dia tidak perlu ucapan terimakasih Elie, Dia salah Perompak Hades!" Sofia mengusap air matanya lalu mencoba mendorong Richi menjauh.
__ADS_1
Richi mundur beberapa langkah, lalu duduk dikursi dekat pintu.
"Tidak Nona..."
"Tidak... " Elie menggenggam tangan Sofia dengan erat.
"Tidak apa?" Sofia menatap Elie dengan matanya yang sembab.
"Tuan Richi.."
"Beliau bukan seorang Perompak.."
"Hah? Apakah itu masuk akal?"
"Dia selalu berada di Kapal Hades!"
"Ingat waktu aku berada di kedai dulu? Dia ada disana Elie!" Sofia menatap Richi dengan dingin.
"Dia memperlakukan Aku seperti pelacur! Seperti wanita murahan!" Tangan Sofia mengepal dengan kuat.
Richi memandang Sofia dengan tatapan bersalah, Dia tidak sanggup mengeluarkan pembelaan sedikitpun.
"Nona.. Apa yang telah terjadi sebenarnya?" Elie memeluk Sofia dengan erat.
"Sebaiknya Kau tidak mengetahuinya Elie..." Sofia kembali menangis.
"Ah... Bagaimana keadaan Ayah?"
"Bagaimana rumah di Roseland??"
"Perkebunan Ayah?"
"Lalu, bagaimana dengan Duke tua itu?" Sofia melepaskan pelukan Elie.
"Itu sebenarnya...." Elie menatap Richi.
Richi yang menyadari tatapan Elie, lalu menatap Sofia.
"Apa? Katakan padaku!"
"Bagaimana AYAH!" Sofia berteriak histeris.
"Nona.. tolong dengarkan baik-baik.." Elie mengambil nafas dan mulai merasa gugup.
"Mm.. Tuan Jasper..."
Mata Richi membelalak mendengar nama Jasper.
"Tuan Jasper baik-baik saja.."
"Perkebunan baik-baik saja.."
"Dan rumah di Roseland baik-baik saja.." Elie mengucapkannya dengan satu nafas.
"Ah.. syukurlah..." Sofia menghembuskan nafas dengan perlahan.
"Lantas, bagaimana pernikahan dengan Duke tua itu?"
"Aku bersedia melakukannya jika Aku dapat kembali pulang ke Roseland dan bertemu Ayah..." Sofia menatap Elie penuh harap.
"Nona.."
"Mengenai itu, sebenarnya.."
Ekhm..
Richi menyela pembicaraan Elie dan berjalan mendekat ke arah Sofia.
"Kau akan pulang.." Ucap Richi ditelinga Sofia.
Elie memandang Richi dengan tatapan bingung.
"Kau akan membiarkanku pulang?" Pandangan Sofia berubah ceria setelah mendengar pernyataan Richi.
"Yaa.. Jika Kau berjanji akan menikah dengan Duke tua itu." Richi menatap Sofia.
"Tentu! Aku akan melakukannya! Semoga kita tidak bertemu lagi!" Sofia membuang mukanya.
Hatinya terasa sakit mendengar perkataan Richi, Dia tidak tau mengapa. Padahal Dia sudah mendapatkan hal yang diinginkannya, pulang ke Roseland. Tapi tidak tau mengapa hatinya terasa kosong.
Richi berjalan keluar dan sengaja menabrak bahu Elie.
"Jangan mengatakan apapun, atau Esme tidak akan bisa pulang." Bisik Richi ditelinga Elie.
Elie semakin bingung mendengar perkataan Richi, Dia mencoba mencari penjelasan dengan menatap Richi, namun Richi tidak mengatakan apapun, Dia berjalan keluar dan menutup pintu.
"Elie..."
"Apa yang ******** itu katakan?"
"Ah.."
"Ha.. Beliau mengatakan Saya harus menemani Anda, Nona.." Elie merasa gugup telah membohongi Sofia.
"Tentu saja! Kau harus berada disini bersamaku!"
"Kemarilah.." Sofia membentangkan tangannya.
Elie mendekat dan memeluknya dengan lembut.
