
Pulau Pace, Februari 1500.
Kupu-kupu mengepakkan kedua sayapnya dengan anggun dan hinggap diatas bunga kuning yang menjalar di belakang Sofia.
Tes
Tes
Tes
Terdengar suara air embun yang jatuh menetes dari daun talas.
Ciuman Richi terasa murni dan mendamba. Dia teringat saat-saat kelam ketika Sofia mengalami koma akibat terkena timah panas yang seharusnya mengenainya.
Richi membelai rambut Sofia dengan lembut. Kemudian Dia menarik diri, menikmati keindahan wajah Sofia yang terpapar sinar matahari, membelai lembut setiap lekukan dileher Sofia dan menikmati setiap denyutan nadinya yang terlihat berwarna biru dikulitnya yang pucat.
Sofia memiringkan kepalanya dibawah sentuhan tangan Richi, tidak sengaja menyentuh kan bibirnya sendiri ke bibir Richi dan kemudian terkejut mendapati gelombang gairah yang tiba-tiba bangkit didalam dirinya.
Bibir Richi terasa lembut saat menyentuhnya, berulang kali Sofia melirik bibir Richi yang terbuka dan tidak sengaja tatapan Sofia bertemu dengan tatapan Richi yang menggodanya.
"Cium Aku lagi..." Gumam Richi.
"Kumohon..." Ucap Richi dengan pelan dan lembut.
Sofia ragu untuk memulai lebih dulu, karena Dia tidak tau caranya bagaimana untuk memulai.
"Kumohon.." Ulang Richi ditelinga Sofia.
Mereka berdiri berhadap-hadapan diantara deras air sungai yang mulai terasa hangat karena sinar matahari. Hampir tidak ada jarak diantara mereka.
Richi menatap Sofia dalam kesunyian. Dia menyentuh bibir bawah Sofia dan membelainya dengan ibujari dan menekan bibir Sofia kedalam yang terasa lembut dijarinya.
Sofia menelan ludahnya dengan susah payah, Dia mencoba memberanikan diri mengangkat dagunya dan menatap Richi selama beberapa saat, sebelum memejamkan kedua matanya dan menekankan bibirnya di bibir Richi dengan lembut dan mendamba.
Ketika Sofia membuka matanya dan mulai menjauhkan diri dari Richi, seluruh tubuhnya gemetar, sehingga Richi harus menopangnya dengan tangan, kemudian pipi Sofia bersemu merah dengan cepat.
Seolah Richi mengetahui alasan pipi Sofia yang sudah semerah tomat, Sofia berkata " Aku tidak yakin apakah Aku sudah melakukannya dengan benar?" Sofia menatap Richi dengan malu.
Richi tertawa pelan, lalu menarik Sofia kedalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.
"Kalau begitu, Kau akan merasa yakin saat Kau melihatku terlena lalu menggendongmu dengan cepat dan membawamu pulang."
"Bukan jawaban yang kuinginkan.." Jawab Sofia.
Sambil membelai rambut Sofia dengan telapak tangannya, Richi berkata,
"Oh sayangku.. maafkan Aku.."
"Aku tidak tau Kau menginginkan jawaban yang sebenarnya.." Jari Richi berhenti di pipi Sofia dan menekannya dengan lembut.
"Tidak ada yang benar dan salah dalam hal ini.."
"Buatlah dirimu senyaman mungkin sayang..."
"Bahkan, menatap kedua matamu yang menatapku dengan lembut sudah cukup membuatku melayang.."
Dengan satu gerakan lembut, Richi mengangkat Sofia dari dalam air dan mendekapnya Kemudian menggendongnya.
Richi menurunkan Sofia diatas permukaan batu yang datar, kemudian berdiri didepan Sofia.
__ADS_1
Sofia mengulurkan tangannya ke atas, Richi menariknya dengan lembut. Namun, karena permukaan batu hangat, Gaun yang dipakai Sofia menempel dan memperlihatkan lekuk tubuhnya saat mencoba berdiri. Sofia melepaskan tangan Richi dan berusaha melepaskan gaunnya yang menempel.
"Aku harus membawamu pulang dengan cepat.." Gumam Richi sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kau..."
"Kau basah..." Mata Richi tidak berkedip menyusuri setiap lekukan tubuh Sofia yang terlihat jelas karena bajunya yang menempel.
Sofia memeras bagian bawah gaunnya, Dia tidak sengaja memperlihatkan seluruh kakinya dan tidak tau jika perbuatannya membuat tubuh Richi semakin panas terbakar oleh gairah.
"Baiklah..."
"Bawa Aku pul..." Dan tiba-tiba saja Sofia sudah berada didalam dekapan Richi, dengan ciuman yang membuat Sofia seolah menggantungkan hidupnya ditangan Richi. Bibir Sofia yang berwarna pink muda, segar dan terbuka siap menerima belaian lidah Richi.
Dorongan yang kuat dan dasar mengendalikan tangan Sofia untuk balas memeluk Richi, telapak tangannya menekan punggung Richi, sementara tangan yang lain membelai dan menjelajahi leher dan rambut Richi yang membuat kontak fisik mereka semakin panas membara.
Sofia menelan ciuman Richi seperti meneguk segelas Cognac yang memuaskan sekaligus membuatnya panas sampai membuatnya tidak berdaya.
Sofia tidak bisa lagi mengendalikan nafasnya. Tubuhnya terasa asing untuk dirinya sendiri, darah Sofia yang mengalir di setiap pembuluh darahnya berdesir dengan cepat setiap kali Richi menyentuhnya. Syarafnya terasa terbakar oleh api yang tidak bisa dipadamkan.
Setelah ciuman yang panas dan bergairah, bibir Richi menekan bibir Sofia, bergeser ke telinga dan bagian lain yang sensitif dan lembut dibawah rahang Sofia.
Sofia menekankan dengan lembut tubuhnya ke tubuh Richi. Tubuh mereka begitu solid satu sama lain.
Tangan Richi terasa lembut ditubuh Sofia, saat Richi menangkupkan telapak tangannya tepat di bokong Sofia, menariknya mendekat, membuka kaki Sofia dengan tangan yang lain, dan mendekatkan bagian sensitif Sofia dengan miliknya yang sudah mengeras.
Nggh
"Sofia.."
Sebuah erangan kecil terdengar dari mulut Richi.
Merasakan Sofia menelan dibawah bibirnya, membelai nadi yang berdenyut dengan sangat cepat, merasakan getaran yang timbul oleh erangan pelan yang keluar dari bibir Sofia yang terbuka dan mendamba.
Saat mulut mereka saling mencari dan menemukan satu sama lain, Sofia menyerahkan seluruh dirinya, nafas Richi semakin memburu cepat.
"Sofia..."
"Kekasihku..."
"Cintaku.."
"Aku tidak membawamu kesini untuk ini..." Suara Richi tercekat saat mengutarakan seluruh isi hatinya.
"Ini..?" Sofia menatap mata Richi yang penuh dengan gairah.
"Untuk bercinta denganmu.."
"Kita tidak kesini untuk bercinta .." Richi mulai menjauhkan diri dari Sofia yang tampak bingung.
"Tidak?"
"Lalu apa yang akan Kau lakukan sekarang?" Jawab Sofia dengan suara parau dan nafas yang memburu.
Richi tidak bisa menahan dirinya saat melihat wajah Sofia yang hanya fokus menatapnya dengan diliputi gairah.
Dia kembali mendekat dan mencium Sofia dengan penuh cinta dan kelembutan. Belaian tangan Richi membuat Sofia merasa lembek seperti jelly.
"Richi..."
__ADS_1
"Aku ingin semakin dekat denganmu..." Sofia berkata pelan saat Richi menciumnya.
Tangan kanan Richi membelai punggung Sofia, menarik tali yang berada dibelakang lehernya dengan cepat sehingga gaunnya terlepas dan jatuh keseputar pinggang. Bagian depan Sofia yang selalu tertutup kini terekspos dengan sangat jelas.
Richi mundur satu langkah dari tempatnya, Dia terpesona melihat keindahan sensualitas Sofia yang terpampang didepannya.
Sofia terkejut, rasa malu membuat instingnya mulai berjalan, dan Dia mencoba menutupnya dengan tangan.
"Tidak cinta.."
"Jangan lakukan itu..." Richi menahan tangan Sofia dengan cepat.
Richi mencium kulit yang lembut dan indah itu. Dia mendorong Sofia ke dinding batu yang dipenuhi berbagai macam bunga merambat berwarna-warni seperti pelangi yang ada dibelakangnya dengan perlahan.
Cengkraman tangan Richi mengendur, kemudian bergerak perlahan-lahan ke sepanjang lengan Sofia, dan berhenti dipunggungnya.
Sentuhan ringan ujung jari Richi menghidupkan seluruh syaraf Sofia, terdengar erangan lembut keluar dari bibirnya yang terbuka.
Telinga Sofia terasa panas saat bibir Richi menempel ditelinganya. Dia menatap Richi dengan pandangan kabur karena terbakar oleh gairah. Sofia mencoba mengangkat tangannya meskipun sulit karena terasa sangat lemah. Dia mengalungkan kedua tangannya dileher Richi yang menjadi pusatnya bersandar.
Nafas Sofia berpacu, begitu pula dengan Richi. Kulit Sofia bergelenyar oleh embusan nafas panas Richi, saat mulut pria itu berkelana dengan bebas dilehernya.
Sofia merasakan bulu mata Richi menyentuh kulitnya, diikuti dengan bisikan kata-kata cinta.
Jantung Sofia berdetak dengan sangat cepat, Dia hanya bisa menyerahkan dirinya pada Richi saat ini.
"Kau terasa sangat lembut.."
"Selembut madu..." Gumam Richi.
"Seperti sebuah bunga yang mengeluarkan madu.."
"Oh.. maafkan Aku telah menghisap seluruh madumu cinta.."
Tangan Sofia membelai rambut Richi, menarik kepala pria itu agar mendekat padanya. Dia membuka dirinya pada setiap belaian ciuman Richi yang panas dan bergairah.
Bagian bawah tubuh Sofia mulai mendamba, bagian itu terasa berdenyut dengan cepat dan terasa sangat membutuhkan Richi.
Sofia membisikkan nama Richi beberapa kali ditelinganya setiap kali Richi membuatnya merasa melayang.
Sofia merasakan tubuhnya diangkat oleh Richi, Dia meletakkan dengan lembut tubuh Sofia diatas batu yang hangat. Paparan sinar matahari yang hangat dan udara yang segar menerpanya saat tubuh Richi terasa menjauh.
Terkejut dengan perubahan itu Sofia membuka matanya dan melihat Richi berjalan menjauh dan bersandar ditebing dengan tangan menutup wajahnya.
Wajah Richi terlihat merah disela-sela jarinya yang terbuka.
Tubuhnya bergetar, dia tersenyum lalu tertawa dengan getir.
Sofia bingung dan terus memperhatikan wajah Richi yang terlihat tampan meskipun dalam kondisi yang berantakan.
"Sofia..."
"Cintaku.."
"Aku harus membawamu pulang sekarang.."
"Sebelum semuanya terlambat.."
Sofia dapat melihat dengan jelas dimata Richi perasaan mendamba yang tak terpuaskan.
__ADS_1