* * *
Richi berjalan tak tentu arah, Dia mencari keberadaan Hades, namun Hades tidak ada dimanapun.
"Joy!"
Richi memanggil Joy yang sedang menyiapkan makan malam untuk semua orang.
"Ya Tuan.."
"Dimana Hades?"
"Ah, Tuan Hades masih berada di pantai Tuan.."
"Dia belum kembali?"
"Begitulah.."
__ADS_1
"Apakah Saya harus memanggilnya?"
"Tidak, Aku akan kesana."
Richi pergi meninggalkan Mansion dan berjalan ke arah pantai.
* * *
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Richi melihat punggung Hades dari kejauhan. Dia sedang berbicara dengan Marinir Angkatan Laut.
"Akhirnya Kau kemari Tuan Richard..." Hades membungkukkan punggungnya.
"Kau...!!"
"Tuan Richard..."
"Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda, Duke of Roseland.." Marinir itu membungkuk ke arah Richi.
"Berdirilah.." Richi menatap Marinir itu dengan tatapan dingin.
"Hades, kembalilah ke Mansion, Aku akan berbicara dengannya."
"Tentu, Tuan. Saya akan kembali ke Mansion." Hades membungkuk untuk yang kedua kali, lalu dia pergi ke arah mansion.
"Kapan Kau akan kembali?"
"Ah, Saya akan kembali dengan Nona Elie dan Nona Sofia."
"Kembalilah sekarang."
"Sekarang?"
"Tapi, Yang Mulia Ratu memberikan perintah seperti itu Tuan." Marinir itu menundukkan kepalanya.
"Kembalilah sekarang, sebelum Aku melakukan hal yang tidak ingin Kau ketahui." Richi menatapnya dengan tajam.
"Ah..."
"Tapi..."
"Tapi..."
Richi tidak menjawab, Dia meninggalkan Marinir yang sedang kebingungan itu tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.
"Tuan..."
"Tuan..."
Richi tidak menoleh sedikitpun.
* * *
"Kau kembali dengan cepat." Hades menunggu Richi diruangannya.
"Kau sudah mengirim ******** itu?"
"Tentu saja! Mungkin sekarang Dia sudah sampai di Roseland dan sedang mengadu pada Nenekmu." Hades mencibir dengan mulutnya.
"Kau sudah mengetahuinya dari awal bukan?"
"Apa?" Hades berpura-pura tidak tau.
"Esme."
"Maksudku Sofia."
"Siapakah Sofia?" Hades mengangkat kedua alisnya.
"Sampai kapan Kau akan berpura-pura seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Ah, haruskah kedua tanganku yang berbicara?"
Hades tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Bersabarlah anak muda, Kau harus menyalurkan energi mu pada hal positif!" Hades masih tertawa.
"Sejak kapan Kau mengetahuinya?" Richi menatapnya dengan dingin.
"Ah, biar ku ingat..."
"Mungkin, sejak kita pertama bertemu dengannya?"
"Sejak di Roseland? di kedai minum 'Je souffre et aime' Sungguh?" Richi menatap Hades tak percaya.
"Mungkin, Dia mengingatkanku pada seseorang." Hades mengangkat kedua bahunya.
"Kau sengaja tidak memberi tahuku?" Richi berjalan ke arah Hades dan menarik kerahnya dengan kasar.
HAHAHAHA
Hades tertawa dengan keras.
"Kau tidak bertanya apapun!" Hades membelalakan matanya.
"Kau memandangnya penuh emosi dan selalu mengaitkannya dengan Gerald."
Aaahk!!
Richi melepaskan kemeja Hades dan beralih meninju tembok disebelahnya.
BUKK!!!
Darah segar menetes dari tangan kanan Richi.
"Hentikan kawan, Kau akan membuat dindingnya berlubang."
"Astaga, apakah Kau mengkhawatirkan dindingnya?" Richi tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja! Bahan bangunan agak sedikit mahal akhir-akhir ini."
Mereka tertawa bersama-sama.
Joy dapat mendengarnya dari dapur dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Mereka tidak pernah berubah." Gumam Joy.
__ADS_1